Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut."Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis."Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas."Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Kalian benar-benar bermain dengan api," geram Kakek Wiryo sembari menatap tajam ke arah Ira dan Dinda. "Ini bukan sekadar hantu penunggu. Dia adalah Arjuna, seorang pangeran yang dikhianati. Jiwanya terikat pada dendam yang berkarat... dan cinta yang tak sempat tersampaikan."
Kakek Wiryo meraih sebuah buku kuno bersampul kulit yang sudah mengelupas dimakan usia. Dengan suara berat, ia mulai mengurai rahasia kelam yang selama ini terkubur rapat dari silsilah keluarga mereka.
"Ratusan tahun lalu, leluhurmu—seorang bangsawan tamak—mengkhianati Arjuna demi merebut kekuasaan. Arjuna dijebak dan dipenjarakan di bawah tanah gedung itu tepat di hari pernikahannya. Dalam napas terakhirnya, ia bersumpah bahwa keturunan perempuan dari pengkhianat itu akan menjadi miliknya, sebagai pengganti mempelai wanitanya yang hilang."
Pandangan Kakek jatuh pada cucunya. "Wajahmu, Jelita... kau adalah cerminan sempurna dari permaisuri yang gagal ia nikahi dulu. Itulah sebabnya ia begitu posesif, begitu haus akan kehadiranmu. Baginya, kau bukan sekadar manusia, kau adalah miliknya yang kembali pulang."
Jelita menunduk lesu, jemarinya mengusap gelang hitam di pergelangan tangannya yang kini terasa menghangat, seolah benda itu memiliki detak jantung sendiri. "Jadi... dia tidak akan pernah melepaskanku, Kek?"
Kakek Wiryo terdiam sejenak, menatap bayangan senja yang mulai merayap masuk ke ruang tamu. "Pikirkan baik-baik, Jelita. Keputusan ada di tanganmu. Kakek tidak bisa berbuat banyak. Semua ini adalah kutukan masa lalu, dan sayangnya, kaulah yang harus menanggung akibatnya."
Kalimat itu terngiang di kepala Jelita seperti lonceng kematian. Langkah ketiga gadis itu terasa sangat berat saat meninggalkan pelataran rumah kayu yang sunyi tersebut. Matahari mulai condong ke barat, memanjangkan bayangan mereka di atas aspal—bayangan yang seolah ditarik paksa oleh kekuatan tak kasat mata menuju gedung tua di ujung kota.
Ira dan Dinda berjalan di sisi Jelita, berusaha memberikan kekuatan, namun mereka tahu mental Jelita sedang hancur. Suasana menjadi hening mencekam; hanya suara gesekan sepatu di atas aspal yang memecah kesunyian.
Jelita terus meremas pergelangan tangannya. Gelang hitam itu semakin panas, berdenyut seirama dengan tanda merah di lehernya yang kini terasa gatal dan terbakar, seolah kulitnya sedang dipahat ulang dari dalam oleh tangan-tangan gaib.
Dinda menyeka air mata yang terus jatuh. "Jel... maafkan kami. Kalau saja kami tidak menantang dan memaksamu masuk ke sana..."
Jelita menggeleng lemah. "Kakek benar, Dinda. Ini bukan hanya soal tantangan itu. Ini soal darah yang mengalir di tubuhku. Arjuna sudah menungguku selama ratusan tahun, semua itu... hanyalah pintu yang ia gunakan untuk menjemputku."
Ira mendadak menghentikan langkahnya di samping motor. Matanya memerah, berkaca-kaca antara amarah dan rasa takut yang memuncak. "Kita tidak bisa membiarkanmu menyerah begitu saja, Jel! Hidupmu adalah milikmu sendiri, bukan milik pangeran dari masa lalu yang terobsesi padamu!"
"Tapi bagaimana cara melawannya, Ira?" suara Jelita pecah, nyaris berteriak. "Setiap aku memejamkan mata, aku bisa merasakan keberadaannya! Aku merasakan sentuhannya di bawah kulitku... seolah-olah dia sudah menyatu denganku!"
Seketika, angin dingin yang ganjil berembus kencang, menerbangkan dedaunan kering dalam pusaran kecil di sekitar mereka. Lampu jalan yang baru saja menyala mulai berkedip-kedip tidak stabil, menciptakan atmosfer yang menyesakkan.
Di bawah remang cahaya lampu, bayangan Jelita di aspal perlahan berubah. Bayangan itu tidak lagi berdiri sendirian. Sosok pria tinggi besar seolah bangkit dari kegelapan, memeluk Jelita dari belakang dengan lengan bayangan yang melingkar posesif di pinggangnya.
Jelita tersentak hebat. Ia benar-benar merasakan sepasang lengan sedingin es mendekap tubuhnya. Sebuah bisikan bariton yang sensual namun tajam menusuk langsung ke gendang telinganya.
"Jangan dengarkan mereka, Ratu Kecilku. Mereka tidak akan pernah paham betapa indahnya keabadian yang telah kusiapkan untukmu di aula kita nanti malam..."
Jelita jatuh berlutut di samping motor Ira, napasnya memburu pendek. Ia mencengkeram kepalanya, berusaha mengusir suara Arjuna yang semakin dominan memenuhi pikirannya.
"Dia... dia sudah di sini," bisik Jelita penuh ketakutan. "Dia tidak menunggu malam, Ira. Dia sudah mulai menarik jiwaku."
Ira segera memeluk tubuh sahabatnya, berusaha menyalurkan kehangatan manusia untuk melawan hawa beku yang mengepung Jelita. "Kita pulang ke rumahku sekarang! Kita kunci semua pintu! Kita akan lewati malam ini bersama-sama. Kamu tidak boleh kembali ke gedung itu!"
Namun, gelang di tangan Jelita tiba-tiba memancarkan cahaya merah pekat yang menyakitkan mata. Ingatan Jelita dipaksa memanggil kembali tulisan yang ia lihat di cermin tadi, seolah terpatri abadi di benaknya: "Milikku tidak akan bisa kau hapus."
Setelah sampai di rumah ira mereka langsung membersihkan diri, suasana di kamar Ira terasa sedikit lebih tenang, namun ketegangan masih menggantung tebal di udara. Harum sabun dan air hangat ternyata tidak mampu melunturkan aroma kayu cendana yang masih samar-samar menempel di indra penciuman Jelita.
Jelita duduk di tepi tempat tidur, tangannya menggenggam erat syal yang tadi ia gunakan. Ia menatap Ira dan Dinda bergantian dengan tatapan yang sulit diartikan—ada kesedihan, namun juga ada tekad yang mulai tumbuh di matanya.
"Aku tidak ingin membuat kalian terjerat lebih jauh ke dalam masalahku," ucap Jelita lirih, memutus keheningan di antara mereka.
Ira yang sedang mengeringkan rambutnya langsung berhenti. Ia menatap Jelita dengan tajam. "Masalahmu? Jel, sejak kita melangkah masuk ke gedung itu bersama, ini sudah menjadi masalah kita bertiga."
"Tapi kalian dengar apa kata Kakek, kan?" balas Jelita dengan suara yang sedikit meninggi. "Ini tentang garis keturunanku. Arjuna menginginkan aku. Jika kalian terus bersamaku, dia akan menyakiti kalian seperti tadi malam. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi lagi."
Dinda, yang masih gemetar, mencoba mendekati Jelita. "Tapi kita tidak mungkin membiarkanmu pergi sendirian ke sana, Jel. Itu sama saja dengan menyerahkan diri!"
Tepat saat Dinda hendak menyentuh bahu Jelita, cahaya merah dari gelang hitam itu kembali berkedip. Suhu di dalam kamar yang tertutup rapat itu mendadak anjlok. Embun beku mulai muncul di sudut-sudut jendela kaca kamar Ira.
Di cermin lemari pakaian Ira, bayangan Jelita perlahan memudar, digantikan oleh bayangan Arjuna yang sedang berdiri tepat di belakang Jelita yang asli. Meskipun raga Arjuna tidak ada di sana, bayangannya di cermin terlihat sedang membelai rambut Jelita dengan posesif.
Jelita memejamkan matanya rapat-rapat saat merasakan napas dingin berhembus di tengkuknya. Tanda merah di lehernya kembali berdenyut, memancarkan cahaya emas samar di balik kerah pakaiannya.
"Lihat..." Jelita menunjuk ke arah cermin dengan jari gemetar. "Dia selalu mengawasiku. Semakin kalian melindungiku, semakin dia murka pada kalian. Dia sangat cemburu, Ira. Dia tidak ingin ada siapa pun di antara kami."
Ira menggeram, ia mengambil sebuah botol berisi air pemberian Kakek Wiryo dan memercikkannya ke arah cermin. Bayangan Arjuna menghilang dalam sekejap, meninggalkan suara tawa rendah yang mengejek.
"Justru karena dia cemburu dan posesif, kita harus tetap bersama!" tegas Ira. "Kita harus menyusun rencana. Kalau kamu pergi diam-diam, itu yang dia mau. Dia ingin mengurungmu di dunianya."
Dinda mengangguk setuju, meskipun air mata kembali menggenang di matanya. "Kita punya waktu sampai bulan purnama tiba, kan? Kakek bilang kita harus mengembalikan gelang itu secara sukarela di ruang bawah tanah. Kita akan buat rencana agar kamu bisa masuk, mengembalikan benda itu, dan kita segera menarikmu keluar."
Jelita terdiam. Di dalam kepalanya, suara Arjuna kembali terdengar, namun kali ini nadanya tidak lagi mengancam, melainkan terdengar lembut dan memohon—sebuah rayuan yang sangat berbahaya.
"Jangan dengarkan rencana mereka, Sayang. Mereka hanya ingin memisahkan kita kembali. Datanglah padaku malam ini, dan aku berjanji tidak akan ada satu pun manusia yang akan terluka... termasuk sahabat-sahabat berisikmu itu."
Jelita menatap kedua sahabatnya dengan rasa bersalah yang mendalam. Sebuah pikiran nekat mulai melintas di benaknya: Bagaimana jika ia menyerahkan diri saja agar semua teror ini berakhir?