EDISI SPESIAL RAMADHAN
Zunaira Prameswari hanyalah seorang ustadzah yatim piatu yang merasa dunianya sudah cukup dengan mengabdi di Pesantren Al-Anwar.
Baginya, mencintai Gus Azlan, putra kedua sang kiai yang baru kembali dari Al-Azhar, Kairo adalah sebuah kemustahilan yang hanya berani ia langitkan dalam doa-doa di sujud terakhir.
Namun takdir berkata lain, penolakan Azlan terhadap lamaran Ning Syifa, seorang putri kiai besar yang membawa kepentingan politik pesantren, justru menyeret Zunaira ke pusaran konflik keluarga yang rumit.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukk kepoin!!!
Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan Paling Masuk Akal
Zunaira menutup mulutnya dengan tangan, air mata haru mulai menggenang. Umrah? Pergi ke tanah suci bersama Gus Azlan? Itu adalah mimpi yang bahkan tidak berani ia bayangkan sebelumnya.
"Tapi Abah, bagaimana dengan jadwal mengajar Zunaira? Dan tugas Gus Azlan di kantor pusat?" tanya Zunaira khawatir.
"Itu urusan gampang, Nak." jawab Ummi Salamah sambil menggenggam tangan Zunaira.
"Kita akan buat alasan bahwa Zunaira sedang ada tugas pengabdian di pesantren cabang di luar kota dan Azlan sedang melakukan riset kitab ke beberapa ulama, rahasia ini akan tetap terjaga sampai gedung itu berdiri." lanjut ummi Salamah.
Gus Haidar menepuk pundak adiknya dengan senang dan bahagia.
"Gunakan waktu itu untuk menguatkan batin Lan, karena setelah pulang dari sana dan gedung diresmikan kalian akan menghadapi mata dunia dan juga pastikan pondasi cinta kalian sudah sekuat batu di Jabal Rahmah." tutur Gus Haidar mengingatkan sang adik.
Melihat kebahagiaan anak dan menantunya, Kyai Hamid merasa perlu memberikan bekal ruhani.
Beliau bergeser duduknya lalu mengutip sebuah ayat yang sangat menyentuh hati.
"Ingatlah Nak, Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 153."
"Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 153)
Beliau melanjutkan dengan nada rendah namun penuh penekanan.
"Perjalanan kalian ini adalah perjalanan sabar. Rahasia ini bukan karena kita takut pada manusia tapi karena kita sedang menjaga keberkahan ilmu dan kehormatan pesantren dan umrah nanti adalah hadiah bagi mereka yang mau bersabar dalam ketaatan. Gunakan waktu di tanah suci untuk memohon agar saat rahasia ini dibuka nanti hati orang-orang di sekitar kalian dilembutkan oleh Allah." tutur kyai Hamid.
Zunaira menunduk dalam meresapi setiap kata dari mertuanya itu, ia merasa begitu kecil namun sekaligus begitu dilindungi.
Sebelum pertemuan berakhir, Ummi Salamah dan Ning Arifa sengaja membawa Naura ke dapur untuk mencari cemilan tambahan, sementara Kyai Hamid dan Gus Haidar keluar menuju masjid untuk mengecek kegiatan santri.
Ruang keluarga itu mendadak hening dan hanya menyisakan Gus Azlan dan Zunaira.
Gus Azlan mendekat, ia kini berdiri hanya satu langkah di depan Zunaira dan aroma kayu gaharu yang khas dari tubuh Gus Azlan tercium sangat dekat.
"Zunaira." panggilnya lembut.
Zunaira mendongak dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia bisa menatap mata suaminya tanpa perlu merasa waswas.
"Terima kasih sudah bertahan sejauh ini." ucap Gus Azlan, ia menjangkau tangan Zunaira dan menggenggamnya dengan jemari yang kokoh.
"Aku tahu betapa beratnya saat kau harus menunduk saat aku lewat atau saat kau harus mencari alasan logis atas vitamin yang kuberikan. Maafkan aku yang belum bisa memberimu kemewahan sebagai istri pengasuh." ucap Gus Azlan merasa begitu bersalah.
"Mas..." Zunaira membalas genggaman itu.
"Jangan berkata begitu, menjadi istrimu adalah kemewahan terbesar bagi yatim piatu sepertiku. Rahasia ini justru membuatku merasa Allah sangat sayang pada kita. Kita dijaga dari riya, kita dijaga dari gangguan dunia." balas Zunaira.
Gus Azlan tersenyum lalu ia merogoh saku kokonya, ia mengeluarkan sebuah tasbih kecil dari kayu cendana yang harum.
"Ini untukmu, gunakan untuk berdzikir karena setiap biji tasbih ini telah kusentuh dengan doa agar kita segera sampai di Baitullah bersama-sama." sahut Gus Azlan.
Zunaira menerima tasbih itu seolah menerima harta karun yang paling berharga.
"Nggih Mas, Zunaira akan menjaganya." seru Zunaira menerima tasbih tersebut.
"Nanti malam saat kau kembali ke asrama, bacalah surat Al-Fath." pesan Gus Azlan.
"Agar Allah segera membukakan jalan kemenangan dan kejelasan bagi kita." lanjutnya.
Pertemuan itu harus segera diakhiri, suara tawa Ning Arifa dari arah dapur menjadi kode bahwa mereka harus kembali ke peran masing-masing.
Gus Azlan melepaskan genggaman tangannya dengan berat hati dan Zunaira segera merapikan mukenanya.
Zunaira keluar dari pintu belakang ndalem dengan hati yang membuncah, tasbih pemberian Gus Azlan ia genggam erat di dalam saku mukenanya.
Langit malam Pesantren Al-Anwar nampak jauh lebih cerah dari biasanya, mungkin tahu apa yang sedang dirasakan oleh salah satu makhluknya.
Namun saat ia melintasi jalan setapak di dekat asrama putri, ia melihat bayangan seseorang berdiri di dekat tembok.
Jantungnya berdegup kencang dan ia segera menunduk dan mempercepat langkah.
"Ustadzah Zunaira? Larut sekali baru kembali dari kamar mandi?" suara itu dingin dan sangat akrab di telinga.
Zunaira berhenti itu Ustadzah Sarah, wanita itu berdiri dengan tangan bersedekap dan matanya menatap tajam ke arah Zunaira.
"Nggih Mbak Sarah, tadi... tadi ada sedikit keperluan." jawab Zunaira berusaha tenang.
"Keperluan yang sangat lama ya? Sampai satu jam lebih?" Sarah melangkah mendekat.
"Hati-hati Zu, malam-malam begini angin pesantren bisa membawa aroma yang tidak terduga. Kamu baru saja dari arah kediaman kiai, bukan?" ujar Ustadzah Sarah.
Zunaira beristighfar dalam hati, ia tersenyum tipis dan mencoba menggunakan logika yang paling aman.
"Saya tadi mengantar kitab titipan Ummi Salamah Mbak, beliau meminta saya mampir sebentar untuk membahas jadwal khataman santriwati bulan depan. Bukankah Mbak Sarah tahu saya memang sering dipanggil Ummi?" seru Zunaira.
Sarah terdiam sejenak dan wajahnya masih nampak menyimpan sejuta tanya.
"Ya memang, tapi jangan terlalu sering Zu, tidak baik ustadzah muda sering keluar malam sendirian, apalagi ke arah ndalem yang banyak laki-lakinya, nanti bisa jadi fitnah." memberikan nasihat kepada Zunaira agar tidak sampai terjadi apa-apa.
"Terima kasih nasihatnya Mbak." jawab Zunaira sopan, lalu segera berlalu masuk ke dalam asrama.
Di kamarnya yang sempit Zunaira duduk di atas sajadah, ia memandangi tasbih cendana itu.
Rahasia ini semakin hari semakin berat namun berita tentang Umrah tadi adalah oase yang luar biasa.
Ia menyadari bahwa setiap ujian yang ia hadapi termasuk kecurigaan ustadzah Sarah adalah bagian dari harga yang harus dibayar untuk kemuliaan yang Allah janjikan.
Ia mulai memutar biji tasbihnya, melantunkan dzikir dan bersiap membaca Surat Al-Fath sebagaimana permintaan suaminya.
Di luar angin malam membawa suara sayup-sayup Gus Azlan yang sedang mengimami santri putra dalam doa malam.
Mereka terpisah tembok, terpisah rahasia namun jiwa mereka terikat dalam satu ritme dzikir yang sama.
Aroma kopi pagi yang menyengat dari kantor sekretariat pesantren tidak mampu mengusir kegelisahan yang menyelimuti Zunaira.
Sejak pertemuan di sepertiga malam itu, hatinya dipenuhi oleh luapan syukur sekaligus waspada.
Tiket Umrah yang dijanjikan Kyai Hamid adalah oase, namun ia tahu perjalanan menuju Baitullah itu harus ditempuh melalui jalur yang penuh duri rahasia.
Sesuai rencana yang disusun Gus Azlan dan Kyai Hamid, Zunaira akan ditugaskan ke pesantren cabang di pesisir utara untuk membantu pengembangan kurikulum tahfidz selama dua minggu.
Ini adalah alasan yang paling masuk akal bagi seorang ustadzah berprestasi sepertinya.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...