NovelToon NovelToon
Rumah Yang Terbagi

Rumah Yang Terbagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:423
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."

Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.

Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.

Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.

Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: ANTARA DUA DUNIA

Suara sirine yang meraung-raung di kejauhan terasa seperti dengung lebah yang ribuan jumlahnya di telinga Sasmita. Aspal jalan tol yang keras dan dingin perlahan kehilangan teksturnya, berubah menjadi hamparan beludru hitam yang seolah siap menelannya. Pandangannya kabur, hanya menyisakan kerlip lampu biru dan merah dari mobil polisi yang memantul di genangan oli.

"Nona! Sasmita! Tetap buka matamu!" Suara Sakti terdengar panik, tangannya yang kasar menekan luka tembak di punggung Sasmita.

Sasmita terbatuk, darah hangat terasa asin di pangkal tenggorokannya. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis yang mengerikan. "Sakti... tabletnya... kodenya... sudah kukirim ke Bong..."

"Jangan pikirkan itu dulu! Kita harus membawamu keluar dari sini!"

Sakti mengangkat tubuh Sasmita yang kini terasa seringan kapas. Di belakang mereka, Agatha Waskita sudah diringkus oleh petugas Brimob. Wanita yang tadinya begitu agung itu kini tampak seperti pesakitan—rambutnya acak-adukan, wajahnya penuh lumpur, dan matanya membelalak kaget saat melihat dokumen yang selama ini ia lindungi kini berada di tangan petugas penyidik khusus.

"Bramasta..." bisik Sasmita sebelum kesadarannya benar-benar padam.

Sasmita terbangun dalam kegelapan yang steril. Bau antiseptik yang tajam menusuk hidungnya, diikuti oleh bunyi bip yang monoton dari mesin EKG di samping tempat tidurnya. Setiap tarikan napas terasa seperti ada ribuan jarum yang menusuk paru-parunya.

Ia mencoba menggerakkan tangan kanannya, namun rasanya berat dan terikat oleh selang infus. Di sudut ruangan yang remang-remang, ia melihat sesosok bayangan duduk dengan kepala tertunduk.

"Sakti?" suara Sasmita nyaris tidak terdengar, hanya sebuah bisikan serak.

Bayangan itu bergerak. Bukan Sakti. Pria itu berdiri dan melangkah ke arah cahaya lampu tidur yang redup. Wajahnya dibalut perban di bagian dahi dan pipi, tangannya digips, namun matanya memancarkan kelegaan yang luar biasa.

"Bramasta..." Sasmita membelalak. "Kamu... kamu hidup?"

Bramasta Aditya duduk di pinggir tempat tidur Sasmita, air mata mengalir di pipinya yang memar. "Sakti... dia datang tepat waktu di Priok. Anak buah Bong mengalihkan perhatian penjaganya, dan Sakti mendobrak masuk sebelum mereka sempat menyalakan mesin penghancur logam tempat aku diikat."

Sasmita menghela napas panjang, sebuah gerakan yang membuatnya meringis kesakitan. "Agatha?"

"Dia di sel isolasi markas besar kepolisian. Bukti yang kamu berikan... dokumen dari makam Ibu... itu adalah pukulan telak. Jaksa agung sudah mengeluarkan perintah penyitaan seluruh aset Waskita Group karena status hukum pernikahan mereka yang palsu. Agatha tidak punya peluru lagi untuk melawan, Sasmita. Dia tamat."

Sasmita memejamkan mata. Seharusnya ia merasa senang. Seharusnya ia merasa menang. Namun, di dalam hatinya, ia merasa kosong. Rumah yang ia perjuangkan telah runtuh, dan ia berdiri di atas puing-puingnya sendirian.

"Bagaimana dengan Aris?" tanya Sasmita.

Wajah Bramasta seketika berubah kaku. "Dia hilang. Polisi menyisir sungai di bawah jembatan tol, tapi mereka hanya menemukan jaketnya yang bersimbah darah. Dia licin, Sasmita. Dia seperti bayangan yang diciptakan Agatha untuk terus menghantui kita."

"Dia tidak akan berhenti, Bram," gumam Sasmita. "Selama aset itu masih terkunci dengan kode yang ada di kepalaku, Aris akan terus mengejarku. Dia bukan lagi bertarung untuk ibunya... dia bertarung untuk kelangsungan hidupnya sendiri."

Tiba-tiba, pintu kamar rawat terbuka pelan. Sakti masuk dengan wajah yang sangat serius. Ia mengenakan setelan jas hitam, tampak seperti seorang pengawal profesional kelas atas, bukan lagi seperti sopir truk yang kotor.

"Nona, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda. Ini sangat mendesak," ujar Sakti.

"Siapa? Aku belum bisa menerima tamu, Sakti."

"Ini tentang Tuan Wirya Janardana. Ada perkembangan baru di pengadilan."

Sasmita mengerutkan kening. Ia dipaksa duduk dengan bantuan Bramasta, meskipun rasa perih di punggungnya membuatnya ingin pingsan kembali. Seorang pria paruh baya dengan koper kulit mahal masuk ke ruangan. Sasmita mengenalinya—dia adalah Yudhistira, pengacara kepercayaan Wirya yang menghilang sejak hari pemakaman.

"Nona Sasmita, saya minta maaf karena harus bersembunyi selama ini. Agatha menaruh harga untuk kepala saya," ujar Yudhistira sambil meletakkan sebuah map baru di atas meja medis Sasmita.

"Apa lagi ini, Pak Yudha? Bukankah semuanya sudah selesai?"

"Belum, Nona. Tuan Wirya tahu bahwa dokumen di makam itu mungkin akan digunakan oleh Anda. Tapi beliau meninggalkan satu hal lagi. Sebuah rekaman suara yang dilakukan dua jam sebelum mobilnya disabotase. Rekaman ini baru saja dikirimkan oleh sistem otomatis yang beliau atur untuk dikirim ke email saya jika Agatha tertangkap."

Yudhistira menekan tombol putar pada ponselnya. Suara berat Wirya Janardana yang berwibawa namun terdengar lelah memenuhi ruangan.

"Sasmita... putriku. Jika kamu mendengar ini, artinya aku sudah tidak ada, dan kamu telah berhasil membongkar kebusukan Agatha. Maafkan aku karena telah menjadi ayah yang pengecut. Aku tahu kamu bukan darah dagingku, Hendra sudah mengatakannya padaku bertahun-tahun lalu. Tapi bagiku, kamu adalah satu-satunya bagian dari Ratna yang paling murni. Aku tidak membencimu, Sasmita. Aku membenci diriku sendiri karena setiap kali melihatmu, aku teringat betapa aku gagal melindungi ibumu."

Sasmita menggigit bibirnya, air mata mulai jatuh tanpa bisa ditahan.

"Sasmita, jangan gunakan aset Waskita untuk membangun kembali Janardana Group. Perusahaan itu sudah ternoda oleh dosa. Di dalam deposit box nomor 0909 di Singapura, aku menyimpan saham atas namamu di sebuah yayasan lingkungan hidup internasional. Hiduplah sebagai dirimu sendiri, bukan sebagai ahli waris Janardana, dan bukan sebagai pion Waskita. Akhiri garis merah ini, Sasmita. Jangan biarkan dendam memakanmu hidup-hidup."

Rekaman itu berakhir. Keheningan yang sangat dalam menyelimuti kamar rumah sakit itu. Sasmita menatap tangannya yang gemetar. Selama ini, ia mengira garis merah yang ia buat adalah untuk membalas dendam. Namun ternyata, garis itu adalah pembatas yang dibuat oleh ayahnya untuk menjaganya agar tidak jatuh ke dalam kegelapan yang sama.

"Nona?" Sakti memanggil pelan.

"Sakti... aku ingin mengakhiri ini," ujar Sasmita dengan suara yang mantap. "Aris mungkin masih di luar sana, tapi aku tidak akan memberinya apa yang dia mau. Aku akan menghapus seluruh kode aset Waskita. Biarkan triliunan rupiah itu hilang. Biarkan semuanya hangus agar tidak ada lagi yang bertarung memperebutkannya."

"Tapi Nona, itu adalah kekayaan yang bisa membuat Anda menjadi wanita terkaya di negeri ini!" seru Bramasta kaget.

"Kekayaan itu adalah kutukan, Bram. Itu adalah darah ibuku, darah dr. Gunawan, dan darah orang-orang yang tidak bersalah. Aku tidak menginginkannya."

Sasmita meminta Sakti membawakan laptopnya. Dengan jari-jari yang masih lemah, ia masuk ke dalam sistem pusat Waskita yang sudah terkunci. Ia melihat angka-angka nol yang berderet, mewakili aset-aset raksasa yang sedang menunggu kuncinya dibuka.

Ia tidak mengetik kode enkripsinya. Sebaliknya, ia mengetik perintah Self-Destruct yang sudah ia siapkan sejak ia berada di gudang Bong.

"Apakah Anda yakin ingin menghapus seluruh data enkripsi secara permanen? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan."

Sasmita menatap Bramasta dan Sakti. Mereka mengangguk pelan, memberikan dukungan mereka sepenuhnya. Sasmita menekan tombol Enter.

Di layar, terlihat grafik yang perlahan runtuh menjadi nol. Di seluruh kantor Waskita Group di Jakarta, Singapura, hingga London, server-server utama mereka mulai melakukan format ulang secara massal. Triliunan rupiah dalam bentuk aset digital menguap ke dalam kehampaan siber.

"Sudah selesai," bisik Sasmita. Ia merasa seolah beban seberat gunung baru saja diangkat dari pundaknya.

Namun, di tengah rasa lega itu, monitor EKG Sasmita tiba-tiba berbunyi kencang. Teeeeeeeeeet.

"Nona! Sasmita!" teriak Sakti.

Pandangan Sasmita kembali menggelap. Rupanya, peluru Aris mengandung racun saraf yang bekerja lambat, sebuah 'hadiah' terakhir dari adiknya yang mengerikan itu. Aris tahu, meskipun Sasmita menang secara hukum, ia harus memastikan Sasmita tidak akan pernah bisa menikmati kemenangannya.

Sasmita merasa dirinya melayang. Ia melihat bayangan ibunya, Ratna, sedang berdiri di sebuah taman bunga melati yang sangat indah. Ibunya tersenyum, mengulurkan tangan padanya.

"Apakah aku sudah sampai, Ibu?" tanya Sasmita dalam hatinya.

Garis merah di lantai mansion, garis merah di aspal jalan tol, dan garis merah di monitor jantungnya... semuanya perlahan menyatu menjadi satu garis putih yang lurus dan tenang.

1
Dania
semangat tor
@RearthaZ
awal cerita yang bagus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!