Dion Arvion, siswa kelas tiga SMA yang kurus dan pendek, menjalani hari-harinya sebagai korban penindasan.
Diperas, dihina, dan dipaksa menyerahkan uangnya oleh teman-teman sekelas, Dion hidup dalam ketakutan dan keputusasaan tanpa jalan keluar.
Hingga suatu hari, saat hatinya hampir hancur, sebuah suara terdengar di dalam benaknya, sebuah layar hologram muncul di hadapannya.
[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]
Sejak saat itu, hidup Dion berubah drastis. Dengan bantuan sistem misterius, ia tidak hanya menjadi semakin kuat, tetapi juga berubah menjadi crazy rich dalam waktu singkat.
Uang, kekuatan, dan pengaruh, semuanya berada dalam genggamannya. Kini, Dion bukan lagi korban.
Dengan senyum dingin dan kekuatan sistem di sisinya, ia bersiap membalas semua penghinaan, menghancurkan para penindas, dan menginjak dunia yang pernah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: PENINGKATAN KEKUATAN (2)
Malam menyelimuti Grand Star Tower dengan tenang.
Di lantai empat puluh delapan, cahaya lampu temaram berpadu dengan uap hangat yang memenuhi ruang jacuzzi pribadi. Air bergelembung perlahan, sabun putih tebal mengapung di permukaan, menutupi tubuh Dion dari bawah dada hingga ke kaki. Hanya bagian atas tubuhnya yang terlihat, kulitnya diselimuti uap tipis.
“Hahhh…” Dion menghela napas panjang.
Otot-ototnya mengendur, ketegangan yang menumpuk sejak entah kapan perlahan larut bersama panas air. Kulitnya terasa ringan, seolah setiap pori terbuka dan bernapas.
“Ini… pertama kalinya aku berendam senyaman ini,” gumamnya pelan, “benar-benar menyegarkan.”
Kepalanya sedikit bersandar ke tepi jacuzzi. Matanya menatap langit-langit, membiarkan pikirannya melayang.
“Apakah aku sedang bermimpi?”
“Bagaimana bisa aku berada di tempat semewah ini…”
Keraguan itu muncul lagi. Meski tubuhnya menikmati kemewahan yang nyata, batinnya masih tertinggal di masa lalu, di kamar sempit, di kontrakan bising, di hari-hari penuh kelelahan.
“Sistem muncul begitu saja,” lanjut Dion lirih, “memberiku uang setiap detik… memberiku kekuatan…”
Air beriak pelan ketika Dion menggerakkan bahunya.
“Apakah ada sesuatu yang kau butuhkan dariku?” tanyanya pada keheningan, “sampai-sampai kau memberiku semua ini?”
Tak ada jawaban, tak ada suara ding, tak ada hologram. Jacuzzi hanya berdesis lembut, Dion tersenyum tipis.
“Baiklah,” katanya akhirnya, suaranya tulus, “apapun itu… aku berterima kasih padamu, Sistem.”
Rasa syukur itu datang begitu saja, tanpa perhitungan, tanpa pamrih.
Ia memanggil Panel Atribut. Cahaya hologram muncul di hadapannya, berpendar lembut di antara uap.
[Nama: Dion Arvion]
[Usia: 17 Tahun]
[Kekuatan: 200 / 200]
[Kecepatan: 200 / 200]
[Pertahanan: 200 / 200]
[Stamina: 200 / 200]
[Keterampilan: Tidak Ada]
[Poin Atribut: 600]
Dion memperhatikan angka-angka itu dengan saksama. Lalu matanya berhenti pada satu baris.
“Keterampilan…” desahnya pelan, “bagaimana cara mendapatkannya?”
Tak ada penjelasan. Sistem tetap diam. Tanpa Keterampilan, tanpa bela diri, tanpa teknik, seluruh kekuatannya masih mentah. Ia hanya bertarung dengan insting. Gerakannya kacau, mengandalkan pukulan lurus dan refleks mentah.
“Kalau bukan karena atributku tinggi,” gumamnya, “aku bertarung, seperti anak-anak yang tidak pernah belajar apa-apa.”
Kekecewaan singkat muncul, lalu memudar.
“Hah… sudahlah.” Dion mengangkat kepalanya sedikit. “Sistem,” ucapnya mantap, “beli seribu poin atribut.”
Ding.
[Anda telah membeli 1.000 Poin Atribut.]
[10.000 rupiah telah dikurangi.]
Tanpa menunggu, Dion melanjutkan.
“Tingkatkan batas maksimal atribut,” katanya, “dan tingkatkan semua atribut sampai batas maksimal.”
Ding.
[Batas maksimal atribut berhasil ditingkatkan menjadi 300.]
[400 Poin Atribut telah dikurangi.]
Ding.
[300 Poin Atribut telah digunakan.]
[Seluruh Atribut meningkat ke batas maksimal.]
Sekejap kemudian. Gelombang energi tak kasat mata menyapu tubuh Dion.
Dari tulang-tulangnya yang terasa lebih padat, dari otot-otot yang mengencang. Hingga ke sel-sel terdalam yang bergetar lembut.
Air jacuzzi beriak lebih kuat, seolah merespons perubahan itu.
Beberapa detik berlalu, lalu rasa segar membanjiri tubuhnya.
“Ah…” Dion tersenyum lebar, “perasaan ini… enak sekali.”
Namun ia tidak berhenti, ia membeli poin lagi, menaikkan batas lagi, meningkatkan semuanya, berulang. Tanpa ragu. Hingga.
[Nama: Dion Arvion]
[Usia: 17 Tahun]
[Kekuatan: 500 / 500]
[Kecepatan: 500 / 500]
[Pertahanan: 500 / 500]
[Stamina: 500 / 500]
[Keterampilan: Tidak Ada]
[Poin Atribut: 900]
Rasa segar kembali menjalar, kali ini lebih kuat. Lebih dalam.
Dion tertawa pelan.
“Perasaan bertambah kuat ini…”
“Benar-benar bikin ketagihan.”
Ia menatap panel atributnya, puas. Semua angka telah mencapai lima ratus.
Malam terus berjalan.
Akhirnya Dion bangkit dari jacuzzi. Uap mengepul ketika ia berdiri. Ia meraih handuk putih, menyampirkannya di pinggang.
Pantulan dirinya terlihat di kaca besar. Tubuhnya kini jauh berbeda, bahu melebar. Dada bidang, otot perut dan lengan terdefinisi jelas, kuat, namun tidak berlebihan.
Tingginya kini 180 sentimeter, beratnya 68 kilogram. Posturnya tegap, proporsional, jauh lebih tampan dari sebelumnya. Rambut hitamnya memanjang hingga bahu, basah dan sedikit menutupi wajah.
“Hm…” Dion mengusap rambutnya, "rambutku sampai menutup mata.” Ia tersenyum kecil.
Dengan langkah santai, Dion berjalan keluar dari ruang jacuzzi, mengambil pakaian tidurnya, lalu melangkah menuju master bedroom. Malam ini, ia akan tidur di tempat yang dulu tak pernah berani ia bayangkan.
.....
Pagi hari menyapa kota dengan cahaya lembut.
Di depan cermin besar penthouse lantai empat puluh delapan, Dion berdiri tenang, menatap bayangan dirinya yang terasa begitu asing, namun juga begitu nyata.
Rambutnya kini tertata medium length berlapis, sedikit bergelombang dengan kesan messy alami. Poni jatuh menutupi sebagian dahi dan sudut mata, memberi kesan gelap, dingin, dan misterius, seolah menyimpan cerita yang tak mudah ditebak.
Ia mengenakan jas almamater cokelat SMA Cahaya Senja, rapi dan pas di bahu yang kini melebar. Celana panjang putih jatuh lurus mengikuti kakinya yang jenjang.
Di bahunya tersampir tas Tumi premium hitam, sederhana namun jelas mahal, dan di kakinya terpasang Nike Air Jordan, semuanya telah disiapkan tanpa cela oleh asisten pribadi penthouse.
Penampilannya telah berubah sepenuhnya. Bukan lagi Dion yang dulu, kurus, lusuh, dan mudah diabaikan. Kini ia tampak seperti pemuda yang tak bisa diacuhkan begitu saja.
Beberapa saat kemudian, Dion sudah duduk santai di halte bus sekolah. Pagi masih sejuk, angin tipis berembus, membawa aroma kota yang baru terbangun. Ia menyandarkan punggung ke bangku halte, tatapannya kosong namun tenang.
Di sampingnya duduk seorang pemuda lain. Tubuhnya kurus, posturnya sedikit membungkuk. Kacamata tebal bertengger di hidungnya. Ia mengenakan jas almamater yang sama, namun terlihat kebesaran di tubuhnya. Tangannya menggenggam tas dengan ragu, seolah takut memakan terlalu banyak ruang.
Dion melirik sekilas, lalu tersenyum tipis. “Halo,” sapanya ringan, “kamu dari SMA Cahaya Senja juga, ya? siapa namamu?”
Pemuda itu tersentak. “Ka-kau berbicara denganku…?" Ia menunjuk dirinya sendiri, matanya membelalak, “a-aku… Barra.”
Nada suaranya gugup, hampir bergetar. Ia jelas tidak terbiasa disapa, terlebih oleh seseorang seperti Dion.
“Barra?” Dion mengangguk ramah, “salam kenal. Aku Dion, kelas tiga, Kelas Matematika.”
“Sa-salam kenal juga!!” jawab Barra cepat, sedikit terlalu bersemangat.
Di dalam hatinya, pikirannya berputar kacau.
'Di-Dion…? Bukankah dia yang mengalahkan Darma?'
'Dia… tampan sekali… dan kelihatan anak orang kaya…' Barra menelan ludah, 'kenapa dia berbicara padaku? Orang sepertiku… culun begini…'
Selama ini, di kepalanya, Dion adalah sosok yang jauh, entah penindas baru, atau siswa elite yang tak akan menoleh pada siapa pun yang lemah. Kenyataan di depannya membuatnya bingung.
“A-aku juga kelas tiga,” lanjut Barra cepat-cepat, mencoba menenangkan diri, “dari Kelas Bahasa dan Sastra.”
“Oh?” mata Dion sedikit berbinar, “Kelas Bahasa dan Sastra? Wah, hebat dong. Belajar bahasa Konoha sendiri, jarang ada yang tertarik ke situ.”
Barra tertawa kecil, pipinya sedikit memerah. “Hehe… bukan apa-apa kok. Biasa aja.”
Ia selalu mudah bahagia saat dipuji, sekecil apa pun.
“Ka-kau juga pintar, Dion,” lanjutnya, kini lebih berani, “bisa masuk Kelas Matematika!”
Dion tertawa ringan. “Hahaha, kamu bisa saja. Aku nggak sepintar itu.”
Senyum kecil terukir di wajahnya, bukan senyum basa-basi, melainkan tulus.
Percakapan itu mengalir begitu saja. Tentang pelajaran, tentang kelas, tentang hal-hal kecil yang biasanya tak pernah Barra bicarakan dengan siapa pun. Perlahan, rasa gugupnya memudar, digantikan kenyamanan yang hangat.
Hingga. Bus sekolah berhenti di depan halte dengan desisan pelan.
Dion berdiri lebih dulu. “Ayo, Bar. Kita bareng aja ke sekolah.”
“O-oke!” jawab Barra cepat, “tunggu aku!” Ia segera bangkit dan menyusul Dion.
Di dalam bus, mereka duduk bersebelahan. Percakapan berlanjut, tentang hobi, makanan favorit, hal-hal remeh yang justru terasa menyenangkan. Tawa kecil sesekali terdengar, tenggelam di antara suara mesin dan obrolan siswa lain.
Pagi itu, bagi Barra, terasa berbeda. Dan bagi Dion, itu adalah awal dari sesuatu yang baru, bukan hanya tentang kekuatan, tetapi tentang hubungan yang ia pilih untuk bangun sendiri.