Demi menjalankan sebuah misi penting, Dinda rela melakukan apa saja untuk mendekati tetangga barunya yang super cuek dan dingin.
Tapi setelah dia mendapatkan yang ia inginkan dan berhenti mengejar lelaki itu, lelaki itulah yang berbalik mendekatinya.
Dan ternyata ada rahasia besar di antara keduanya.
jangan lupa like dan komen 💛
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinta Kuning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Masih terngiang dengan pertanyaan Aaliyah kemarin tentang foto-foto suami pertamaku yang bertebaran dalam kamar, Kim Taehyung BTS. Dia kira suamiku itu adalah Abangnya. Sudah ku katakan mereka benar-benar mirip. Hanya sedikit berbeda di bentuk bibir.
Astaghfirullah, Aku cepat-cepat nyebut. Kenapa Aku bisa tahu sedetail itu.
Aku tidak menyangka, bisa-bisanya ada orang yang tidak mengenal BTS seperti Aaliyah. Terlebih dia gadis remaja. Kemana aja sih Aaliyah menghabiskan hidupnya selama delapan belas tahun?
Aku menatap satu persatu foto suami pertamaku, kemudian menarik napas dalam-dalam. Memikirkan bagaimana caranya membuat suami keduaku mau menyukai Kim Taehyung juga? Seperti kak Jonie. Bahkan lelaki itu sudah memiliki bias sendiri, yaitu Kim Namjoon. Karena leader BTS itu mirip dirinya, kata dia sendiri.
Dengan kesadaran penuh lelaki itu berkata bahwa dirinya kini adalah ARMY, dan itu membuat Kim Taehyung kw menatapnya aneh. Aku melihat sendiri ekspresi lelaki itu tadi.
Kenapa yang Aku pikirkan ujung-ujungnya Kim Taehyung kw lagi sih? Tidak bisa Kim Dinda, kamu harus setia dengan suami pertama dan keduamu. Tidak ada lagi Kim Taehyung kw dalam hidupmu.
Meskipun Aku belum tahu bentuk rupa suami keduaku, Aku harus tetap setia. Ya semoga saja tetap mirip Kim Taehyung sih!
“Sudah?”
Aku terkejut. Ibu ratu tiba-tiba berdiri di ambang pintu dengan tangan dilipat di depan dada.
“Otak kamu nggak geser ‘kan Kim Dinda gara-gara dicekik oleh mafia betina itu? Senyam-senyum, geleng-geleng, bibir miring-miring, dari tadi loh ibu memperhatikan. Ibu ngetuk pintu dari tadi nggak kamu buka-buka juga.” oceh ibu.
Aku terkekeh, “Bu, namanya orang mau nikah pasti banyak pikiran.” jawabku.
Ibu mendengus kasar, “Memangnya apa yang kamu pikirkan sih Dinda? Semuanya juga ibu dan ummi Laila yang urus.” katanya, “Jangan lupa nanti kita akan pergi ke butik untuk fitting baju pengantin.”
Aku mempererat pelukan dengan bantal Kim Taehyung, “Nggak usah lah Bu, Dinda yakin baju ukuran normal pasti pas di badan Dinda yang propesional ini.”
“Proporsional, Dinda!”
“Dinda juga ngomongnya begitu, ibu aja yang salah dengar.”
Ku dengar ibu mendecak, beliau pasti sudah mulai kesal. Tapi Aku benar-benar malas untuk pergi, apalagi katanya lelaki itu juga datang.
“Besok aja, Bu. Dinda lagi dapet. Sakit perut sakit pinggang—”
“Kamu ini, alasan! Pasti nggak mau ketemu dengan suami kedua kamu itu ‘kan?” ibu suudzon tapi benar, “Kalau udah lihat orangnya pasti kamu bakal tergila-gila, Kim Dinda!”
Aku mencibir dalam hati, memangnya ada orang yang bisa membuatku tergila-gila selain Kim Taehyung, lelaki tertampan bersertifikat?
Kim Taehyung itu minusnya hanya satu, tidak seiman. Itu saja!
Ibu berlebihan sekali memang.
“Ya sudah, nanti ibu panggilkan mas Aydan untuk ngasih obat buat kamu.” kata ibu dan menutup pintu.
Apa?
Ibu benar-benar.
Malu lah Aku harus berobat haid dengan dokter cowok. Memangnya setelah ada dokter Aydan, dokter cewek tidak buka praktek lagi kah?
Segala penyakitku dia yang ngobati. Dikit-dikit mas Aydan, dikit-dikit mas Aydan. Ah, ibu.
Aku harus keluar dari kamar, harus terlihat baik-baik saja. Khawatir ibu tidak bercanda dengan ucapannya, tapi jika sudah berhubungan dengan sakit dan dokter Aydan, ibu tidak pernah bercanda.
Ku turunkan kakiku dari ranjang, Aku menarik napas terlebih dahulu sebelum berjalan. Dan... hekk!
Perutku seperti tertusuk jarum jika berdiri tegap. Tapi ku tahankan dengan berjalan sedikit membungkuk menuju pintu.
Ceklek!
Bugh!
“Kyaaa... ”
Aku hampir saja terjatuh saat kepalaku menabrak dada bidang seseorang jika seseorang itu tidak menangkapku.
Mas dokter Kim Taehyung kw.
“Mau ke mana?” tanyanya.
“Mau lihat embek.”
“Katanya sakit?”
“Nggak lagi.”
“Kenapa jalannya begitu?”
“Aku—”
“Ya ampun Abang, Kak Dinda? Lagi main teater?” pekik Aisyah.
Aku terkejut dengan posisiku saat ini. Lelaki itu melingkarkan sebelah tangannya di pinggangku. Sedangkan Aku mengalungkan tangan di lehernya. Sontak Aku melepaskan diri, dan berdiri sedikit membungkuk.
“Maaf, Bang kalau ganggu. Ayo Cha udah dibilangin nggak usah ikut. Ayo pulang dulu nanti aja main ke sini lagi, tunggu kak Dinda sudah baikan.” ujar Aaliyah menutup mata adik kecilnya.
“Ih nggak papa, Al. Ayo masuk—”
“Nanti aja, Kak. Kita nggak boleh lihat, kita masih di bawah umur.” sahut Aaliyah cepat seraya turun dari tangga.
Heh memangnya ada pertunjukan apa sampai bawa-bawa umur?
“Katanya nggak sakit?” tanya mas dokter terdengar mengejek.
“Kata siapa nggak sakit?” jawabku cepat, “Sakit lah!”
Dia menggeleng kecil.
Kenapa dia? Jangan coba-coba memancing emosi wanita haid ya!
“Dokter datang untuk mengobatiku ‘kan? Ya sudah ayo masuk, biar cepat.” Aku masuk ke dalam kamarku lebih dulu, tetap dengan berjalan sedikit membungkuk.
Aku tersentak saat akan duduk di kasur tapi mas dokter malah menahan lenganku. “Eh kenapa?”
“Bocor.” katanya singkat, jelas, padat dan Aku paham.
Aku memejamkan mata sekilas. Keputusan ibu menyuruh orang ini datang, sangatlah tidak tepat. Kini dia menyaksikan Aku dalam keadaan memalukan.
“Mau dibantu?”
“Tidak!”
Dia menarik sebelah bibirnya sekilas.
Apanya yang lucu?
Lebih baik Aku ke kamar mandi sekarang juga, walaupun Aku tahu untuk ukuran dokter penyakit pasien, aib pasien, darah pasien itu hal yang biasa bagi mereka. Tapi Aku tetap malu.
Satu jam Aku berdiam dalam kamar mandi. Bukan hanya membersihkan diri dari bocor, tapi Aku mandi saja sekalian. Sekaligus sengaja biar lelaki itu pergi. Dia pasti banyak urusan ‘kan? Tidak mungkin dia masih bertahan hanya untuk menungguku dalam kamar mandi.
Aku hampir saja terpleset saat melangkahkan kaki dari pintu kamar mandi, Aku mendapati lelaki itu duduk di meja belajarku. Dia masih di kamarku!
Laa hawla wa laa...
“Sudah selesai?”
Aku mengangguk sekali sembari menahan handuk yang melilit rambutku. “Aku sudah baikan, dokter silahkan pulang.”
Yang Aku katakan jujur ya, sebab setelah da\*ah itu keluar banyak, otomatis sakit di perutku pasti hilang.
Dia pun mengangguk. “Aku berikan obat mengurangi rasa nyeri saja kalau begitu.” dia mengambil obat dalam tasnya.
Aku menunggunya dengan duduk di pinggir kasur. “Dok, obatnya yang kecil-kecil aja, susah nelennya,”
Dia mengangguk lagi.
“Dok, kalau ada obat yang bikin ngantuk ya!”
Alis lelaki itu naik sebelah, “Untuk apa?”
“Aku mau tidur, biar nggak di suruh ikut pergi.” jawabku jujur.
“Fitting?”
Aku tertegun, dia tahu?
“Iya.” Aku mengangguk tegas.
Dia menatapku lekat, “Kamu sungguh-sungguh nggak senang dengan pernikahannya?”
Aku mengedipkan mataku beberapa kali. Kalau Aku jawab iya, nanti dia ngadu ke Ayah. Kalau Aku jawab tidak, berarti Aku bohong.
Aku memalingkan wajah, “Dokter kepo.” jawabku.
“Loh, di mana foto-foto suamiku?”
\*\*\*