NovelToon NovelToon
The Dancing Soul

The Dancing Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Mentari pagi semakin tinggi, menyinari halaman rumah Liana yang kini dipenuhi oleh wajah-wajah penuh harap dari Jakarta.

Di teras rumah, sang sutradara duduk bersimpuh di atas tikar pandan, merendahkan pundaknya di hadapan Mama Liana.

"Bu, saya datang jauh-jauh bukan sebagai atasan Liana, tapi sebagai orang yang mengagumi bakatnya," ucap sutradara dengan suara yang tulus dan rendah.

"Film ini adalah hasil keringat ratusan orang. Tanpa Liana di acara pembukaan nanti, semua kerja keras kami akan terasa hampa. Kami mohon, izinkan Liana kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan tanggung jawab profesionalnya. Kami berjanji akan menjaganya lebih baik dari sebelumnya."

Mama Liana terdiam lama, jemarinya yang kurus mengusap pinggiran gelas teh yang mulai dingin.

Beliau menoleh, memandang dalam-dalam ke arah wajah putri tunggalnya.

Ada keraguan, namun juga ada rasa bangga yang terselip di matanya.

"Semua keputusan ada di tanganmu, Ndhuk," bisik Mama lembut.

"Kalau hatimu sudah mantap untuk menyelesaikan apa yang kamu mulai, Mama tidak akan melarang. Tapi kalau kamu masih terluka, jangan dipaksa."

Liana menatap satu per satu wajah kru film—Rina yang matanya berkaca-kaca, penata kamera yang mengangguk memberi semangat, dan sang sutradara yang masih menunggu jawabannya.

Ia tahu, ia tidak bisa membiarkan ratusan orang gagal hanya karena luka pribadinya dengan satu orang.

Liana menarik napas panjang, lalu menganggukkan kepalanya perlahan.

"Baik, Ma. Liana akan kembali ke Jakarta. Liana akan menyelesaikan kontrak ini demi mereka semua."

Sorak kegembiraan tertahan pecah di antara para kru.

Rina langsung memeluk Liana dengan erat, membisikkan kata terima kasih berulang kali.

Namun, di tengah suasana haru itu, seorang pria paruh baya—pemilik penginapan kecil di ujung jalan—berlari terengah-engah memasuki halaman rumah Liana. Wajahnya pucat pasi.

"Mbak Liana! Mbak Liana!" serunya sambil mengatur napas.

"Itu, tamu lelaki yang kemarin Mbak ajak bicara. Pak Adrian! Dia pingsan di kamarnya! Badannya panas sekali seperti api, saya panggil-panggil tidak bangun!"

Deg!

Jantung Liana seolah berhenti berdetak sesaat. Bayangan Adrian yang sombong dan berkuasa mendadak sirna, berganti dengan bayangan pria yang babak belur di tangan Erwin kemarin.

"Jangan ke sana, Li!" Erwin langsung berdiri, menghadang langkah Liana dengan wajah mengeras.

"Biarkan saja dia. Itu cuma taktiknya untuk menarik perhatianmu lagi. Dia sudah dewasa, biarkan pemilik penginapan yang membawanya ke puskesmas."

Liana menatap Erwin dengan tatapan yang sulit diartikan.

Ada amarah yang masih membara, namun ada sisi kemanusiaan yang tak bisa ia bungkam begitu saja.

Bagaimanapun, pria itu pingsan di tanah kelahirannya.

"Aku cuma ingin melihatnya sebentar, Win," ucap Liana pelan namun tegas.

"Hanya sebentar. Sebagai sesama manusia, bukan sebagai wanita yang pernah dia sakiti. Aku tidak mau dia mati di desa kita dan membawa masalah bagi warga."

Tanpa menunggu persetujuan Erwin, Liana melangkah cepat menuju penginapan, diikuti oleh Rina yang juga tampak panik.

Erwin hanya bisa mengepalkan tangannya, menatap punggung Liana dengan rasa cemas dan cemburu yang menggelegak di dadanya.

Langkah Liana terasa berat saat memasuki lorong penginapan yang remang-remang.

Aroma kayu tua dan obat nyamuk bakar menyambutnya, namun yang paling menyesakkan adalah suara erangan lirih yang terdengar dari balik pintu kamar nomor 07.

Begitu pintu terbuka, Liana membeku. Di atas ranjang sempit dengan sprei putih yang sudah kusut, Adrian terbaring tak berdaya.

Wajahnya yang biasanya angkuh kini pucat pasi, namun pipinya memerah karena panas yang membakar tubuhnya.

Sudut bibirnya yang biru pecah akibat pukulan Erwin tampak mengering dan pecah-pecah.

"Liana, maaf. Liana, jangan pergi..." Adrian mengigau, suaranya serak dan parau. Tangannya yang gemetar bergerak gelisah di atas selimut, seolah sedang meraba kegelapan mencari pegangan.

"Jangan pergi, aku mencintaimu... Liana..."

Air mata Liana nyaris jatuh lagi, namun ia segera menghapusnya.

Rasa iba dan benci berperang hebat di dadanya. Rina yang berdiri di belakang Liana segera menyentuh dahi Adrian dan tersentak.

"Ya Tuhan, panas sekali! Kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang juga!" seru Rina panik.

Tanpa membuang waktu, tim produksi yang ikut menyusul segera membopong tubuh Adrian yang terkulai lemas ke dalam mobil.

Liana hanya bisa terdiam, mengikuti dari belakang dengan perasaan campur aduk.

Beberapa jam kemudian, suasana berubah menjadi sunyi yang mencekam.

Bau karbol yang tajam menyengat indra penciuman. Adrian sudah dipindahkan ke ruang perawatan di sebuah rumah sakit daerah di Yogyakarta.

Jarum infus tertancap di punggung tangannya, dan bunyi monitor jantung yang teratur menjadi satu-satunya suara di ruangan itu.

Liana duduk di kursi plastik di samping tempat tidur.

Ia menatap wajah Adrian yang kini tampak begitu rapuh dalam tidurnya yang dipengaruhi obat.

Tidak ada lagi produser besar yang berkuasa, tidak ada lagi pria yang mengatur skenario hidup orang lain.

Yang ada hanyalah seorang pria yang tampak hancur oleh kesalahannya sendiri.

Liana menggenggam jemari tangannya sendiri, menatap cincin berlian yang tadi sempat ia ambil dari meja nakas penginapan dan sekarang berada di dalam tasnya.

"Kenapa harus begini, Adrian?" bisik Liana lirih, suaranya tenggelam dalam kesunyian kamar perawatan.

"Kenapa kamu harus datang ke sini dan membuatku semakin sulit untuk membencimu?"

Di luar ruangan, Erwin berdiri di balik kaca pintu. Ia menatap pemandangan itu dengan rahang yang mengeras.

Ia melihat bagaimana Liana menatap Adrian—bukan dengan amarah, melainkan dengan pancaran luka yang masih menyimpan sisa-sisa kepedulian.

Erwin tahu, meskipun mereka akan kembali ke Jakarta, pertempuran untuk memenangkan hati Liana baru saja memasuki babak yang paling berbahaya.

Tiba-tiba, jemari Adrian bergerak kecil. Kelopak matanya bergetar, perlahan terbuka dan menatap langit-langit putih rumah sakit sebelum akhirnya beralih ke samping, menemukan sosok Liana yang sedang duduk menunggunya.

"Liana...?" bisik Adrian lemah, sebuah senyum tipis yang menyakitkan muncul di bibirnya yang pucat.

"Apakah ini, masih bagian dari mimpiku?"

Suasana kamar perawatan yang putih bersih itu mendadak terasa sesak saat Adrian perlahan membuka matanya.

Kesadarannya belum pulih sepenuhnya, namun indra penciumannya segera mengenali aroma lembut yang sangat ia hafal—aroma yang selalu menenangkannya di tengah hiruk pikuk lokasi syuting.

"Liana...?" suara Adrian nyaris tak terdengar, serak dan pecah.

Sutradara dan Rina segera mendekat ke sisi tempat tidur dengan wajah lega.

"Adrian! Syukurlah kamu sudah sadar. Kamu membuat kami jantungan, tahu!" seru sutradara sambil menepuk bahu Adrian pelan.

Rina menyodorkan segelas air dengan sedotan. "Minum dulu sedikit, Bos. Badanmu tadi panas sekali seperti api."

Adrian meminum air itu sedikit, namun matanya sama sekali tidak beralih dari sosok Liana yang masih duduk mematung di kursi plastik.

Tangannya yang bebas dari jarum infus bergerak gemetar, mencoba meraih ujung jemari Liana yang berada di atas seprai.

"Jangan pergi lagi, Liana. Aku mohon," bisik Adrian, matanya berkaca-kaca karena rasa takut yang nyata.

"Aku tidak butuh film itu, aku tidak butuh Jakarta. Aku hanya butuh kamu memaafkanku."

Sutradara berdehem, mencoba mencairkan suasana.

"Adrian, dengar. Kita harus segera kembali ke Jakarta untuk persiapan premiere. Liana sudah setuju untuk ikut bersama kami. Sekarang kamu istirahatlah, biar Rina atau staf medis yang menjagamu malam ini agar Liana bisa istirahat di rumah."

Mendengar itu, Adrian mendadak menggelengkan kepalanya dengan lemah namun pasti.

Ia mencengkeram kain seprai dengan erat, napasnya kembali memburu karena cemas.

"Tidak! Aku tidak mau," gumam Adrian keras kepala.

"Rina, Pak, tolong tinggalkan kami sebentar. Aku ingin Liana yang menemaniku di sini. Hanya Liana."

Rina menatap Liana dengan ragu, lalu beralih menatap sutradara.

Mereka tahu betapa keras kepalanya Adrian, apalagi dalam kondisi sakit seperti ini.

"Tapi Adrian, Liana juga butuh istirahat, dia baru saja sampai dari stasiun kemarin—"

"Tolong..." potong Adrian, matanya kini menatap Liana dengan tatapan memohon yang begitu hancur.

"Hanya malam ini, Liana. Jangan tinggalkan aku di kegelapan ini sendirian. Aku takut jika aku memejamkan mata, kamu akan hilang lagi."

Sutradara menghela napas panjang, lalu menepuk pundak Liana.

"Liana, bagaimana? Kalau kamu keberatan, kami tidak akan memaksamu. Erwin juga masih menunggu di luar."

Liana terdiam, menatap tangan Adrian yang gemetar di atas ranjang.

Di luar pintu, ia tahu Erwin sedang memperhatikannya dengan rahang yang mengeras. Namun, melihat pria yang biasanya begitu angkuh kini memohon dengan sisa-sisa tenaganya, hati Liana yang lembut tidak sanggup untuk berbalik pergi begitu saja.

Liana menarik napas panjang dan menoleh ke arah sutradara.

"Bapak dan Rina kembalilah ke penginapan untuk istirahat. Biar saya yang menjaganya sebentar... sampai demamnya benar-benar turun."

Rina mengangguk haru, sementara sutradara memberikan jempol penyemangat sebelum mereka melangkah keluar, meninggalkan keheningan yang sarat akan emosi di dalam kamar nomor 302 itu.

Kini hanya ada mereka berdua. Adrian menatap Liana dengan binar lega yang menyakitkan.

"Terima kasih, Liana. Terima kasih sudah tidak membiarkanku mati dalam penyesalan."

Liana tidak menjawab. Ia hanya mengambil handuk kecil, memerasnya dalam baskom air hangat, dan mulai mengompres dahi Adrian dengan telaten—sebuah tindakan penuh kepedulian yang ia lakukan dalam bungkam yang seribu bahasa.

1
Laila Isabella
awal cerita yg menarij
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
merry yuliana
hmmmmmm bioin si adrian bertekuk.lutit bucin abis sama liana kak
winpar
ceritanya seru
merry yuliana
hadir kak
ditunggu crazy upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!