NovelToon NovelToon
Fall In Love With My Lil Sister

Fall In Love With My Lil Sister

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Romantis / Saudara palsu / Rumah Tangga
Popularitas:748
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restoran Spanyol

Restoran Spanyol yang baru dibuka itu memiliki suasana yang hangat dengan alunan musik gitar akustik yang lembut di latar belakang. Noah menyesap sangrianya, matanya sesekali mencuri pandang ke arah Alessia yang tampak sangat menikmati hidangan pembukanya. Namun, ada satu hal yang terus mengusik rasa penasaran Noah sejak pertemuan mereka di Jeju.

"Al... setahuku, kamu anak tunggal. Yang kamu panggil 'Kak' itu... apa dia sepupumu?" tanya Noah dengan nada santai, mencoba menggali informasi tanpa terdengar terlalu menginterogasi.

Alessia meletakkan garpunya sejenak, wajahnya melembut saat memikirkan sosok pria kaku yang tadi ia tinggalkan di kantor.

"Oh... Kak Nathaniel? Iya, dia kakakku. Dia masuk ke kehidupan kami... hm... sepuluh tahun lalu? Dan sejak saat itu, dia menjadi bagian dari keluarga kami," jawab Alessia dengan jujur. Ia tidak merasa perlu menutupi status Nathaniel, karena baginya, ikatan mereka sudah jauh melampaui urusan darah.

Noah mengangguk-angguk kecil, jari-jarinya mengetuk pinggiran gelas. "Oh begitu... Pantas saja. Tapi harus kuakui, dia tampaknya sangat protektif. Bahkan untuk ukuran seorang kakak."

Alessia terkekeh pelan, teringat bagaimana Nathaniel hampir saja "menelan" Tuan Choi di Jeju kemarin hanya dengan tatapan mata.

"Iya, dia memang selalu begitu dengan keluarganya. Bukan cuma padaku, dengan ibuku juga dia sangat sopan dan menjaga. Ayah sudah menganggapnya seperti tangan kanan sekaligus anak laki-laki yang tidak pernah ia miliki," jawab Alessia apa adanya.

"Begitu ya..." Noah terdiam sejenak, tampak berpikir.

"Tapi Al, apa kamu tidak merasa tercekik? Maksudku, dia mengatur jadwalmu, menemanimu ke mana-mana, bahkan tadi di rapat dia seolah... menjagamu dari dunia luar. Kamu kan sudah dewasa."

Alessia tertegun mendengar pertanyaan Noah. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang nyaman. "Tercekik? Entahlah. Mungkin awalnya aku merasa begitu. Tapi setelah melihat bagaimana dia bekerja keras untuk Sinclair, aku sadar kalau dia hanya ingin aku siap. Dia itu... tembok yang selalu ada di belakangku, Noah. Aku merasa aman kalau ada dia."

Noah tersenyum tipis, ada kilat persaingan yang kembali muncul di matanya. "Tembok ya? Tapi tembok yang terlalu tinggi terkadang menghalangi pemandangan yang indah di luar sana, kan?"

Noah kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, mengubah topik pembicaraan dengan cara yang lebih personal. "Lupakan soal kakakmu sejenak. Ingat tidak waktu kita bolos kelas sejarah di Amerika cuma buat berburu food truck di pinggir kota?"

Alessia tertawa lepas, ingatan masa kuliahnya yang bebas kembali berputar. Tanpa ia sadari, Noah sedang mencoba meruntuhkan "tembok" yang ia sebutkan tadi dengan kenangan-kenangan manis yang tidak dimiliki oleh Nathaniel.

———

Nathaniel menatap arloji di pergelangan tangannya untuk ke sepuluh kalinya dalam satu jam terakhir. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 14.30. Ruang rapat dewan komisaris sudah siap, dokumen sudah tertata rapi, namun kursi di sebelah pimpinan masih kosong melompong.

Rasa tidak tenang yang sedari tadi ia tekan, akhirnya meledak. Dengan gerakan cepat, ia meraih ponselnya dan menekan nomor Alessia.

"Halo Kak, aduh maaf... aku sulit sekali menemukan taksi di sini. Sepertinya aplikasi sedang gangguan dan jalanan macet total," suara Alessia terdengar panik di seberang telepon, diiringi kebisingan latar belakang restoran yang masih ramai.

Nathaniel mengernyit, rahangnya mengeras. "Noah mana? Bukankah dia yang membawamu ke sana?" tanya Nathaniel sembari dengan sigap menyambar kunci mobil di atas meja kerjanya.

"Dia mendadak ada rapat darurat dengan pihak Maverick pusat, jadi dia harus berangkat duluan tadi. Aku bilang tidak apa-apa karena aku bisa pesan taksi, tapi ternyata susah sekali," jawab Alessia merasa bersalah.

"Tunggu di sana. Jangan bergeser satu langkah pun," kata Nathaniel tegas sebelum memutus sambungan. Ia tidak peduli jika ia harus menembus kemacetan Seoul; membiarkan Alessia sendirian di tempat umum tanpa pengawasan adalah hal terakhir yang akan ia lakukan.

Alessia masih duduk di meja panjang bersama teman-teman kuliahnya yang lain, bukan hanya Noah, ternyata ada Lady dan beberapa teman lama yang ikut bergabung setelah Noah pergi.

Tiba-tiba, pintu restoran terbuka dengan dentuman pelan namun berwibawa. Sosok pria jangkung dengan setelan jas hitam sempurna melangkah masuk. Ekspresinya dingin, matanya menyapu ruangan dengan ketajaman elang hingga berhenti tepat pada sosok Alessia.

Kehadiran Nathaniel yang terlalu "mahal" untuk ukuran restoran santai itu langsung mencuri perhatian seluruh pengunjung, terutama teman-teman wanita Alessia.

"Wah!!! Al, siapa itu?! Kenalin dong ke kakakmu!" pinta Lady dengan suara tertahan, matanya tidak berkedip menatap garis rahang Nathaniel yang tegas.

"Ganteng banget! Itu beneran kakakmu? Aura eksekutifnya gila!" timpal teman yang lain sambil berbisik heboh.

Alessia berdiri dengan canggung sekaligus bangga saat Nathaniel sampai di meja mereka. Ia bisa merasakan aura protektif yang terpancar kuat dari pria itu.

"Tentu! Next time kalau senggang, akan aku kenalkan secara resmi ya," jawab Alessia ceria, mencoba meredam suasana heboh teman-temannya.

Nathaniel tidak mengucapkan sepatah kata pun pada teman-teman Alessia. Ia hanya memberikan anggukan kepala yang sangat tipis sebagai tanda sopan santun minimalis, lalu beralih menatap Alessia.

"Ayo. Dewan komisaris sudah menunggu sepuluh menit yang lalu," ucap Nathaniel datar, namun ia tetap mengambilkan tas tangan Alessia yang tersampir di kursi.

"Maaf ya teman-teman, aku harus balik jadi bos dulu!" pamit Alessia sambil melambaikan tangan, mengikuti langkah lebar Nathaniel menuju mobil yang terparkir tepat di depan pintu masuk.

Begitu masuk ke dalam mobil yang dingin oleh AC, Nathaniel langsung memacu kendaraannya. Keheningan di dalam mobil terasa sangat kontras dengan keramaian di restoran tadi.

"Lain kali," suara Nathaniel memecah kesunyian, "jangan pernah biarkan orang lain meninggalkanmu sendirian di tempat umum, bahkan jika itu teman lamamu sekalipun."

Alessia mengangguk patuh, menyadari bahwa nada suara Nathaniel kali ini bukan sekadar tegas, tapi mengandung kekecewaan profesional. Ia meraih map kulit berwarna biru tua yang tergeletak di jok belakang, lalu membukanya dengan hati-hati.

"Iya, Kak," jawab Alessia singkat. Ia mulai membalik halaman demi halaman, mencoba fokus pada grafik pertumbuhan dan laporan audit tahunan yang tampak sangat teknis.

"Di jok belakang ada berkas yang akan dibahas hari ini. Pelajari sedikit agar kamu paham poin-poin keberatan dari dewan komisaris nanti," pinta Nathaniel tanpa menoleh, matanya tetap tajam menatap jalanan Seoul yang padat.

Mobil melaju dengan kecepatan stabil. Keheningan di dalam kabin hanya diisi oleh suara gesekan kertas saat Alessia membalik halaman.

"Kak..." panggil Alessia pelan di tengah kemacetan.

"Soal Noah... dia tadi benar-benar minta maaf karena harus pergi mendadak. Ada masalah distribusi di Maverick."

Nathaniel mengerem mobilnya sedikit lebih dalam saat lampu merah menyala. Ia mencengkeram kemudi, buku-buku jarinya memutih.

"Alasannya tidak penting, Alessia. Yang penting adalah dia meninggalkanmu tanpa memastikan ada transportasi yang aman untukmu pulang. Di dunia ini, niat baik tidak ada harganya jika tidak disertai tanggung jawab."

Alessia terdiam. Ia bisa merasakan aura protektif Nathaniel yang sangat pekat hari ini. Ia menatap profil samping wajah Nathaniel, rahang yang tegas dan tatapan yang selalu waspada. Ada rasa bersalah muncul di hatinya karena telah membuat pria ini harus meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menjemputnya di restoran.

"Maaf sudah merepotkanmu. Aku janji ini terakhir kalinya aku terlambat," bisik Alessia tulus.

Nathaniel menghela napas panjang, bahunya yang tegang sedikit melandai. "Jangan minta maaf padaku. Minta maaflah pada waktumu sendiri yang terbuang. Sekarang, fokus pada halaman empat. Komisaris Kim akan menyerang bagian efisiensi biaya renovasi lounge yang kita bahas tadi pagi. Siapkan jawabanmu."

Alessia tersenyum tipis, merasa bersyukur memiliki seseorang yang selalu menariknya kembali ke jalur yang benar. Ia kembali menekuni berkasnya, bertekad untuk menunjukkan pada Nathaniel dan para komisaris, bahwa ia bukan lagi gadis kecil yang hanya bisa bersenang-senang dengan teman kuliahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!