Dianggap sebagai sampah karena meridiannya yang hancur, Ling Tian hidup dalam penghinaan dan keputusasaan. Namun, takdirnya yang kelam berubah selamanya saat ia secara tak sengaja membangkitkan Mutiara Naga Kosmik, sebuah artefak ilahi yang menyimpan jiwa Naga Purba dan rahasia ruang-waktu.
Dengan warisan yang menentang langit ini, perjalanan Ling Tian dimulai. Dari seorang pemuda yang dicemooh, ia bangkit untuk membalas dendam, mengguncang sekte, dan menaklukkan kerajaan. Perjalanannya membawanya melintasi dunia fana menuju alam abadi, di mana setiap langkah adalah pertaruhan antara hidup dan mati. Ini adalah kisah tentang bagaimana seorang sampah bisa naik menjadi penguasa kosmos, mengungkap konspirasi universal, dan memegang takdir jutaan dunia di tangannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Peringatan Seekor Naga
Keheningan yang dingin menyelimuti halaman kecil itu. Ling Jian, seorang kultivator tingkat kelima yang terpandang di antara para junior, berdiri membeku. Ancaman Ling Tian yang diucapkan dengan suara rendah terasa lebih menakutkan daripada raungan manapun. Rasa dingin itu bukan berasal dari suhu udara, melainkan dari niat membunuh yang samar namun nyata.
Namun, harga dirinya sebagai seorang senior tidak membiarkannya mundur begitu saja.
"Kehilangan tanganku?" Ling Jian akhirnya tertawa, mencoba menutupi keterkejutannya. "Hanya karena kau beruntung bisa menghindari satu serangan, kau pikir kau siapa, hah? Sampah tetaplah sampah!"
Kemarahan mengalahkan kehati-hatiannya. Ia menarik kembali tangannya dan kali ini, ia melapisi seluruh lengannya dengan lapisan Qi yang lebih tebal. Ia tidak lagi menampar, melainkan melancarkan pukulan lurus yang mengincar dada Ling Tian—sebuah pukulan yang dirancang untuk mematahkan beberapa tulang rusuk.
Menghadapi serangan yang lebih kuat ini, ekspresi Ling Tian tetap tidak berubah. Saat tinju Ling Jian mendekat, ia tidak menghindar. Sebaliknya, ia juga melayangkan tinjunya sendiri untuk menyambut serangan itu.
Melihat ini, Ling Jian tersenyum kejam. Idiot! Berani sekali adu kekuatan denganku!
Para kultivator tingkat rendah sering membuat kesalahan fatal: mengira adu tinju hanyalah masalah fisik. Kenyataannya, itu adalah bentrokan langsung antara kekuatan Qi. Qi tingkat pertama melawan Qi tingkat kelima sama saja seperti telur yang menabrak batu.
Saat kedua tinju itu hendak bertemu, Ling Tian melakukan sesuatu yang tidak terduga. Tinju yang ia layangkan tiba-tiba terbuka, dan dengan kecepatan yang sulit dipercaya, telapak tangannya menepis tinju Ling Jian ke samping. Pada saat yang bersamaan, tubuhnya sedikit berputar, dan siku kanannya menghantam rusuk Ling Jian yang terbuka dengan kekuatan yang terkompresi.
BAM!
Itu bukan suara ledakan Qi yang keras, melainkan suara pukulan tumpul yang mematahkan tulang.
Mata Ling Jian melotot, wajahnya pucat pasi. Rasa sakit yang luar biasa dan tajam meledak dari rusuknya, membuatnya kehabisan napas. Kekuatan di balik hantaman siku itu terasa aneh—bukan kekuatan Qi yang besar, melainkan kekuatan fisik murni yang brutal dan terfokus.
Ia terhuyung mundur beberapa langkah, memegangi sisi tubuhnya sambil meringis kesakitan. Ia mencoba menyalurkan Qi-nya, tetapi rasa sakit itu mengganggu alirannya.
"Kau..." ia terengah-engah, menatap Ling Tian dengan campuran rasa sakit, ketidakpercayaan, dan ketakutan.
Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin kekuatan fisik sampah ini begitu mengerikan? Pukulan tadi terasa seperti dihantam oleh binatang iblis.
Ling Tian menurunkan sikunya, ekspresinya masih sedingin es. "Ini hanya peringatan. Lain kali, itu tidak akan hanya beberapa tulang rusuk yang patah."
Ia tidak memberikan kesempatan pada Ling Jian untuk menjawab. Dengan satu gerakan terakhir dari 'Langkah Naga Bayangan', sosoknya berkelebat, melewati Ling Jian yang masih membungkuk kesakitan, dan menghilang dari gerbang halaman dalam sekejap mata.
Ling Jian ditinggalkan sendirian, bersandar di dinding dengan napas yang berat. Setiap tarikan napas terasa seperti pisau yang menusuk paru-parunya.
"Sialan... sialan!" ia mengumpat pelan.
Ia tidak bisa mengerti apa yang baru saja terjadi. Ia kalah. Seorang kultivator tingkat kelima yang agung dikalahkan oleh seorang sampah tingkat pertama dalam satu gerakan. Jika berita ini menyebar, reputasinya akan hancur. Ia bahkan tidak bisa menjelaskannya kepada Ling Feng. Apa yang akan ia katakan? Bahwa ia dikalahkan oleh kekuatan fisik? Itu akan membuatnya terdengar lebih tidak kompeten.
Rasa sakit di rusuknya adalah bukti nyata kekalahannya. Rasa dingin dari tatapan Ling Tian adalah peringatan yang terukir di benaknya.
Anak itu... dia bukan lagi sampah yang sama.
Sementara itu, Ling Tian sudah jauh meninggalkan kompleks Klan Ling. Ia bergerak cepat menuju Hutan Kabut Hitam. Pertarungan singkat tadi tidak menghabiskan banyak energinya, tetapi itu menegaskan satu hal: ia harus menjadi lebih kuat, lebih cepat.
Ia tidak ingin terus-menerus diganggu oleh 'lalat' seperti Ling Jian. Cara terbaik untuk menghentikan gangguan adalah dengan memiliki kekuatan absolut yang membuat semua orang takut bahkan untuk menatapnya.
Saat pepohonan Hutan Kabut Hitam yang rimbun menyambutnya, Ling Tian merasakan semangat juangnya membara.