NovelToon NovelToon
Suami Rahasiaku Cowok Tengil

Suami Rahasiaku Cowok Tengil

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / BTS / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam ketika amanah diuji

Langit berdiri di ambang pintu dengan wajah memerah, matanya membara penuh amarah. Pemandangan di depannya membuat darahnya mendidih: Senja, istrinya, dalam keadaan oleng, bersandar pada Gus Azka. 

Dengan langkah cepat, Langit menarik tubuh Senja dari pelukan Azka. Senja yang tak sadar menatap kabur, seolah melihat dua sosok Langit sekaligus. 

“Senja… ini aku! Suamimu!” teriak Langit, suaranya bergetar antara marah dan terluka. 

Namun bukannya disambut mesra, Langit justru disuguhkan pemandangan yang baginya menjijikkan. Emosi yang tak terbendung membuat tangannya melayang, menampar pipi Senja dengan keras. Senja oleng, tubuhnya hampir jatuh, namun sekali lagi Azka sigap menangkapnya. 

Langit menatap keduanya dengan mata berkilat. 

“Apa yang kalian lakukan? Ini kah yang kalian lakukan di belakangku?” 

Azka berusaha membela diri, suaranya tegas meski wajahnya pucat. 

“Langit, dengar dulu! Senja tidak sadar. Dia bukan dirinya sekarang. Ini bukan kehendaknya!” 

Namun Langit menolak penjelasan itu. Amarahnya terlalu besar, rasa cemburu dan sakit hati menutup telinga dari segala alasan. 

Suasana rumah Pak Kyai mendadak ramai. Teman-teman Azka berkerumun, bertanya-tanya apa yang terjadi. Beberapa santri juga berdatangan, bisik-bisik mulai terdengar. 

Di tengah kerumunan, Rendra muncul dengan senyum tipis penuh kepuasan. Ia menambahkan dengan suara lantang, menusuk hati semua yang hadir. 

“Oh… jadi ini aib pesantren? Anak Pak Kyai sendiri berselingkuh dengan mantan pacarnya.” 

Bisik-bisik santri semakin riuh. Komentar demi komentar berhamburan, membuat suasana semakin panas. 

Pak Kyai berdiri tegak, wajahnya muram, matanya tajam menatap kerumunan. Sementara Langit masih menggenggam lengan Senja, hatinya hancur, pikirannya berkecamuk antara cinta, marah, dan rasa dikhianati. 

Di sudut ruangan, Rendra tersenyum puas. Rencananya berjalan mulus. Malam itu, rumah Pak Kyai bukan lagi tempat teduh, melainkan panggung besar bagi aib dan konflik yang akan mengguncang semuanya. 

Pak Kyai tiba-tiba memegang dadanya, wajahnya pucat, napasnya sesak. “Umi…” panggilnya lirih. Umi Siti segera menuntun suaminya masuk ke kamar, panik namun tetap berusaha tenang. 

Di luar, suasana masih riuh. Para ustadz senior lekas membubarkan santri yang berkerumun, menenangkan agar tidak terjadi fitnah lebih jauh. Sementara itu, Gus Azka dan teman-temannya segera berwudhu dan melaksanakan shalat Magrib, berusaha menenangkan hati mereka sendiri. 

Langit, dengan wajah penuh amarah dan luka, menarik Senja masuk ke kamarnya. Senja masih tidak sadar, meracau dengan kata-kata yang tak jelas. Langit mendekat, mencium bau aneh dari tubuh istrinya. Bau itu menusuk hidungnya—bau minuman keras. 

“Ya Allah… siapa yang berani melakukan ini?” desis Langit, matanya berkilat. 

Tanpa pikir panjang, ia membawa Senja ke kamar mandi. Air dingin diguyurkan ke tubuh Senja, membuatnya menggigil. Senja terisak, tubuhnya lemah, matanya berkaca-kaca. Langit kemudian mengganti pakaian Senja dengan hati-hati, meski hatinya masih penuh amarah. 

Senja meringkuk di ranjang, menangis tersedu-sedu. Bayangan kejadian tadi menghantui pikirannya. “Aku… apa yang sudah kulakukan…” bisiknya lirih, penuh penyesalan. 

Langit menatap istrinya, hatinya campur aduk. Ia tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Dengan wajah muram, ia mengambil wudhu, lalu menunaikan shalat. Sujudnya panjang, penuh doa, penuh amarah yang ia titipkan pada Tuhan. 

Di kamar lain, Umi Siti sibuk memberikan penanganan pada Pak Kyai. Tangannya gemetar, air mata jatuh melihat suaminya yang jantungnya kembali kumat. Kondisi Pak Kyai semakin menurun. Tanpa menunggu lama, Umi Siti memutuskan membawa suaminya ke rumah sakit. 

Malam itu, rumah pesantren yang biasanya teduh berubah menjadi tempat penuh luka, air mata, dan doa. 

Ketukan pelan terdengar di pintu kamar. Langit yang baru selesai shalat masih mengenakan pakaian koko putih dan sarungnya. Ia membuka pintu, mendapati Ustadz Hasan berdiri dengan wajah cemas. 

“Langit,” ucap Ustadz Hasan dengan suara berat, “Pak Kyai baru saja dibawa ke rumah sakit. Kondisinya semakin menurun.” 

Langit terdiam sejenak, hatinya bergetar. Ia menoleh ke arah ranjang, melihat Senja yang masih meringkuk, tubuhnya lemah, wajahnya pucat. Dengan cepat ia memanggil Bi Sumi, pembantu rumah yang sudah lama mengabdi. 

“Bi, tolong jaga Senja. Jangan biarkan dia sendirian,” ujar Langit, suaranya tegas namun penuh rasa khawatir. 

Bi Sumi mengangguk, matanya penuh iba. “Iya, Nak Langit. Saya akan jagain Neng Senja.” 

Langit kemudian keluar, mengikuti langkah Ustadz Hasan. Malam itu, mobil pesantren melaju cepat menuju rumah sakit, membawa harapan tipis untuk keselamatan Pak Kyai. 

Sementara itu, di pesantren, acara tahun baru Islam tetap digelar. Aula penuh santri, lantunan shalawat bergema, dan Gus Azka bersama teman-temannya mengambil alih jalannya acara. Mereka berusaha menjaga suasana tetap khidmat, meski kabar tentang Pak Kyai membuat hati banyak orang diliputi cemas. 

Langit duduk di kursi mobil, pandangannya kosong menatap jalanan malam. Hatinya terbelah: antara istrinya yang sakit di rumah, dan mertuanya yang kritis di rumah sakit. 

Ya Allah… apa yang sedang Kau uji pada kami malam ini? batin Langit, matanya berkaca-kaca. 

Langit dipanggil masuk ke ruang ICU. Suasana hening, hanya suara mesin medis yang berdering pelan. Di atas ranjang, Pak Kyai terbaring lemah, wajahnya pucat, napasnya tersengal. 

Begitu melihat Langit, Abah Danardi berusaha mengangkat tangannya. “Langit…” suaranya lirih, penuh tenaga yang tersisa. “Maafkan Abah… atas kelakuan Senja. Abah sendiri tidak mengerti kenapa anak Abah bisa begitu.” 

Langit mendekat, menggenggam tangan mertuanya dengan erat. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Abah… jangan salahkan Senja. Ada seseorang yang memberikan minuman keras padanya. Itu yang membuat Senja tidak sadar. Aku akan cari tahu siapa pelakunya. Aku janji, Abah.” 

Pak Kyai menatap Langit dengan mata berkaca-kaca. “Nak… Abah sudah tidak kuat. abah titip senja, tolong jaga dan bimbing anak abah nak, seperti nya waktu abah sudah ngga lama lagi.” 

Umi Siti yang duduk di samping ranjang langsung menggenggam tangan suaminya. “Abah… jangan bicara begitu. Bertahanlah. Kita masih butuh Abah.” Suaranya pecah, air mata jatuh deras. 

Pak Kyai menoleh pada istrinya, senyum tipis terukir di wajah yang lemah. “Umi… Abah titip anak-anak. Jaga mereka… bimbing mereka.” 

Langit semakin tak kuasa menahan kesedihan. Baginya, Abah sudah seperti ayah kandung sendiri. “Abah… jangan pergi. Aku masih butuh Abah.” 

Pak Kyai menarik napas panjang, lalu dengan suara lirih mengucapkan dua kalimat syahadat. Dalam pelukan istrinya, Abah menghembuskan nafas terakhir. 

Tangisan pecah di ruang ICU. Umi Siti memeluk tubuh suaminya erat, sementara Langit berdiri terpaku, hatinya hancur. Malam itu, pesantren kehilangan sosok pemimpin, keluarga kehilangan ayah, dan Langit kehilangan sosok yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri. 

Langit keluar dari ruang ICU dengan wajah basah oleh air mata. Di lorong rumah sakit, ia langsung memeluk Ustadz Hasan, menangis terisak di bahunya. 

“Ustadz… Abah sudah pergi,” suara Langit pecah, penuh luka. 

Ustadz Hasan pun tak kuasa menahan air matanya. Baginya, Pak Kyai bukan sekadar guru, melainkan ayah. Sejak kecil ia ditinggal kedua orang tuanya, dan Pak Kyai-lah yang merawat, mendidik, hingga menjadikannya seorang ustadz yang mengabdi di pesantren. Kehilangan itu terasa begitu dalam, seakan separuh jiwanya ikut hilang. 

Kabar wafatnya Pak Kyai segera menyebar ke pesantren. Santri-santri yang semula sibuk dengan acara tahun baru Islam mendadak tertunduk, wajah mereka muram. Suasana berubah menjadi duka. 

Di tengah acara, Gus Azka berdiri dengan suara bergetar. “Saudara-saudaraku… Abah Danardi, pengasuh pesantren kita, baru saja wafat. Mari kita tundukkan kepala sejenak, kirimkan doa untuk beliau.” 

Hening menyelimuti aula. Semua santri menunduk, beberapa menitikkan air mata. Lantunan doa bergema, memecah keheningan dengan suara lirih penuh khidmat. 

Acara tahun baru Islam yang semula penuh semangat akhirnya ditutup dengan doa bersama untuk almarhum Pak Kyai. Malam itu, pesantren Mambaul Ulum tidak hanya mengenang tahun baru, tetapi juga kehilangan sosok ayah, guru, dan pemimpin yang selama ini menjadi cahaya bagi mereka. 

Langit berdiri di samping Ustadz Hasan, matanya masih basah. Dalam hati ia berbisik, Abah… aku janji akan menjaga Senja dan keluarga ini. Aku akan mencari kebenaran, dan aku tidak akan biarkan pesantren ini hancur. 

1
kalea rizuky
senja np di buat bloon bgt sih heran
kalea rizuky
senja aja goblok
Siti Amyati
lanjut kak
Siti Amyati
kasihan ujian nya kok senja di lecehin gitu smoga langit ngga lansung ambil keputusan yg bikin berpisah tpi bisa buktiin siapa dalang semuanya
Kurman
👍👍👍
Julidarwati
BHSnya baku x dan g eris sebut nm thor
yuningsih titin: makasih koreksinya dan komentar nya
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
yuningsih titin: siap👍
total 1 replies
yuningsih titin
makasih masukannya kak
ndah_rmdhani0510
Senja yng di gombalin, kok aku yang meleleh🤭
Bulan Benderang
bahasanya masih sedikit kaku kak,🙏🙏
Ai Nurlaela Jm
Karyamu luar biasa kereen Thor, lanjutkan💪
rinn
semangat thor
yuningsih titin: makasih kak
total 1 replies
Dri Andri
lanjut kan berkarya tetap semangat
Dri Andri
lanjutkan thour
Dri Andri
awwsshh ceritanya bikin.... 😁😁😁😁
yuningsih titin
ngga kuat deh langit sama senja romantis banget
ndah_rmdhani0510
Benci apa benci Langit? Ntar kamu bucin lho ama Senja🤭
yuningsih titin
cie.. malam pertama senja dan langit😍
yuningsih titin
duh bahagianya yang mau bulan madu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!