"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balas dendam
Yasmin menutup layar laptopnya dengan perasaan kesal. Semakin lama melihat kemesraan Jacob dan Ara di layar kamera tersembunyi yang ia pasang di ruang kerja sang suami, malah semakin membuatnya merasa mual.
"Kalian itu percaya diri sekali! Siapa juga yang mau dipanggil mama oleh anak kalian yang tidak jelas itu. Hanya anakku yang boleh memanggil aku dengan sebutan mama." Yasmin mengelus perutnya dengan lembut, senyuman kembali terbit di wajah cantiknya yang kini sedikit memerah karena emosi.
Setelah lama berpikir, tepatnya sejak Jacob mengurung dirinya di dalam kamar. Yasmin jadi merubah rencananya. Ia tidak akan pergi begitu saja seperti yang direncanakan sebelumnya, meninggalkan rumah yang dibangun dengan darah dan keringatnya bersama Jacob.
Yasmin akan menunjukkan siapa pemilik rumah ini yang sesungguhnya, membuat pasangan selingkuh itu hancur sampai tidak berani menatap langit lagi. Setelah itu baru Yasmin akan pergi dengan tenang, membawa segala sesuatu yang pantas menjadi miliknya.
"Jika aku pergi sekarang! Itu terlalu menguntungkan bagi mereka berdua. Kalian tunggu saja, aku akan membuat perhitungan sampai kalian akan selalu mengingatnya seumur hidup." Yasmin tersenyum jahat, matanya yang biasanya lembut kini menyala dengan api balas dendam.
Atensi Yasmin teralihkan dengan ponselnya yang tiba-tiba berdering, nada suara panggilan yang ia tetapkan khusus untuk satu orang saja, Javier.
Yasmin mengangkatnya dengan tenang, jari-jari yang tadinya tegang kini rileks. Semakin direnungkan, Yasmin semakin sadar kalau perasaan cintanya terhadap Jacob tidak sedalam itu, tidak akan bisa membuatnya hancur seperti yang dulu ia khawatirkan. Jacob tidak layak.
Cinta telah sirna digantikan oleh kekecewaan dan rasa sakit hati yang mendalam, namun kini yang dominan adalah rasa kecewaannya.
"Hallo Javier..." sapa Yasmin dengan nada yang lembut setelah panggilan terhubung.
"Hallo Yasmin, bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?" tanya Javier di seberang sana, nada bicaranya terdengar khawatir, bahkan bisa dirasakan melalui getaran suara di telinga Yasmin. Javier adalah sahabat Yasmin sejak kecil, orang yang selalu ada di sampingnya setiap kali Yasmin menghadapi masalah.
"Jangan Khawatir, Javier. Aku baik-baik saja kok." Balas Yasmin.
"Aku tidak bisa tenang sebelum melihat sendiri keadaanmu, Yasmin. Ubah panggilan teleponnya jadi panggilan video."
"Baiklah, tunggu sebentar." Yasmin menyesuaikan posisi tubuhnya agar wajahnya terlihat jelas di layar. Senyum Yasmin yang manis memenuhi layar ponsel Javier sekarang, meskipun di dalam hatinya ia masih bergelut dengan emosi yang kompleks.
"Syukurlah." Javier menghembuskan nafas lega karena melihat Yasmin dalam keadaan baik-baik saja. Tadi Ia sangat takut Jacob yang dibutakan api cemburu akan menyakiti Yasmin.
"Aku sangat khawatir dengan keadaanmu tadi. Kamu tahu sendirikan bagaimana Jacob kalau sedang marah?" Ujar Javier dengan suara pelan.
Yasmin mengangguk perlahan, "Aku tahu, tapi kamu tidak perlu khawatir, Javier. Aku bisa menjaga diriku sendiri." Ucap Yasmin dengan nada meyakinkan.
"Bersiaplah Yasmin, secepatnya aku akan menjemputmu. Dan aku pastikan kali ini Jacob tidak akan bisa menemukanmu lagi." ucap Javier dengan tekad yang kuat.
"Tidak sekarang Javier, karena masih ada urusan yang harus aku selesaikan dulu di rumah ini." Yasmin menggelengkan kepalanya.
"Tapi Yasmin..."
"Jangan khawatir Javier, aku sendiri yang akan datang menemuimu setelah ururanku dengan Jacob selesai. Biarkan aku menyelesaikan masalah ini dengan caraku sendiri, ya. Aku tidak ingin kamu terlibat dalam masalahku dengan dia lagi." Yasmin menatap bekas pukulan Jacob di sudut bibir Javier, hatinya diliputi perasaan bersalah.
Di saat Yasmin dan Javier sedang asik berbicara, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar yang dibuka. Bunyi itu membuat jantung Yasmin berdebar kencang. Ia segera mematikan ponselnya lalu menyembunyikannya dengan cepat di balik bantal yang ada di tempat tidur.
Dari balik pintu yang dibuka perlahan, muncul Jacob dengan tatapan penuh selidik. Rambutnya masih sedikit basah seperti baru saja mandi, dan tubuhnya hanya dibaluti oleh handuk yang menyelimuti pinggangnya. Mata gelapnya memindai setiap sudut kamar, seolah-olah mencari sesuatu atau seseorang yang bersembunyi.
"Kau bicara dengan siapa Yasmin? Tadi aku mendengar suara seorang pria." Tanya Jacob dengan nada yang dingin, mata Jacob berotasi ke seluruh ruangan, memeriksa setiap sudut juga kamar mandi yang terletak di pojok kamar. Kakinya bergerak perlahan mengelilingi kamar, namun tidak ada siapapun di sana selain mereka berdua saja.
Yasmin berdiri perlahan dari tempat tidur, wajahnya menunjukkan ketenangan. "Tidak ada siapa-siapa kok, tadi itu cuma telepon yang salah sambung." jawabnya dengan suara yang stabil, meskipun hatinya masih berdebar kencang. Yasmin menatap langsung ke mata Jacob, tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut atau bersalah.
Jacob mendekati Yasmin perlahan, tangannya mengangkat dagu Yasmin dengan kasar, namun tidak sampai membuat Yasmin merasa sakit.
"Jangan bohong padaku Yasmin. Aku tahu kalau kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Aku bisa merasakannya."
Yasmin menarik wajahnya dengan lembut dari genggaman Jacob, senyum tipis muncul di bibirnya.
"Kau terlalu curiga, Jacob. Apa mungkin aku punya sesuatu yang harus disembunyikan dari suamiku sendiri?" kata Yasmin dengan nada yang penuh dengan sindiran halus.
"Kalau tidak ada yang harus dibicarakan lagi, aku ingin istirahat dulu. Kamu bisa pergi kemana saja yang kamu mau, kan biasanya kamu begitu?" Sindir Yasmin lagi.
Jacob melihat wajah Yasmin dengan tatapan yang masih penuh keraguan, namun akhirnya ia mengangguk perlahan.
"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Aku hanya khawatir denganmu saja. Malam ini aku akan tidur di kamar sebelah, kamu tidur sendiri saja dan renungkan kesalahanmu!"
Setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan, Jacob berbalik dan keluar dari kamar, menutup pintu dengan sedikit keras.
Begitu pintu tertutup rapat, Yasmin segera duduk kembali di tempat tidur, mengambil ponselnya dari balik bantal dan membuka obrolan dengan Javier. Yasmin mengetik pesan singkat.
"Maaf menutup teleponnya secara sepihak, tadi Jacob tiba-tiba datang."
Dalam hitungan detik, balasan datang "Aku mengerti, jaga dirimu baik-baik. Aku akan selalu ada untukmu."
Yasmin menghela nafas panjang, rasanya sekarang seperti dia yang sedang berselingkuh.
"Untukmu sayang, mama akan membuat segala sesuatu menjadi benar." ucap Yasmin pelan sambil menyentuh perutnya dengan lembut. Rencana balas dendam yang ia susun dengan cermat, akan memasuki tahap pelaksanaan besok pagi, dan Yasmin sudah siap menghadapi segala konsekuensinya.
Bersambung.