"Cintai aku sekali lagi."
(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)
---
"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: I Do
...GAMON...
...Bab 25: I Do...
...POV Bima & Rina...
---
Sabtu – 08.00 WIB
Gedung Pernikahan – Jakarta Selatan
Matahari baru naik setinggi pohon kelapa di halaman belakang. Cahayanya masuk lewat jendela-jendela kaca besar, bikin seluruh ruangan keemasan—kayak Tuhan sendiri lagi sorot lampu buat hari ini.
Dekorasi putih dan krem. Bunga-bunga lily di setiap sudut. Aroma wangi semerbak—campuran melati dan mawar. Kursi-kursi tamu berbaris rapi, pita putih di setiap sandaran. Di ujung, pelaminan sederhana tapi elegan. Dua kursi ukir, dihiasi kain sutra.
Belum ada tamu. Masih sepi.
Bima berdiri di samping pelaminan. Udah pake jas hitam—pas di badan, potongan bagus. Rambut disisir rapi ke belakang. Dada bidang, perut rata—hasil setahun lebih lari pagi dan gym.
Tapi matanya... matanya kosong ke arah pintu masuk.
Doni berdiri di samping. Jadi saksi. Jas abu-abu, dasi agak miring—udah dirapiin berkali-kali tapi tetep aja miring.
"Lo siap?" tanya Doni.
Bima nggak jawab. Cuma angguk.
Doni tatap dia lama. Lalu tepuk pundaknya.
"Gue tahu lo lagi mikir sesuatu. Tapi inget, nanti pas Rina masuk, lo harus liat dia. Beneran liat."
Bima nengok ke Doni. Senyum tipis.
"Iya."
---
08.30 WIB
Ruang Ganti Pengantin Wanita
Di belakang, di ruang khusus, Rina duduk di depan cermin. Udah pake gaun putih—panjang, sederhana, tapi elegan. Bahan satin, sedikit renda di bagian dada. Rambut disanggul rapi, beberapa helai sengaja dibiarkan jatuh—ngelambai di pelipis.
Makeup tipis. Natural. Tapi matanya—matanya udah basah dari tadi.
Ibunya berdiri di belakang. Usap-usap bahu Rina.
"Nangis?" tanya Ibu. Suaranya lembut.
Rina geleng. Tapi air mata jatuh juga.
"Ibu... aku takut."
Ibu jongkok di sampingnya. Tatap Rina.
"Takut apa, Nak?"
Rina tatap bayangannya sendiri di cermin.
"Aku takut... dia nggak beneran milih aku."
Ibu diem sebentar. Lalu pegang tangan Rina.
"Nak, cowok itu hari ini milih lo. Udah. Sisanya... jalanin aja. Nikah itu bukan soal milih sekali. Tapi milih tiap hari."
Rina nangis. Ibu peluk.
Di pojok ruangan, gaun Rina digantung rapi—tapi Rina udah pake. Jadi cuma tas dan sepatu yang tersisa.
Sepatu putih. Hak rendah—biar nggak capek katanya.
---
09.00 WIB
Gedung – Tamu Mulai Berdatangan
Suara ramai mulai kedengeran. Mobil satu per satu parkir. Orang-orang masuk, cium tangan orang tua, cari tempat duduk.
Bima udah di posisi. Di depan pelaminan. Tangannya di belakang—sadar atau nggak, dia ngepal.
Dari antara tamu, dia lihat Ibu. Duduk di baris depan. Bapak di samping. Ibu udah nangis—padahal acara belum mulai.
Bima senyum kecil. Ibu balas senyum—tapi matanya berkata lain. Kayak nanya: "Lo yakin, Nak?"
Bima alihkan pandangan.
---
09.30 WIB
Pintu Gedung Terbuka
Semua orang menoleh.
Rina muncul di pintu. Gaun putihnya ngalir lembut kena cahaya matahari. Rambutnya berkilau. Wajahnya—cantik. Tapi bukan cantik karena makeup. Cantik karena dia tersenyum. Senyum yang bikin semua orang di ruangan itu ikut mewek.
Bima nahan napas.
Dia liat Rina jalan. Pelan-pelan. Ditemani ayahnya—bapak udah tua, jalannya agak gemeter, tapi dada dibusungkan. Bangga.
Setiap langkah Rina, degup jantung Bima makin keras.
Sampai di depan. Ayah Rina serahin tangan Rina ke Bima. Tangannya—udah tua, keriput—gemetar.
"Jaga dia, Nak." Suaranya serak.
Bima angguk. "Iya, Pak. Saya janji."
Ayah Rina balik ke kursi. Rina di samping Bima. Tangan mereka—udah saling genggam.
Penghulu mulai baca ayat. Suara khas, berirama. Semua hening.
---
10.00 WIB
Ijab Kabul
"Saya terima nikahnya Rina Amalia binti Ahmad Fauzi dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan emas 10 gram, dibayar tunai."
Bima ngomong. Suaranya terdengar jelas di seluruh ruangan.
Satu kali. Sah.
Penghulu senyum. "Sah."
Semua orang tepuk tangan. Ibu nangis. Bapak nangis—nyesek. Rina? Rina udah nangis dari tadi. Sekarang dia senyum—lega.
Cincin dipasang. Salingan.
Bima liat cincin itu di jari Rina. Cincin yang dia pilih sendiri. Yang dia beli dengan hati-hati. Yang dia simpen di saku jas selama berhari-hari.
Sekarang, cincin itu udah di tempatnya.
Tapi di dalam kepala Bima, ada suara lain. Suara dari masa lalu.
"Aku sayang kamu. Sekarang, besok, dan selama-lamanya."
Bima kedip. Cepet.
Rina liat. Tapi dia kira Bima mewek. Dia usap pipi Bima.
"Makasih, Bim."
Bima tatap dia. Senyum.
"Makasih, Rin."
Mereka berpelukan. Semua orang tepuk tangan lagi. Ibu nangis makin keras.
Tapi di dalam pelukan itu, Bima pejam mata. Dan di balik kelopak matanya, muncul bayangan.
Keana. Di angkringan. Sendirian. Tersenyum pahit.
Bima buka mata. Cepet.
Rina masih di pelukannya. Hangat. Wangi.
Dia kuatkan pelukan. Kayak mau ngusir bayangan itu.
---
12.00 WIB
Resepsi – Taman Belakang
Udah pindah ke taman. Meja-meja bundar dengan taplak putih. Makanan berjejer di prasmanan. Tamu-tamu antre ambil nasi, sate, rendang, es buah.
Bima dan Rina duduk di pelaminan taman. Mereka saling lempar senyum. Menerima ucapan selamat satu per satu.
Doni dateng. Bawa minuman.
"Lo resmi cowok beristri, Bim!" Doni ketawa. "Selamat, ya."
Bima senyum. "Makasih, Don."
Doni duduk di samping—ngelantur dikit.
"Rina, lo jagain Bim, ya. Dia tuh suka diem, tapi isinya banyak."
Rina ketawa. "Iya, aku tahu."
Dari kejauhan, Bima liat Ibu lagi ngobrol sama tetangga. Tapi sesekali, Ibu liat ke arah dia. Matanya—lembut, tapi waspada.
Bima tahu Ibu masih ingat malam itu. Malam sebelum nikah. Malam Bima nangis di kost lama.
Dia alihkan pandangan.
---
14.00 WIB
Sesi Foto
Fotografer sibuk ngatur pose. Bima dan Rina di taman, di depan air mancur. Di bawah pohon rindang. Di samping gazebo.
"Sekarang saling tatap!" instruksi fotografer.
Mereka tatapan. Rina senyum. Matanya—cokelat, bintik emas—berbinar.
Bima tatap balik. Tapi di sela-sela tatap itu, pikirannya ke mana-mana.
"Ini dia. Istri gue."
"Gue udah nikah."
"Gue harus lupain semuanya."
"Sekarang cium kening!" fotografer lagi.
Bima turunin kepala. Cium kening Rina. Wangi—parfum yang Rina pake khusus buat hari ini.
Rina pejam mata. Bahagia.
Tapi Bima—di dalem—masih berantem sama dirinya sendiri.
---
18.00 WIB
Matahari Mulai Turun
Acara udah selesai. Tamu satu per satu pulang. Bima dan Rina di kamar hotel—kamar pengantin. Dikasih oleh-oleh keluarga: bunga, ucapan selamat, dan kue pengantin yang nggak sempet dimakan.
Rina duduk di tepi ranjang. Udah ganti baju—kaos longgar dan celana pendek. Rambut udah diurai. Capek, tapi senyum.
Bima di kursi. Juga udah ganti—kaos oblong, rambut acak-acakan. Capek. Tapi juga... gelisah.
"Bim."
"Hmm?"
"Hari ini... sempurna."
Bima tatap dia. Senyum.
"Iya."
Rina berdiri. Jalan ke arah Bima. Duduk di pangkuannya. Tangan melingkar di leher.
"Makasih udah milih aku."
Bima pegang pinggangnya. Hangat.
"Gue yang makasih."
Mereka berpelukan. Lama. Hangat.
Tapi di dalam hati Bima, masih ada bisik kecil. Bisik yang ngingetin dia tentang janji lama. Janji yang nggak pernah sempat ditepati.
Dia usir bisik itu. Kuat-kuat.
Malam ini, dia milih Rina.
Malam ini, dia akan jadi suami yang baik.
Tapi malam ini juga, di kamar hotel yang jauh, di kota lain, seseorang mungkin lagi nulis di jurnal. Atau lagi tatap langit-langit. Atau lagi nangis—tanpa tahu kenapa.
---
Bersambung ke Bab 26: Bulan Madu yang Hangat
---
...📝 Preview Bab 26:...
Bulan madu ke Bali. Pantai. Sunset. Malam pertama.
Semua sempurna. Rina bahagia. Bima juga—di depan mata.
Tapi di sela-sela kebahagiaan itu, Bima masih suka melamun. Matanya kosong ke laut. Rina mulai curiga, tapi takut nanya.
Bab 26: Bulan Madu yang Hangat—segera!
---