di Benua Roh Azure, kekuatan adalah segalanya. Ye Yuan, seorang murid luar dari Sekte Pedang Surgawi, ditakdirkan menjadi sampah seumur hidup karena Dantian-nya yang direbut kembali. Saat ia didorong ke dalam keputusasaan dan dibuang ke Lembah Kuburan Senjata, ia mendengar panggilan. Bukan dari pedang suci yang berkilauan, melainkan dari sebilah pedang besi hitam yang patah dan berkarat. Pedang itu bukan sekedar rongsokan; ia adalah pecahan dari "Penyegel Langit" yang dulu digunakan oleh Dewa Perang kuno untuk memenggal bintang. Dengan pedang patah di tangan, Ye Yuan bersumpah:"Jika Langit menindasku, akan kubelah Langit itu. Jika Dewa menghalangiku, akan kupatahkan leher Dewa itu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Tamu Tak Diundang di Puncak Para Dewi
Aromanya bukan bau besi berkarat ataupun amis darah.
Itu adalah aroma bunga persik dan kayu cendana yang menenangkan.
Ye Yuan mengerjap matanya, mencoba mengusir kabut yang menyelamatkan kesadarannya. Hal pertama yang dilihatnya bukanlah langit-langit gua batu yang lembap atau langit terbuka Lembah Kuburan Senjata, melainkan kelambu sutra berwarna biru muda yang menjuntai elegan.
Dia mencoba bangun, tapi rasa sakit yang tajam menyengat sekujur tubuhnya. Tulang-tulangnya terasa seperti baru saja dibongkar pasang.
"Ugh..." Ye Yuan mengerang pelan sambil memegangi dada.
"Jangan bergerak dulu, Bodoh. Kecuali kau ingin tulang rusukmu patah lagi."
Suara wanita yang tegas dan agak ketus terdengar dari samping.
Ye Yuan terkejut. Di dekat jendela, duduk seorang gadis muda berusia sekitar delapan belas tahun. Dia mengenakan seragam murid inti Puncak Awan Biru—jubah putih dengan aksen biru laut. Wajahnya cantik dengan mata sipit yang tajam, rambutnya disanggul tinggi dengan tusuk konde perak.
Gadis itu sedang menumbuk obat di sebuah mangkuk kecil. Dia menatap Ye Yuan dengan bercampurnya campuran antara rasa ingin tahu dan kejengkelan.
"Siapa kau? Di mana ini?" tanya Ye Yuan, suaranya serak.
"Namaku Su Qing. Kau berada di Paviliun Pengobatan Puncak Awan Biru," jawab gadis itu sambil menuangkan cairan hijau pekat ke dalam cawan. "Dan kau...kau adalahmakhluk langka yang membuat seluruh puncak ini gempar sejak kemarin."
Su Qing berjalan mendekat dan menyodorkan cawan obat itu ke bibir Ye Yuan. "Minum. Ini ramuannyaRumput Tulang Giok. Harganya sepuluh Batu Roh. Jangan tumpahkan setetes pun."
Ye Yuan ragu sejenak, tapi aroma obat itu memancarkan Qi yang murni. Dia meneguknya habis. Rasa pahit yang menyengat lidah segera digantikan oleh aliran hangat yang menyebar ke seluruh tubuh, meredakan nyeri di persendiannya dengan kecepatan menakjubkan.
"Puncak Awan Biru..." gumam Ye Yuan, mengingat kembali kejadian sebelum dia pingsan. Peri Pedang Mu Bingyun menyelamatkannya dan memberi tanda kepada murid dalam.
"Tunggu, pedangku!" Ye Yuan tiba-tiba panik, meraba-raba sisi tempat tidurnya.
"Tenanglah, 'Tuan Muda Asura'," cibir Su Qing, menunjuk ke sudut ruangan. "Rongsokan kesayanganmu ada di sana. Tidak ada yang mau menyentuhnya. Benda itu terlalu berat dan... menyeramkan."
Pedang patah itu bersandar di dinding. Meski diam, Ye Yuan bisa merasakan koneksi samar di dalamnya. Pedang itu seolah sedang "tidur" setelah pesta makan besar kemarin.
Ye Yuan menghela napas lega. "Terima kasih, Kakak Su Qing."
Su Qing di dalamnya. "Jangan panggil aku Kakak dulu. Jujur saja, banyak saudara di sini yang tidak senang kau ada di sini. Puncak Awan Biru adalah tempat suci bagi tetangga wanita. Kami tidak pernah menerima murid laki-laki selama lima puluh tahun. Kehadiranmu... merusak pemandangan dan Feng Shui."
Kata-kata itu pedas, tapi Ye Yuan tidak tajam. Dia tahu posisinya. Dia adalah orang asing yang masuk ke wilayah terlarang.
"Aku tidak bermaksud mengganggu," kata Ye Yuan dengan tenang, mencoba duduk bersila untuk bermeditasi. "Aku hanya ingin memegangnya. Tiga bulan. Jika aku gagal mencapai target Ketua Puncak, aku akan pergi sendiri."
Su Qing menatap Ye Yuan lekat-lekat. Dia melihat mata pemuda itu. Tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan, dan yang paling penting... tidak ada memunculkan mesum yang biasanya dia lihat dari murid laki-laki puncak lain ketika melihat murid Awan Biru.
Mata Ye Yuan jernih, sedingin kolam musim gugur.
"Hmpf. Bagus kalau kau sadar diri," Su Qing meletakkan mangkuk kosong itu. "Ketua Puncak berpesan, setelah kamu sadar, kamu boleh menempati Gubuk Bambu di sisi tebing utara. Itu tempat paling terpencil, jadi kamu tidak akan 'tidak sengaja' mengintip para pasangan yang sedang mandi di mata air panas."
Ye Yuan mengangguk. "Itu sempurna."
Satu jam kemudian, Ye Yuan sudah cukup kuat untuk berjalan. Dia mengenakan jubah murid dalam warna biru tua yang disiapkan untuknya—kainnya halus, jauh lebih nyaman daripada kain goni murid luar.
Dia mengambil pedang patahnya, menyarangkannya kembali ke punggung, dan melangkah keluar dari Paviliun Pengobatan.
Pemandangan yang menyambutnya membuat tertegun sejenak.
Puncak Awan Biru benar-benar layak disebut surga dunia. Awan putih berasak di bawah kaki mereka. Jembatan-jembatan gantung yang terbuat dari tanaman merambat menghubungkan pulau-pulau batu yang melayang. Air terjun jatuh dari langit, membiaskan pelangi abadi.
Dan Qi di sini… Ye Yuan menarik napas dalam.
Sangat padat!
Setidaknya sepuluh kali lipat lebih padat daripada di sekte luar, dan seratus kali lebih murni daripada di Lembah Kuburan Senjata. Di sini, setiap tarikan napas setara dengan satu jam di bawah sana.
"Pantas saja murid inti begitu kuat," batin Ye Yuan. “Sumber daya menentukan pencapaian.”
Namun, kekagumannya tidak berlangsung lama. Begitu dia melangkah ke jalur utama, dia merasakan puluhan pasang mata memperhatikan.
Murid-murid wanita yang sedang berlatih pedang, bermeditasi di atas batu, atau sekadar berjalan-jalan, semuanya berhenti. Bisik-bisik mulai terdengar.
"Itu dia? Laki-laki yang dibawa Ketua Puncak?"
"Ih, dia terlihat biasa saja. Kenapa Ketua Puncak melanggar aturan demi dia?"
"Kudengar dia mematahkan Dantian putra Tetua Li. Dia pasti orang yang kejam dan brutal. Jangan dekat-dekat dia."
"Tapi dia agak tampan kalau dilihat dari dekat... eh, apa yang dipikirkan!"
Ye Yuan menundukkan kepala, menjaga memutar lurus ke depan. Dia berjalan cepat menuju sisi tebing utara seperti yang diperintahkan. Dia tidak ingin mencari masalah. Dia tahu, di tempat yang indah ini, bahaya bisa datang dalam bentuk senyuman manis.
Tiba-tiba, sebuah bayangan menghalangi cahaya.
Tiga orang murid wanita berdiri di depannya. Yang di tengahnya adalah wanita tinggi semampai dengan melipat angkuh, memegang pedang panjang bersarung putih. Auranya kuat—Tingkat Sembilan Ranah Pengumpulan Qi.
"Berhenti," kata wanita itu dingin.
Kamu Yuan berhenti. "Ada apa, Kakak Seperguruan?"
"Namaku Liu Mei. Aku adalah murid tertua ketiga di sini," kata wanita itu sambil melipat tangan di dada. "Aku tidak peduli apa alasan Ketua Puncak membawamu. Tapi kau harus tahu aturan utama di sini. Puncak Awan Biru tidak mendefinisikan sampah, apalagi sampah laki-laki yang hanya mengandalkan keberuntungan."
Ye Yuan menatap datar. "Aku mengerti. Ada lagi?"
Sikap acuh tak acuh Ye Yuan membuat alis Liu Mei berkedut kesal. Dia berharap Ye Yuan akan gugup atau mencoba merayunya, tapi pemuda ini berpura-pura dia hanyalah pohon di pinggir jalan.
"Kau..." Liu Mei maju ke depan, menekan aura Qi-nya ke arah Ye Yuan. "Dengarkan baik-baik. Gubuk Bambu di utara itu dekat dengan area latihan pribadiku. Jika aku melihatmu berkumpul atau membuat pertemuan, aku akan memotong kakimu dan melemparmu ke jurang. Mengerti?"
Ancaman itu nyata. Ye Yuan bisa merasakan niat panas yang kental. Liu Mei ini jelas tidak menyukainya, mungkin karena dia merasa Ye Yuan menodai kesucian puncak mereka.
Ye Yuan tersenyum tipis. Bukan senyum ramah, tapi senyum yang mengandung sedikit aura Asura yang belum sepenuhnya hilang.
"Kakak Liu Mei," kata Ye Yuan pelan. "Aku datang ke sini untuk menonton, bukan untuk mencari teman atau musuh. Selama kau tidak menggangguku, aku tidak akan mengganggumu."
Dia melangkah maju, melewati bahu Liu Mei tanpa rasa takut.
"Tapi..." Ye Yuan berhenti sejenak tanpa menoleh. "...jika kau mencoba memotong kakiku, pastikan pedangmu cukup tajam. Karena pedangku sangat pemilih soal makanan."
Setelah mengatakan itu, Ye Yuan melanjutkan langkahnya, meninggalkan Liu Mei yang terdiam kaku dengan wajah memerah karena marah.
"Berani sekali dia!" salah satu teman Liu Mei berbisik. "Kakak Liu, kita harus memberinya pelajaran!"
"Nanti," desis Liu Mei, matanya menatap punggung Ye Yuan dengan tajam. "Biarkan dia merasa nyaman dulu. Tiga bulan lagi ada Ujian Puncak Internal. Jika dia tidak mencapai Tingkat Sembilan, kita tidak perlu mengotori tangan kita. Ketua Puncak sendiri yang akan membuangnya."
Gubuk Bambu, Tebing Utara.
Tempat itu sunyi, hanya ada suara angin dan deburan air terjun yang jauh. Gubuk itu sederhana namun bersih, dikelilingi hutan bambu ungu yang lebat.
Ye Yuan menutup pintu, duduk di atas kasur jerami, dan akhirnya bisa bernapas lega.
"Sendirian lagi. Ini lebih baik."
Dia meletakkan pedang patahnya di pangkuan. Saatnya memeriksa hasil "panen" dari pertarungan melawan Li Feng.
Ye Yuan memejamkan mata, menyelam ke dalam Dantian-nya.
Apa yang dia temukan membuatnya terkejut.
Pusaran Qi di perutnya kini tidak lagi abu-abu polos. Ada garis merah darah yang berputar di dalamnya—sisa energi dari Pil Darah Iblis milik Li Feng yang telah diserap dan dimurnikan oleh pedang.
Energi itu sangat padat dan eksplosif.
"Pedang ini... dia tidak hanya menyerap Qi, tapi juga menyerap esensi 'bakat' lawannya," analisis Ye Yuan. "Li Feng menggunakan obat untuk menaikkan level secara paksa. Energi obat itu sekarang menjadi milikku."
Tiba-tiba, tulisan-tulisan kuno kembali muncul di benaknya, kelanjutan dari Sutra Hati Pedang Asura.
[Teknik Tambahan: Langkah Hantu Asura]
Deskripsi: Menggunakan ledakan Qi di telapak kaki untuk bergerak secepat kilat dalam jarak pendek. Membutuhkan tubuh fisik sekuat baja untuk menahan tekanan ledakan.
Mata Ye Yuan terbuka lebar. Teknik gerakan!
Kelemahan terbesarnya saat melawan Sun Lang dan Li Feng adalah kecepatan. Dia mengandalkan tanking (menerima serangan) dan serangan balik. Jika musuhnya tipe jarak jauh atau pelari cepat, dia akan kesulitan. Dengan teknik langkah ini, dia bisa menutupi kelemahan itu.
"Tiga bulan..." Ye Yuan mengepalkan tinjunya.
Targetnya bukan hanya Tingkat Sembilan.
Dengan energi murni di sini, dan sisa energi Li Feng di tubuhnya, dia ingin mencoba sesuatu yang gila.
Dia ingin mencapai Puncak Tingkat Sembilan dan menyentuh ambang Pembentukan Fondasi sebelum ujian dimulai.
Ye Yuan mengeluarkan sisa Batu Roh yang dia ambil dari Wang Hu, ditambah botol pil jatah murid dalam yang baru dia temukan di meja gubuk.
"Mari kita mulai pesta makannya."
Ye Yuan menelan pil, memegang batu roh, dan mengaktifkan pusaran Asura di perutnya.
Hutan bambu di sekitar gubuk itu tiba-tiba bergoyang, bukan karena angin, tapi karena tarikan energi spiritual yang tersedot ke satu titik dengan rakus.
Di kejauhan, di puncak tertinggi paviliun utama, Mu Bingyun yang sedang bermeditasi membuka matanya sedikit. Dia merasakan gangguan aliran Qi di tebing utara.
"Anak itu... dia berkultivasi atau mencoba menelan gunung?" gumamnya, lalu bibirnya melengkung membentuk senyum yang sangat tipis. "Menarik. Tunjukkan padaku potensimu, Pewaris Pedang Patah."
Sementara itu, di luar sekte, di kediaman keluarga Li, sebuah rencana jahat sedang disusun dalam kegelapan. Tetua Li tidak akan membiarkan penghinaan ini berlalu begitu saja. Jika dia tidak bisa membunuh Ye Yuan di dalam sekte karena Mu Bingyun, dia akan memaksa Ye Yuan keluar.
Dan dia tahu persis bagaimana caranya.
"Kirim pesan ke Desa Batu Kapur," perintah Tetua Li kepada bayangan di depannya. "Katakan pada mereka... rumah masa kecil Ye Yuan mungkin menyembunyikan harta karun, dan 'tidak sengaja' bakar tempat itu."
Mata Tetua Li bersinar merah penuh kebencian.
"Mari kita lihat apakah kau akan tetap bersembunyi di balik rok wanita itu saat masa lalumu dibakar menjadi abu."
[Bersambung ke Bab 9]