NovelToon NovelToon
Yakusoku No Mirai

Yakusoku No Mirai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
​Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35.Penjurian Yang Menghancurkan Logika

Aula Balai Sidang seketika berubah menjadi ruang kedap suara yang mencekam. Tiga juri utama, yang dipimpin oleh Chef Adrian, duduk di meja panjang berlapis kain putih di atas panggung. Kamera-kamera televisi menggantung di atas mereka, siap menangkap setiap kerutan dahi atau perubahan ekspresi sekecil apa pun.

"Koki nomor 1, Kenjiro dari Wilayah Utara. Silakan maju," suara pembawa acara memecah kesunyian.

Kenjiro melangkah dengan ritme yang konstan, membawa piring porselennya yang terlihat sangat dingin. Hidangannya, yang ia beri nama “Crystalize Snow”, adalah pir salju yang diproses dengan teknik spherification dan vacuum-osmosis. Buah itu tampak seperti bola kristal bening yang di dalamnya terperangkap sari bunga elderflower dan madu akasia.

Chef Adrian mengangkat sendok peraknya. Saat bola kristal itu pecah di mulutnya, terdengar suara pop kecil yang tertangkap oleh mikrofon.

"Luar biasa," gumam juri kedua, seorang kritikus makanan wanita yang terkenal sangat ketat. "Teksturnya sempurna secara matematis. Suhu penyajiannya berada tepat di 5 derajat Celsius, memberikan sensasi segar yang sangat murni. Tidak ada cacat dalam teknik ini."

Kenjiro tetap diam, matanya yang berada di balik kacamata pintar tidak menunjukkan kebanggaan. Baginya, pujian itu hanyalah konfirmasi atas data yang sudah ia olah. Ryuji di pinggir panggung mengepalkan tinjunya, merasa kemenangan sudah di depan mata.

"Skor sementara untuk teknik: 99. Rasa: 98," Chef Adrian menuliskan sesuatu di tabletnya. Angka yang hampir mustahil dikalahkan.

Kini giliran stasiun nomor 13.

Ren menarik napas dalam-dalam. Ia melirik Hana dan Yuki. Hana menggenggam tangannya sendiri dengan sangat kuat hingga buku jarinya memutih, sementara Yuki memberikan anggukan kecil yang sarat dengan kepercayaan. Ren mengangkat piringnya, “Embun Tanah Karasu”, dan berjalan menuju meja juri.

Begitu piring diletakkan, aroma jahe merah yang terbakar—yang tadi sempat mengganggu—kini telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih lembut karena berpadu dengan uap manis dari pir yang hangat.

"Pir salju biasanya disajikan dingin untuk mempertahankan teksturnya, Koki Ren," ucap Chef Adrian, menatap potongan pir yang sedikit mengeluarkan uap. "Kenapa kamu justru menyajikannya dalam keadaan hangat dan berasap?"

"Karena dingin adalah jarak, Chef," jawab Ren tenang. "Ibu kota ini sudah cukup dingin bagi kami. Saya ingin menyajikan sesuatu yang bisa memberikan rasa hangat, seperti saat seseorang baru saja pulang dari perjalanan jauh."

Juri wanita itu mencibir sedikit, namun ia tetap mengambil potongan pir tersebut. Saat lidah mereka menyentuh permukaan pir, terjadi sebuah ledakan sensorik yang tidak diprediksi oleh siapa pun.

Awalnya, rasa pedas jahe merah hutan menyerang dengan liar, memicu kelenjar ludah. Namun, tepat sebelum pedas itu menjadi menyakitkan, daging pir salju yang lembut melepaskan air buahnya yang manis dan dingin, memadamkan 'api' jahe tersebut dengan sangat elegan. Di akhir, ada jejak rasa gurih dari santan kelapa muda yang menyatukan segalanya.

Chef Adrian memejamkan matanya sangat lama. Tangannya yang memegang sendok sedikit gemetar.

"Ini..." Chef Adrian membuka matanya, dan ada kilatan emosi yang sangat manusiawi di sana. "Ini bukan hanya pir. Jahe merah ini... kamu sengaja membakarnya agar rasa pahit dari kulitnya memberikan dimensi 'waktu' pada pir yang muda ini?"

"Benar, Chef. Rasa pahit itu melambangkan perjuangan, manisnya adalah harapan," jelas Ren.

Juri wanita yang tadi skeptis kini menyeka sudut bibirnya. "Secara logika, ini seharusnya gagal. Jahe ini terlalu kuat. Tapi... entah bagaimana, cara kamu menyuntikkan asapnya membuat pir ini seolah-olah memiliki 'jiwa'. Saya bisa merasakan aroma tanah hutan setelah hujan lebat. Sesuatu yang sangat nyata."

Di kejauhan, Kenjiro sedikit memiringkan kepalanya. Kacamata pintarnya mulai menunjukkan peringatan merah: “Anomaly Detected: Emotional Response in Judges exceeding 85%”. Algoritma Kenjiro tidak bisa menghitung bagaimana sebuah jahe merah yang 'kasar' bisa membuat seorang juri profesional hampir menangis.

"Koki Ren," Chef Adrian berdiri, menatap Ren dengan sangat serius. "Teknikmu berantakan jika dibandingkan dengan Kenjiro. Ada beberapa bagian pir yang potongannya tidak simetris. Tapi..."

Chef Adrian terdiam sejenak, membuat seisi ruangan menahan napas.

"Tapi hidanganmu adalah satu-satunya yang membuat saya ingin menghabiskannya sampai suapan terakhir. Kamu tidak memasak untuk angka, kamu memasak untuk manusia."

Suasana di tribun penonton meledak. Hana langsung menutup wajahnya dengan tangan, menangis bahagia di pundak Yuki. Di bawah lampu sorot, Ren hanya menunduk sedikit, menghormati pujian tersebut. Namun, saat ia berbalik dan menatap Kenjiro, ia melihat sang koki robot itu sedang melepas kacamata pintarnya—untuk pertama kalinya—dan menatap piring kosong milik juri dengan tatapan bingung.

"Hasil akhir babak penyisihan pertama..." suara pembawa acara menggantung di udara.

1
Jack Strom
Cerita yang cukup menarik. Namun saya cukup aneh dengan lokasi cerita, kota Jayapura-Indonesia, tapi tokoh dan cerita ala Jepang??? 😁
Jack Strom
Owalah... Ngaku banyak uang, tapi masih main sabotase segala... Pengecut!!! 😁
Jack Strom
Oh, ini tentang rasa dan keahlian memasak toh..? Mantap mantap mantap!!! 😁
Jack Strom
Halah... Modus!!! 😁
Jack Strom
Wow... Betul² kosong!!? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!