NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Penguasa Langit

Reinkarnasi Penguasa Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.

Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Tamparan Langit untuk Sang Legenda

Suasana di dalam Gua Pemutus Sukma mendadak menjadi sangat berat. Tekanan energi dari Ki Ageng Jagat membuat kristal-kristal di dinding gua berderak retak. Sebagai pendekar yang sudah mencapai Ranah Setengah Dewa, keberadaannya saja sudah cukup untuk membuat jantung manusia biasa berhenti berdetak.

Namun, Ranu Wara tetap berdiri tegak. Ia bahkan sempat mengorek telinganya dengan jari kelingking kecilnya, seolah-olah gertakan Ki Ageng Jagat hanyalah desiran angin lalu.

"Pak Tua, bisa kau kecilkan sedikit suaramu? Gendang telinga tubuh bocah ini sangat tipis, tahu," protes Ranu dengan wajah jengkel.

Ki Ageng Jagat bangkit berdiri. Jubah putihnya berkibar meski tidak ada angin. "Lancang! Kau meremehkan kekuatanku? Aku telah membelah gunung dengan satu serangan, dan kau bicara seolah-olah aku ini hanya tukang teriak di pasar!"

Pria tua itu menggerakkan tangannya, menciptakan sebuah telapak tangan raksasa dari energi murni berwarna emas yang melesat ke arah Ranu. "Terimalah ini! Jurus Telapak Penghancur Karang!"

Ranu mendongak. Ia melihat serangan itu dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara bosan dan kasihan. Saat telapak tangan energi itu tinggal berjarak satu jengkal dari kepalanya, Ranu tidak menghindar. Ia hanya melakukan satu gerakan sederhana: ia melangkah maju dengan kaki kirinya, lalu sedikit memiringkan badannya.

Wuuusss!

Serangan dahsyat itu lewat begitu saja di samping telinga Ranu dan menghantam dinding gua hingga hancur berkeping-keping.

"Gerakanmu terlalu banyak gaya, Pak Tua. Kau membuang-buang energi hanya untuk terlihat keren," ucap Ranu datar. "Sini, biarkan aku tunjukkan cara memukul yang efisien."

Sebelum Ki Ageng Jagat bisa bereaksi, Ranu sudah berada tepat di depan lututnya. Bagi pria tua itu, kecepatan Ranu bukan lagi seperti kecepatan manusia, melainkan seperti teleportasi. Ranu melompat kecil, tangan mungilnya yang terlihat empuk itu mengayun pelan menuju pipi Ki Ageng Jagat.

PLAK!

Suara tamparan itu tidak keras, namun efeknya luar biasa. Ki Ageng Jagat, sang legenda yang ditakuti seluruh jagat fana, terpental berputar-putar di udara seperti gasing yang kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya mendarat dengan posisi menungging di sudut gua.

"Aduh... sakitnya..." gumam Ki Ageng Jagat sambil memegangi pipinya yang kini membengkak merah. Ia menatap Ranu dengan mata melotot tak percaya. "Kau... kau menggunakan energi apa? Tidak ada hawa murni, tidak ada hawa jahat... hanya... kekosongan?"

Ranu mendarat dengan manis di lantai gua, meski ia sedikit oleng karena kaki pendeknya tidak cukup kuat menahan momentum pendaratan. "Itu disebut Sentuhan Tanpa Bentuk. Aku hanya meminjam kekuatan tarikan bumi untuk memutar tubuhmu. Kau sendiri yang terlalu berat, jadi jangan salahkan aku kalau pantatmu mendarat duluan."

Ranu kemudian berjalan mendekati permata yang melayang di tengah gua. Permata itu adalah Pecahan Matahari Sembilan Langit, salah satu sumber kekuatan aslinya. Saat Ranu mendekat, permata itu bergetar hebat, mengeluarkan nyanyian surgawi yang merdu.

"Tunggu! Jangan sentuh itu!" teriak Ki Ageng Jagat sambil mencoba bangkit. "Permata itu mengandung panas yang bisa membakar jiwa manusia hingga menjadi abu! Aku saja hanya bisa menatapnya dari jarak tiga langkah!"

Ranu tidak berhenti. Ia justru mengulurkan tangannya dan menggenggam permata itu seolah-olah itu hanyalah sebuah kelereng biasa. Bukannya terbakar, permata itu justru mencair dan meresap ke dalam kulit telapak tangan Ranu, lalu mengalir menuju punggungnya.

Seketika, cahaya perak yang menyilaukan meledak dari tubuh Ranu. Di punggungnya, bintang kedua menyala dengan sangat terang, diikuti oleh bintang ketiga yang mulai berkerlip samar.

Ranu menarik napas dalam-dalam. Tubuhnya kini memancarkan aura yang begitu murni sehingga Ki Ageng Jagat merasa ingin bersujud tanpa alasan yang jelas. Tekanan aura Ranu kini secara alami menekan Ki Ageng Jagat hingga pria tua itu benar-benar jatuh berlutut.

"Sekarang kau tahu siapa aku, Pak Tua?" tanya Ranu. Suaranya kini bergema dengan ribuan nada, seolah-olah seluruh alam semesta sedang berbicara melalui mulutnya.

Ki Ageng Jagat gemetar hebat. Ia adalah pendekar tingkat tinggi, ia tahu perbedaan antara kekuatan latihan dan otoritas murni. "Hamba... hamba mohon ampun... Gusti... Apakah Gusti adalah Sang Penghuni Langit Sembilan?"

Ranu menghela napas, aura agungnya perlahan menghilang dan ia kembali menjadi bocah tujuh tahun yang tampak biasa saja. "Sudahlah, panggil saja aku Ranu. Dan bangunlah, posisi menunggingmu tadi benar-benar merusak pemandangan gua ini."

Ranu membantu Ki Ageng Jagat berdiri. Pria tua itu kini bersikap sangat sopan, bahkan cenderung ketakutan.

"Terima kasih, Gusti Ranu. Hamba telah menjaga permata itu selama seratus tahun, menunggu pemilik sebenarnya. Hamba tidak menyangka bahwa pemiliknya adalah seorang... anak kecil yang sangat galak," ucap Ki Ageng Jagat sambil mengusap pipinya yang masih perih.

Ranu tertawa kecil. "Aku tidak galak, aku hanya lapar. Oh iya, karena kau sudah menjaga hartaku, aku akan memberimu sedikit hadiah."

Ranu menyentuh dahi Ki Ageng Jagat dengan jarinya. Seketika, sumbatan energi yang selama ini menghalangi Ki Ageng Jagat untuk naik ke ranah berikutnya hancur. Tubuh pria tua itu bergetar, dan rambutnya yang tadinya putih kusam kini berubah menjadi hitam berkilau.

"Ini... ini... hamba naik tingkat ke Ranah Setengah Dewa Puncak?!" seru Ki Ageng Jagat dengan air mata berlinang.

"Gunakan kekuatanmu untuk hal yang benar. Jangan hanya berdiam diri di gua ini seperti lumut," pesan Ranu. "Dan satu lagi... apakah kau punya makanan? Aku baru saja menggunakan banyak tenaga untuk menamparmu."

Ki Ageng Jagat tertegun, lalu segera merogoh kantongnya. "Hamba hanya punya buah persik dewa yang hamba tanam di belakang gua, Gusti."

Ranu menyambar buah itu dan memakannya dengan lahap. "Lumayan. Meskipun rasanya sedikit hambar dibandingkan buah di kebun surgaku, tapi ini cukup untuk mengganjal perut."

Sementara itu, di luar gua, Ki Sastro sedang panik luar biasa. Ia melihat air terjun yang tadinya mengalir ke atas tiba-tiba berhenti dan jatuh dengan normal.

"Aduh, bagaimana ini? Apakah Tuan Muda Ranu sudah berubah jadi abu di dalam?" gumam Ki Sastro sambil berjalan mondar-mandir.

Tiba-tiba, Ranu keluar dari balik air terjun dengan santai, diikuti oleh seorang pria tua yang tampak sangat segar dan berwibawa. Ki Sastro terbelalak melihat pria di belakang Ranu.

"Ki... Ki Ageng Jagat?! Sang Legenda Pegunungan Larangan?" seru Ki Sastro sambil langsung bersujud.

Ki Ageng Jagat segera melambaikan tangannya. "Jangan bersujud padaku, Anak Muda. Bersujudlah pada tuanmu itu. Aku ini sekarang hanyalah murid yang sedang belajar cara menampar orang dengan benar darinya."

Ki Sastro menatap Ranu dengan pandangan tak percaya. Ranu hanya mengangkat bahu.

"Sastro, bawa tasnya. Kita turun sekarang," perintah Ranu. "Ki Ageng, kau tetaplah di sini atau pergilah ke Istana Durja. Katakan pada Prabu Dirja bahwa kau adalah pelindung baru kerajaan itu atas perintahku. Jika ada pendekar Mahesa yang berani datang lagi, kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan?"

"Hamba mengerti, Gusti. Hamba akan meremukkan mereka seperti kerupuk," jawab Ki Ageng Jagat dengan penuh semangat.

Ranu berjalan menuruni gunung dengan langkah riang. Namun, saat mereka sampai di tengah jalan, Ranu tiba-tiba berhenti. Matanya menatap ke arah timur, ke arah Kerajaan Mahesa.

"Sesuatu yang besar sedang bergerak," bisik Ranu. "Mereka telah memanggil Pendekar Bayangan Matahari. Sepertinya mereka benar-benar ingin aku cepat-cepat kembali ke langit."

Ranu menyeringai. Sebuah seringai yang akan membuat dewa maupun iblis gemetar ketakutan jika mereka melihatnya.

"Sastro, persiapkan dirimu. Perjalanan ke Ibu Kota Mahesa akan sangat panjang, dan aku butuh banyak bekal nasi timbel."

......................

1
JUNG KARYA
bantu supportnya kak 🙏
JUNG KARYA
Komentarnya dong kak, juga satu like kalian sangat berarti untuk semangat author ini lho, apalagi kalau mau beri rating di novel ini 😁...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!