Karya terbaru Gurania Zee yang menceritakan tentang gadis tidak peka dan cinta segitiga antara Aluna, Arsen dan Prasha Arzelio.
memiliki kisah yang sedikit rumit perihal rahasia misteri kematian ayahnya dan adanya permainan bisnis yang menjadikannya sebuah kunci utama dari misteri tersebut. dan Cinta yang mulai tumbuh perlahan. Aluna seorang gadis yang polos tanpa sadar menjadi pusat permainan dalam dunia bisnis mendiang ayahnya. yang jauh lebih besar dari semua intriks itu bahkan paling tidak menyadari akan hal yang paling sederhana yaitu, perasaannya sendiri. karena terkadang misteri dalam hidup, bukanlah rahasia dari kisah masa lalu melainkan hati yang terlambat menyadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Pada akhirnya Surya Pramana pun ditangkap atas berbagai macam tuduhan berlapis yang menimpanya. Rahasia sabotase yang dulu masih tanda tanya perihal kematian ayah Aluna pun pada akhirnya menemukan titik terang dan semua sudah terpecahkan dengan proses perjalanan yang begitu panjang
Segala bukti yang tersimpan oleh si kakek Prasha yang super sok misterius itu pun sudah di serahkan kepada pihak kepolisian dan menjadikannya kunci untuk pembelaan di pengadilan nanti.
Berita simpang siur perihal perusahaan ayah Aluna dan ayah Prasha pun resmi di bersihkan dari segala tuduhan lama yang menyeret kedua perusahaan tersebut.
Lola saja sampai tidak bisa tidur tiga hari karena fokusnya untuk melacak dan memperbaiki sistem yang pada akhirnya semua sudah terselesaikan juga.
Grafik saham pun kembali naik secara signifikan. Suara sirine polisi yang tadinya menggema sampai suaranya terdengar ke dalam rumah, sampai membangunkan gadis yang sedang tidur begitu lelapnya di sebuah kursi berukuran panjang di area ruang bawah tanah tersebut.
Lampu merah biru yang sejak tadi menari nari di area halaman rumah catur tersebut, akhirnya menghilang di balik gerbang hitam besar tersebut secara perlahan.
Udara malam semakin menusuk, suasana kembali sepi, hening meskipun ketegangan yang tadi sempat memenuhi halaman rumah tersebut itu masih menempel di dada dan memori mereka yang menyaksikan maupun yang mengalaminya sendiri.
Prasha berdiri diam beberapa detik, matanya masih mengikuti mobil yang membawa Surya Permana dan antek anteknya pergi. Tangannya yang awalnya mengepal perlahan ia buka dengan perasaan lega.
Seolah yang terjadi beberapa tahun terakhir baru saja mencapai titik akhir. Disampingnya ada Arsen yang menjatuhkan kedua pistol milik anak buat Surya yang tadi berhasil ia lumpuhkan.
"Gila sih , akhirnya selesai juga." gumamnya pelan sambil menghela napas panjang.
Arden Sanjaya yang sejak tadi menahan sakit dibahunya hanya meringis kecil. "Hss hah,..Kalau sampai gue mati, gara gara peluru nyasar sialan ini, gue ga akan berhenti gentayangan kalian pada ya." ucapnya sambil memegangi bahunya.
Prasha langsung menoleh cepat "Den.",.. begitupun Arsen juga langsung mendekat ke arahnya. "Sobat gue, buset,..darah lu lumayan juga den." ucap Arsen sampai shock melihatnya.
"Yaiyalah, gue ditembak dodol, bukan di gelitikin orang." kesal Arden.
Darto yang sejak tadi masih bersembunyi di balik pot tanaman perlahan mengintip. Matanya melotot melihat bahu Arden yang berdarah. "Astaghfirullah ini beneran ketembak toh, kirain cuma efek film action doang toh Mase."
Arden mendelik pada Darto dengan wajah datar. "Kalo lu masih sempet bercanda berarti gue belum modar To."
Darto langsung berdiri panik, "bentar,..bentar,.. bentar Mase, sabar Yo mas, aku ambil p3k dulu di dalam. Ia berlari ke arah rumah dengan langkah kaki terburu buru sampai hampir tersandung pot yang tadi ia jadikan benteng.
Arsen saja hampir menahan tawanya, "Sha, elo nemuin dimana sih sopir begini, random banget tau nggak, Bima tak ada tergantikan si Darto yang bikin elus dada juga."
"hahaha, entahlah gue juga bingung dapetnya beginian mulu heran."
"Tapi ada satu lagi kalo mereka kaga ada, satu yang bikin elus dada juga?."
"Siapa den?."
"Noh si Aluna." ucap Arden sambil dengan ringisannya.
Keduanya baik Arsen maupun Prasha dengan reflek menepuk bahu Arden hingga Arden meringis. "Aw kampret kalian pada."
"Eh sorry sorry sengaja, lagi lu pake bahas Aluna segala." ucap Prasha tidak terima, dan Arsen pun mengiyakan dengan pembelaannya diangguki Prasha.
"Dia tuh polos."
"Hooh sama bae, terserah kalian aja dah." ucap Arden pasrah sambil menahan sakitnya.
***
Udara malam semakin menusuk sampai ketulang, tak lama Darto datang membawa kotak p3k, Ia secara reflek mengobati bahu Arden dengan dicampur panik karena melihat cairan merah yang terus keluar.
"Dartoo, elo kalo mau ngobatin yang bener, jangan samain kayak nyiram tanaman."
"Eh iya iya Mase maaf Darto panik ini."
Tak lama mobil ambulans datang membawa serta Arden Maharana yang kembali kambuh dengan sakitnya disusul dengan Arden Sanjaya yang juga dibawa menggunakan brankar.
"Welah dalah, duo kembar sama sama dibawa kerumah sakit."
"To,..Aluna mana?." tanya Prasha.
"Tadi sih kan masih tidur mas."
"Oh yasudah biarkan saja kalo begitu, tolong bereskan ini semua to panggil art yang lain buat bantu kamu."
"Siap laksanakan Mase." ucap Darto lantang sambil tubuhnya tegak dengan satu tangan memberi hormat bagaikan ada acara upacara bendera.
"Kontrol suara Darto ini subuh, saya denger kok."
"Hehe maaf Mase,..."
Tak lama muncul Aluna yang masih mengucek matanya dengan rambut acak acakan seperti orang baru bangun tidur, sesekali menguap. Prasha melihatnya dengan tersenyum dari kejauhan.
sementara Arsen menyenggol Prasha dan berkata. udah elo jujur aja sih sha, elo naksir kan sama dia?."
"Jangan sok tau lu sen, gue cuma peduli."
"Bohong banget."
"Lah terus elo sendiri?."
"Gue mah emang kasir Aluna, tapi,..."
"Mau cari ribut sama gue sen?."
"Tuh kan apa gue bilang, denger dulu lanjutan tapinya ini bro."
"Tapi,..."
"Iya tapi apa?."
"Kalo elo yang naksir yaudah tembak sama, gue enggak akan halangin elo sama dia."
"Seriusan Sen, thanks ya."
"Iya."
Yang awalnya keduanya seolah berkompetisi untuk mendapatkan hati Aluna, pada akhirnya mereka malah saling dukung satu sama lain.
Tapi Aluna, masih dengan ketidak pekaannya. Prasha berlari ke arah Aluna saat itu juga. Ia langsung tanpa menunggu waktu lama langsung saja menyatakan cintanya pada Aluna tanpa melihat kondisi Aluna yang baru saja bangun tidur membuat Arsen langsung tepok jidat akan ke absurdan sahabatnya itu.
"Prasha Prasha, hahaha ada ada aja tuh anak." celetuk Arden menggelengkan kepalanya melihat kelakuan prasha.
Melihat area halaman penuh bekas kekacauan yang terjadi membuat Aluna menatap heran, ia hanya bengong dengan kebingungannya.
"Mas Prasha berantakan banget disini, emang ada kejadian apa sih?." tanya Aluna polos.
"Sudah selesai semuanya lun santai saja, Surya Permana barusan ditangkap."
"Oh gitu toh, jadi enggak ada masalah lagi ya mas?."
"Iya."
"Alhamdulillah."
"Lun, aku mau ngomong sesuatu sama kamu boleh enggak?."
"Mas tunggu, Luna laper."
Prasha auto tepok jidat, ia langsung lemas tak berdaya. Semangat untuk menyatakan cintanya luntur sudah.
Arsen yang memperhatikan langsung tak bisa lagi menahan tawanya sambil berlari membawa sarapan untuk semua yang berada di rumah itu.
"Lun laper kan, nih kebetulan saya baru saja beli sarapan, yuk sha sarapan bareng." Ajak Arsen, tak lama berbisik pelan pada Prasha. "Bro kalo mau nembak cewek liat moment lah, haha." Arsen langsung berlari kecil ngeloyor menyusul Aluna yang sudah tak sabar ingin sarapan bersama di dalam rumah tersebut. Sedangkan Prasha hanya berdecih kesal namun ia mengacak rambutnya frustasi sambil menyusul mereka.
***
Beberapa Minggu kemudian, terdengar kabar Perusahaan Raharjo Subroto kembali menjadi salah satu perusahaan terbesar. Apalagi ketika Empat pria tampan itu bersatu semakin namanya bersinar.
Menyatukan kedua perusahaan menjadi satu. Dan menjadikannya sebuah perusahaan raksasa yang memiliki ribuan para pekerja di berbagai kota maupun wilayah.
Tak lama terdengar kabar bahwa kasus Surya pun sudah ditutup, semua rahasia masa lalu sudah terungkap.
Rumah catur yang dulu penuh misteri sudah tidak ada lagi yang menyebutnya seperti itu, melainkan tempat berkumpulnya para orang orang kreatif yang datang silih berganti menjadikan tempat itu tempat untuk berdiskusi dan berkumpul juga menjadi tempat orang menemukan cinta sejatinya.
Seperti halnya Prasha dan Aluna, yang masih dengan menggantungnya hubungan keduanya. Sampai banyak buku jurus jitu menyatakan cinta pada wanita sudah Prasha beli namun tak satupun berhasil menarik perhatian Aluna.
Prasha yang frustasi sampai semua buku ia bakar karena tak satupun menolong kisah cintanya yang masih tanda tanya.
Banyak mendapat masukan ide dari para sahabatnya pun semua ide konyol sudah ia lakukan. Tapi tetap saja gagal total.
"Gue pasrah deh ini mah, mah, kok aku seorang prasha Arzelio payah banget klo urusannya sama cinta ya mah?."
"Enggak kaget mama?."
"Kok mama bisa sih jawab gitu?."
"Kamu tuh sama kayak almarhum papa kamu sha." ucap ibu Ratna sambil mengusap dahi anak semata wayangnya.
"Masa sih ma, tapi kok malah pada akhirnya papa nikah dua kali?."
"Hush siapa bilang papa nikah dua kali?."
"Papa tuh nikah sekali Prasha?."
"Sebenarnya, kamu itu anak mama, anak kandung mama, dan kakakmu Adhikara dia itu sebetulnya anak angkat ayahmu, itulah kebenarannya." jujur ibu Prasha.
"Jadi kabar kalo kamu itu bukan anak kandung mama tuh salah besar, hanya saja mama belum bisa mengatakannya saat itu, karena mama tidak tega pada Adhikara."
"lalu orang tua kak Adhikara siapa ma?."
"Dia meninggal bersamaan dengan kasus sabotase saat kematian ayah Aluna saat itu, dan ibunya meninggal saat melahirkan Adhikara makanya sebelum kamu lahir karena saat itu kami belum memiliki seorang anak maka ayahmu menginginkan mengadopsi Adhikara sebagai anaknya saat itu." jelas ibu Ratna.
"Sekarang sudah jelas ya, jangan ragukan kasih sayang mama sama kamu, mama terkesan memanjakan kakakmu karena memang dia tidak punya siapa siapa lagi selain mama nak, sementara kamu mendapatkan banyak kasih sayang dari semua iya kan?."
"Maafkan Prasha mah, selama ini sudah salah sangka sama mama."
**
Pagi itu terjadi kehebohan tak terduga, Aluna masih berada dirumah kediaman Prasha saat itu. Karena Arden Maharana masih dalam proses pemulihan dan harus dirawat kembali ke luar negri.
"Prashaaa!."
Buru buru Prasha berlari saat namanya dipanggil dengan begitu lantang, Arsen yang mendengar pun ikut berlari ke arah Aluna.
"Ada apa sih lun, bikin kaget saja."