“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
Tetap jadi musuh di kantor.
Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
Dilarang jatuh cinta!
Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA DALAM KOTAK MAKAN
Pagi di apartemen nomor 1205 biasanya dimulai dengan dentuman pintu kamar mandi, tapi pagi ini sedikit berbeda. Suasananya lebih menyerupai pusat komando perang yang sedang kacau. Sinta berdiri di dapur dengan celemek yang menutupi blus kerjanya, sementara Jingga sibuk mencari kaus kaki pasangannya yang hilang entah ke mana.
Di atas meja dapur yang masih menyisakan remah roti dari perdebatan kemarin, berdiri dua kotak bekal yang identik. Warnanya biru dongker metalik, merek yang sama, ukuran yang sama. Bedanya hanya pada isinya.
"Inget ya, Jing! Yang sebelah kanan ini punya gue. Isinya spesial, gue masak Chicken Cordon Bleu buat Mas Adrian sebagai permintaan maaf gara-gara semalam kencan kita agak garing," ucap Sinta sambil memasukkan kotak itu ke dalam tas kertas kecil. "Jangan berani-berani lu sentuh. Isinya penuh cinta, bukan penuh micin kayak selera lu."
Jingga mendengus, akhirnya menemukan kaus kakinya di bawah sofa. "Cinta? Paling juga ayamnya gosong di dalem. Lagian siapa juga yang mau makan masakan lu? Gue bawa bekal cuma karena pengen hemat buat cicilan pelek mobil bulan depan."
"Terserah! Pokoknya yang kiri itu punya lu. Isinya nasi goreng sisa semalam yang gue angetin. Adil, kan?"
"Adil pala lu peyang! Gue yang beli berasnya, lu yang dapet ayamnya," gerutu Jingga.
Karena jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.45, mereka berdua berebut menyambar tas masing-masing. Dalam kegaduhan mencari kunci mobil dan ponsel yang terselip, tangan Jingga menyambar tas kertas di sebelah kanan, sementara Sinta menyambar yang di sebelah kiri. Tanpa sempat memeriksa, mereka lari keluar pintu dengan arah yang berlawanan.
Kantor divisi pemasaran sedang dalam kondisi sibuk-sibuknya. Jingga duduk di kubikelnya, merasa perutnya sudah mulai berbunyi sejak pukul sepuluh pagi. Mungkin karena emosi semalam di restoran, energinya terkuras habis.
"Laper banget, sumpah," gumam Jingga. Dia menarik tas kertas dari bawah mejanya.
Tepat saat itu, Luna lewat dan tersenyum sangat manis. "Wah, Jingga bawa bekal? Rajin banget sih kamu hari ini. Mau aku temenin makan di kantin?"
Jingga tersenyum kaku. "Eh, makasih Lun. Tapi kayaknya aku makan di sini aja deh, mau sambil lanjutin riset kompetitor."
"Oh, oke deh. Semangat ya sayang!" Luna mengusap bahu Jingga pelan sebelum pergi.
Jingga membuka tutup kotak bekalnya dengan antusias, membayangkan nasi goreng kecap yang sederhana. Namun, matanya langsung membelalak lebar. Aroma keju dan mentega yang wangi menyeruak keluar. Di dalamnya tertata rapi potongan ayam goreng tepung dengan lelehan keju di tengahnya, brokoli rebus yang dipotong cantik, dan... sebuah amplop kecil berwarna merah jambu berbentuk hati yang terselip di pojok kotak.
Jantung Jingga mendadak berhenti berdetak. "Sialan. Ini punya si Adrian!"
Jingga melirik ke arah ruangan kaca Adrian di ujung lorong. Dia melihat Sinta baru saja meletakkan tas kertas berwarna serupa di depan bos mereka dengan senyum yang sangat... menjijikkan bagi Jingga.
"Mas Adrian, ini ada sedikit makan siang buat Mas. Anggap aja penebus kesalahan aku semalam," suara Sinta terdengar samar-samar sampai ke meja Jingga.
Adrian tampak sangat tersentuh. "Wah, Sinta. Kamu repot-repot banget. Makasih ya, kebetulan aku emang lagi pengen masakan rumah."
Napas Jingga memburu. Bukan soal ayam kejunya yang kelihatan enak, tapi soal amplop pink itu! Jika Sinta menaruh kartu ucapan pribadi di sana, dan Adrian membacanya... itu bencana. Tapi ada yang lebih parah lagi.
Jingga teringat sesuatu. Tadi pagi, saat dia memasukkan nasi goreng ke kotaknya, dia juga memasukkan sebuah struk belanja bulanan dari supermarket dekat apartemen mereka sebagai pembatas agar minyaknya tidak merembes. Struk itu berisi daftar pembelian deterjen, sabun mandi, dan... pembalut wanita merek tertentu yang dibeli atas titipan Sinta dua hari lalu.
Dan yang paling mematikan: di balik struk itu, Jingga sempat mencorat-coret nomor token listrik apartemen mereka karena malas mencari kertas. Jika Adrian melihat struk belanja kebutuhan wanita dan nomor token listrik rumah tangga ada di dalam kotak bekal bawahannya yang pria... Adrian bukan orang bodoh. Dia akan bertanya-tanya sejak kapan Jingga jadi asisten belanja rumah tangga Sinta.
"Gue harus tukar kotaknya sekarang atau rahasia ini tamat!"
Jingga berdiri, menyambar kotak bekal "spesial" itu dan berjalan setengah berlari menuju ruangan Adrian. Dia melihat melalui dinding kaca, Adrian baru saja hendak menarik pita tas kertas tersebut.
TOK TOK TOK!
Jingga masuk tanpa menunggu izin, membuat Sinta dan Adrian menoleh dengan terkejut.
"Jingga? Ada apa? Tumben masuk nggak pakai salam?" tanya Adrian heran.
"Anu... Pak! Eh, Mas Adrian! Maaf mengganggu banget!" Jingga mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan. Dia melirik Sinta yang menatapnya dengan pandangan maut 'Lu mau ngacauin momen gue ya, Jing?!'.
"Ini... anu, tadi saya baru ingat! Laporan analisis yang saya kasih ke Mas pagi tadi, ada satu tabel yang datanya terbalik di halaman lima! Saya harus ambil sekarang buat diperbaiki, soalnya mau dipresentasikan jam satu nanti!" Jingga mencoba mencari alasan paling darurat.
"Lho, kan bisa nanti sepuluh menit lagi, Jingga? Saya baru mau makan siang ini," jawab Adrian tenang, tangannya sudah menyentuh tutup kotak bekal biru itu.
"Nggak bisa, Mas! Kliennya barusan telepon, dia mau lihat datanya sekarang lewat email!" Jingga mendekat ke meja Adrian dengan langkah besar. Matanya tertuju pada kotak bekal yang ada di depan Adrian.
Sinta mulai merasa ada yang tidak beres. Dia melihat kotak yang dipegang Jingga di balik punggungnya. Warnanya biru... sama seperti miliknya. Dan saat dia melirik kotak di meja Adrian, dia menyadari ada noda minyak sedikit di pinggiran tutupnya. Lho, itu kan kotak nasi goreng Jingga?!
Mata Sinta membelalak. Mampus! Struk belanjaan gue ada di situ!
"Eh, Mas Adrian! Tunggu!" Sinta tiba-tiba ikut berteriak, membuat Adrian hampir menjatuhkan gelas kopinya. "Itu... jangan dimakan dulu! Kayaknya tadi aku... aku salah masukin bumbu! Takutnya malah nggak enak atau... atau bikin sakit perut!"
"Kalian berdua ini kenapa sih? Kok jadi heboh banget soal makanan dan laporan?" Adrian tertawa kecil, mulai merasa ada yang aneh. "Sinta, nggak apa-apa kalau nggak enak. Ini kan niat kamu yang aku hargai."
Adrian mulai mengangkat tutup kotaknya sedikit.
"JANGAN!" teriak Jingga dan Sinta serempak.
Jingga dengan gerakan refleks yang gila sengaja menyenggol tumpukan dokumen tebal di pinggir meja Adrian sampai berhamburan ke arah kotak bekal tersebut. BRAKK!
"Aduh! Maaf, Mas! Aduh, saya bener-bener ceroboh! Biar saya beresin!" Jingga segera sibuk membereskan kertas-kertas yang menutupi kotak tersebut. Di saat yang sama, dengan kecepatan tangan yang hanya dimiliki oleh pencopet profesional, dia menukar kotak di meja dengan kotak yang dia sembunyikan di balik badannya.
Sinta menahan napas, memperhatikan gerakan tangan Jingga yang begitu cepat. Gila, ini orang bakat jadi pesulap atau maling ya? batinnya lega.
"Jingga, kamu kenapa sih hari ini? Kayak orang lagi dikejar hantu," Adrian menggelengkan kepala sambil membantu merapikan dokumen.
"Maaf, Mas. Kayaknya saya kurang minum air putih. Ini filenya saya ambil dulu ya!" Jingga menyambar tumpukan kertas (dan kotak bekal nasi goreng yang asli milik dia) lalu segera mundur tiga langkah. "Sinta, lu... eh, Sinta, lu bantu gue bentar dong cari data aslinya di komputer lu. Gue lupa naruhnya!"
"Hah? Oh, iya! Mas Adrian, aku bantu Jingga bentar ya, takutnya laporannya beneran kacau," ucap Sinta cepat, lalu mengikuti Jingga keluar dari ruangan dengan langkah seribu.
Begitu pintu ruangan tertutup dan mereka berada di lorong dekat ruang fotokopi yang sepi, Sinta langsung menjambak pelan lengan kemeja Jingga.
"LU HAMPIR BIKIN GUE SERANGAN JANTUNG, JING!" desis Sinta dengan suara tertahan namun penuh penekanan.
"Gue yang hampir mati! Lu tahu nggak, di dalam kotak nasi goreng gue ada struk belanja pembalut lu sama corat-coret nomor token listrik apartemen kita?!" Jingga membalas dengan bisikan yang tajam. "Kalau si Adrian lihat, dia bakal tahu kita satu atap, bego!"
Sinta terdiam, wajahnya mendadak merah padam antara malu dan takut. "O-oh... iya ya. Gue lupa lu yang bayar token kemarin lusa."
Jingga merogoh saku celananya, mengeluarkan gumpalan kertas kecil berwarna merah jambu yang sudah lecek parah karena dia remas tadi. "Nih. Ambil barang lu. 'Tersayang' matamu! Besok-besok kalau mau bikin surat cinta, jangan pakai kertas pink, norak banget tahu nggak!"
Sinta merebut kertas itu dengan kesal. "Biarin! Sirik aja lu! Lagian kok lu baca-buah surat orang sih? Dasar nggak sopan, nggak punya etika privasi!"
"Gue harus mastiin isinya nggak ngebocorin rahasia kita, Sinting!"
"Halah, alasan! Bilang aja lu cemburu karena nggak pernah gue masakin ayam keju!" Sinta menjulurkan lidahnya lalu berjalan balik menuju meja kerjanya dengan perasaan lega yang luar biasa.
Jingga berdiri diam di lorong, menatap tangannya yang sedikit gemetar. Dia berbohong. Dia tidak hanya takut rahasia mereka terbongkar. Saat membaca kata "Love, Sinta" di surat itu, ada rasa pahit yang tidak enak menjalar di tenggorokannya. Rasa yang lebih pahit daripada nasi gorengnya yang agak gosong.
"Gue cemburu? Nggak mungkin. Gue cuma... nggak suka barang rumah tangga gue diendus-endus orang lain," gumam Jingga menghibur diri sendiri.
Sore itu, kantor kembali tenang. Adrian akhirnya menikmati Chicken Cordon Bleu yang sampai ke mejanya dengan selamat, sementara Jingga terpaksa makan roti sisa di kantin karena nasi gorengnya sudah dibawa pergi Sinta sebagai hukuman karena telah membaca suratnya.
Namun, di balik layar komputer masing-masing, Jingga dan Sinta terus mencuri pandang. Rahasia mereka aman untuk hari ini, tapi insiden "Kotak Makan" ini meninggalkan satu pertanyaan besar di kepala Jingga: Sampai kapan dia bisa tahan melihat istrinya bersikap manis pada pria lain, sementara di rumah mereka selalu berperang?
Dan bagi Sinta, dia mulai menyadari bahwa meskipun Jingga memanggilnya "Sinting" setiap jam, pria itu adalah orang pertama yang akan mempertaruhkan nyawanya—atau setidaknya reputasinya di depan bos—untuk melindunginya.
Malam nanti di apartemen, sepertinya akan ada sesi pelabelan kotak bekal dengan spidol permanen ukuran jumbo.