Warning!!!!!!
Shenina Valerie Arous hanya menginginkan satu hal—cinta yang tulus.
Namun, pria yang ia cintai justru memberinya kasih sayang karena rasa kasihan.
Saat hatinya hancur, seorang pria berbahaya muncul dalam hidupnya.
Arsen Erzaquel Lergan—pewaris keluarga ternama yang terbiasa mendapatkan segalanya, termasuk dirinya.
Obsesi Arsen bukan cinta. Itu lebih seperti penjara yang tak terlihat.
Di saat yang sama, Andrew Kyle hadir sebagai satu-satunya pria yang tulus, rela melakukan apapun demi kebahagiaannya.
Di antara cinta, obsesi, dan pengkhianatan—
pilihan Shena akan menentukan apakah ia akan diselamatkan… atau justru hancur lebih dalam.
Dan ketika sebuah rahasia besar terungkap, segalanya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nupitautari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Aku tidak pergi. Hanya mau duduk di sofa. Ini tidak begitu nyaman bagiku" ucap Shena kikuk.
"Kau tidak suka aku peluk?" Tanya Arsen pelan.
Shena bingung menjawabnya. Haruskah ia jujur kalau ia tidak suka? Tapi nanti Arsen jadi tambah sedih.
Arsen melonggarkan pelukannya. Ia menatap wajah Shena dengan sendu. Ia membelai wajah Shena pelan. "Shena, aku tidak mau jauh darimu. Aku ingin selalu bersamamu" ucap Arsen sendu.
Shena terdiam tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia buang pandangan ke kiri dan kanan karena canggung dan bingung. "Arsen, aku hanya menganggap mu teman saja" ucap Shena pelan dengan rasa bersalah di wajahnya.
Arsen tersenyum. "Tidak masalah, waktu kita masih panjang. Aku akan berusaha lebih keras" ucap Arsen. Ia tersenyum lembut menatap Shena.
"Tidak bisakah kita tetap menjaga hubungan pertemanan kita? Aku lebih nyaman dengan hubungan itu" ucap Shena ragu-ragu. Ia melirik ke wajah Arsen. Ekspresinya tampak gelap dan dingin. Shena langsung buang pandangan lagi. Ini kali ke dua ia melihat ekspresi menakutkan Arsen. Tubuhnya sedikit bergetar.
Arsen merapatkan tubuh Shena dalam pelukannya. Bibirnya mendekat ke telinga kiri Shena dan berbisik. "Jika bukan kamu, maka aku akan mati. Shena, aku sangat mencintaimu" ucap Arsen dingin. Shena dibuat merinding mendengarnya.
"Arsen, aku...."
"Sttt.... Jangan memikirkan apapun. Biar aku yang mengusahakan semuanya. Kau hanya perlu tetap berada disamping ku, mengerti" ucap Arsen. Shena tidak menjawab. Ia hanya diam tak bergeming.
.
.
.
Ujian hari kelulusan akan berakhir hari ini. Shena berjalan dengan tak semangat menuju gerbang sekolah. Drew melihat dari kejauhan dan berlari mengejar Shena.
"My Hero, kenapa tampak lesu? Hari ini hari terakhir ujian kita" tanya Drew.
Shena hanya melirik sekilas lalu menunduk lagi. "Ga perduli sekeras apapun aku berusaha, aku tetap akan jadi yang terbawah" keluh nya.
Drew terkekeh. Ia berjalan menghadap Shena dan berkata. "My Hero, kau tenang saja. Aku akan senantiasa berada di bawahmu" ia bahkan meletakkan tangan kanannya di dada kiri untuk meyakinkan Shena.
Shena tertawa melihat tingkah konyol Drew. "Wahh... Kau benar-benar teman sejati ku. Kita harus berteman sampai tua" ucap Shena.
"Hah, kau keterlaluan. Aku mungkin bisa menjadi suamimu di masa depan" ucap Drew sombong.
Shena berdecih. Ia menendang kaki kanan Drew. "Hentikan omong kosong mu. Rumah tangga kita bisa hancur jika 2 orang bodoh saling bersatu". Ejek Shena.
"Wahh, my Hero. Jangan terlalu meremehkan ku. Aku sebenarnya cukup pintar hanya saja aku selalu memikirkan mu" ucap Drew meyakinkan. Shena tertawa melihatnya.
Dari kejauhan, Ello melihat interaksi Drew dan Shena. Semenjak ia dan Shena putus, hanya Ello yang berusaha menghubungi Shena sedangkan Shena tidak. Di awal ia merasa baik-baik saja namun semakin lama ia merasa seperti ada yang hilang dari dirinya. Tidak ada lagi Shena yang suka spam SMS padanya, tidak ada lagi Shena yang cerewet dan perhatian padanya. Itu cukup mengganggu jika dirasakan lama kelamaan. Ello berjalan mendekat.
"Shena.." panggil Ello.
Shena dan Drew menoleh ke belakang. "Ada apa?" Sahut Shena.
"Bisakah kita berbicara sebentar?" Pinta Ello.
"Tentu" jawab Shena. "Drew, kau duluan saja. Aku menyusul di belakang". Pinta Shena pada Drew. Drew yang sedari tadi memasang tatapan sinis pada Ello tak setuju.
"Aku tidak mau, kita jalan bareng. Kalau mau ngobrol ya ngobrol aja. Aku ga denger" ucap Drew sambil menutup telinganya. Jujur saja ia masih kesal dan tak suka pada Ello.
"Drew, jangan ganggu privasi orang. Siapa tahu ini rahasia. Cepat sana" pinta Shena memaksa.
Mau tidak mau Drew menurut. Ia menatap Ello sengit sebelum berjalan menjauh.
"Mau ngobrolin apa?" Tanya Shena pada Ello.
"Sudah pikirkan baik-baik universitas mana yang mau kamu tuju?" Tanya Ello.
Shena terdiam beberapa saat. Ia seperti sedikit berpikir. "Ayah ga setuju aku kuliah. Dia bilang ikut kelas melukis saja, ga perlu kuliah" jawab Shena pada akhirnya.
Ello tampak tak setuju dengan apa yang dia dengar. "Shena, sampai kapan kamu terus menurut kehendak ayah kamu. Dia juga bukan yang terlalu perduli padamu".
"Ayah bilang kalau aku kuliah nanti bisa menimbulkan masalah baginya. Aku ga mau bikin ayah kena masalah" jawab Shena pelan.
"Ayah kamu nekan kamu lagi kan kayak pas kita kecil dulu?" Tanya Ello serius.
"El, kamu ga usah terlalu banyak ikut campur deh. Ini biar jadi urusan aku sendiri" jawab Shena. Ia mulai tak nyaman dengan pembicaraan ini.
Ello menghentikan langkahnya, ia menarik bahu Shena pelan untuk menghadapnya. "Shena, masa depan kamu biar kamu yang tentukan. Kamu ga cape dari kecil selalu di tekan ayah kamu buat ga bersinar? Kamu pintar, kamu berbakat, apa kamu rela kubur semua itu hanya karena ayah kamu?" Ucap Ello.
Shena tampak tertunduk memikirkan sesuatu. Ekspresinya berubah sendu.
"Menjauh darinya" ucap Arsen dingin dan menepis tangan Ello kasar dari bahu Shena. Shena sedikit terkejut dan menoleh pada Arsen. Arsen menarik Shena ke belakang tubuhnya. Ia menatap Ello tajam.
"Jangan ganggu aku dan Shena, kami sedang ngobrol" sahut Ello. Ia sedikit geram dengan tingkah Arsen yang semena-mena ini.
"Oh ya? Shena apa kamu masih mau ngobrol sama si brengsek ini?" Tanya Arsen memastikan pada Shena. Shena menggeleng pelan.
Ello masih berusaha meyakinkan Shena. "Shena, jangan seperti ini. Ini semua demi kamu" ucap Ello.
Arsen menarik tangan Shena pergi menjauh. Setelah sampai di depan kelas, Arsen bertanya. Suaranya cukup berat. "Apa yang kalian bicarakan berdua?" Tanya Arsen. Ia sangat penasaran.
Shena yang sedari tadi hanya menunduk, ia menatap Arsen sejenak lalu menghela nafas berat. "Bukan apa-apa. Ayo masuk" ajak shena.
Arsen tak puas dengan jawaban itu. Atau lebih tepatnya ia khawatir kalau hati Shena tak bisa melupakan bajingan itu. "Shena, jawab aku. Apa yang kalian bicarakan?" Nada suaranya sedikit meninggi. Shena menoleh ke arah Arsen.
"Bukan apa-apa. Itu ga penting. Udah ayo masuk. Ujian bentar lagi mulai" ucap Shena berusaha mengalihkan pembicaraan.
Shena berjalan masuk lebih dulu. Hati Arsen tak puas dengan jawaban Shena. Kilat matanya memancarkan aura obsesi yang berbahaya. Shena tak menyadari itu.
*Hi readers. Jangan lupa untuk memberikan dukungan kalian pada novel ini dengan cara berikan komentar terbaik kalian, kasih like dan vote novel ini ya. Dukungan kalian pada novel ini sangat berarti karena itu akan menjadi semangat buat author menyelesaikan cerita ini hingga akhir. Tetap pantau terus ga kelanjutan dari cerita ini. Akan ada banyak keseruan yang kalian dapatkan. Happy reading all 🙏