NovelToon NovelToon
Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Ibu Tiri / Fantasi Isekai
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.

Besoknya, kontrak miliaran gol.

Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.

Rahimnya diangkat.

Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.

Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.

Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.

Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.

Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.

Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.

Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Tertampar Realitas

Jari kecil berdebu itu meraba permukaan kertas kuning buram. Matanya bergerak lambat dari kiri ke kanan.

"S-e-t-a-h... u-n."

Sigit mengeja dalam hati. Bibir pucatnya bergerak tanpa mengeluarkan suara. Telunjuknya mengusap tinta hitam stempel bergambar garuda di sudut bawah kertas. Satu detik. Dua detik. Kertas resmi dari markas militer itu dilipatnya dua kali, sangat rapi mengikuti garis bekas lipatan asli, lalu ditaruh perlahan ke tengah meja kayu.

Bocah sembilan tahun itu mendongak. Matanya menatap lurus ibunya yang berdiri kaku di dekat rak piring. Pandangan bocah itu kelewat datar. Kering. Sama sekali tidak ada genangan air mata di sana.

"Ibu." Suaranya memecah sepi dapur. "Beras kita tinggal sekarung."

Sukma mematung. Pisau dapur di tangannya menggantung di atas talenan kayu.

Anak ini baru saja membaca surat perpanjangan tugas bapaknya ke perbatasan konflik. Tapi yang keluar dari mulut mungilnya justru laporan stok logistik.

Sigit tidak merengek. Tidak ada rengekan rindu bapak. Bagi anak laki-laki yang besar menelan kekecewaan di sepanjang ingatannya, absennya seorang ayah selama dua belas bulan ke depan hanya bisa diterjemahkan menjadi satu hal: ancaman kelaparan nyata.

Ketangguhan Sigit malam ini bukan sebuah prestasi yang patut dibanggakan. Itu bekas luka. Luka goresan kemiskinan dan paksaan keadaan yang merampas paksa masa kecilnya.

Bocah itu dididik untuk sadar penuh bahwa tangisan keras tidak akan pernah membuat sekarung beras jatuh begitu saja dari genteng rumah.

Sukma meletakkan pisaunya. Telinganya berdenging pelan. Tangannya meraih kertas lecek di atas meja.

Dua belas bulan tambahan.

Napasnya seketika terasa sangat berat. Bukan karena dia mabuk kepayang merindukan belaian Sutrisno layaknya istri di sinetron di stasiun tv ikan terbang di tahun 2026.

Otaknya justru sedang dipaksa menggali ingatan dari kehidupan masa lalunya, menarik paksa barisan paragraf dari novel sialan yang kini jadi hidupnya.

Di dalam buku itu, penugasan tambahan inilah yang menjadi gerbang neraka keluarga mereka.

Sutrisno akan dikurung di pos perbatasan yang dikepung malaria. Dia akan melihat kawan-kawan satu peletonnya mati konyol karena suplai logistik diputus oleh komandan korup di kota.

Suaminya akan pulang bukan sebagai pahlawan, melainkan veteran setengah gila. Sutrisno yang asli di novel itu akan membanting piring setiap malam, memukul dinding sampai tangannya hancur, dan bersembunyi di bawah kolong ranjang setiap kali mendengar suara petir yang disangkanya ledakan mortir.

Itu harus dicegah. Masa depan itu tidak boleh terjadi.

Sukma meremas tepian meja. Buku jarinya memutih menahan marah pada dirinya sendiri.

Bulan lalu, dia sudah nekat menghabiskan uang simpanan belanja demi menyewa mesin tik di kantor kelurahan secara diam-diam. Dia memutar otak menyusun surat anonim bernada ancaman intelejen tingkat rendah. Dia melaporkan adanya pergerakan pemberontak fiktif di sektor timur, sangat berharap komando pusat memindahkan peleton Sutrisno ke area yang aman. Dia menyelinap ke kantor pos kota, menjilat prangko gemetar, dan mengirimkannya penuh harap.

Kosong. Surat itu tidak pernah berbalas.

Jangankan dibalas, mungkin petugas sortir di markas Kodam langsung membakarnya jadi abu rokok atau menjadikannya bungkus pisang goreng. Mesin militer era ini tidak punya telinga untuk keluh kesah perempuan dari desa.

Untuk pertama kalinya semenjak sadar hidup di dunia antah berantah ini, Sukma tertampar realitas dengan sangat keras.

Dia pikir dia sudah hebat. Dia bisa mengaduk-aduk mental mertuanya semau jidat. Dia sanggup memanipulasi gosip ibu-ibu tetangga desa pakai selembar kertas krep bekas Agustusan.

Namun, menyentuh tembok baja hierarki militer Orde Baru? Dia cuma debu kotor di sol sepatu tentara. Kekuatannya putus total di batas palang gerbang desa. Dia sama sekali tidak punya akses ke sistem raksasa di atas sana.

Di sudut ruang depan, Syaiful duduk memeluk lutut. Umurnya baru empat tahun.

Balita gempal bersinglet longgar itu tiba-tiba berhenti menggesekkan mobil-mobilan kayunya di atas tikar pandan.

Dia merangkak perlahan mendekati Sigit yang sedang asyik meraut pensil bekas pakai silet tajam.

"Mas." Syaiful menarik ujung celana pendek kakaknya.

"Opo?" Sigit membalas tanpa menoleh sedikit pun, sangat fokus menjaga agar silet di tangannya tidak meleset.

"Bapak kita itu... rambutnya kayak gimana sih?"

Gerakan tangan Sigit terhenti seketika. Bilah silet itu nyaris mengiris kulit ibu jarinya sendiri.

Sukma menahan napas di dapur. Dadanya seperti dihantam godam besi raksasa.

Baru kemarin sore Sutrisno datang. Baru kemarin tangan kasar berseragam loreng itu mengangkat Syaiful tinggi-tinggi ke udara.

Tawa melengking Syaiful baru saja pecah membelah seisi rumah di pelukan bapaknya.

Tapi kini? Sosok gempal itu sudah benar-benar lupa. Memori anak balita rupanya tidak memiliki cukup ruang untuk menahan rupa seorang ayah yang hadirnya cuma sekelebatan bayangan.

Sigit menaruh pensil dan siletnya pelan-pelan ke lantai. Dia menoleh ke samping. Matanya menyapu wajah bulat adiknya dari ujung poni sampai dagu.

Sangat lama. Hati-hati sekali dia memilih kata.

"Kayak rambutmu." Sigit mengusap puncak kepala Syaiful pelan.

"Lurus, tapi agak jegrik dikit di belakang. Sama persis."

Syaiful mengangguk-angguk puas mendengar jawaban kakaknya. Dia kembali memutar ban mobil kayunya sambil bersenandung sumbang, seolah pertanyaannya tadi tidak punya bobot menyakitkan apa-apa.

Sukma membalikkan badan menghadap dinding bata basah di dapur. Tangannya membekap mulut sendiri kuat-kuat.

Dia menggigit bibir bawahnya sampai terasa anyir darah. Pertahanan emosinya jebol berserakan melihat dua anak laki-lakinya itu.

Pagi menjelang siang di teras rumah bata milik Pak Parno.

Lasmi menuangkan teh panas dari teko blirik ke gelas kaca. Uap beraroma melati murahan mengepul menabrak wajah keriputnya. Senyumnya sumringah bukan main.

Di seberangnya, Jamilah duduk menyilangkan kaki. Menantu kesayangan Lasmi sekaligus istri Joko itu asyik mengunyah rempeyek kacang.

"Kasihan ya, Nduk, mbak yumu iku," ucap Lasmi pelan. Suaranya sengaja dibuat-buat melankolis, tapi matanya memancarkan hitungan angka yang pekat.

"Si Sukma mesti merana ditinggal setahun lagi. Baru aja kelon semalam, lakinya ditarik tugas maneh ke hutan."

Jamilah mendengus pelan. Remahan kacang berjatuhan ke pangkuan dasternya. "Biarin aja toh, Bu. Istri tentara kan emang harus kuat badannya. Lek mentalnya tempe, ya bisa gila dewe ngurus anak empat biji."

Lasmi menyesap tehnya perlahan. Ujung bibirnya tertarik ke atas. "Bener. Sing penting iku..."

"Wesel bulanan dari Jakarta ndak seret, kan?" potong Jamilah cepat. Mata perempuan muda itu berkilat serakah.

Tawa tertahan lolos dari tenggorokan Lasmi. Mertua dan menantu itu berbagi pandangan busuk yang sama. Di kepala mereka, absennya Sutrisno adalah masa panen emas.

Uang tutup mulut dari Nyonya Ratna, ibu kandung Sutrisno, akan tetap aman masuk ke kantor pos tanpa ada anak pungutnya itu yang berani merecoki urusan keuangan keluarga.

"Nah iku, Jamilah. Lek Si Trisno pulang, repot kita. De'e mulai berani ngelawan saiki. Meja tamu ibu ditendang sampai jebol. Untung komandane waras narik de'e setahun lagi."

Jamilah mencondongkan badan ke depan. Bubuk kacang di tangannya ditepuk kasar. "Mas Joko kan sudah batal dapat surat rekomendasi dari mas Tris, Carikan cara lain toh Bu, biar tetap iso dadi Carik!"

"Aman," desis Lasmi. Kukunya mengetuk meja berirama. "Nanti malam suamimu tak suruh nengok rumah Sukma. Kita cek masih enek sisa duit pira di sana. Iso di di gae pancingan nggo dalan."

Malam turun lebih cepat. Angin berembus liar menerbangkan dedaunan kering membentur halaman rumah Sukma.

Lampu teplok di ruang depan berkedip-kedip tak beraturan. Gedoran beringas tiba-tiba menghantam pintu depan.

Brak! Brak! Brak!

"Mbak Sukma! Buka pintunya, Mbak!"

Sukma yang baru saja menidurkan Syaiful meloncat dari dipan. Dia setengah berlari ke ruang depan, menyingkirkan palang kayu jati pengunci pintu buru-buru.

Pintu terbuka ditarik paksa angin. Joko berdiri di ambang batas cahaya.

Adik ipar tanggungnya itu terengah-engah hebat. Kaus oblong abu-abunya basah kuyup oleh keringat, menempel cetak di dadanya yang kerempeng. Wajah Joko pucat pasi.

"Mbak!" Joko mencengkeram kusen pintu. Napasnya putus-putus. Bau arak murahan menguar tajam dari mulutnya. "Tolong, Mbak! Ibu tiba-tiba muntah darah banyak banget! Badannya kaku di lantai!"

Sukma mengerutkan kening. Instingnya langsung membunyikan alarm keras.

Lasmi muntah darah? Baru siang tadi dia melihat mertuanya itu kelihatan sangat sehat tertawa-tawa di teras bersama Jamilah dari kejauhan.

Mata Sukma perlahan turun menatap Joko. Pemuda di depannya ini memang gemetar parah. Suaranya serak ditelan kepanikan. Tapi tatapan matanya sama sekali ndak fokus menatap wajah Sukma.

Bola mata Joko terus bergerak liar gelisah. Melirik cepat melewati bahu Sukma, mengarah lurus ke pintu kamar tidur sempit di sudut ruangan.

Kamar gelap tempat Sukma biasa menyembunyikan kotak kaleng biskuit berisi sisa uang bulanan keluarga.

1
Dewiendahsetiowati
mantab hajar aja keluarga benalu
Musdalifa Ifa
mau nanya Thor jangan tersinggung yah karna ini cerita sudah pernah saya baca tapi bukan bahasa begini, apakah ini karya asli author ?
INeeTha: Hehe gini kak, temanya memang cukup sering dipakai di banyak cerita 😄 Di sini aku coba bawain dengan versiku sendiri, terutama dari gaya dan settingnya. Semoga Kakak tetap enjoy bacanya yaa.
total 1 replies
SENJA
kok jadi mak karman? ibue sukma kan namanya marni lho thor🤭
INeeTha: My Bad, aku revisi kak Makasih🙏
total 1 replies
SENJA
cuok drama cuok 😤
SENJA
kenapa ga berani?!? 😄🤣
SENJA
laki laki apa ini 😤
SENJA
ini lagi hadeeeh benalu 😤
SENJA
jamilah mulutnya comberen banget😤
gina altira
jgn kasih ampun Ningsih
Enah Siti
🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍😍👍👍👍smngat thor maksih
Dewiendahsetiowati
bisa gak si Jamilah dibikin stroke gitu heran bikin emosi terus
SENJA
bener kata sukma do
SENJA
cangkem mu lho 😤
SENJA
hajar terus hajar 😤😤😤 asssuuu emang dia
SENJA
lu ga tau malu banget jadi perempuan 😤
Enah Siti
🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍👍👍👍 ljut thor mksih byak byak
Enah Siti
💪💪💪💪💪😍😍😍😍 nuhun thor
Enah Siti
💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏😍😍😍😍👍👍👍👍👍ljut thor
SENJA
hadeeeeh 😤
SENJA
yaaah kebetulan banget ini weeeh 🤭🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!