Ragnar Aditya van Der Veen—pria berdarah campuran Indonesia–Belanda—memiliki segalanya: karier mapan di Jakarta, wajah tampan, dan masa lalu yang penuh gemerlap. Namun di balik itu semua, ia menyimpan luka dan penyesalan yang tak pernah benar-benar sembuh. Sebuah kesalahan di masa lalu membuatnya kehilangan arah, hingga akhirnya ia memilih kembali pada jalan yang lebih tenang: hijrah, memperbaiki diri, dan mencari pendamping hidup melalui ta’aruf.
Di Ciwidey yang sejuk dan berselimut kebun teh, ia dipertemukan dengan Yasmin Salsabila—gadis Sunda yang lembut, sederhana, dan menjaga prinsipnya dengan teguh. Yasmin bukan perempuan yang mudah terpesona oleh penampilan atau harta. Baginya, pernikahan bukan sekadar cinta, tapi ibadah panjang yang harus dibangun dengan kejujuran dan keimanan.
Pertemuan mereka dimulai tanpa sentuhan, tanpa janji manis berlebihan—hanya percakapan-percakapan penuh makna yang perlahan mengikat hati. Namun perjalanan ta’aruf mereka tak semulus jalan tol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Belum Selesai
Malam turun lebih cepat di Ciwidey. Kabut kembali merayap, menyusup ke sela-sela pepohonan dan menyelimuti kebun teh dengan dingin yang lembap. Lampu-lampu rumah warga menyala satu per satu, seperti kunang-kunang yang bertahan dalam sunyi.
Di ruang tamu rumah kayu itu, pertemuan telah usai.
Ragnar berdiri, berpamitan dengan sopan. Ia menyalami Pak Asep dan istrinya dengan penuh hormat. Ketika tiba pada Yasmin, ia hanya menunduk singkat. Tidak ada sentuhan, tidak ada senyum berlebihan. Hanya adab yang dijaga rapat.
“Terima kasih atas waktunya,” ucapnya.
Yasmin mengangguk pelan. “Semoga perjalanan pulangnya lancar.”
Sederhana. Tapi entah mengapa, kalimat itu terasa hangat.
Mobil hitam Ragnar perlahan menjauh, lampunya memotong kabut malam. Yasmin berdiri di balik jendela seperti sore tadi. Namun kali ini, hatinya tidak setenang sebelumnya.
Ia memeluk dirinya sendiri.
“Gimana menurut kamu, Min?” suara ibunya lembut dari belakang.
Yasmin tak langsung menjawab. “Beliau… berbeda, Bu.”
“Berbeda bagaimana?”
“Seperti bukan dari dunia kita.”
Ibunya tersenyum tipis. “Memang bukan. Tapi bukan berarti takdir tidak bisa mempertemukan dua dunia.”
Yasmin menunduk. Kata takdir terdengar berat.
________________________________________
Di dalam mobil, Ragnar bersandar lelah. Ia memejamkan mata, membiarkan suara mesin menjadi latar pikirannya yang riuh.
Ia tahu keluarga Yasmin memandangnya dengan hati-hati. Ia bisa merasakannya. Ada sopan, tapi ada juga waspada.
Dan itu wajar.
Ia lelaki asing. Kaya. Mualaf. Punya masa lalu.
Ia menatap layar ponselnya. Tidak ada pesan baru—kecuali satu notifikasi yang membuat rahangnya mengeras.
Clara: “Kita perlu bicara.”
Ragnar menghela napas panjang.
Sudah enam bulan Clara tak menghubunginya. Sejak ia resmi mengumumkan ke publik bahwa dirinya masuk Islam. Sejak ia mulai tampil berbeda—lebih tenang, lebih tertutup.
Kenapa sekarang?
Ia tidak membalas.
Tapi hatinya tak bisa bohong—nama itu masih menyisakan luka yang belum sepenuhnya sembuh.
________________________________________
Di Jakarta, Clara duduk di sebuah apartemen mewah dengan jendela tinggi menghadap kota. Ia memutar cincin perak di jarinya, cincin yang dulu hampir menjadi simbol pertunangannya dengan Ragnar.
Ia menatap layar ponsel, menunggu balasan yang tak kunjung datang.
“Jadi dia benar-benar berubah…” gumamnya pelan.
Clara tak pernah membayangkan Ragnar akan sejauh ini. Ia pikir itu hanya fase. Pencarian sesaat karena trauma kecelakaan. Tapi kini lelaki itu bukan hanya rajin ke masjid, ia bahkan mencari pasangan dengan cara ta’aruf.
Clara tersenyum miris.
“Kalau begitu… aku tidak bisa diam.”
________________________________________
Keesokan paginya, Yasmin membantu ibunya membuat kue cucur untuk dijual ke warung-warung sekitar. Tangan Yasmin lincah menuang adonan ke minyak panas.
Tapi pikirannya melayang.
Ia teringat cara Ragnar menjawab pertanyaan ayahnya semalam.
“Aku takut, Pak.”
Lelaki itu tidak terdengar sombong. Tidak terdengar dibuat-buat. Justru terdengar jujur. Rapuh.
Dan pengakuannya tentang mantan hampir menikah.
Yasmin belum pernah menjalin hubungan dengan siapa pun. Di kampungnya, pacaran bukan hal yang dibanggakan. Ia menjaga dirinya, bukan karena tak ada yang mendekati, tapi karena ia percaya setiap perasaan ada waktunya.
Namun kini, calon yang datang justru membawa bayangan perempuan lain.
“Min, kamu melamun,” tegur ibunya.
Yasmin tersadar. “Maaf, Bu.”
Ibunya menatapnya lembut. “Kamu takut?”
Yasmin diam.
“Takut kalau tidak sepadan.”
Ibunya menghentikan tangannya. “Sepadan menurut siapa?”
Yasmin tak mampu menjawab.
Ia tahu dirinya hanya gadis desa. Pendidikan terakhirnya SMA. Tidak kuliah karena membantu orang tua. Dunia terjauhnya hanya Bandung kota.
Sementara Ragnar? Direktur perusahaan besar. Lulusan luar negeri.
Apa yang bisa ia tawarkan?
________________________________________
Siang itu, Pak Asep menerima telepon dari seorang kerabat jauh di Bandung.
“Kang Asep, saya dengar ada lelaki Jakarta melamar Yasmin?”
Kabar rupanya cepat menyebar.
“Iya, masih tahap ta’aruf,” jawab Asep hati-hati.
“Ati-ati, Kang. Orang kota mah beda. Jangan sampai Yasmin cuma jadi permainan.”
Kalimat itu menusuk.
Pak Asep bukan lelaki yang mudah goyah. Tapi sebagai ayah, ia tak bisa menutup telinga dari kekhawatiran.
Ia teringat satu hal yang belum ia tanyakan pada Ragnar.
Tentang keluarga lelaki itu.
Apakah mereka menerima Yasmin? Atau hanya Ragnar yang bersemangat sendiri?
________________________________________
Di Jakarta, Ragnar tiba di kantor pusat perusahaan keluarganya. Gedung tinggi dengan lobi marmer dan aroma parfum mahal.
Begitu ia masuk ruang rapat, suara ibunya menyambut.
“Kamu dari mana?”
Ragnar berhenti.
“Keluar kota.”
“Untuk urusan bisnis?”
Ragnar menatap ibunya, Helena van Der Veen, perempuan elegan dengan tatapan tajam khas Eropa.
“Untuk urusan pribadi.”
Helena menyilangkan tangan. “Aku dengar kamu menemui seorang gadis desa untuk dinikahi.”
Berita itu rupanya sampai lebih cepat dari yang ia kira.
“Ya.”
Helena tersenyum tipis, tapi tidak hangat. “Ragnar, kamu pewaris perusahaan ini. Kamu tidak bisa sembarang memilih pasangan.”
“Saya tidak sembarang.”
“Dia siapa? Anak pejabat? Pengusaha?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Anak guru ngaji.”
Ruangan terasa lebih dingin.
Helena menggeleng pelan. “Kamu berubah terlalu jauh.”
“Kalau berubah membuat saya lebih tenang, kenapa tidak?”
Helena menatapnya tajam. “Kamu yakin ini bukan bentuk pelarian dari Clara?”
Nama itu lagi.
Ragnar mengencangkan rahangnya. “Ini bukan tentang Clara.”
Tapi dalam hati, ia belum sepenuhnya yakin.
________________________________________
Sore itu, Yasmin pergi ke mushala kecil tempat ia mengajar anak-anak mengaji. Anak-anak berlarian menyambutnya.
“Teh Yasmin, hari ini kita hafalan ya?”
Yasmin tersenyum. Di tempat inilah ia merasa paling utuh.
Saat anak-anak mulai membaca, seorang pemuda berdiri di depan mushala. Tubuhnya tinggi, kulitnya sawo matang, sorot matanya lembut.
“Assalamu’alaikum.”
Yasmin menoleh. “Wa’alaikumussalam.”
Itu Fikri.
Pemuda kampung yang sejak lama diam-diam menyimpan rasa padanya.
“Aku dengar… ada yang melamar kamu,” kata Fikri pelan.
Yasmin terdiam. “Masih proses.”
Fikri tersenyum getir. “Orang kota, ya?”
Yasmin tidak menjawab.
“Aku cuma mau bilang… hati-hati. Orang kaya kadang tidak tahu caranya mencintai dengan sederhana.”
Kalimat itu menancap dalam.
Yasmin menatap Fikri, melihat ketulusan yang tak pernah diucapkan terang-terangan.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa keputusannya bukan hanya tentang dirinya dan Ragnar. Tapi juga tentang hati-hati lain yang mungkin akan terluka.
________________________________________
Malam kembali turun.
Ragnar berdiri di balkon apartemennya di Jakarta, memandangi lampu kota. Yasmin duduk di beranda rumah kayunya, memandangi bintang yang samar di balik kabut.
Dua dunia. Dua langit yang berbeda.
Ragnar membuka ponselnya, menulis pesan singkat kepada ustazah penghubung.
“Saya ingin melanjutkan proses ta’aruf.”
Di saat yang sama, Yasmin berkata pada ayahnya pelan, “Saya tidak menolak, Pak. Tapi saya ingin waktu untuk istikharah.”
Pak Asep mengangguk. “Ambil waktumu.”
Namun tak satu pun dari mereka tahu—
Bahwa Clara sudah memesan tiket ke Bandung.
Bahwa Helena mulai menyelidiki latar belakang keluarga Yasmin.
Dan bahwa rahasia masa kecil Yasmin perlahan akan menyeret nama seseorang yang tak pernah Ragnar duga.
Jejak masa lalu belum selesai.
Dan ta’aruf ini baru memasuki langkah pertama menuju badai yang lebih besar.