"Nikahi aku Om!"
Di hari yang seharusnya menjadi gerbang kebebasannya, Auryn Athaya Wiguna justru ditinggalkan di pelaminan. Calon suaminya kabur bersama seorang gadis remaja, meninggalkan noda malu yang tak terhapuskan bagi keluarga Wiguna. Namun, saat dunia seolah runtuh, Auryn melihat sebuah peluang di tengah kerumunan tamu, Keandra Mahessa, ayah dari gadis yang menghancurkan pernikahannya.
"Putrimu membawa kabur calon suamiku. Jadi, Om harus bertanggung jawab!"
Tanpa bantahan, pria matang berusia 38 tahun itu mengiyakan. Dengan mahar seadanya dan tatapan yang sulit dibaca, Keandra menarik Auryn ke dalam ikatan suci yang tak terduga. Bagi Auryn, pernikahan ini adalah senjata. Jika Leandra Mahessa merebut kekasihnya, maka ia akan merebut posisi tertinggi di hidup Lea, menjadi ibu tirinya.
"Kamu merebut kekasihku, maka akan kubuat hidupmu seperti neraka, Lea." Namun, Auryn tak menyadari bahwa menikahi Keandra berarti masuk ke dalam sangkar emas milik pria yang jauh lebih berbahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan Kecil
Keandra melangkah masuk ke dalam kamar pribadinya dengan bahu yang terasa berat, seolah seluruh beban dunia baru saja dipindahkan ke pundaknya. Begitu pintu tertutup, keheningan menyergap. Matanya langsung tertuju pada ranjang besar di tengah ruangan yang beralaskan sprei sutra abu-abu gelap. Di sana, putra kecilnya, Jeandra, telah terlelap dengan sangat nyenyak. Napas bocah itu teratur, tangannya memeluk bantal guling kecilnya dengan erat.
Namun, atensinya teralih ketika menyadari bahwa sosok wanita yang baru beberapa jam lalu resmi menjadi istrinya tidak ada di sana. Pandangan Keandra mengitari isi kamar yang luas dan maskulin itu, mencari keberadaan Auryn, sampai langkahnya terhenti saat pintu kamar mandi yang terbuat dari kaca buram itu terbuka secara perlahan.
Uap hangat keluar dari celah pintu, membawa aroma sabun bunga mawar yang sangat kuat dan manis, sangat kontras dengan aroma maskulin yang biasanya mendominasi kamarnya. Detik berikutnya, Auryn muncul. Ia hanya mengenakan sehelai handuk putih tebal yang melilit tubuhnya yang mungil. Rambut hitamnya yang basah dibiarkan terurai, meneteskan sisa air di bahunya yang terbuka.
Auryn tampak sangat santai, seolah-olah dia sedang berada di kamarnya sendiri dan bukan di kamar seorang pria yang baru ia kenal secara mendalam hari ini. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, sesekali mengibaskan kepalanya hingga beberapa tetes air mengenai lantai marmer. Kulitnya yang kuning langsat tampak kontras dengan warna handuknya, dan kakinya yang jenjang dibiarkan terekspos begitu saja tanpa rasa malu sedikit pun.
Seketika, Keandra memalingkan wajahnya ke arah jendela besar yang tertutup gorden. Ia berdehem pelan, berusaha mengusir bayangan yang tidak seharusnya ada di kepalanya, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kainnya.
"Ada yang namanya bathrobe terlipat rapi di balik pintu kamar mandi, kenapa tidak digunakan?" tanya Keandra. Suaranya diusahakan tetap datar dan berwibawa, meski sebenarnya ada gejolak aneh yang menyerang ketenangannya.
Auryn berhenti mengeringkan rambut. Ia menoleh, menatap punggung tegap Keandra dengan tatapan tidak peduli dan sedikit sinis. "Om tidak berikan sama aku. Lagipula, aku tidak tahu barang-barangmu diletakkan di mana. Memangnya Om mau aku mengacak-acak lemari baju Om cuma untuk cari jubah mandi dan berakhir melihat koleksi pakaian dalam Om?" desis Auryn kesal.
"Kamu—" Keandra sampai tak bisa berkata-kata di buatnya.
Ia berjalan santai menuju kopernya yang tergeletak di lantai, berjongkok untuk mengambil sepasang pakaian tidur. Keandra menarik napas berat dan mengembuskannya dengan kasar. Ia merasa martabatnya sebagai pria dewasa seolah tidak berarti di depan gadis berusia dua puluh dua tahun ini.
"Kamu itu sangat ngeyelan! Benar-benar keras kepala. Aku tidak habis pikir bagaimana orang tuamu bisa bertahan dengan kelakuan anak sepertimu selama bertahun-tahun. Putriku, Lea, saja tidak pernah berkelakuan tidak sopan seperti ini kepada orang yang lebih tua," ucap Keandra, bermaksud menyindir sekaligus membandingkan.
Kalimat itu seketika membuat gerakan tangan Auryn terhenti. Keheningan yang tajam dan menusuk tiba-tiba menyelimuti ruangan. Auryn berdiri tegak, menjatuhkan handuk kecilnya ke atas koper. Ia memutar tubuhnya dan menatap Keandra dengan sorot mata yang sedingin es, namun berkilat penuh amarah.
"Aku memang ngeyelan, aku memang anak tidak tahu diri yang tidak pernah membuat bangga orang tuaku. Aku sadar akan hal itu, Om tidak perlu mengingatkannya!" Auryn melangkah mendekat, mengabaikan fakta bahwa ia hanya terbalut handuk.
"Maka dari itu, aku memutuskan untuk menikah dengan Digta dan keluar dari rumah penjara itu secepat mungkin! Tapi putri kesayangan Om, si Lea yang katanya sopan itu, justru merebut kekasihku dan membantunya kabur tepat di hari pernikahanku!"
Auryn berhenti tepat di depan Keandra, mendongak untuk menantang mata pria itu. "Seburuk apa pun sifatku, sekasar apa pun bicaraku, aku tidak pernah sedikit pun berpikiran untuk merebut milik orang lain! Om yang seharusnya jaga putri Om baik-baik. Masih remaja saja dia sudah punya bakat menjadi pelakor! Jadi jangan pernah bandingkan aku dengan dia!"
Setelah menumpahkan amarahnya yang menyesakkan dada, Auryn menyambar pakaian gantinya dan kembali masuk ke dalam kamar mandi. Suara bantingan pintunya cukup keras hingga membuat pajangan di atas meja sedikit bergetar. Keandra mematung. Kata pelakor yang keluar dari mulut Auryn terasa seperti tamparan fisik yang membuat wajahnya panas. Ia tahu putrinya bermasalah, tapi mendengar tuduhan itu secara langsung membuatnya terdiam dalam dilema.
Di dalam kamar mandi, Auryn menyandarkan punggungnya di pintu yang tertutup. Air matanya hampir jatuh, tapi ia segera mengusapnya dengan kasar. Ia tidak ingin terlihat lemah, terutama di depan pria yang sekarang menjadi suaminya itu.
"Apa-apaan dia? Membandingkanku dengan Lea? Dasar bapak-bapak tidak tahu diri!" gerutunya sambil memakai piama satin hitamnya.
Setelah beberapa menit menenangkan diri, Auryn kembali keluar. Kamar sudah berubah redup, hanya menyisakan lampu tidur di sudut ruangan yang memancarkan cahaya kekuningan. Ia melihat Keandra sudah berganti pakaian dengan kaos rumahan, sedang duduk di sofa panjang sambil menatap layar ponselnya.
Tanpa bicara, Auryn naik ke atas ranjang besar itu. Ia menyelipkan tubuhnya di bawah selimut tebal, tepat di samping Jeandra yang sedang bermimpi indah. Seolah merasakan kehadiran sosok yang hangat dan wangi, Jeandra tiba-tiba menggeliat. Dalam tidurnya, bocah itu berbalik memiringkan tubuh ke arah Auryn dan memeluk lengan wanita itu dengan erat, seolah-olah Auryn adalah guling favoritnya.
Auryn tertegun. Hatinya yang tadi panas perlahan mendingin saat merasakan pelukan kecil dan napas hangat Jeandra di lengannya. Ia membiarkan bocah itu mendekapnya, sementara matanya menatap langit-langit kamar yang tinggi.
"Apa kamu masih akan mengambil cuti kuliah setelah ini?" tanya Keandra tiba-tiba. Ia sekarang sudah berpindah duduk di tepi ranjang, jauh dari posisi Auryn. Ia memegang sebuah buku yang tebal, namun matanya tidak benar-benar membaca.
"Kepo banget," jawab Auryn ketus, matanya tetap menatap langit-langit.
Kesabaran Keandra benar-benar diuji sampai ke batas akhir. Ia menutup bukunya dengan suara pelan namun penuh penekanan. "Bisa tidak kamu bersikap sopan sedikit? Aku ini suamimu sekarang. Secara usia, aku jauh lebih tua darimu. Setidaknya hargai keberadaanku di rumah ini, Auryn."
Keandra menoleh, bermaksud menatap Auryn dengan tegas, namun ia hanya bisa menghela napas panjang saat mendapati gadis itu sudah memejamkan mata. Napas Auryn mulai teratur, wajahnya tampak damai dalam tidurnya, sangat berbeda dengan wajah singa betina yang baru saja mengamuk tadi. Keandra memegangi pelipisnya, merasa benar-benar lelah secara mental.
"Dia benar-benar di luar kendaliku. Menikahinya mungkin adalah keputusan paling impulsif sekaligus paling membuat sakit kepala yang pernah aku buat," gumam Keandra pelan sebelum ia memutuskan untuk tidur di sofa agar tidak mengganggu tidur istrinya dan putranya.
boleh memanjakan lea tapi jangan berlebihan....
Biasanya anak yg kekurangan perhatian dari ayah maybe lebih rentan mencari validasi dari pria lain ya, tapi itu jg jarang selalu terjadi.
Faktor lain keki lingkungan, or pengalaman hidup, and then kepribadian juga mempengaruhi siih yor menurut gua yaak heheheh 🤭