Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.
Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20: Perhimpunan Pemburu Naga Resmi Diriliskan
Sinar matahari terbit menyinari halaman utama Kompleks Keluarga Ye, yang telah diubah menjadi tempat berkumpulnya perwakilan dari seluruh klan pemburu naga di Tanah Seribu Pegunungan. Ribuan orang berkumpul di sana—prajurit berpakaian seragam warna-warni masing-masing klan, pemimpin yang berpengalaman, dan penduduk kota yang datang untuk menyaksikan momen bersejarah ini.
Di atas panggung tinggi yang dibangun khusus, bendera dari Klan Naga Merah, Biru, Hijau, dan Keluarga Ye berkibar dengan gagah di angin pagi. Di tengah panggung, sebuah meja kayu besar ditempatkan dengan prasasti batu yang akan menjadi tanda resmi pembentukan aliansi.
Pada pukul sembilan pagi tepat, Ye Tianhong naik ke atas panggung dengan langkah yang mantap. Suaranya yang kuat dan jelas terdengar di seluruh halaman melalui teknik sihir suara yang telah dia kuasai selama bertahun-tahun.
“Selamat datang, saudara-saudaraku dari seluruh Tanah Seribu Pegunungan!” ujarnya dengan penuh semangat. “Hari ini kita menyaksikan momen yang akan dikenang dalam sejarah—hari di mana klan-klan pemburu naga yang dulunya terpisah akhirnya bersatu dalam satu tujuan yang sama!”
Suara tepukan tangan dan sorak yang menggema memenuhi udara. Setelah beberapa saat, dia melanjutkan: “Banyak tahun lamanya kita hidup dalam isolasi satu sama lain, terkadang bahkan saling berseteru karena perbedaan dan kesalahpahaman. Namun hari ini kita menyadari bahwa kita memiliki lebih banyak kesamaan daripada perbedaan—kita semua cinta tanah air kita dan ingin melindunginya dari bahaya yang akan datang.”
Ye Tianhong kemudian mengundang Feng ke atas panggung. Semua mata terpaku pada pemuda yang telah membawa mereka bersama-sama, dengan Pedang Naga yang bersinar dengan cahaya keemasan di pundaknya.
“Chen Feng, keturunan Keluarga Chen, telah menunjukkan kepada kita bahwa kekuatan sejati bukanlah dari kekerasan atau dominasi,” ujar Ye Tianhong sambil menunjuk ke arah Feng. “Dia telah menunjukkan bahwa kekuatan datang dari kesediaan untuk menyatukan yang terpisah, untuk memahami yang berbeda, dan untuk bekerja bersama untuk kebaikan bersama. Oleh karena itu, dengan persetujuan dari semua pemimpin klan, kami mengangkatnya sebagai Pemimpin Muda Perhimpunan Pemburu Naga!”
Suara sorak yang lebih keras lagi menggema. Feng naik ke atas panggung dengan hati yang penuh rasa hormat, kemudian berdiri di depan semua orang dengan sikap yang tenang namun penuh tekad.
“Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada saya,” ujar Feng dengan suara yang jelas dan kuat. “Saya tidak akan pernah melupakan bahwa saya tidak berdiri di sini sendirian—saya berdiri di sini sebagai perwakilan dari semua orang yang percaya pada harapan dan perdamaian.”
Dia melihat ke arah setiap pemimpin klan yang berdiri di belakangnya—Li Mei dari Klan Naga Merah, Liu Hai dari Klan Naga Biru, Lin Xia dari Klan Naga Hijau, dan Ye Chen dari Keluarga Ye. “Kita akan membentuk Dewan Pembimbing yang terdiri dari perwakilan dari setiap klan,” lanjutnya. “Keputusan penting akan dibuat bersama, dengan menghormati pandangan dan kekuatan unik dari masing-masing klan.”
Setelah pidato itu, upacara pembentukan resmi dimulai. Feng bersama dengan para pemimpin klan menandatangani prasasti batu dengan darah mereka masing-masing—sebuah tradisi kuno yang menandakan komitmen yang tak terpisahkan satu sama lain. Saat darah mereka menyatu di prasasti, cahaya keemasan menyala dari batu itu, dan energi alam mulai menyebar ke seluruh halaman.
Tanah yang tadinya kering mulai menjadi hijau kembali, bunga-bunga mulai mekar di sekitar panggung, dan udara dipenuhi dengan aroma yang harum. Semua orang merasakan getaran kekuatan yang positif, seolah alam itu sendiri merespons pembentukan aliansi ini.
Setelah upacara selesai, Feng mengumumkan struktur organisasi Perhimpunan Pemburu Naga:
- Dewan Pembimbing: Bertanggung jawab atas pengambilan keputusan strategis, terdiri dari pemimpin masing-masing klan
- Divisi Pertahanan: Dipimpin oleh Ye Chen, bertanggung jawab atas pelatihan pasukan dan keamanan wilayah
- Divisi Pengembangan: Dipimpin oleh Lin Xia, bertanggung jawab atas pemulihan lingkungan dan pembangunan infrastruktur
- Divisi Informasi: Dipimpin oleh Liu Hai, bertanggung jawab atas pengumpulan informasi dan komunikasi antar klan
- Divisi Medis dan Pengobatan: Dipimpin oleh Li Mei, bertanggung jawab atas perawatan kesehatan dan pengembangan obat-obatan alami
“Kita tidak hanya akan menjadi pasukan pertahanan yang kuat,” ujar Feng dengan suara yang penuh semangat. “Kita akan menjadi organisasi yang bekerja untuk kesejahteraan semua orang di Tanah Seribu Pegunungan—baik manusia maupun makhluk lain yang hidup di sini.”
Pada sore harinya, berbagai kegiatan dimulai untuk memperkuat ikatan antar klan. Prajurit dari berbagai klan saling bertukar pengetahuan dan keterampilan—Klan Naga Merah mengajarkan teknik pengendalian api untuk memasak dan menghangatkan rumah, Klan Naga Biru mengajarkan cara mengelola sumber daya air dengan bijak, Klan Naga Hijau mengajarkan teknik bertani dan pengobatan alami, sedangkan Keluarga Ye mengajarkan seni pertempuran dan taktik perang.
Feng berkeliling ke setiap kelompok, melihat dengan senang hati bagaimana orang-orang yang dulunya asing satu sama lain kini bekerja bersama dengan harmonis. Di salah satu sudut halaman, dia menemukan Linglong sedang mengajar anak-anak dari berbagai klan cara membuat mahkota dari bunga-bunga liar. Wajah anak-anak yang penuh senyum membuat hatinya terasa hangat.
“Kamu telah membangun sesuatu yang indah, Feng,” ujar Linglong saat dia mendekatinya. “Sesuatu yang akan bertahan lama setelah kita pergi.”
Feng menyandarkan lengannya di pundaknya, menyaksikan pemandangan di sekitar mereka. “Ini hanya awal,” katanya dengan lembut. “Kita masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi ancaman yang akan datang.”
Tiba-tiba, salah satu anggota Divisi Informasi berlari dengan tergesa-gesa ke arah mereka. Wajahnya penuh dengan kekhawatiran. “Pemimpin Feng! Kita menerima laporan darurat dari pos pengawasan utara. Sekte Ular Hitam telah menyerang desa kecil di sana, dan mereka membawa sesuatu yang sangat berbahaya!”
Feng segera berkumpul dengan Dewan Pembimbing di ruang rapat darurat. Di layar sihir yang diproyeksikan di dinding, mereka melihat gambar desa yang sedang terbakar. Di tengah desa itu, sebuah struktur besar berbentuk seperti piramida hitam berdiri dengan kokoh, dengan energi gelap yang menyala seperti kilat di permukaannya.
“Itu adalah alat untuk membuka segel,” bisik Li Mei dengan suara gemetar. “Mereka telah menemukan cara untuk mempercepat proses peleburan segel kekuatan gelap!”
Feng berdiri dengan tegas, matanya penuh dengan tekad. “Kita tidak punya waktu untuk menunda lagi,” katanya dengan suara yang jelas dan kuat. “Semua pasukan siap bergerak dalam satu jam. Kita akan menghentikan mereka sebelum terlambat!”
Malam itu, pasukan Perhimpunan Pemburu Naga berkumpul di gerbang utama Kota Yunlong. Ribuan prajurit berpakaian seragam baru dengan lambang naga yang menyatu empat warna—merah, biru, hijau, dan emas—berdiri dengan sikap tegak dan siap berperang.
Feng berdiri di depan pasukan dengan Pedang Naga yang menyala dengan cahaya keemasan yang sangat terang. Di sisinya berdiri para pemimpin klan, masing-masing dengan kekuatan unik yang siap digunakan untuk melindungi tanah air mereka.
“Kita pergi bukan untuk membunuh atau membalas dendam,” ujar Feng dengan suara yang bisa didengar oleh semua orang. “Kita pergi untuk melindungi yang lemah, untuk menghentikan kehancuran, dan untuk membuktikan bahwa cinta dan perdamaian lebih kuat dari kegelapan apa pun!”
Dengan perintahnya, pasukan mulai bergerak keluar dari kota dengan langkah yang teratur dan penuh semangat. Langit malam yang penuh bintang menyaksikan perjalanan mereka, dengan bulan yang cerah memberikan penerangan di jalan yang akan datang. Semua orang tahu bahwa pertempuran besar menghadapi mereka—pertempuran yang akan menentukan nasib seluruh Tanah Seribu Pegunungan. Namun kini mereka tidak lagi sendirian. Mereka adalah Perhimpunan Pemburu Naga, bersatu dalam satu tujuan, siap menghadapi apa pun yang datang dengan kekuatan yang benar dan hati yang penuh dengan harapan.