NovelToon NovelToon
From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:478
Nilai: 5
Nama Author: WesternGirl10

Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
​Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
​Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
​Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
​Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

05

Matahari bersinar terik di balik jendela, namun Kevin masih terlelap. Sesuai perkataan Ashley, mereka mulai tidur bersama. Tadinya rencananya begitu-hanya sekadar tidur di ranjang yang sama untuk membiasakan diri.

​Jam alarm di meja nakas berdering nyaring. Kevin tersentak bangun, matanya membelalak saat menyadari ia tidak mengenakan sehelai benang pun di balik selimut tebal yang menutupi tubuhnya.

​"Kita mulai pelan-pelan saja. Pelan-pelan... pelan-pelan..."

​Suaranya sendiri semalam terngiang-ngiang di telinga, mengejeknya berkali-kali. Kevin menatap sisi ranjang yang kosong. Ashley pasti sudah berangkat bekerja, mengingat jam sudah menunjukkan pukul 09:31 pagi.

​Kevin mengacak rambutnya frustrasi lalu kembali menjatuhkan diri, menendang selimutnya dengan gemas. Ia teringat bagaimana Ashley semalam menatapnya dengan senyum miring yang menantang, seolah berkata bahwa "pelan-pelan" bukan ada dalam kamus kamusnya.

​"Ugh... tidak, ini bukan berarti aku tidak bisa menahan diri. Hanya saja rubah itu yang terlalu licik! Benar, hahaha!" Kevin tertawa hambar, mencoba menghibur diri sendiri sambil meraih baju tidurnya yang tergeletak di lantai. "Lagipula kami sudah menikah, jadi hal itu... wajar terjadi, kan?"

​Kevin mengenakan kembali pakaiannya, membasuh wajah sejenak, lalu melangkah keluar kamar. Ia langsung disambut oleh seorang pelayan yang sudah berdiri tegak memegang nampan berisi segelas cairan berwarna hijau pekat yang tampak mencurigakan.

​"Tuan, mulai hari ini Anda wajib mengonsumsi ini setiap pagi."

​"Air muntahan beruang dari mana ini?" Kevin mengernyit jijik.

​"Ini jamu racikan kepala koki, Nyonya sendiri yang memberikan resepnya."

​"Ck, tidak mau. Buang saja dan bilang kalau aku sudah meminumnya."

​"Maaf, Tuan. Saya bisa dipecat jika berbohong. Nyonya berpesan agar saya memastikan gelas ini kosong sebelum saya pergi." Pelayan itu menyodorkan nampan lebih dekat, memaksa Kevin meraih gelasnya.

​"Ewh... setidaknya beri tahu apa isinya?"

​"Saya tidak tahu pasti, Tuan. Namun yang jelas, ini terbuat dari berbagai sayuran dan rempah untuk stamina."

​Mendengar kata "stamina", wajah Kevin memanas. Dengan enggan ia mencium aromanya. Baunya biasa saja, namun rasa pahit yang luar biasa langsung menyerang indra perasanya pada tegukan pertama. Kevin ingin memuntahkannya saat itu juga, namun melihat tatapan menuntut si pelayan, ia terpaksa menghabiskannya. Begitu gelas kosong, ia langsung berlari ke kamar mandi untuk berkumur-dan berakhir memuntahkan cairan hijau itu kembali.

Kevin menyandarkan punggungnya di pintu kamar mandi sambil mengatur napas. Rasa pahit itu masih tertinggal di pangkal lidahnya. Saat ia keluar, ia mendapati Neena sedang berdiri di koridor dengan wajah tanpa ekspresi, namun matanya memancarkan ketegasan.

​"Apakah jamunya sudah habis, Tuan?" tanya Neena.

​"Neena, jujur saja, apa Ashley ingin meracuniku pelan-pelan?" keluh Kevin.

​Neena memberikan senyum tipis yang hampir tidak terlihat. "Nyonya hanya ingin memastikan Anda berada dalam kondisi fisik yang prima. Beliau sudah menyusun jadwal diet baru untuk Anda, termasuk daftar suplemen yang harus dikonsumsi setiap pagi dan malam."

​Kevin mengerang. "Dia benar-benar menganggap ini seperti proyek perusahaan, ya? Lalu, lakukan sesuatu dengan rasanya, aku tidak mau muntah-muntah setiap pagi."

​"Bagi Nyonya Ashley, efisiensi dan hasil adalah segalanya, Tuan. Saya sarankan Anda terbiasa dengan ini. Dan untuk itu, saya akan memberitahu kepala koki."

​Kevin kembali ke kamarnya dengan bahu merosot. Ia merasa bukan lagi seorang pengangguran kaya yang santai, melainkan seorang atlet yang sedang dilatih untuk olimpiade "membuat bayi".

​Sementara itu, di lantai teratas gedung Giotech C&T, suasana jauh dari kata damai. Ashley menatap tajam layar monitornya, namun untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, konsentrasinya buyar hanya karena sebuah bayangan yang melintas di benaknya.

​Bayangan Kevin yang tampak berantakan dan... tidak berbahaya ketika terlelap pagi tadi saat ia sengaja meninggalkan pria itu lebih awal.

​"Nona?" suara sekretarisnya, Sarah, memecah lamunan Ashley. "Ini laporan analisis pasar saham untuk proyek konstruksi baru kita. Anda sudah menatap halaman yang sama selama sepuluh menit."

​Ashley tersentak kecil, lalu berdehem untuk menutupi kecanggungannya. Ia merapikan kerah kemejanya yang sebenarnya sudah sangat rapi. "Aku hanya sedang memikirkan strategi jangka panjang, Sarah. Letakkan saja di sana."

​Begitu Sarah keluar, Ashley menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut.

​"Ini hanya karena misi dari Ayah," gumamnya pada diri sendiri, seolah sedang meyakinkan dinding-dinding ruang kerjanya. "Ya, semuanya harus berjalan efisien. Tidur bersamanya, memastikan dia minum jamu stamina, itu semua hanyalah variabel teknis untuk mencapai tujuan utama: hak suksesi."

​Ia mencoba kembali membaca dokumen di hadapannya, namun kata-kata "pelan-pelan" yang diucapkan Kevin semalam justru terngiang kembali. Ashley mendengus pelan, sebuah senyum sinis namun tipis muncul di sudut bibirnya. Pria itu terlalu polos. Di dunia bisnis yang kejam seperti ini, tidak ada kata "pelan-pelan" jika ingin menang.

​Namun, ada sesuatu yang mengganggunya. Kenapa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat saat teringat bagaimana Kevin mencoba bersikap sopan dan menghargainya semalam?

​"Tidak mungkin," bisiknya tegas. "Dia hanya aset. Aset yang sangat nyaman untuk diajak bicara, tapi tetap saja, hanya aset. Aku tidak punya waktu untuk jatuh cinta pada pria yang menghabiskan waktunya hanya untuk membaca manga."

​Ashley menarik napas dalam, memaksakan logikanya untuk kembali berkuasa. Ia menyalakan interkom di mejanya. "Sarah, jadwalkan rapat dengan departemen keuangan sekarang juga. Aku butuh pekerjaan yang banyak agar tidak memikirkan hal-hal yang tidak produktif."

​Ashley yakin, rasa canggung ini hanya karena ia belum terbiasa berbagi ruang privasi dengan orang lain. Itu saja. Tidak lebih.

​Malam harinya, Ashley pulang dengan raut wajah lelah yang sangat kentara-pemandangan yang jarang terjadi.

​"Kau terlihat sangat lelah," sapa Kevin saat Ashley memasuki kamar.

​"Ya, berkat seseorang," jawabnya singkat. Ia meletakkan tasnya, menaiki tangga kecil menuju area meja rias.

​Kevin mengikuti dari belakang. Melihat punggung Ashley yang tampak tegang, ia menghampirinya dan berdiri di belakang kursi rias, lalu mulai memijat bahu istrinya perlahan.

​"Kau tidak harus melakukan ini," gumam Ashley. Matanya menatap pantulan Kevin dari cermin, meski begitu, guratan lelah di wajahnya sedikit memudar.

​"Kau sudah bekerja keras hari ini."

​"Aku memang melakukannya setiap hari." Ashley meraih kapas, menuangkan cairan pembersih, lalu mulai menghapus riasannya.

"Bagaimana harimu?"

​"Hmm... sama seperti biasanya."

​Kevin terus memijat, suasana hening yang nyaman menyelimuti mereka sejenak.

​"Ngomong-ngomong, kau sudah memutuskan akan kuliah di mana?" tanya Ashley tiba-tiba, masih menatap Kevin lewat cermin.

​"Ah... aku lupa memikirkannya."

​"Kau harus cepat memutuskan. Tahun ajaran baru akan segera dimulai."

​"Bagaimana jika di universitas tempatmu kuliah dulu saja?"

​"Aku tidak kuliah."

​"Eh? Serius?" Kevin menghentikan pijatannya, terkejut.

​Ashley mengangguk pelan sembari terus membersihkan wajah. "Maksudku, aku tidak pernah lulus. Aku hanya bertahan sampai semester pertama di tahun pertama.

​"Benarkah? Kenapa?"

​"Saat itu aku dipercaya Ayah untuk langsung mengambil alih C&T yang sedang kritis."

​"Ah..." Kevin manggut-manggut paham. "Di universitas mana kau kuliah dulu? Jika dekat, aku akan mendaftar ke sana."

​Ashley terkekeh kecil, suara yang jarang Kevin dengar. "Aku kuliah di Tiongkok."

​"Tiongkok? Kenapa jauh sekali?"

​"Yah... aku punya alasanku sendiri saat itu."

​"Huft, kalau begitu aku harus memikirkannya lebih cepat."

​"Hm, bagus."

​Kevin berjalan menuju meja nakas, mengambil ponselnya, lalu duduk di tepi ranjang. "Bagaimana jika Universitas Nasional saja?" tanyanya sambil menggulir layar.

​"Aku oke saja di mana pun. Lagipula, seharusnya kau bertanya pada dirimu sendiri, karena kau yang akan menjalaninya."

​"Hm, kalau begitu aku akan segera menyiapkan dokumen yang diperlukan. Dan mungkin... aku akan menggunakan sedikit uang darimu?"

​Ashley berbalik sepenuhnya, menatap Kevin dengan alis bertaut. "Jangan bilang kau tidak pernah menyentuh uang yang kukirim setiap bulan?"

​"Tidak, aku selalu menggunakannya! Maksudku, pengeluaranku selama ini tidak pernah lebih dari 500 dolar per bulan. Jika aku kuliah, biaya administrasi, pendaftaran, dan lain-lain pasti jauh lebih besar."

​Ashley mendengus pelan, hampir seperti tawa ejekan. "Jangan remehkan kekayaanku, Kevin. Kau seharusnya membantuku menghabiskan uang itu."

​"Aku tidak bermaksud meremehkanmu, aku hanya... benar-benar tidak tahu bagaimana cara menghabiskannya."

Ashley menghela nafas dan berjalan ke arah ranjang. "Tidurlah, kau punya daftar universitas untuk dilihat besok."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!