NovelToon NovelToon
MY HIJABI FIGHTER : Menikah Dengan Duda ES

MY HIJABI FIGHTER : Menikah Dengan Duda ES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:22.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ANCAMAN DI UJIAN AKHIR.

Pagi itu, SMA Garuda Bangsa tampak lebih tegang dari biasanya. Barisan meja yang tertata rapi di dalam aula menjadi saksi bisu ribuan doa yang dipanjatkan para siswa, karena hari itu adalah ujian akhir. Hari penentu kelulusan. Nayla, dengan seragam OSIS yang disetrika licin oleh Mbok Sum, atas perintah paksa Adnan, berdiri di depan kelas sambil meremas pulpen keberuntungannya.

"Ingat, Nayla. Kalau kamu tidak lulus dengan nilai memuaskan, motor sport itu saya hibahkan ke panti jompo," suara Adnan terngiang di telinganya, lengkap dengan wajah datar yang minta dipukul pakai bantal.

"Duh, Pak Es itu doanya bukannya yang baik-baik malah nakut-nakutin," gumam Nayla.

Baru saja ia hendak melangkah masuk ke ruang ujian, ponsel di saku roknya bergetar hebat. Sebuah nomor asing memanggil. Nayla mengernyit, namun tetap mengangkatnya.

"Halo? Siapa nih? Kalau mau nawarin pinjol, maaf ya, suami saya sudah kaya tujuh turunan!"

"Nayla Safira..." suara berat di seberang sana membuat bulu kuduk Nayla berdiri. "Sahabatmu, Farah, ada bersama kami. Kalau kamu ingin melihatnya tetap bernapas, datang ke gudang tua di Jalan Merak sekarang. Sendiri. Atau Farah akan pulang dalam bentuk potongan puzzle."

Nayla membeku. Ia melihat ke arah gerbang sekolah, lalu ke arah ruang ujian. "Farah? Jangan bercanda ya, Om! Farah itu kalau teriak suaranya bisa pecahin kaca, mending Om balikin aja daripada kuping Om budek!"

"Dua puluh menit, Nayla. Atau dia mati."

Klik. Sambungan terputus.

Nayla tidak berpikir dua kali. Persetan dengan ujian Biologi. Persetan dengan ancaman Adnan soal motor. Ia berlari menuju parkiran belakang, meloncati pagar pembatas, dan menyalakan mesin motor sport hitamnya yang meraung kencang. Ia melesat keluar gerbang, membelah kemacetan pagi dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Namun, yang Nayla tidak tahu, sebuah mobil SUV hitam yang terparkir di seberang sekolah langsung membuntutinya. Di dalam mobil itu, Dion, asisten kepercayaan Adnan, segera menekan tombol panggil cepat.

"Pak, Mbak Nayla kabur dari sekolah. Dia memacu motornya ke arah kawasan industri tua. Sepertinya ada masalah serius."

Di kantornya, Adnan langsung menggebrak meja kerja. "Ikuti dia! Jangan sampai kehilangan jejak! Saya segera ke sana!"

Adnan menyambar jasnya, mengabaikan tumpukan dokumen audit yang harus ia tanda tangani. "Bocah itu benar-benar... tidak bisa tenang sedetik saja?"

Di gudang tua Jalan Merak, suasana sangat mencekam. Farah terikat di sebuah kursi dengan mulut dilakban. Air matanya mengalir deras saat melihat Nayla masuk dengan napas terengah-engah.

"Woy! Lepasin temen gue! Dia itu masih punya banyak cicilan baju di olshop, jangan dimatiin dulu!" teriak Nayla sambil memasang kuda-kuda silat.

Enam pria berbadan besar keluar dari bayang-bayang. Mereka membawa balok kayu dan pisau lipat yang berkilat terkena cahaya lampu temaram.

"Berani juga kamu datang sendiri, bocah," ujar pemimpin mereka yang memiliki tato kalajengking di leher.

"Sendiri tapi nyali saya lima ratus person, Om! Sini, maju! Biar cepat beres, saya harus balik ujian Biologi nih, kalau telat saya bisa dicoret dari kartu keluarga sama Pak Es!" balas Nayla, meskipun hatinya berdegup kencang melihat pisau-pisau itu.

Pertarungan pecah. Nayla bergerak lincah, menghindar dari tebasan pisau sambil mendaratkan pukulan telak di rahang salah satu pria. Namun, enam lawan satu bukan hal yang mudah bagi gadis remaja yang belum sarapan itu. Saat ia berhasil menendang satu orang, pria lain dari belakang menyambar lengannya.

Sret!

"Aw!" Nayla meringis saat ujung pisau menyayat lengan atasnya. Darah segar mulai merembes keluar, membasahi seragam putihnya.

"Nayla!" teriakan itu menggema di seluruh gudang.

Pintu gudang terbuka dengan dentuman keras. Adnan masuk dengan wajah yang lebih menyeramkan dari iblis manapun, diikuti Dion dan empat anak buahnya yang berbadan lebih besar dari para penculik itu.

"Siapa yang berani menyentuh milikku, hah?" desis Adnan.

Nayla sempat-sempatnya menoleh sambil memegangi lengannya. "Pak Es! Wah, datangnya telat banget! Harusnya Bapak masuk pakai asap-asap biar kayak pahlawan di film!"

"Diam, Nayla! Dion, bereskan sisanya! Yang ini biar saya yang urus!" Adnan merangsek maju. Ia mengingat setiap gerakan tangkisan yang pernah diajarkan Nayla padanya di hari Minggu pagi.

Saat seorang preman hendak memukul Adnan dengan balok, Adnan melakukan gerakan menghindar yang diajarkan Nayla, geser samping, tangkap pergelangan tangan, dan... KRAK! Adnan memelintir tangan preman itu hingga pria itu berteriak kesakitan.

"Wah, murid saya pinter juga ya! Nilainya A plus buat teknik pelintiran!" seru Nayla sambil kembali menghajar preman di dekatnya dengan tendangan lutut.

Hanya dalam waktu lima menit, gudang itu bersih. Dion segera melepaskan ikatan Farah, yang langsung lari memeluk Nayla sambil menangis tersedu-sedu.

"Nay, lo hampir mati gara-gara gue! Huwaaa!"

"Duh Far, jangan nangis di seragam gue, ini darahnya sudah banyak, jangan ditambah air mata, Lo!" keluh Nayla.

Adnan menghampiri Nayla, wajahnya nampak sangat cemas sekaligus marah. Ia meraih lengan Nayla yang terluka. "Kamu terluka, Nayla. Kita ke rumah sakit sekarang."

Nayla menarik tangannya. "Nggak mau! Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum ujian Biologi selesai! Saya harus balik ke sekolah!"

"Kamu gila? Lukamu cukup dalam, Nayla!" bentak Adnan.

"Bapak yang gila! Bukankah Bapak bilang motor saya mau disita kalau nggak lulus! Biologi itu pelajaran favorit saya, saya tahu cara bedah kodok, sekarang saya mau bedah soal ujian!" Nayla tetap keras kepala, ia merobek ujung jilbabnya, lagi untuk membalut luka di lengannya dengan kencang.

Adnan tertegun. Di satu sisi ia ingin marah, di sisi lain ia sangat bangga dengan keteguhan hati istrinya yang nyeleneh ini.

"Dion, siapkan ambulans pribadi di depan sekolah. Pastikan dokter siap menjahit lukanya begitu dia selesai ujian," perintah Adnan akhirnya. Ia menatap Nayla tajam. "Saya antar kamu ke sekolah. Pakai mobil. Jangan bantah atau saya kunci kamu di ruang bawah tanah selamanya."

"Siap, Hubby! Tapi tolong ya, nyetirnya jangan pelit gas, saya nggak mau dapet nilai nol gara-gara Byby jalannya kayak siput!"

Suasana sekolah mendadak gempar saat mobil mewah Adnan berhenti di depan aula. Nayla keluar dengan seragam yang sudah tertutup jaket kulit untuk menyembunyikan darah, namun wajahnya tetap nampak pucat. Adnan berjalan di sampingnya, memegang bahunya agar gadis itu tidak jatuh.

"Ingat, kalau pusing, lambaikan tangan ke kamera CCTV, biar saya masuk dan gendong kamu keluar," bisik Adnan sebelum Nayla masuk.

"Idih, dikira acara uji nyali apa! Udah sana Hubby pulang, jangan ganggu konsentrasi saya!"

Nayla masuk ke ruang ujian dengan sisa waktu dua puluh menit. Ia mengerjakan soal-soal tentang sistem peredaran darah manusia sambil merasakan darahnya sendiri yang masih merembes di balik balutan jilbabnya.

"Nomor 15, fungsi keping darah untuk pembekuan... ya, semoga darah gue juga cepet beku," batin Nayla sambil meringis menahan perih.

Di luar kelas, Adnan tidak pergi. Ia duduk di kursi koridor, menunggu dengan perasaan gelisah yang luar biasa. Ia menyadari satu hal: hidupnya sekarang benar-benar tergantung pada denyut jantung gadis di dalam sana.

Saat bel berbunyi, Nayla keluar dengan langkah gontai namun senyumnya lebar. Ia langsung menghampiri Adnan dan menunjukkan ibu jarinya. "Selesai! Kayaknya saya bakal tetep punya motor sport, Pak Es!"

Tepat setelah mengucapkan itu, tubuh Nayla limbung. Adnan dengan sigap menangkapnya. Nayla pingsan di pelukan suaminya karena kehilangan terlalu banyak darah dan stres yang berlebihan.

Adnan menggendong Nayla, berlari menuju mobilnya sambil berteriak pada Dion untuk segera berangkat. Di tengah kepanikan itu, Adnan melihat sebuah mobil hitam di kejauhan yang sedang memerhatikan mereka. Di jendela mobil itu, nampak sosok pria misterius yang tersenyum dingin sambil memegang foto keluarga Hasyim.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, nyawa Nayla sebagai taruhannya.

1
Ayu
Lg seru2 nya tunggu update lg ya thor💪🙏
Tasmiyati Yati
penguntit tiap hari memang gak ada kerjaan
Tasmiyati Yati
memang tadi Farah tidak ikut sekoalh
Tasmiyati Yati
kalau pakai dalaman lejing copot saja rok plis Ket nya biar gampang nyerang preman
Mineaa
waaahhh lope lope sekebon Nayla.......
kuueeeereeeeennnnn..........🌹🔥🔥🔥🔥🔥
Tasmiyati Yati
masih susah banget sih
Tasmiyati Yati
maaf kak author dari tadi gak bisa like gagal terus
Tasmiyati Yati
sak karepmu lah gagal terus bikin esmosi😡
Tasmiyati Yati
ini jaringan lagi main kemana sih kok susah banget sinyal nya
Tasmiyati Yati
kemana adiva jarang nongol biar tambah seru
Tasmiyati Yati
mulai suka tuh si bos
Sunaryati
Makin tersepona kan, Byby
Tasmiyati Yati
baru beberapa hari jadi istri sdh mulai luluh
Tasmiyati Yati
nanti jadi bucin malu sendiri Adnan
Tasmiyati Yati
happy banget aku baca novel ini semoga di akhir tidak mengecewakan
Tasmiyati Yati
ya karena adiva baru pertama melihat orang cerewet tapi lucu ya diva
Tasmiyati Yati
senang kalau baca novel ada komedinya
Tasmiyati Yati
kenapa gagal melulu kasih komentar
Tasmiyati Yati
mampir baca semoga jadi fans kak
Cintya Tya
lanjut thor... 👍👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!