NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Menghargai sepotong roti ternyata jauh lebih sulit daripada mengagumi sebuah mahkota. Saat kau duduk di meja perjamuan dengan pelayan yang siap menuangkan anggur setiap kali gelasmu kosong, roti hanyalah pelengkap yang sering kali terlupakan di pinggir piring porselen. Namun, ketika kau harus menghitung berapa banyak balok kayu yang harus kau panggul di bawah terik matahari hanya untuk mendapatkan selembar koin perunggu, setiap remah roti itu tiba-tiba memiliki nyawa. Arlo Valerius baru menyadari bahwa selama dua puluh empat tahun hidupnya, ia tidak pernah benar-benar memiliki apa pun. Segala kemegahannya adalah pinjaman, dan baru di kamar penginapan yang berbau debu inilah, ia mulai membangun sesuatu yang benar-benar miliki sendiri.

Arlo merasakan ujung jerami yang tajam menusuk menembus kemeja katunnya yang tipis, menggores kulit punggungnya yang belum terbiasa dengan alas tidur sekeras ini. Ia tidak segera membuka mata. Ia mendengarkan suara derit lantai kayu di atas kepalanya, suara teriakan pedagang ikan yang sudah mulai ramai di gang bawah, dan suara napas berat ayahnya Kalea di dipan sebelah. Arlo mencoba menggerakkan lengannya, dan rasa kaku segera menjalar dari bahu hingga ke ujung jarinya. Otot-ototnya seolah membeku, memprotes aktivitas fisik yang ia paksakan selama di kapal kemarin.

Ia perlahan membuka mata, menatap langit-langit kayu yang dipenuhi noda rembesan air hujan yang sudah mengering. Tidak ada ukiran malaikat di sini. Tidak ada lukisan sejarah kejayaan nenek moyang. Hanya ada kayu tua yang mulai lapuk. Arlo bangkit dengan satu sentakan pelan, menahan ringisan saat pinggangnya terasa ditarik paksa. Ia menoleh ke arah dipan seberang. Kalea sudah tidak ada di sana. Selimutnya terlipat rapi, menyisakan cekungan kecil di atas kasur jerami itu.

Arlo melangkah menuju meja kecil di sudut ruangan. Di sana terdapat sebuah mangkuk tanah liat berisi air yang permukaannya sudah tertutup lapisan debu tipis. Ia mengambil kain kusam di samping mangkuk, mencelupkannya ke dalam air yang dinginnya menusuk tulang, lalu membasuh wajahnya. Sensasi dingin itu membantunya mengusir sisa-sisa mimpi tentang istana yang masih mencoba mengejarnya. Ia menyisir rambutnya dengan jemari, menyadari bahwa ia butuh memotong rambutnya agar tidak mengganggu pandangan saat bekerja nanti.

Pintu kamar terbuka dengan derit pelan. Kalea masuk membawa sebuah bungkusan kertas minyak yang mengeluarkan aroma ragi dan gandum hangat. Ia mengenakan celana kain yang lebih kusam dan jaket yang lengannya ia gulung hingga siku. Wajahnya tampak segar, meskipun lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa berbohong.

"Kau bangun sepuluh menit lebih lambat dari jadwal, Arlo," Kalea meletakkan bungkusan itu di meja. Ia tidak menatap Arlo, melainkan sibuk mengecek suhu dahi ayahnya yang masih tertidur. "Makanlah. Roti ini hanya bertahan empuk selama tiga puluh menit di udara Solandis yang lembap."

Arlo mendekat, mengambil satu tangkup roti yang permukaannya sedikit gosong. Ia menggigitnya, merasakan tekstur kasar gandum yang tersangkut di tenggorokannya. Rasanya tidak manis, cenderung tawar, namun ia mengunyahnya dengan tekun. "Kau sudah keluar sejak tadi?"

Kalea mengangguk. Ia mulai menyiapkan tas kainnya, memasukkan beberapa peralatan pahat kecil yang ia miliki. "Aku sudah bicara dengan pemilik penginapan. Dia punya kenalan di galangan kapal sisi barat. Mereka butuh orang untuk membersihkan sisa-sisa pelapis kapal yang sudah mengelupas. Itu pekerjaan kotor, bau, dan bayarannya rendah. Tapi mereka tidak akan bertanya soal nama belakangmu."

Arlo menelan suapan terakhir rotinya. Ia merapikan kerah kemejanya yang sudah mulai berkerut. "Galangan kapal barat. Aku akan ke sana sekarang."

"Tunggu," Kalea menahan lengan Arlo. Ia menatap telapak tangan Arlo yang masih memiliki bekas lecet yang memerah. Kalea merogoh saku jaketnya, mengeluarkan dua potong kain perban yang tampak bersih. "Balut tanganmu. Jika mandor di sana melihat tanganmu terluka sebelum mulai bekerja, dia akan menganggapmu beban. Di Solandis, mereka tidak butuh pahlawan, mereka butuh mesin."

Arlo membiarkan Kalea membebat telapak tangannya. Gerakan tangan gadis itu cepat dan efisien. Arlo bisa merasakan kehangatan jemari Kalea yang bersentuhan dengan kulitnya. "Bagaimana denganmu? Kau akan ke mana?"

"Aku melihat ada bengkel furnitur di dekat pasar tengah. Mereka butuh orang untuk memberi warna pada kursi-kursi pesanan hotel di pusat kota. Aku akan mencoba peruntunganku di sana," Kalea mengikat simpul perban di tangan Arlo dengan sedikit tarikan yang kencang. "Kita bertemu di sini saat matahari terbenam. Jika kau belum kembali, aku akan menganggap kau pingsan di tengah tumpukan kayu."

Arlo tersenyum kecil, ia menepuk bahu Kalea sekali sebelum melangkah menuju pintu. "Jangan terlalu berharap aku pingsan. Aku ingin melihatmu mengecat kursi-kursi itu nanti."

Keluar dari penginapan, Arlo langsung disambut oleh hiruk-pikuk Solandis yang sebenarnya. Jalanan tidak beraspal itu dipenuhi lumpur sisa hujan semalam. Ia harus berjalan dengan hati-hati agar kemeja satu-satunya tidak terciprat noda hitam. Orang-orang di sini berjalan dengan kecepatan yang seolah-olah mereka sedang dikejar oleh waktu. Arlo mengikuti arus kerumunan menuju arah dermaga barat, tempat di mana hutan tiang layar kapal tampak menjulang ke langit.

Galangan kapal sisi barat adalah tempat yang penuh dengan suara bising. Suara palu yang menghantam paku besi, suara gergaji yang membelah kayu jati, dan teriakan-teriakan kasar para pekerja yang saling memberi instruksi. Bau minyak kayu, mesiu, dan garam laut menyatu menciptakan atmosfer yang menyesakkan. Arlo berhenti di depan sebuah pos kayu kecil yang dijaga oleh seorang pria bertubuh raksasa dengan tato jangkar di lehernya.

"Mencari kerja?" tanya pria itu tanpa mengalihkan pandangan dari buku catatan besarnya.

"Ya. Aku dengar kalian butuh tenaga untuk pembersihan kapal," jawab Arlo, ia mencoba membuat suaranya terdengar setegas mungkin, menghilangkan nada elegan yang biasanya melekat pada cara bicaranya.

Pria itu mendongak. Ia memperhatikan Arlo dari ujung kepala hingga ujung kaki. Matanya menyipit saat melihat perban di tangan Arlo. "Kau terlihat terlalu bersih untuk pekerjaan ini, Nak. Kau melarikan diri dari sekolah hukum atau semacamnya?"

"Aku hanya butuh uang untuk makan," Arlo meletakkan tangannya di atas meja kayu yang kasar, menunjukkan bahwa ia tidak takut kotor. "Aku bisa memanggul, aku bisa menggosok, dan aku tidak akan banyak mengeluh."

Pria itu mendengus, ia melemparkan sebuah kepingan logam bernomor 84 ke arah Arlo. "Pergi ke dermaga empat. Cari Mandor Silas. Bilang padanya kau bagian dari tim pembersih lambung. Jika kau berhenti sebelum matahari terbenam, kau tidak akan dibayar sepeser pun. Paham?"

Arlo menggenggam kepingan logam itu. "Paham."

Dermaga empat adalah area yang paling bawah dan paling lembap. Sebuah kapal dagang besar sedang ditarik ke daratan, memperlihatkan bagian bawahnya yang dipenuhi kerang-kerang kecil yang menempel dan sisa-sisa lumut yang sudah mengeras. Arlo menemukan Mandor Silas—seorang pria kurus dengan mata yang tampak sangat lelah.

"Ambil pengikis besi itu!" Silas menunjuk ke arah tumpukan alat yang berkarat. "Gosok bagian lambung kiri sampai kayunya terlihat bersih. Jangan sampai ada satu pun cangkang kerang yang tertinggal. Bergerak!"

Arlo mengambil pengikis besi yang beratnya mengejutkan pergelangan tangannya. Ia mulai bekerja. Awalnya, ia mengira ini akan mudah. Namun, saat ia mulai mengikis lapisan lumut yang sudah menjadi seperti semen itu, ia menyadari betapa beratnya tekanan yang dibutuhkan. Setiap gesekan alatnya mengirimkan getaran yang menyakitkan ke lengan dan bahunya. Air laut yang masih tersisa di lambung kapal sesekali menetes mengenai wajah dan pakaiannya, meninggalkan noda amis yang pekat.

Satu jam berlalu. Arlo merasa paru-parunya mulai terbakar karena debu-debu kering dari cangkang kerang yang ia kikis. Keringat mengalir deras dari dahinya, membuat matanya perih. Ia melihat pekerja di sampingnya—seorang pria tua yang bergerak dengan ritme yang sangat lambat namun konstan. Pria itu tidak terburu-buru, namun hasilnya jauh lebih bersih daripada pekerjaan Arlo.

"Jangan gunakan seluruh tenaga bahumu, Nak. Kau akan patah sebelum siang," pria tua itu bicara tanpa menoleh. "Gunakan berat badanmu untuk menekan alat itu. Biarkan gravitasi yang bekerja."

Arlo mengikuti saran itu. Ia sedikit merendahkan kuda-kudanya, menyandarkan berat tubuhnya pada pengikis besi. Benar saja, pekerjaannya menjadi sedikit lebih ringan. Namun, rasa lelah tetap tidak bisa dihindari. Tangannya yang dibalut perban mulai terasa lembap. Ia tahu luka di bawahnya pasti terbuka lagi, namun ia tidak peduli. Ia hanya punya satu target di kepalanya: bertahan sampai matahari terbenam.

Saat istirahat makan siang, Arlo duduk di bawah bayangan kapal, menyandarkan punggungnya pada tiang penyangga yang dingin. Ia tidak punya makanan. Ia hanya memiliki botol air yang ia bawa dari penginapan. Ia meminumnya dengan rakus, merasakan air dingin itu membasuh tenggorokannya yang berpasir. Di sekelilingnya, para pekerja makan dalam diam. Tidak ada percakapan tentang politik, tidak ada gosip istana. Yang ada hanyalah diskusi singkat soal harga roti atau keluhan tentang mandor yang pelit.

"Kau pendatang baru, ya?" pria tua yang tadi memberinya saran duduk di sampingnya. Ia menyerahkan separuh potong ubi rebus pada Arlo. "Makanlah. Kau butuh karbohidrat jika ingin menyelesaikan bagian lambung itu."

Arlo ragu sejenak. Di Aethelgard, ia tidak pernah menerima makanan dari orang asing. Namun di sini, penolakan adalah sebuah penghinaan terhadap kebaikan yang jarang terjadi. "Terima kasih. Aku Arlo."

"Aku Jono. Sudah sepuluh tahun aku di sini," pria itu tersenyum memperlihatkan giginya yang sudah tidak utuh. "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Arlo. Solandis akan memakan orang yang terlalu terburu-buru. Pelan tapi pasti, itu kuncinya."

Arlo mengangguk sambil mengunyah ubi rebus yang hambar itu. Ia merasakan kehangatan yang aneh di hatinya. Di sini, ia dihargai bukan karena namanya, tapi karena ia mau berbagi kelelahan yang sama.

Pekerjaan sore hari terasa jauh lebih berat. Matahari Solandis yang terik menyengat kulit leher Arlo yang tidak terlindungi. Bau cat yang baru diaplikasikan di kapal sebelah mulai membuatnya pening. Tangannya yang memegang pengikis besi mulai gemetar karena kelelahan otot yang mencapai puncaknya. Beberapa kali ia hampir menjatuhkan alatnya ke dalam lumpur di bawah kapal.

"Sedikit lagi, Arlo. Sedikit lagi," ia berbisik pada dirinya sendiri.

Setiap gerakan tangannya kini terasa seperti siksaan. Ia membayangkan wajah Kalea. Ia membayangkan wajah ayahnya yang sedang berjuang melawan sakit. Jika ia berhenti sekarang, mereka tidak akan punya tempat tinggal besok malam. Ia membayangkan kancing perak yang ia berikan pada pemilik penginapan tadi malam—benda itu adalah taruhan terakhirnya. Jika ia tidak menghasilkan koin hari ini, ia benar-benar akan menjadi pecundang.

Akhirnya, suara peluit panjang terdengar dari pos penjaga. Waktunya berhenti.

Arlo menjatuhkan pengikis besinya ke tanah. Ia berdiri dengan kaki yang terasa seperti terbuat dari jeli. Ia berjalan menuju meja Mandor Silas dengan langkah gontai. Tubuhnya dipenuhi debu putih dan noda air laut yang mengering, baunya sangat tajam, namun ia tidak peduli.

Silas memeriksa hasil kerja Arlo. Ia mengusap permukaan kayu lambung kapal dengan tangannya yang kasar. "Kasar di beberapa bagian, tapi lumayan untuk pemula. Ini upahmu."

Silas meletakkan tiga keping koin perunggu di atas meja.

Arlo menatap koin-koin itu. Hanya tiga koin. Di istana, jumlah ini bahkan tidak cukup untuk membeli sehelai saputangan pelayan. Namun, saat Arlo memungutnya, ia merasakannya sebagai benda paling berat yang pernah ia pegang. Koin ini berbau keringatnya, berbau usahanya, dan berbau kejujurannya.

"Terima kasih," ucap Arlo rendah.

Ia berjalan meninggalkan galangan kapal menuju penginapan. Kakinya terasa berat, setiap langkah adalah perjuangan melawan rasa sakit di persendian. Ia melewati pasar yang mulai tutup, menghirup aroma masakan dari kedai-kedai di pinggir jalan yang membuatnya semakin lapar. Ia merogoh sakunya, memastikan tiga koin itu masih ada.

Sesampainya di penginapan, ia menaiki tangga kayu dengan sangat perlahan. Begitu sampai di depan pintu kamarnya, ia berhenti sejenak untuk mengatur napas. Ia tidak ingin Kalea melihatnya dalam kondisi yang terlalu hancur. Ia menyeka wajahnya dengan bagian kemeja yang paling bersih, lalu membuka pintu.

Kalea sedang duduk di lantai, sedang membersihkan kuas-kuasnya dengan minyak tanah. Di atas meja, ada beberapa potong roti dan dua mangkuk sup yang masih mengeluarkan uap. Ia mendongak saat Arlo masuk.

Kalea tidak bicara. Ia segera berdiri, mengambil handuk basah, dan berjalan mendekati Arlo. Tanpa meminta izin, ia mulai menyeka noda debu di dahi dan leher Arlo. Tangannya bergerak lembut, jauh berbeda dengan ketegasannya pagi tadi.

"Kau bau amis kapal," bisik Kalea pelan.

"Aku bekerja di lambung kapal bawah," jawab Arlo, suaranya terdengar parau. Ia membuka telapak tangannya, memperlihatkan tiga koin perunggu yang ia genggam erat. "Hanya ini yang bisa kudapatkan hari ini."

Kalea menatap koin-koin itu, lalu ia menatap mata Arlo. Ada kilatan haru yang coba ia sembunyikan di balik tatapan datarnya. Ia mengambil koin-koin itu dan meletakkannya di atas meja. "Tiga koin perunggu adalah harga dari kejujuranmu, Arlo. Itu lebih berharga dari seribu emas pemberian ayahmu."

Kalea kembali ke meja, menuangkan sup ke dalam mangkuk. "Aku mendapatkan pekerjaan di bengkel kursi. Pemiliknya bilang aku punya mata yang tajam untuk detail. Dia memberiku lima koin perunggu sebagai uang muka karena aku berhasil menyelesaikan dua belas kursi dalam satu sore."

Arlo duduk di lantai, bersandar pada dipan. Ia merasa seluruh tubuhnya akhirnya menyerah pada kelelahan. Ia menerima mangkuk sup dari Kalea, menyesap cairannya yang hangat dan gurih. Rasanya seperti surga.

"Bagaimana dengan singa itu?" tanya Kalea tiba-tiba.

Arlo mengernyit, tidak mengerti.

"Singa di dalam hatimu. Apakah dia masih meronta ingin kembali ke istana?" Kalea menatap Arlo dengan serius.

Arlo menelan supnya, lalu ia menatap tangannya yang penuh noda dan perban yang sudah lepas. "Singa itu sedang belajar bahwa dia lebih suka mencium bau air laut dan debu daripada bau melati, Kalea. Dia sedang belajar bahwa kebebasan itu rasanya pahit dan melelahkan, tapi ia tidak pernah ingin kembali ke kandang emasnya."

Kalea tersenyum tipis, ia menyentuh tangan Arlo yang kotor. "Bagus. Karena aku tidak punya waktu untuk mengurus singa yang manja."

Malam itu, di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip-kedip, mereka makan dalam keheningan yang nyaman. Di luar sana, Solandis masih berisik dengan kehidupan malamnya, namun di dalam kamar kecil ini, Arlo merasa ia telah menemukan kerajaannya yang sesungguhnya. Kerajaan yang tidak memiliki dinding tinggi, namun memiliki fondasi yang sangat kuat—sebuah rasa saling percaya di antara dua orang yang sedang mencoba untuk menjadi nyata.

Arlo memejamkan mata, membiarkan rasa kantuk yang berat membawanya pergi. Ia tahu besok pagi ia harus kembali ke galangan kapal. Ia tahu lengannya akan kembali sakit. Ia tahu ia akan kembali dimaki oleh mandor.

Tapi ia juga tahu, saat matahari terbenam nanti, ada seseorang yang akan menunggunya dengan handuk basah dan sup hangat. Dan baginya, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat satu hari yang melelahkan menjadi sangat berharga.

Retakan itu kini telah menjadi jalan yang ia tempuh dengan bangga. Dan Arlo Valerius, sang pria tanpa mahkota, akhirnya mengerti apa artinya menjadi pemenang yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!