NovelToon NovelToon
Saat Mereka Memilihnya Aku Hampir Mati

Saat Mereka Memilihnya Aku Hampir Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Cinta Murni
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: his wife jay

Dilarang keras menyalin, menjiplak, atau mempublikasikan ulang karya ini dalam bentuk apa pun tanpa izin penulis. Cerita ini merupakan karya orisinal dan dilindungi oleh hak cipta. Elara Nayendra Aksani tumbuh bersama lima sahabat laki-laki yang berjanji akan selalu menjaganya. Mereka adalah dunianya, rumahnya, dan alasan ia bertahan. Namun semuanya berubah ketika seorang gadis rapuh datang membawa luka dan kepalsuan. Perhatian yang dulu milik Elara perlahan berpindah. Kepercayaan berubah menjadi tuduhan. Kasih sayang menjadi pengabaian. Di saat Elara paling membutuhkan mereka, justru ia ditinggalkan. Sendiri. Kosong. Hampir kehilangan segalanya—termasuk hidupnya. Ketika penyesalan akhirnya datang, semuanya sudah terlambat. Karena ada luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan kata maaf. Ini bukan kisah tentang cinta yang indah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28

Pukul 06.20 pagi, Elara sudah berdiri di depan rumahnya. Udara masih terasa dingin, jalanan belum terlalu ramai. Ini bukan kebiasaannya—biasanya ia baru keluar beberapa menit sebelum jam masuk. Tapi hari ini berbeda.

Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya. Kaca jendela turun perlahan, menampilkan wajah Arsen yang tampak heran tapi tetap tersenyum.

“Tumben banget pengen berangkat pagi,” ucapnya. “Biasanya kamu suka keluar berangkat siang.”

Elara terkekeh kecil sambil membuka pintu mobil dan masuk. “Hehehe… mau aja sih. Soalnya kamu pasti belum makan.”

Ia lalu mengeluarkan sebuah tempat makan dari dalam tasnya.

“dan aku buatin sarapan,” lanjutnya santai. “hari inikan Masih ulangan. Takut kamu kelaparan. Kalo perut kosong, mikir juga nggak fokus.”

Arsen terdiam sebentar, lalu tersenyum kecil. Tangannya refleks mengusap rambut Elara.

“Makasih, sayang.”

Satu kata itu sukses bikin pipi Elara memanas. “Sama-sama,” jawabnya cepat, pura-pura santai.

“Aku makannya di sekolah aja ya,” kata Arsen sambil menyimpan kotak makan itu ke samping, sebelum akhirnya menyalakan mesin.

“Iya,” jawab Elara singkat.

Sepanjang perjalanan, suasana terasa tenang.

 ____

Mobil Arsen memasuki area parkir sekolah. Suara mesin lain dan langkah kaki siswa mulai terdengar. Di dekat parkiran, Nayomi, Leo, Kairo, Kaizen, dan beberapa lainnya sudah terlihat berkumpul.

Elara turun lebih dulu, lalu menghampiri mereka.

“Tumben datang pagi,” ucap Elara ke arah Nayomi.

Nayomi mengangkat alis. “Lo lupa ya, El. Hari ini masuk jam tujuh. Bukan setengah delapan.”

“Elah, iya juga, ya" Elara terkekeh pelan.

Tak lama, Arsen menyusul dari belakang. Leo langsung melirik wajahnya.

“Pagi, Sen,” katanya. “tumben muka lo cerah banget hari ini?”

Arsen tidak langsung menjawab. Ia justru menggenggam tangan Elara dengan tenang.

Seketika, Nayomi, Leo, dan Kairo saling pandang.

“Oh,” gumam Kairo. “Kayaknya gue tau kenapa.”

“Eh, bentar,” Leo melongo. “Ini maksudnya…?”

“Iya,” jawab Arsen singkat. “Gue sama El pacaran.”

“Hah?” Leo nyaris teriak. “Serius?!”

“Kapan?” tanya Nayomi cepat.

Elara mengangguk kecil. “kemarin.”

“Gila, kok nggak bilang di chat sih!” Nayomi setengah kesal.

“Lupa,” jawab Elara jujur.

Leo tertawa kecil. “Pantesan akhir-akhir ini Arsen merhatiin lo mulu.”

Arsen melirik tajam. “Lo mau diem atau gue tutup mulut Lo pake lakban?”

Leo langsung mengangkat tangan. “Oke, oke. Gue diem.”

Suasana mendadak riuh, sampai sebuah suara menyela.

“Hai.”

Vira berdiri tak jauh dari mereka, bersama Ezra. Senyumnya tipis, tapi matanya langsung tertuju pada tangan Arsen dan Elara yang masih saling menggenggam.

“Tumben ngumpul di sini,” ucap Ezra datar.

“Lo tau nggak, Ez,” kata Leo tanpa mikir panjang, “di sini ada yang baru jadian.”

Ezra menoleh. “Siapa?”

“Arsen sama Elara,” jawab Kairo.

Tangan Vira perlahan mengepal di samping tasnya.

“Oh,” ucap Ezra singkat. Wajahnya sulit dibaca. “Kalo gitu… selamat.”

Ia lalu melirik jam di pergelangan tangannya. “Gue ke kelas duluan.”

Tanpa menunggu jawaban, Ezra berjalan pergi.

Leo mengernyit. “Kenapa tuh anak?”

Kaizen yang sedari tadi diam, menatap punggung Ezra cukup lama. Ia tahu. Ekspresi itu bukan biasa.

“Ayo kekelas,” ucap Kaizen akhirnya. “Bentaran lagi bel masuk.”

Mereka pun berjalan ke arah kelas masing-masing.

Sementara itu, Vira masih berdiri di tempatnya. Tatapannya mengikuti Elara dan Arsen yang berjalan berdampingan, tertawa pelan.

Tangannya mengepal lebih erat.

Dia harusnya bukan di posisi itu, batinnya dingin.

Dan gue nggak akan diem aja.

★★★

Waktu istirahat dimanfaatkan sebagian siswa untuk menyerbu kantin. Elara justru memilih duduk di bangku panjang dekat lapangan, bersama Nayomi, Leo, Kairo, Kaizen, dan Ezra. Arsen masih tertahan di kelas karena urusan dengan wali kelas.

“Ngomong-ngomong,” Leo menoleh ke Elara sambil menyeringai, “karena Lo sama Arsen udah resmi, boleh dong nanti malam kalian traktir kita.”

Elara mengangguk singkat. “Iya, nanti gue omongin dulu sama Nio.”

Ucapan itu langsung disambut sorakan kecil. Mereka tampak senang—kecuali satu orang.

Ezra diam sejak tadi.

Ia duduk sedikit terpisah, pandangannya tertuju ke lapangan, seolah tak benar-benar mendengar percakapan mereka. Kaizen yang memperhatikan sejak awal akhirnya membuka suara.

“Ez, Lo kenapa?” tanyanya datar. “Dari tadi bengong.”

Leo ikut melirik. “Iya, Lo nggak seneng mereka jadian?”

Ezra menghela napas pelan. Tangannya yang sejak tadi mengepal di atas lutut perlahan mengendur.

“Bukan nggak seneng.”

Elara menoleh. “Terus?”

Ezra mengangkat pandangan, menatap Elara sebentar. Tatapan itu membuat Elara tanpa sadar menegakkan punggungnya.

“Sebenernya,” ucap Ezra pelan namun jelas, “gue juga punya perasaan ke Lo, El.”

Suasana seketika berubah sunyi.

Leo terdiam. Kairo menelan ludah. Nayomi mengangkat wajahnya dari layar ponsel. Bahkan Kaizen yang biasanya paling tenang ikut menoleh tajam.

Elara terkejut. “Ez—”

“Tunggu,” Ezra mengangkat tangan, menghentikannya. “Gue nggak nyalahin Lo.”

Ia tersenyum tipis—senyum yang terasa dipaksakan. “Gue tau Lo nggak pernah nganggep gue lebih dari sahabat kecil. Dari dulu Lo nganggep gue adik.”

Elara berdiri setengah, ekspresinya campur aduk. “Karena itu emang faktanya. Gue nggak pernah punya maksud apa-apa selain nganggep Lo adik. Maaf kalau gue bikin Lo salah paham.”

Ezra mengangguk pelan. “Gue tau.”

Ia bangkit berdiri. “Makanya gue bilang, ini bukan salah siapa-siapa. Gue aja yang terlalu berharap.”

Tanpa menunggu respons, Ezra melangkah pergi meninggalkan mereka. Langkahnya cepat, seolah tak ingin ada yang menahannya.

Keheningan menyelimuti bangku itu.

Nayomi menghela napas pelan. “Gue baru tau…”

Elara duduk kembali. Dadanya terasa sesak, tapi ia tahu tak ada yang bisa ia ubah.

Di sisi lain, tak jauh dari mereka, Vira berdiri dengan tas di pundaknya. Ia menyaksikan semuanya sejak tadi—cukup dekat untuk mendengar, cukup tenang untuk tidak ikut campur.

Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis.

Ternyata, ada juga orang yang tidak menyukai hubungan Elara dan Arsen.

Dan Vira baru saja menemukan celah.

1
Mutt Oktadila
💓💓💓
Remince Silalahi
ko tiba2 habis g ada sambungan
tiaahyeon: besok update lagi kok, sehari itu bisa upload 2/3 bab ditunggu ya😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!