NovelToon NovelToon
Menikahi Duke Misterius

Menikahi Duke Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:JAEMIN NCT / Cinta Seiring Waktu / Barat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: RaeathaZ

Melvin Blastorios, merupakan seorang ahli waris dari keluarga bangsawan Blastorios, yang terkenal akan kehebatan dan kejeniusannya. Selain itu, Melvin juga merupakan pemimpin dari sebuah organisasi rahasia di Inggris yaitu Dragon Knight of Archangel.

Arabella Winston, seorang gadis muda, cantik, bijak dan cukup terkenal di kalangan para bangsawan, yang sedang mencari seorang suamin. Walaupun begitu, Bella dikenal sebagai salah seorang gadis bangsawan yang selalu menolak banyak lamaran dari para pemuda bangsawan lain.

Ini hanyalah sebuah kisah cinta romantis antara seorang pemuda dari organisasi rahasia dengan seorang gadis muda penolak lamaran.

.

.

.

.

terinspirasi dari seri pertama novel club Inferno...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

.

.

.

Pagi itu datang dengan cara yang jauh lebih tenang dibandingkan malam pesta yang penuh gejolak kemarin.

Langit Vincent berwarna pucat, sedikit berkabut, dengan sinar matahari yang belum sepenuhnya berani menembus awan. Jalanan kota mulai ramai oleh aktivitas pagi—kereta kuda berlalu-lalang, pedagang membuka toko, dan para bangsawan yang keluar untuk rutinitas harian mereka.

Namun, bagi Arabella Winston, pagi itu terasa berbeda.

Ia berdiri di depan jendela kamarnya, memandang keluar tanpa benar-benar melihat apapun. Tangannya menggenggam cangkir teh yang sudah hampir dingin, sementara pikirannya… entah melayang ke mana.

Atau lebih tepatnya—pada seseorang.

Melvin Blastorios.

Nama itu kini terasa begitu jelas di kepalanya. Bukan lagi sekadar pria asing misterius yang kebetulan menolongnya. Bukan lagi bayangan samar dari pertemuan singkat di tempat yang penuh bahaya.

Sekarang… pria itu nyata.

Terlalu nyata.

Dan itu justru yang membuat segalanya menjadi semakin rumit.

Bella menghembuskan napas pelan, lalu menutup matanya sejenak.

Ia masih bisa merasakan bagaimana tatapan pria itu di koridor semalam. Cara ia berbicara, cara ia mendekat, cara ia membuat setiap kata sederhana terdengar seperti sesuatu yang… memiliki arti lebih.

Sungguh menyebalkan.

Bella membuka matanya kembali, sedikit mengerutkan alis.

"Kenapa aku memikirkan pria itu terus?" gumamnya pelan.

Ia memalingkan wajahnya dari jendela, mencoba mengusir semua bayangan itu dari pikirannya. Tapi semakin ia mencoba, semakin jelas semuanya terasa.

Senyumnya.

Tatapannya.

Dan… suara rendahnya yang seakan selalu tahu cara membuat jantungnya berdetak tidak wajar.

"Ini tidak benar," bisiknya lagi.

Tapi jauh di dalam dirinya, Bella tahu—ini bukan sekadar rasa penasaran lagi.

Siang hari itu, Bella memutuskan untuk keluar.

Bukan karena ia benar-benar ingin, tapi karena jika ia tetap di rumah, ia yakin pikirannya akan semakin kacau.

Dan entah kenapa, berjalan di luar terasa seperti satu-satunya cara untuk… bernapas.

Ia mengenakan gaun sederhana berwarna krem, jauh lebih santai dibandingkan penampilannya di pesta semalam. Rambutnya dibiarkan terurai setengah, dihiasi pita kecil yang tidak terlalu mencolok.

Tidak ada gaun mewah.

Tidak ada sorotan.

Tidak ada tekanan.

Hanya dirinya… dan kota Vincent.

Bella berjalan menyusuri jalan utama, melewati beberapa toko yang sudah ia kenal sejak kecil. Beberapa orang menyapanya, beberapa lainnya hanya melirik dengan tatapan yang sulit ia baca.

Dan ya… rumor itu masih ada.

Ia bisa merasakannya.

Bisikan-bisikan kecil.

Tatapan yang terlalu lama.

Senyum yang terasa tidak tulus.

Bella menghela napas pelan.

"Sudahlah…" gumamnya.

Ia sudah terlalu lelah untuk mempedulikan semua itu.

Langkahnya terus berjalan tanpa tujuan yang jelas… sampai akhirnya tanpa sadar, ia berhenti di sebuah taman kecil di tengah kota.

Taman itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang yang duduk santai, membaca buku, atau sekadar menikmati udara siang.

Bella tersenyum tipis.

Tempat ini… cukup tenang.

Ia pun berjalan masuk, lalu memilih duduk di salah satu bangku kayu di bawah pohon besar.

Angin sepoi-sepoi berhembus pelan, membuat ujung gaunnya bergerak lembut. Untuk pertama kalinya sejak semalam, Bella merasa sedikit… lega.

Sampai—

"Sepertinya kita memiliki selera tempat yang sama, Nona Winston."

Suara itu.

Bella langsung membeku.

Perlahan… sangat perlahan… ia menoleh ke arah sumber suara itu.

Dan di sana—

Berdiri dengan santai, seolah dunia ini memang miliknya…

Melvin Blastorios.

Bella berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Seolah mencoba memastikan bahwa ini bukan halusinasi.

"Anda…?" suaranya hampir tak terdengar.

Melvin tersenyum tipis, lalu berjalan mendekat dengan langkah yang santai, tapi penuh percaya diri seperti biasanya.

"Saya tidak menyangka akan bertemu Anda di sini," lanjutnya.

Bella masih menatapnya, sedikit tidak percaya.

"Begitu juga dengan saya," jawabnya akhirnya.

Jujur saja… jantungnya langsung kembali berdetak tidak normal.

Kenapa setiap kali pria ini muncul… semuanya jadi terasa berbeda?

Melvin berhenti tepat di depannya, lalu sedikit memiringkan kepala.

"Apakah saya boleh duduk?" tanyanya.

Bella sempat terdiam sejenak.

Bagian dirinya yang rasional ingin berkata tidak.

Tapi bagian lain—yang entah kenapa semakin sulit ia kendalikan—justru…

"Silakan," jawabnya pelan.

Dan itu saja sudah cukup.

Melvin pun duduk di sampingnya, dengan jarak yang tidak terlalu dekat… tapi juga tidak benar-benar jauh.

Cukup untuk membuat Bella sadar akan keberadaannya.

Cukup untuk membuat udara di sekitar mereka terasa… berbeda.

Hening sejenak.

Tidak canggung.

Tapi… penuh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Melvin menatap ke depan, seolah menikmati pemandangan taman.

"Tempat ini cukup tenang," katanya santai.

Bella mengangguk kecil. "Iya."

"Lumayan untuk melarikan diri dari keramaian."

Bella menoleh sedikit ke arahnya.

"Kau juga melarikan diri?"

Melvin tersenyum samar.

"Mungkin."

Jawaban yang menggantung.

Seperti biasa.

Bella menghela napas pelan.

"Sepertinya Anda tidak suka menjawab dengan jelas, Tuan."

Melvin terkekeh pelan.

"Dan sepertinya Anda tidak suka jawaban yang terlalu mudah, Nona."

Bella terdiam.

Lalu… tanpa sadar, sudut bibirnya sedikit terangkat.

Percakapan ini… terasa ringan.

Berbeda dari semalam yang penuh ketegangan dan permainan kata.

Sekarang… lebih santai.

Lebih… nyata.

"Apa yang membawa Anda ke sini?" tanya Bella.

Melvin mengangkat bahu ringan. "Berjalan. Berpikir."

"Lalu tanpa sengaja bertemu saya?"

Melvin menoleh, menatapnya langsung.

"Apakah Anda yakin itu kebetulan?"

Jantung Bella berdegup lebih cepat.

Tatapan itu lagi.

Selalu seperti ini.

Seolah pria itu bisa melihat lebih dalam dari yang seharusnya.

Bella cepat-cepat memalingkan wajahnya.

"Anda terlalu percaya diri, Tuan."

"Apakah itu salah?"

Bella tidak langsung menjawab.

Karena… entah kenapa… ia tidak benar-benar merasa itu salah.

Justru…

Itu yang membuat pria ini berbeda.

Dan mungkin… itu yang membuatnya sulit untuk diabaikan.

Beberapa detik berlalu dalam diam.

Angin kembali berhembus, membawa suasana yang anehnya terasa nyaman.

"Bagaimana dengan Anda?" tanya Melvin tiba-tiba.

Bella mengernyit. "Apa?"

"Apa yang membawa Anda ke sini?"

Bella terdiam sejenak.

Ia bisa saja memberikan jawaban sederhana.

Tapi… entah kenapa…

"Untuk… menjauh sejenak," jawabnya jujur.

Melvin menatapnya.

Tidak mengatakan apa-apa.

Tapi tatapannya… seolah mengerti.

Dan itu membuat Bella merasa… sedikit terkejut.

"Rumor itu masih ada, bukan?" kata Melvin pelan.

Bella tersenyum tipis, tapi kali ini ada sedikit pahit di dalamnya.

"Sepertinya begitu."

Melvin menyandarkan punggungnya ke bangku, masih menatap ke depan.

"Mereka mudah sekali percaya pada hal-hal yang mereka dengar."

Bella menatapnya.

"Kau tidak?"

Melvin tersenyum kecil.

"Saya lebih suka melihat sendiri."

Jawaban itu sederhana.

Tapi entah kenapa… terasa berbeda.

Bella menunduk sedikit, memainkan ujung sarung tangannya.

"Dan apa yang Anda lihat?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Tanpa ia rencanakan.

Melvin tidak langsung menjawab.

Ia menoleh, menatap Bella dengan lebih dalam.

Lebih lama.

Dan untuk beberapa detik… dunia terasa berhenti.

"Apa Anda benar-benar ingin tahu?" tanyanya pelan.

Bella menelan ludah.

"Ya."

Melvin mendekat sedikit.

Tidak terlalu dekat.

Tapi cukup untuk membuat napas Bella tertahan.

"Saya melihat seseorang… yang terlalu kuat untuk terlihat lemah," katanya.

Bella terdiam.

"Seseorang yang tetap berdiri… bahkan saat semua orang mencoba menjatuhkannya."

Suara Melvin rendah.

Pelan.

Tapi setiap katanya terasa jelas.

Dan entah kenapa…

Menyentuh.

Bella tidak tahu harus berkata apa.

Ia hanya bisa menatap pria itu, dengan perasaan yang perlahan… berubah.

Bukan lagi sekadar penasaran.

Bukan lagi sekadar tertarik.

Tapi sesuatu yang lebih dalam.

Lebih berbahaya.

Dan mungkin… lebih sulit untuk dihentikan.

"Anda terlalu pandai berkata-kata," gumamnya akhirnya.

Melvin tersenyum.

"Hanya mengatakan apa yang saya lihat."

Bella mengalihkan pandangannya lagi.

Tapi kali ini, ia tidak mencoba menjauh.

Tidak juga mencoba menyangkal.

Karena untuk pertama kalinya…

Ia mulai sadar.

Bahwa pria di sampingnya ini—

Bukan sekadar gangguan kecil dalam hidupnya.

Tapi sesuatu yang bisa mengubah segalanya.

Dan itu…

Justru yang paling menakutkan.

1
Del Rosa
semangat ya author...
cerita nya keren👍👍👍
Black Swan
Hai kak aku sudah mampir, semangat terus💪
Reilient
ditunggu lanjutannya
Rei_983
lanjutin
Ocean Blue
lanjutin ceritanya
Rose Ocean
lanjutin ceritanya kak
Reha Hambali
lanjutin ceritanya thorr
Riha Zaria
lanjutin ceritanya thor
Reezahra
lanjutin thorr
Zariava
lanjutin thor
Reatha
lanjut thorr
Reazara
lanjutin kak
Zahira
lanjutin thor
Zahra
lanjutin kak
Ria08
lanjut kak
Reza03
lanjut
@RearthaZ
siap kak
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya
Riza09
lanjut
Rei_Mizuki98
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!