kekuatannya menyebabkan dia bisa mengendalikan boneka tapi semakin sering ia menggunakannya ia pun mulai di Kendalikan oleh kekuatan sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Tatapan Penasaran Sang Tabib
Di tengah riuhnya kamp pengungsian di pinggiran Aethelgard, yang dulunya adalah arena pelatihan kuda kerajaan, Lyra bergerak bagai sekelebat cahaya. Jubah tabibnya yang putih bersih, meski sedikit ternoda lumpur dan percikan obat, tampak kontras dengan kemeja lusuh dan wajah muram para pengungsi. Matanya yang sebiru safir berbinar penuh perhatian dan empati, tak pernah melewatkan detail sekecil apa pun, dari luka fisik yang memar hingga luka batin yang meremukkan jiwa. Di Aethelgard, Lyra adalah nama yang identik dengan harapan, secercah optimisme di tengah keputusasaan yang dibawa oleh Kekosongan. Namun, dalam benaknya, ia membawa beban pertanyaan yang tak terucap, sebuah teka-teki yang semakin hari semakin menggerogoti ketenangan batinnya.
Dia merawat seorang anak kecil yang demam, dengan cekatan mengompres dahinya dan membisikkan kata-kata penenang. Setelah itu, ia beralih ke seorang wanita tua yang masih terguncang, mencoba memulihkan ingatannya yang kabur tentang apa yang terjadi di desa Norval. "Nenek, bisakah Nenek mengingat apa yang Nenek lihat?" tanya Lyra lembut, mengusap punggung wanita itu. Wanita tua itu hanya menggeleng, matanya kosong. "Ada... ada yang dingin. Seperti mencuri. Mencuri... warnaku." Ucapannya terputus-putus, dan Lyra menghela napas. Ini adalah pola yang berulang: para penyintas Kekosongan tidak hanya kehilangan rumah dan orang yang dicintai, tetapi juga sebagian dari diri mereka, ingatan atau esensi emosi yang hilang begitu saja.
Lyra, sebagai tabib terkemuka di istana dan kepala dari unit medis darurat, telah menyaksikan ratusan kasus seperti ini. Otaknya, yang terbiasa menganalisis gejala dan mencari penyebab, berputar mencari jawaban. Ini bukan penyakit biasa, bukan racun, bukan trauma fisik yang dapat dijelaskan. Ini adalah sesuatu yang lebih dalam, lebih spiritual. Seperti ada bagian dari jiwa yang dicabut paksa.
Di sela-sela kesibukannya, Lyra sering mendengar bisikan-bisikan di antara para prajurit dan pelayan istana. Bisikan tentang Pangeran Ryo yang misterius, Dalang Jiwa yang terasing di menaranya. Mereka mengatakan, "Pangeran itu gila," atau "Ia dikutuk." Namun ada juga bisikan lain, lebih hati-hati, yang mengatakan, "Setiap kali Pangeran Ryo menatap ke luar jendela, nasib baik berpihak pada kita." Kebetulan-kebetulan aneh terjadi di sekitar Ryo: pasukan yang entah bagaimana selalu berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat, pengkhianat yang tiba-tiba terungkap, atau keputusan strategis yang brilian yang entah dari mana muncul di benak para jenderal yang sebelumnya ragu.
Lyra adalah seorang pragmatis, seorang yang percaya pada ilmu pengetahuan dan logika. Dia tidak mudah percaya takhayul atau kebetulan. Baginya, setiap efek memiliki sebab. Dan serangkaian "kebetulan" yang terlalu sempurna ini mulai terasa seperti sebuah pola, sebuah tangan tak terlihat yang menggerakkan pion-pion di papan catur kehidupan.
Suatu sore, saat Lyra sedang memeriksa pasokan obat-obatan di gudang darurat kamp, sebuah balok kayu penopang yang sudah lapuk tiba-tiba berderak dan runtuh dari langit-langit. Bunyinya memekakkan telinga, dan balok besar itu jatuh tepat ke arahnya. Lyra terpaku, jantungnya berdebar kencang, waktu seolah melambat. Dia melihat bayangan hitam balok itu membesar, menutupi pandangannya. Namun, sesaat sebelum balok itu menghantamnya, dia merasakan desakan aneh, seperti angin kencang tak terlihat yang mendorong bahunya, melemparkannya ke samping. Dia jatuh tersungkur di tumpukan karung gandum, kaget namun tak terluka. Balok kayu itu menghantam tepat di tempat ia berdiri sedetik sebelumnya, menimbulkan debu dan serpihan.
"Nona Lyra, Anda baik-baik saja?" teriak seorang prajurit yang bergegas mendekat, wajahnya panik.
Lyra terengah-engah, membersihkan rambut dari wajahnya. "Aku... aku baik-baik saja. Aku tidak tahu bagaimana..."
Ia menatap lokasi jatuhnya balok itu, lalu ke arah tempat ia didorong. Tidak ada seorang pun di dekatnya. Prajurit itu terlalu jauh. Tidak ada tiupan angin yang cukup kencang untuk mendorongnya seperti itu. Ini... bukan kebetulan. Ini adalah campur tangan.
Matanya secara refleks mendongak ke arah istana, yang menara-menaranya menjulang tinggi di kejauhan. Menara tertinggi, tempat Ryo tinggal, tampak seperti jarum yang menusuk awan kelabu. Sebuah keraguan, sebuah pertanyaan besar, mulai berakar di benaknya. Bisikan-bisikan tentang Ryo, kebetulan-kebetulan aneh, para korban yang jiwanya terkuras, dan sekarang ini. Ada koneksi, Lyra yakin. Ada benang tak terlihat yang mengikat semua kejadian ini.
Malam itu, setelah hari yang panjang dan melelahkan, Lyra kembali ke kamarnya di sayap tabib istana. Dia menyalakan lampu minyak, cahaya kekuningan mengisi ruangan kecilnya yang penuh dengan buku-buku herbal dan gulungan medis. Dia tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar pada Ryo dan kekuatan misterius itu. Dia tahu ada catatan kuno di perpustakaan terlarang istana, bagian yang hanya bisa diakses oleh keluarga kerajaan atau atas izin khusus Raja. Catatan tentang ilmu sihir purba, legenda-legenda yang dianggap mitos.
Dorongan untuk mencari tahu terlalu kuat untuk diabaikan. Dia tidak meminta izin. Dia adalah Lyra, dan dia akan menemukan kebenaran, demi rakyat Aethelgard yang sekarat, dan demi jiwanya sendiri yang membutuhkan jawaban. Diam-diam, dia menyelinap keluar dari kamarnya, berjalan melewati koridor-koridor sunyi yang hanya diterangi obor yang redup. Jantungnya berdebar kencang, setiap bayangan seolah menyembunyikan mata yang mengawasi.
Dia berhasil mencapai pintu perpustakaan terlarang, sebuah pintu kayu besar dengan ukiran naga yang rumit. Penjaga yang biasanya bertugas di sana, seorang penjaga tua yang selalu berhati-hati, tiba-tiba terlihat sangat mengantuk, kepalanya terkulai di dada. Lyra melihatnya, dan instingnya berteriak: ini bukan kebetulan lagi. Ini adalah *tangan* yang sama yang telah mendorongnya dari bahaya. *Tangan* itu sekarang memastikan jalannya terbuka.
Lyra menatap penjaga itu. Ia tidak percaya bahwa Ryo akan melukai penjaga itu, atau memaksanya tidur. Itu terlalu kasar. Tetapi ada benang samar yang menghubungkan pikiran penjaga itu dengan kelelahan yang tidak wajar. Ryo tidak mencabut jiwanya, tetapi hanya mengatur agar ia merasa kantuk yang tak tertahankan.
Dengan napas tertahan, Lyra mendorong pintu perpustakaan. Engselnya berderit pelan, dan Lyra menyelinap masuk ke dalam kegelapan yang pekat, hanya diterangi oleh cahaya rembulan yang samar dari jendela tinggi. Aroma buku-buku tua dan debu menyambutnya. Dia tahu apa yang harus dicari: gulungan-gulungan yang berbicara tentang 'Dalang', 'Jiwa', atau 'Benang Takdir'.
Ia mencari selama berjam-jam, jari-jarinya menelusuri ratusan judul. Akhirnya, di sudut yang paling tersembunyi, di balik rak buku yang miring, ia menemukan sebuah peti kayu tua berdebu. Di atasnya, terukir simbol kuno yang ia kenali dari beberapa ukiran di dinding istana—simbol yang terlihat seperti siluet manusia dengan benang-benang melingkari dirinya.
Jantung Lyra berpacu kencang. Ini dia.
Di dalam peti itu, ia menemukan beberapa gulungan perkamen yang rapuh, terikat dengan pita beludru hitam yang sudah usang. Judulnya, ditulis dalam aksara kuno yang jarang digunakan lagi, berbunyi: "Chronica Animarum: Sejarah Dalang Jiwa dan Seninya yang Terlupakan."
Dengan tangan gemetar, Lyra membuka gulungan pertama. Teks kuno itu bercerita tentang para Dalang Jiwa, individu-individu langka yang terlahir dengan kemampuan untuk merasakan dan memanipulasi benang eterik yang membentuk kesadaran setiap makhluk hidup. Mereka adalah arsitek takdir, pengukir kehendak. Lyra membaca dengan takjub sekaligus ngeri. Gulungan itu menjelaskan bagaimana Dalang dapat memanipulasi gerakan, melihat melalui mata orang lain, dan bahkan mempengaruhi emosi dan kehendak.
Namun, gulungan itu juga memperingatkan tentang kutukan yang menyertainya. Setiap sentuhan pada benang jiwa, setiap upaya untuk memanipulasi kehendak orang lain, datang dengan harga yang mahal. Sang Dalang akan merasakan beban jiwa yang disentuhnya, emosi dan penderitaan mereka akan mengalir ke dalam dirinya. Terlalu sering, dan sang Dalang akan kehilangan batas antara dirinya dan orang lain, jiwanya sendiri akan terkoyak-koyak, akalnya pecah karena terlalu banyak suara dan perasaan. Gulungan itu menyebutkan tentang "boneka ganti", wadah yang digunakan Dalang untuk melindungi sebagian jiwanya, juga sebagai fokus untuk kendali yang lebih besar.
Saat Lyra membaca bagian itu, bayangan Pangeran Ryo dengan boneka kayunya melintas di benaknya. Semua potongan teka-teki itu mulai menyatu dengan mengerikan. Kekosongan yang menyedot jiwa, para korban dengan mata kosong, dan "kebetulan-kebetulan" di sekitar Ryo.
Lyra menyadari, bahwa Pangeran Ryo bukan hanya seorang pangeran yang terasing. Dia adalah Dalang Jiwa yang hidup, dan dia sedang berada di tengah-tengah perjuangan yang tak terlihat, memanipulasi takdir mereka dari balik bayangan. Kekuatan itu adalah anugerah dan kutukan, sebuah janji keselamatan dan potensi kehancuran.
Lyra merasakan tatapan. Ia mengangkat kepalanya dari gulungan, menatap ke arah bayangan gelap di sudut perpustakaan. Tidak ada siapa-siapa. Namun, ia merasakan ada sebuah benang tipis, dingin namun tak bermaksud jahat, terhubung dengan dirinya. Benang itu telah menemaninya sejak ia hampir tertimpa balok kayu, menuntunnya ke perpustakaan ini, dan kini mengawasinya. Itu adalah benang Ryo.
Sebuah rasa dingin merayapi tulang punggung Lyra, bukan karena takut, tetapi karena penyingkapan yang luar biasa. Pangeran Ryo, Dalang Jiwa, sedang mengawasinya. Dia tahu Lyra sedang membaca rahasianya. Rasa ingin tahu Lyra tidak hanya membawanya pada kebenaran, tetapi juga pada sebuah undangan, sebuah tarikan ke dalam permainan takdir yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan. Dia merasakan kekuatan Ryo, bukan sebagai ancaman yang terang-terangan, melainkan sebagai sebuah kehadiran yang tak terhindarkan, seolah dia sendiri kini menjadi bagian dari jaring benang eterik yang dirajut sang pangeran. Ia tahu, dari saat ini dan seterusnya, takdirnya tak lagi sepenuhnya miliknya sendiri. Dan, anehnya, di tengah ketakutan dan kebingungan, ada juga sedikit kegembiraan yang membara dalam dirinya. Kegembiraan karena akhirnya menemukan jawaban, dan mengetahui bahwa ia mungkin adalah satu-satunya orang di Aethelgard yang memahami siapa Pangeran Ryo sebenarnya.
Lyra tidak menyembunyikan gulungan itu. Ia mengambilnya, bersama beberapa catatan lain yang merinci ritual dan bahaya penggunaan kekuatan Dalang Jiwa. Dia tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Dia harus menghadapinya, Dalang Jiwa yang terasing itu. Namun, bagaimana caranya berbicara dengan seseorang yang hidup di dunia yang berbeda, seseorang yang melihat realitas sebagai jaring benang yang bisa ditarik dan diatur sesuka hati? Pertanyaan itu berputar-putar di benaknya saat dia diam-diam meninggalkan perpustakaan yang kini terasa tidak lagi sunyi. Pintu kembali tertutup di belakangnya, dan penjaga itu masih terlelap dalam tidurnya yang damai. Ryo telah melakukan tugasnya dengan baik, membimbing Lyra pada kebenaran, sekaligus melindunginya. Tapi, untuk apa? Itulah pertanyaan yang harus Lyra cari jawabannya.