Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.
Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.
Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.
Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.
Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda Yang Tidak Bisa Dihapus
"Man, apa Kyai Salman pernah cerita soal ini kepadamu?"
Fariz menatap Rahman sambil duduk di lantai tajuk. Tangannya masih memegang gelas air yang sudah kosong sejak tadi.
Rahman terdiam sebentar. Menatap ke arah jendela. Seperti sedang menggali memori yang sudah lama ia kubur.
"Setahuku..." Suaranya pelan. "Sebelum Kyai sakit, ia pernah memintaku untuk mengumpulkan semua murid-muridnya di rumah persembunyian."
Ia menarik napas.
"Tapi saat kami datang, Kyai tidak ada di tempat. Dan akhirnya kami membubarkan diri karena suasana desa sudah tidak lagi nyaman."
Fariz mengerutkan dahi. "Tidak ada di tempat? Memangnya Kyai ke mana?"
"Aku tidak tahu." Rahman menggeleng pelan. "Sejak saat itu, aku tidak pernah melihatnya lagi. Beberapa hari kemudian, aku melihat Kyai sudah tak berdaya di atas kasur lalu beliau meninggal."
Hening sebentar.
Lalu Fariz teringat sesuatu. Bekas darah yang sudah mengering di lantai kayu rumah persembunyian.
"Sepertinya kita harus kembali ke rumah itu, Man." Fariz berdiri. "Aku ingin memperlihatkan sesuatu kepadamu."
Mereka bertiga berjalan menuju rumah persembunyian.
Kabut tipis masih ada di jalan. Tapi tidak setebal kemarin. Cukup untuk melihat dengan jelas.
Sesampainya di sana, Fariz membawa Rahman langsung ke kamar Kyai Salman.
"Lihat ini."
Fariz menunjuk lantai. Bekas darah yang sudah mengering. Warnanya cokelat kehitaman, menyerap ke dalam serat kayu.
Rahman berjongkok. Menatap noda itu dengan mata yang menyipit. Seperti tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Apa mungkin Kyai Salman menghilang karena dia sakit?" Fariz bertanya sambil ikut berjongkok di sampingnya.
Rahman tidak langsung menjawab.
Tangannya menyentuh lantai di sekitar bekas darah. Seperti mencari sesuatu. Lalu ia berdiri. Kakinya mengikuti jejak tetesan kecil yang mengarah ke pintu seberang.
Membuka pintu kamar mandi.
Di sana, bekas darah berhenti. Pola percikannya tidak seperti dari luka biasa. Lebih seperti dimuntahkan.
Rahman berdiri di situ cukup lama. Tidak bergerak. Hanya menatap.
"Apa mungkin Kyai..."
Suaranya keluar pelan. Gemetar sedikit di ujung. Tapi ia tidak melanjutkan. Menggelengkan kepala. Berusaha menepis pikiran buruk yang mulai muncul.
Tapi terlambat. Pikiran itu sudah ada.
Kyai Salman meninggal tiba-tiba. Tidak ada yang tahu sebabnya. Tidak ada yang melihat penyakitnya dengan jelas. Dan sekarang, di rumah yang seharusnya ia rawat dengan baik, ada bekas darah yang baru terlihat sekarang. Seperti ada yang sengaja menyembunyikannya selama ini. Dan baru sekarang terbuka.
"Man... ada apa?"
Fariz melihat wajah Rahman berubah. Lebih pucat dari biasanya.
Rahman menarik napas panjang. Berbalik menatap Fariz.
"Kalau Kyai sakit di sini..." Suaranya lebih pelan sekarang. "Mungkin ia menyembunyikan sesuatu sebelum waktunya habis."
Ia berjalan kembali ke kamar.
"Iz, sekarang kamu dan Aisyah bongkar semua lembaran yang ada di lemari ini."
Rahman menunjuk lemari kayu di sudut kamar.
"Aku akan kembali ke perpustakaan. Siapa tahu ada petunjuk yang belum kita temukan."
Lalu ia pergi. Langkahnya cepat. Seperti sedang mengejar sesuatu yang sudah terlalu lama tertunda.
Aisyah dan Fariz membuka lemari perlahan.
Di dalamnya, tumpukan kertas. Beberapa terlipat rapi. Beberapa kusut. Beberapa robek di ujungnya.
Mereka mengeluarkan satu per satu. Membaca. Mencocokkan dengan buku Kyai Salman yang Aisyah bawa.
Hingga siang hari, mereka duduk di lantai dengan kertas-kertas berserakan di sekitar mereka. Mencoba memecahkan beberapa kalimat yang merujuk pada persembahan yang Aisyah dengar dari ritual Darma Wijaya.
"Apa mungkin Dewi Kuasa meminta sesuatu dari Bapak?"
Aisyah mengangkat selembar kertas kecil yang ia temukan di sudut lemari. Tulisannya hampir pudar. Tapi masih bisa dibaca.
"Tapi apa yang dia minta dari Bapakmu?" Fariz menatap Aisyah. Lalu ke kertas di tangannya. Kedua matanya fokus pada setiap potongan kalimat.
Sebelum Aisyah sempat menjawab, suara langkah terdengar dari luar.
Rahman datang dengan napas terengah. Tangannya memegang beberapa lembar kertas lusuh. Sebagian robek. Sebagian lecek. Seperti sengaja dibuang tapi diselamatkan di menit terakhir.
"Iz, coba baca ini."
Rahman menyodorkan potongan kertas yang robek setengahnya.
Fariz mengambilnya. Membaca pelan.
"Di malam itu, aku melihat seseorang telah diliputi oleh kabut putih, lalu ditarik dengan paksa hingga tak sadarkan diri. Aku sudah berusaha untuk mencegahnya tapi mereka malah..."
Kalimat itu terpotong. Tidak ada lanjutan lagi.
Fariz menatap kertas itu lebih lama. Mencoba membayangkan Kyai Salman yang menulis ini. Tangan gemetar. Napas tersengal. Melihat seseorang ditarik paksa tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu diserang. Atau diancam. Atau...
"Dari mana kamu dapat ini, Man?" Suaranya keluar lebih serak dari yang ia inginkan.
"Aku menemukan ini di perpustakaan. Tersembunyi di balik rak." Rahman duduk di lantai, punggung bersandar ke dinding. "Seperti sengaja dirobek dan disembunyikan. Tapi tidak sempat dimusnahkan."
Ketiganya saling menatap. Tidak ada yang bicara dulu. Hanya hening yang terasa terlalu berat.
Lalu Aisyah membuka buku Kyai Salman. Membalik halaman satu per satu. Mencari sesuatu yang berhubungan dengan kalimat yang baru mereka baca.
Sampai ia berhenti di satu halaman.
"Ini."
Jarinya menunjuk kalimat di tengah halaman.
"Persembahan itu mutlak dan tak mampu lagi diganggu. Dan di sini aku sadar jika dia telah menukar nyawa dengan kesuburan."
Aisyah menatap Fariz. Lalu ke Rahman.
"Apa mungkin akan ada warga yang akan dijadikan persembahan bagi Dewi Kuasa?"
Suaranya pelan. Tapi pertanyaan itu jatuh di antara mereka dengan berat yang tidak bisa diabaikan.
"Maksudmu tumbal?" Fariz mengernyitkan dahi.
Aisyah mengangguk. Tapi ragu. Seperti tidak ingin mempercayai kesimpulannya sendiri.
"Kalau memang Dewi Kuasa meminta tumbal kepada Bapakmu..." Fariz menarik napas. "Lalu siapa yang akan dikorbankan? Dan bagaimana mereka melakukannya?"
Rahman dan Aisyah langsung membuka satu per satu lembaran yang ada di hadapan mereka. Fariz menutup mata. Berusaha mengingat setiap mimpinya. Berharap ia menemukan petunjuk dari sana.
Tapi tidak ada.
Hingga sore hari, mereka masih belum menemukan petunjuk yang jelas.
Bagaimana cara menemukan orang yang akan dijadikan tumbal.
"Aisyah, sebaiknya kamu pulang sebelum ayahmu mencarimu."
Fariz menatapnya dengan wajah yang khawatir.
"Biar aku dan Rahman yang mencari petunjuk di sini."
Aisyah ingin membantah. Tapi ia tahu Fariz benar. Kalau ayahnya pulang dan tidak menemukan ia di rumah, akan ada masalah yang lebih besar.
"Aku akan mencari petunjuk lain di rumah, Iz." Aisyah berdiri. "Besok pagi aku akan datang ke pondok agar aku lebih dekat untuk kembali ke rumah."
Fariz mengantar dari jarak yang aman. Mengikuti dari balik pohon dan rumah. Memastikan tidak ada yang mengancam.
Sampai Aisyah tiba di depan rumahnya dan masuk dengan selamat, Fariz berbalik untuk kembali.
Tapi sebelum kakinya melangkah jauh, ia melihat sesuatu.
Di atas rumah itu — rumahnya, rumah orang tuanya — ada kabut tebal yang menggulung.
Berputar pelan seperti pusaran. Lebih gelap dari kabut yang ada di jalan. Lebih pekat. Seperti ada sesuatu yang hidup di dalamnya.
Fariz berdiri di situ. Menatap kabut itu dengan napas yang tertahan.
Lalu ia berlari.
Kaki bergerak cepat. Tidak peduli kalau ada yang melihat. Tidak peduli kalau ada yang mengikuti.
Ia harus kembali ke rumah persembunyian.
Harus memberitahu Rahman.
Sekarang.
MALAM HARI
Fariz duduk di lantai kamar Kyai Salman dengan kertas-kertas berserakan di sekitarnya.
Rahman sudah tidur di kamar sebelah. Napasnya terdengar teratur. Lelah setelah seharian mencari.
Tapi Fariz tidak bisa tidur.
Ia terus membuka catatan Kyai Salman yang Rahman bawa. Beberapa potongan kertas yang sobek dan lecek ia kumpulkan jadi satu. Mencoba menyusun seperti puzzle.
"Kenapa Kyai tidak menulis lebih jelas?" Gumamnya pelan sambil menatap potongan kertas itu di bawah cahaya lampu minyak yang redup.
Ia terus berpikir keras.
Kabut di atas rumahnya. Persembahan. Tumbal.
Siapa yang akan dikorbankan?
Ayahnya? Ibunya?
Fariz merasakan dadanya sesak. Seperti ada yang menekan dari dalam.
Tangan terkepal di pangkuan. Rahang menegang.
Tapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
DI TEMPAT LAIN
Aisyah menunggu hingga pukul sepuluh malam.
Saat semua terdengar sepi. Saat tidak ada lagi suara langkah dari luar kamarnya.
Diam-diam ia membuka pintu. Mengintip. Kosong.
Lalu berjalan pelan ke ruang kerja ayahnya.
Pintunya tidak terkunci. Ia masuk. Menutup pintu dari dalam tapi tidak mengunci. Agar bisa keluar cepat kalau ada yang datang.
Foto wanita di dinding menatapnya. Mata yang tajam. Senyum yang dingin. Seolah sedang mengawasi setiap gerakannya.
Aisyah berusaha untuk tidak menatap balik. Fokus pada meja ayahnya.
Mencari catatan. Surat. Apa pun yang bisa memberi petunjuk.
Laci pertama. Kosong.
Laci kedua. Berisi dokumen-dokumen desa yang biasa.
Laci ketiga. Terkunci.
Aisyah mencoba membukanya. Tidak bisa. Butuh kunci.
Lalu ia mendengar sesuatu.
Suara orang berbicara di luar. Jelas. Dekat.
Jantungnya berhenti sebentar.
Ia langsung menutup semua laci. Mengembalikan semuanya seperti semula. Lalu berjalan pelan ke pintu. Membukanya sedikit. Mengintip.
Di halaman depan, dua orang berdiri. Karno dan salah satu anak buah yang ia tidak kenal.
Karno memegang sesuatu di tangannya. Dari celah pintu, Aisyah bisa melihat sekilas.
Keris emas. Bentuk kepalanya aneh dan tidak biasa.
Di bagian kepalanya ada ukiran simbol yang tidak ia kenali. Seperti tulisan Jawa kuno. Atau simbol yang lebih tua dari itu.
"Kamu cari kabut tebal yang ada di atas rumah." Suara Karno jelas terdengar meski ia bicara pelan.
"Setelah itu kamu tanam benda ini di halaman rumahnya."
Ia menyerahkan keris itu kepada anak buahnya.
"Pastikan tertanam dalam. Jangan sampai ada yang melihat."
Anak buah itu mengangguk. Menerima keris dengan dua tangan. Seperti menerima sesuatu yang suci. Atau sesuatu yang sangat berbahaya.
Lalu mereka pergi.
Aisyah berdiri di balik pintu cukup lama. Napasnya belum teratur. Tangannya gemetar di sisi tubuh.
Kabut tebal di atas rumah.
keris dengan ukiran simbol.
Ditanam di halaman.
Ia tidak tahu apa artinya semua ini.
Tapi ia tahu satu hal.
Ia harus memberitahu Fariz.
Segera.
Aisyah keluar dari ruang kerja. Kembali ke kamarnya. Mengambil tas kecil. Memasukkan buku Kyai Salman dan beberapa catatan yang ia bawa dari perpustakaan tadi siang.
Lalu membuka jendela kamarnya.
Melompat keluar.
Mendarat di tanah dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Dan berlari.
Ke rumah persembunyian.
Tidak peduli lagi siapa yang melihat.
Tidak peduli lagi apakah ayahnya akan tahu.
Karena kalau ia tidak memberitahu sekarang, besok mungkin sudah terlambat.