Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.
Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.
Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.
Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.
Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Hanya Orang Asing
Api unggun itu sudah mengecil sejak tengah malam.
Xiao Feng tertidur di sisinya dengan dengkurnya yang terdengar seperti orang yang tidak punya cukup kekhawatiran untuk mengganggu tidurnya. Yue Xin berdiri di tepi lingkaran cahaya api, bergiliran berjaga dengan cara seseorang yang sudah terbiasa berjaga sejak lama. Mu Ling duduk di dekat api dengan lutut dirapatkan, matanya sesekali bergerak ke arah yang lebih gelap di luar lingkaran itu… atau lebih tepatnya ke arah Huang Shen.
Huang Shen duduk di atas akar pohon besar yang menonjol dari tanah, cukup jauh dari kehangatan api untuk membuatnya tidak terlihat jelas dari sana tapi cukup dekat untuk masih mendengar napas tidur Xiao Feng. Di dadanya, Gerbang menyala redup. Merah yang hampir oranye di tepinya, seperti bara yang sudah lama tidak diberi kayu baru tapi belum mau padam.
Dia mengingat kembali urutan yang sudah berulang kali dia susun dalam kepalanya. Orang tuanya, desa Huangling, Sekte Iblis Hitam. Semua itu terus bergantian menghantuinya dan selalu berakhir dengan wajah Mu Qingxue… bahkan bocah yang mati beberapa hari lalu.
Tapi setelah kontrak pertama yang datang dari sekte itu, ada sesuatu yang bergeser. Selama dia menerima perintah dari mereka, dia bergerak di dalam lingkaran yang mereka buat. Memburu mereka dari dalam kandang mereka sendiri bukanlah memburu namanya, melainkan bermain.
“Kau tidak bisa tidur?”
Ucapan Mu Ling memecah keheningan. Tabib itu sudah berdiri di sampingnya tanpa suara, sementara matanya mengamati pemuda itu dengan segudang pertanyaan.
Huang Shen tidak menjawab, tapi juga tidak mengusir.
Mu Ling pun duduk di tanah dekat akar yang sama. “Boleh aku tanya sesuatu?”
Diam beberapa saat sebelum Huang Shen berkata, “Ruh yang tersisa. Bagaimana cara menghilangkannya?”
Mu Ling tidak terkejut dengan pertanyaan itu. Matanya justru menatap Gerbang yang menyala redup di dada Huang Shen dengan cara seseorang yang sudah lama belajar membaca hal-hal yang tidak terlihat jelas dengan mata telanjang.
“Ruh yang tertinggal tidaklah selalu karena kesalahan,” tutur Mu Ling. “Kadang seseorang mati membawa sesuatu yang belum selesai, seperti harapan yang tidak sempat terwujud… atau janji yang tidak sempat diucapkan.” Dia menatap ke arah pohon-pohon yang gelap. “Oleh karena itu, ia tidak akan pergi sampai kau menyelesaikan apa yang membuatnya tertinggal."
“Menyelesaikan?”
“Mengakui bahwa kau menyesal karena tidak bisa menyelamatkannya,” bisik Mu Ling. “Bukan karena kau yang menghabisi nyawanya, tapi karena kau gagal melindunginya.”
Huang Shen terbungkam dan ia tidak membantah, tapi juga tidak beranjak. Semua itu sampai sebuah suara datang dari arah barat laut.
Suara ngilu dari gesekan logam tipis yang terbungkus kain. Yue Xin sudah berdiri dengan pedang pendeknya setengah terhunus sebelum Huang Shen selesai berdiri dari akarnya.
“Ada yang mendekat,” desis gadis itu. “Sudah jelas bukan suara binatang.”
Xiao Feng ikut terbangun karena sentuhan kaki Mu Ling di bahunya, matanya langsung jernih seperti orang yang sudah terbiasa bangun dalam kondisi waspada.
Dan benar saja, tiga bayangan melompat keluar dari balik pepohonan dan mendarat dengan cara yang menunjukkan bahwa mereka sudah berlatih untuk pendaratan yang tidak mengeluarkan suara tapi tidak berhasil sempurna karena tanah hutan tidak pernah sama konsistensinya.
Mereka berada di ranah Jiwa Baru tingkat awal. Huang Shen bisa merasakannya dari tekanan Qi yang mereka keluarkan bahkan sebelum mereka membuka mulut.
“Kaisar Darah.” Yang di tengah bicara dengan nada seseorang yang tidak menikmati pekerjaannya tapi sudah terlalu profesional untuk menunjukkan itu. “Ada pihak yang tidak ingin kau menginjakkan kaki di Pegunungan Iblis Hitam. Maafkan kami, ini hanya tuntutan tugas.”
Tanpa peringatan, Yue Xin melesat maju, pedangnya menyambar ke arah penyerang pertama. Xiao Feng terjaga dengan sentakan kaget, namun insting bertahannya bekerja cepat. Ia segera menarik Mu Ling ke balik pohon besar sebelum ikut menerjang dengan pisau pendeknya.
Sementara Huang Shen menghadapi dua yang tersisa.
Tatkala pertarungan dimulai, sesuatu yang sudah beberapa hari mengganggu fokusnya muncul lagi di saat yang paling krusial. Rasanya seperti batu di dalam sepatu, tidak melukai tapi setiap langkah terasa tidak pas. Wajah bocah itu, senyuman polosnya itu, dan suara Mu Ling barusan tentang ruh yang tertinggal karena sesuatu yang belum selesai.
Namun bagaimanapun juga akhirnya Cakar Iblis di tangannya bergerak, meski setengah detik lebih lambat dari biasanya.
Penyerang pertama membaca keraguan itu. Serangannya berbalik arah di tengah jalan, memotong ke sisi yang tidak siap, sampai lengan kiri Huang Shen tersayat sebagai bentuk peringatan. Darah pun mulai mengalir melewati sobekan tipis memanjang di kulitnya, menyentuh tanah hutan. Dan Gerbang bereaksi seperti sesuatu yang sudah menunggu di balik pintu yang hampir terbuka, dan tetesan darah itu adalah kunci terakhir yang diperlukan.
“Tuanku.”
Suara dari dalam Gerbang terdengar lebih jelas dari biasanya, seperti berbicara dari jarak yang lebih dekat. “Kau sudah siap untuk level kedua. “Gerbang membuka Ruang Pertama: Gudang Senjata. Pilihlah salah satu.”
Dalam kesadarannya yang berlapis, di antara keharusan menghindari serangan berikutnya dan pertimbangan tentang posisi dua penyerang, Huang Shen melihat tiga senjata mengambang dalam ruang yang tidak punya dinding. Tombak panjang dengan ujung bercabang, perisai dengan ukiran matahari yang sudah tidak bisa diidentifikasi karena sudah terlalu tua, dan sebilah pedang.
Pedang itu melayang paling dekat, bilahnya merah tua seperti darah yang baru mengalir di bawah cahaya yang tidak ada sumbernya. Ukiran naga membalut gagangnya dari pangkal sampai setengah bilah, sisik-sisiknya timbul cukup untuk diraba tapi tidak sampai mengganggu genggaman.
Tanpa pikir panjang Huang Shen meraih pedang itu.
Di dunia nyata, darah dari lukanya di lengan kiri berhenti menetes ke tanah, malahan bergerak ke atas, melawan gravitasi, mengalir ke telapak tangan kanannya sebelum membekukan diri menjadi sesuatu yang padat, merah dan panjang. Seperti air yang membeku menjadi es tapi dengan warna dan berat yang berbeda.
Pusaka itu disebut sebagai Pedang Darah Naga.
Sudah jelas, pertunjukan itu membuat para penyerang tertegun. “Apa-apaan itu—"
Hanya perlu satu tebasan presisi sebelum penyerang pertama ambruk tanpa sempat mengubah ekspresinya yang masih dalam mode menyerang.
Lalu disusul tebasan kedua, diagonal ke atas, yang membuat penyerang kedua terpental tiga langkah ke belakang sebelum membentur batang pohon, dan berhenti bernapas.
Penyerang terakhir yang tengah beradu pedang dengan Yue Xin mulai bergidik ngeri melihat teman-temannya tewas. “Di-dia benar-benar monster!” Ia mencoba berbalik untuk melarikan diri ke semak belukar. Namun, Huang Shen melepaskan pedangnya. Senjata itu pun melesat seperti panah yang dipandu oleh dendam, menembus punggung lawan dari jarak dua puluh langkah.
Yue Xin menatapnya dari seberang api, pedangnya belum disarungkan. Xiao Feng duduk dengan wajah pucat, sementara Mu Ling mengamati luka di lengan Huang Shen yang secara ajaib telah menutup.
Huang Shen pun menatap mereka satu per satu. Matanya tetap dingin, datar, seolah melihat benda-benda tak bernyawa.
“Mulai sekarang jangan mengikutiku lagi.”
Suaranya rendah, tanpa amarah, namun seberat gunung yang tak bisa dibantah. Xiao Feng hendak memprotes, namun Yue Xin mengangkat tangan, menghentikannya.
“Tujuanku adalah Sekte Iblis Hitam,” lanjut Huang Shen. “Bukan bandit pasar atau iblis sumur, tapi mereka.” Ia melirik ke arah tiga mayat di kegelapan. “Orang-orang tadi adalah level Jiwa Baru. Dikirim untuk memastikanku tidak pernah sampai ke utara. Itu artinya, ke depan, lawan yang datang akan jauh lebih kuat.”
“Jika kalian tetap mengikutiku,” lanjutnya. “Kalian akan mati. Dan aku tidak akan berhenti hanya untuk menyelamatkan kalian.”
Tentu saja bada kebisuan melanda tempat itu sebelum Mu Ling akhirnya bersuara, “Kau tidak perlu menyelamatkan kami karena itu memang bukan tanggung jawabmu.”
Sementara Yue Xin menghela napas panjang, sebuah tanda bahwa ia telah menerima kenyataan. “Aku ikut karena perintah guru. Tapi sekarang, aku tetap di sini karena ingin melihat seberapa jauh kau bisa melangkah.” Ia menyarungkan pedangnya dengan mantap. “Kami akan menetap di desa tempat Mu Ling berada. Bukan untuk menunggumu, tapi untuk berlatih agar tidak menjadi beban bagi siapa pun.”
“Dan satu hal lagi.” Yue Xin menatap Huang Shen lebih dalam. “Selama ini kau bergerak di dalam kandang yang dibuat sekte itu. Kapan kau akan berhenti menjadi alat mereka dan mulai menjadi pemburu yang sesungguhnya?”
Huang Shen tidak menjawab, namun sorot matanya sedikit bergeser.
“Seperti yang dikatakan Mu Ling, kau tidak perlu memikirkan nyawa kami,” tambah Yue Xin. “Tapi jika kau butuh tempat untuk beristirahat, atau sekadar alasan untuk tidak terus bergerak tanpa arah… desa itu akan selalu ada.”
Huang Shen berdiri, setengah menoleh tanpa benar-benar menatap mereka. “Terserah kalian. Tapi ingat, jika kalian mati, jangan harap aku datang.”
Xiao Feng mendengus lirih, “Dasar keras kepala.”
Huang Shen tidak menghiraukan itu meski mendengarnya, dan hanya melangkah pergi menuju utara, meninggalkan lingkaran api. Namun, setelah dua puluh langkah, sesuatu terjadi.
Warna merah pada Pedang Darah Naga mulai memudar, mengerut seperti daun kering yang terbakar dari tepinya. Karat muncul dari dalam bilah, mengubah merah tua menjadi abu-abu kusam yang retak-retak sebelum akhirnya pedang itu hancur.
Pusaka itu remuk menjadi abu kemerahan yang beterbangan ditiup angin pagi, menyisakan rasa dingin yang hampa di telapak tangannya. Huang Shen berhenti untuk menatap sisa abu di sela jarinya.
Hingga dirinya mulai mengerti jika pedang ini adalah haus darah yang berbentuk. Ia membutuhkan asupan darah yang terus-menerus untuk bertahan. Tanpa darah baru, pedang itu hanyalah ilusi yang fana.
Huang Shen mengepalkan tangannya, membiarkan sisa abu terakhir terbawa angin dan dia mempercepat langkahnya. Puncak Pegunungan Iblis Hitam mulai menyembul dari balik kabut fajar. Di sana, di utara, akan ada banyak darah yang tumpah. Dan ia akan memastikan pedangnya tidak akan pernah mengering lagi.