Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.
Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.
Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.
"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bima
Nadira sudah berdandan semaksimal mungkin dan menggunakan pakaian terbaik miliknya. Ia tersenyum lebar saat melihat seorang pria turun dari mobil dengan kemeja dan celana chinos, khas pegawai kantoran.
Nadira segera membuka pintu dan tersenyum lebar menyambut kedatangan pria tersebut. "Mas Bima," sapanya.
"Akhirnya kita bertemu juga."
Bima mendekat dan tersenyum tipis. "Aku juga senang akhirnya tidak ada yang menghalangiku lagi untuk bertemu denganmu," imbuhnya.
"Sini, Mas, masuk...," ajak Nadira sambil menarik tangan pria itu.
Andini yang bersembunyi di dalam kamar hanya bisa mengintip lewat pintu dengan air mata yang merebak.
"Jadi itu ayah baru yang dibilang Ibu? Aku akan tinggal bersamanya?" Ia mencengkram ujung baju, bibirnya bergetar menahan isak tangis.
"Bagaimana jika dia jahat? Bagaimana jika dia tidak menyukaiku?"
"Ayah, Ayah di mana? Andini takut. Aku mau sama Ayah aja," bisik Andini, ia tak sanggup lagi menahan isak tangisnya.
Di luar, Arga baru saja tiba saat pria itu menghentikan langkah karena melihat sebuah mobil yang terparkir di depan rumahnya.
"Bukannya ini mobil yang tadi?" gumamnya lalu mengalihkan pandangan ke arah pintu rumah yang tertutup.
Ia membuka pintu, tatapannya langsung tertuju pada Nadira yang bersandar mesra di lengan pria tersebut.
"Kamu sudah pulang, Mas?" tanya Nadira yang sudah menyadari keberadaan suaminya.
Pria bernama Bima itu menoleh, keningnya berkerut dalam. "Dia suamimu, sayang?" tanyanya, menekankan panggilan mesranya, seolah sengaja ingin melukai harga diri Arga.
"Aku pikir dia gelandangan, soalnya aku tadi melihat dia duduk di pinggir jalan, dan..." Bima tersenyum miring, meremehkan.
"Pakaiannya mirip seperti gelandangan, kotor dan compang-camping," ejeknya dengan puas.
Nadira menatap Arga jijik, ia kemudian bangkit dari duduknya. "Mas Arga, ini Mas Bima. Pria yang bicara denganmu di telpon tadi malam."
"Dia datang kemari ingin menjemputku!" kata Nadira dengan angkuh.
Bima ikut bangun. Ia berdiri dengan penuh percaya diri. Dadanya membusung, dagunya sedikit terangkat, dan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya.
"Aku sudah datang seperti permintaanmu tadi malam. Aku berharap, kamu penuhi janjimu. Lepaskan Nadira! Ceraikan dia!" desak Bima dengan menggebu-gebu.
Arga mengangguk mengerti. Ia berjalan masuk ke dalam rumah, dan pergi menuju kamar dengan langkah tertatih. Tak seberapa lama, dia kembali dengan sebuah buku berukuran kecil di tangannya.
"Ini buku nikah kita, Dira. Kamu bisa menyimpannya satu. Kamu pasti akan memerlukannya untuk mengurus perceraian kita nanti."
Nadira menyambar buku itu sambil tersenyum lebar. Benda itu sudah dia cari cukup lama, tak menyangka Arga akan menyerahkannya semudah itu.
"Dan, ya... mulai sekarang, aku Arga Wiguna menalak kamu, Nadira Maheswari binti Mahendra!" kata Arga berusaha tenang, demi menjaga harga dirinya sebagai seorang pria yang sebenarnya telah runtuh.
Nadira langsung melompat kecil dan tersenyum lebar. "Astaga, Mas... kenapa kamu begitu lama mengatakan itu semua? Aku sudah menunggunya sejak lama!"
Arga memalingkan wajah, terluka. "Kalian sudah mendapatkan apa yang kalian inginkan, kan?"
"Silahkan pergi dari rumah ini!" usir Arga.
Cukup baginya dipermalukan dan dihina di rumahnya sendiri.
Nadira melingkarkan tangan di lengan Bima. "Kamu tenang saja, Mas. Aku akan segera pergi. Siapa juga yang bisa tahan tinggal di rumah seperti ini? Sejak dulu, aku sudah ingin pergi dari sini."
"Ayo, sayang, kita pergi. Aku sudah tidak sabar membangun rumah tangga denganmu," ajak Bima.
Nadira mengangguk. "Sebentar, Mas. Aku akan panggil Andini dulu," katanya sambil membalikkan badan dan berjalan menuju kamar putrinya.
"Andini, ayo!"
Andini menggeleng cepat. "Andini tidak mau pergi dari sini, Bu. Andini mau tinggal sama ayah dan ibu," lirih gadis itu di sela isak tangis.
"Andini, di rumah baru kita juga kamu anak punya ayah lagi. Lihatlah! Itu ayah baru kamu..."
"Dia lebih tampan dan gagah kan? Kamu pasti akan merasa senang memiliki ayah seperti dia. Lupakan saja ayahmu yang miskin itu," bujuk Nadira mencoba membandingkan Arga dan Bima di mata putrinya.
Andini terdiam cukup lama sambil memperhatikan kedua pria yang berpenampilan begitu kontras. Satu rapi, dan keren. Satu lagi, ayahnya, sangat kotor, bahkan pakaiannya robek.
Tangis Andini langsung pecah saat tatapannya berhenti pada kain yang melilit kaki ayahnya, dengan cairan merah yang rembes. Gadis itu berlari melewati ibunya dan langsung memeluk tubuh Arga.
"Ayah, kaki ayah kenapa? Apa Ayah terluka?" tanya gadis itu cemas. Ia langsung menunduk, ingin melihat kaki ayahnya.
Nadira menggeram tertahan. Ia berjalan dengan menghentakkan kaki lalu menarik tangan Andini. "Dini, kamu harus ikut Ibu sekarang!"
"Andini nggak mau, Bu. Andini nggak mau meninggalkan Ayah sendirian. Apalagi Ayah terluka," tolak Andini sambil menangis histeris.
"Ibu kenapa harus pergi dari rumah ini? Kenapa aku harus punya ayah baru? Memangnya kenapa dengan Ayah? Selama ini kita sudah tinggal bersama," cecar gadis itu yang sudah memendam banyak pertanyaan dalam benaknya.
Nadira mendengus dingin. "Ibu sudah capek menjelaskan padamu sejak tadi, Dini. Kenapa kamu tidak juga bisa mengerti!" teriak Nadira frustrasi.
"Ayo, sebaiknya kamu ikut Ibu. Ayah kamu sudah dewasa, dia bisa menjaga dirinya sendiri!" Nadira menarik tangan Andini dengan kasar.
Namun, Andini bersikeras untuk tetap tinggal bersama ayahnya. "Andini tidak ingin pergi, Bu. Ayah sendirian. Kasihan Ayah, Bu. Jangan tinggalkan Ayah sendiri."
Arga tak kuasa menahan air matanya. Ia berlutut di hadapan putrinya dan menyentuh kedua pipi Andini yang basah.
"Dini, Ayah akan baik-baik saja di sini. Ayah kan harus kerja, kalau kamu tinggal sama Ayah, siapa yang akan menemani kamu di rumah?"
"Kalau kamu tinggal bersama ibumu, dia sudah pasti akan mengurus mu dengan baik," ucap Arga mencoba memberi pengertian dengan hati-hati.
"Sebentar!" sela Bima yang sejak tadi diam mengamati perpisahan memilukan itu.
Arga, Nadira, dan Andini langsung mengalihkan perhatian pada wajah bingung pria itu.
"Ada apa, Mas?" tanya Nadira sambil menyentuh lengan Bima.
Bima menatap wajah Nadira dengan ekspresi serius. "Nadira, apa kamu berpikir untuk mengajak anakmu tinggal bersama kita?"
"Memangnya kenapa, Mas? Andini anakku." Gantian Nadira yang kebingungan.
Bima memijat pangkal hidungnya sambil menggelengkan kepala. "Nggak bisa, Dira. Orangtuaku tahunya kamu itu masih gadis, nggak mungkin aku membawamu bersama anak itu!"
Bersambung...