NovelToon NovelToon
SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

Status: sedang berlangsung
Genre:Agen Wanita / Identitas Tersembunyi / Action / Fantasi / Cintamanis / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PELANGGAN PERTAMA

09:00 AM. Analogue Heart, Pesisir Selatan Yunani.

Lantai kayu toko buku Analogue Heart berderit pelan saat Raka menggeser tangga perpustakaan menuju sudut sejarah. Ia baru saja selesai mengangkat tiga kardus penuh buku sosiologi pekerjaan yang biasanya membutuhkan bantuan alat berat bagi orang biasa, namun bagi Raka, itu hanyalah latihan pemanasan pagi.

Pagi ini, toko mereka terasa sangat tenang. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar, menyinari partikel debu yang menari di udara, menciptakan suasana yang hampir puitis. Namun, ketenangan itu terusik saat pintu depan berdenting, menandakan kedatangan tamu pertama mereka.

Bukan Pak Kostas yang biasanya mencari koran, bukan pula ibu-ibu desa yang mencari buku masak. Yang melangkah masuk adalah seorang pria muda, mungkin berusia pertengahan dua puluh tahun, dengan rambut pirang yang tertata rapi, kulit kecokelatan yang terbakar matahari pantai, dan senyum yang terlalu lebar untuk jam sembilan pagi.

Liana, yang sedang duduk di belakang meja kasir sambil menyesap teh min nya, mendongak. Ia mengenakan atasan rajut tipis tanpa lengan yang sedikit memperlihatkan tulang selangkanya yang indah sebuah pemandangan yang biasanya hanya milik Raka.

"Selamat pagi! Ada yang bisa saya bantu?" sapa Liana dengan ramah terlalu ramah menurut pendengaran Raka yang tajam.

"Oh, ya. Aku sedang mencari buku tentang... mitologi Yunani kuno. Tapi yang lebih fokus pada kisah kisah romansa dan tragedi," suara pemuda itu terdengar berat, berusaha terdengar karismatik. Matanya tidak melihat ke arah rak buku, melainkan terpaku pada mata hijau Liana.

Raka, yang berdiri di atas tangga sekitar tiga meter dari sana, berhenti bergerak. Tangannya masih memegang satu jilid buku tebal, namun matanya sudah menyipit. Sensor ancaman nya yang sudah tumpul selama enam bulan mendadak berteriak ping! dengan frekuensi tinggi.

"Kisah romansa? Kami punya koleksi khusus di rak bagian belakang," jawab Liana sambil berdiri. Gerakannya yang luwes membuat gaun pendeknya sedikit terangkat.

Pemuda itu, yang belakangan diketahui bernama Nikos putra pemilik penginapan mewah di desa sebelah melangkah lebih dekat hingga hanya dibatasi oleh meja kayu kasir. "Sebenarnya, aku lebih suka rekomendasi langsung. Kau sepertinya punya selera yang bagus. Apakah kau penduduk asli sini? Aku belum pernah melihat bidadari sepertimu di pelabuhan."

Raka meletakkan buku ke rak dengan sedikit hentakan yang menciptakan suara gedebuk kecil. Namun, Liana sepertinya terlalu sibuk menanggapi pujian Nikos.

"Aku baru menetap di sini," jawab Liana dengan tawa kecil yang bagi Raka terdengar sangat menggoda meski ia tahu Liana hanya berusaha bersikap sopan sebagai pemilik toko. "Dan aku bukan bidadari, hanya seorang pengelola buku yang suka kopi pahit."

"Kopi pahit? Kebetulan sekali, aku tahu tempat terbaik di atas tebing yang menyajikan kopi pahit dengan pemandangan matahari terbenam yang luar biasa," Nikos mencondongkan tubuh, tangannya hampir menyentuh jemari Liana di atas meja. "Mungkin setelah tokomu tutup, kita bisa"

BRAK.

Suara tangga yang digeser dengan kasar memotong kalimat Nikos. Raka turun dari tangga dengan gerakan yang begitu cepat namun sunyi, seperti predator yang baru saja turun dari pohon. Ia berjalan mendekat, tubuhnya yang tinggi dan bahunya yang lebar seketika menciptakan bayangan yang menutupi sosok Nikos.

Raka berdiri tepat di samping Liana, meletakkan tangannya yang besar dan berurat di atas bahu Liana, menariknya sedikit ke dalam perlindungannya. Ia tidak menatap Liana, matanya terkunci pada Nikos dengan tatapan dingin yang biasanya ia gunakan untuk menginterogasi tawanan perang.

"Mitologi Yunani?" suara Raka terdengar rendah, hampir seperti geraman harimau. "Rak ketiga di belakang. Sektor Tragedi. Cocok untuk orang yang tidak tahu kapan harus berhenti bicara."

Nikos tersentak. Ia menengadah, melihat rahang Raka yang mengeras dan bekas luka kecil di pelipis pria itu yang memberi kesan berbahaya. Senyum karismatiknya mendadak layu. "Oh... aku tidak tahu kalau ada... rekan kerja di sini."

"Aku bukan rekan kerjanya," Raka merapatkan tubuhnya ke Liana, tangannya berpindah dari bahu ke pinggang Liana, memeluknya dengan pose posesif yang sangat jelas. "Aku pemilik tempat ini. Dan dia adalah istriku."

Liana menoleh ke arah Raka, matanya membelalak kaget namun ada binar jenaka yang tertahan di sana. Ia belum pernah melihat Raka menunjukkan kecemburuan seterbuka ini.

"Ah... begitu. Maafkan aku. Aku hanya ingin... membantu bisnis baru kalian," Nikos mundur selangkah, kegagahannya menguap saat ia merasakan aura hantu Raka yang mulai keluar. "Aku akan... melihat lihat sendiri. Terima kasih."

Nikos bergegas menuju rak belakang seolah olah hidupnya bergantung pada seberapa cepat ia bisa menjauh dari jangkauan tangan Raka.

Setelah memastikan Nikos berada cukup jauh, Liana berbalik menghadap Raka. Ia melipat tangannya di dada, menahan senyum kemenangan. "Sektor Tragedi? Benarkah, Kapten? Kau hampir saja mematahkan meja kasir ini dengan auramu."

Raka tidak melepaskan tangannya dari pinggang Liana. Ia menatap ke arah Nikos yang sedang pura pura membaca buku dengan tangan gemetar. "Dia terlalu dekat, Li. Dan dia bau parfum murahan."

"Oh, jadi seorang Raka yang pernah menghadapi pasukan khusus sekarang cemburu pada anak pemilik penginapan?" Liana tertawa, suara tawanya yang jernih membuat hati Raka sedikit melunak, namun gairah posesifnya belum padam.

Liana meraih kerah kemeja Raka, menariknya sedikit ke bawah. "Kau terlihat sangat seksi saat sedang menjadi Alpha seperti itu, kau tahu? Matamu berubah menjadi gelap."

Raka tidak menjawab dengan kata kata. Ia menarik Liana menuju lorong sempit di antara rak buku yang tinggi, tempat yang tidak bisa dilihat oleh Nikos dari posisi manapun. Ia menyudutkan Liana ke dinding kayu rak, mengurung tubuh mungil wanita itu dengan kedua tangannya.

"Jangan tertawa, Liana," bisik Raka tepat di depan bibir Liana. Napasnya terasa panas di kulit Liana. "Aku tidak suka cara dia menatapmu. Aku tidak suka dia membayangkan matahari terbenam bersamamu."

"Lalu apa yang akan kau lakukan, Kapten?" tantang Liana, suaranya berubah menjadi desahan halus saat tangan Raka mulai merayap naik ke pahanya, di balik kain rajutnya yang tipis. "Apa kau akan menghukum Ratu mu karena terlalu ramah?"

Raka mencium leher Liana dengan kasar namun penuh damba, membuat Liana mendongakkan kepalanya, meremas bahu Raka yang keras. "Aku akan mengingatkanmu dan siapa pun di luar sana bahwa kau adalah milikku. Jiwa, raga, dan setiap detak jantungmu."

Sentuhan Raka berubah menjadi panas dan menuntut. Di tengah kesunyian toko buku pagi itu, di balik ribuan lembar kertas yang menjadi saksi bisu, gairah mereka meledak. Ciuman Raka turun ke selangka Liana, meninggalkan jejak kemerahan yang sengaja ia buat sebagai tanda kepemilikan.

Liana mendesah pelan, jemarinya menyusup ke rambut pendek Raka. "Raka... ada pelanggan..."

"Persetan dengan pelanggan," gumam Raka, suaranya serak oleh gairah. Ia mengangkat tubuh Liana sedikit, membiarkan kaki Liana melingkar di pinggangnya, sementara ia menekan tubuhnya lebih dalam pada wanita itu. "Biarkan dia membaca tragedinya. Kita punya drama kita sendiri di sini."

Setiap sentuhan Raka malam ini bukan hanya tentang gairah fisik, tapi tentang penegasan emosional yang mendalam. Kecemburuan kecil ini justru menjadi bumbu yang membakar sisa sisa trauma mereka, menggantikannya dengan rasa memiliki yang sangat kuat. Liana bisa merasakan kejantanan Raka yang mengeras di balik kain celananya, sebuah bukti nyata betapa kuatnya pengaruhnya terhadap pria yang dulu dikenal sebagai robot militer ini.

Mereka baru melepaskan satu sama lain saat terdengar suara denting pintu depan lagi tanda bahwa Nikos telah melarikan diri dari toko tanpa membeli satu buku pun.

Liana terengah engah, wajahnya merona merah padam, rambutnya berantakan, dan bibirnya sedikit bengkak karena ciuman Raka. Ia merapikan gaunnya sambil tersenyum nakal. "Kurasa kau baru saja mengusir satu satunya potensi pelanggan terbesar kita hari ini."

Raka mengusap bibirnya dengan ibu jari, menatap Liana dengan tatapan yang sudah kembali tenang namun tetap intens. "Aku akan membelikanmu sepuluh rak buku baru jika itu artinya tidak ada pria lain yang menggodamu seperti itu."

Liana tertawa, ia memeluk leher Raka dan mencium pipinya. "Kau benar benar tidak bisa diperbaiki, ya? Tapi aku mencintaimu, Kapten Posesif ku."

Raka menarik Liana kembali ke meja kasir, namun kali ini ia tidak melepaskan genggaman tangannya. "Ayo, bantu aku menyusun buku buku itu. Dan kali ini, jangan pakai atasan yang terlalu terbuka."

"Siap, Tuan Hantu!" Liana memberikan hormat militer yang mengejek, namun matanya memancarkan kebahagiaan yang tulus.

Di luar, matahari Yunani semakin tinggi, menerangi Analogue Heart yang kini bukan hanya menjadi tempat mencari ilmu, tapi juga menjadi arena di mana cinta dan gairah dua mantan buronan ini terus tumbuh, membuktikan bahwa bahkan seorang hantu pun bisa memiliki rasa cemburu yang sangat manusiawi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!