NovelToon NovelToon
Bukan Wajahmu Tapi Hatimu

Bukan Wajahmu Tapi Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Office Romance / Cewek Gendut
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
​Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
​Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Linggar saat kesadarannya pulih perlahan.

Ia merasakan sensasi dingin di pergelangan tangan kirinya dimana sebuah selang infus terpasang di sana.

Di luar tirai UGD, Rangga sedang berbicara dengan dokter.

"Pasien mengalami keracunan zat kimia dari obat diet yang sudah kedaluwarsa, Pak Rangga. Sekarang banyak penjual nakal di toko online yang mengubah label tanggal. Beruntung Bapak segera membawanya, kalau tidak, efeknya bisa fatal bagi jantungnya," jelas dokter tersebut.

Rangga menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan kasar.

Ada rasa kesal sekaligus ngeri yang bercampur di dadanya.

Setelah dokter pergi, ia menyibak tirai dan melangkah masuk.

Linggar mengerjapkan mata, berusaha menyesuaikan cahaya lampu yang terang.

Begitu melihat sosok jangkung Rangga berdiri di samping tempat tidurnya, ia langsung berusaha duduk dengan panik.

"Pak Rangga? Maaf, maafkan saya. Saya benar-benar merepotkan Anda," ucap Linggar dengan suara parau dan wajah pucat.

Cethek!

Satu sentilan mendarat cukup keras di dahi Linggar.

"Aduh!" Linggar memegangi dahinya, menatap Rangga dengan mata berkaca-kaca.

"Sakit? Bagus, artinya kamu masih hidup," ucap Rangga dengan nada dingin namun terselip kekhawatiran yang dalam.

Ia menarik kursi dan duduk di samping ranjang Linggar.

"Obat diet, Linggar? Kamu mau bunuh diri dengan cara konyol seperti itu? Kamu itu sekretaris cerdas, bagaimana bisa kamu percaya pada obat-obatan sampah yang kamu beli sembarangan?"

Linggar menunduk dalam, jari-jarinya meremas seprai rumah sakit.

"Saya, hanya ingin berubah, Pak. Saya ingin terlihat lebih baik."

Rangga terdiam sejenak saat mendengar perkataan dari Linggar.

Ia teringat bagaimana karyawan di kantor tadi menghina Linggar.

Ia sadar, tekanan yang dialami wanita di hadapannya ini pasti sangat berat. Namun, Rangga bukan tipe pria yang suka mengasihani dengan kata-kata manis.

"Kalau mau berubah, lakukan dengan cara yang benar, bukan dengan cara instan yang membahayakan nyawa," tegas Rangga.

Ia kemudian berdiri, merapikan jasnya yang sedikit kusut karena menggendong Linggar tadi.

"Besok sore, setelah jam kantor selesai, kamu tidak boleh pulang dulu. Ikut saya. Datang ke gym milik saya di daerah Senopati. Saya sendiri yang akan mengawasi program olahragamu. Saya tidak mau sekretaris saya pingsan lagi hanya karena pil diet sampah," ucap Rangga telak, tak menerima bantahan.

"Tapi, Pak..."

"Ini perintah atasan, Linggar. Bukan tawaran," potong Rangga sambil berjalan menuju pintu.

"Istirahatlah dulu, Linggar. Sampai cairan infus mu habis,"

Setelah Rangga keluar, Linggar menyentuh dadanya yang berdegup kencang.

Ia merasa takut rahasianya akan terbongkar jika terus bersama Rangga, namun di sisi lain, perhatian tegas pria itu memberikan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Beberapa menit kemudian cairan infus itu akhirnya menetes habis.

Setelah memastikan kondisi Linggar stabil, Rangga bersikeras mengantarkannya pulang.

Sepanjang perjalanan, Linggar hanya terdiam, memandang ke luar jendela mobil mewah Rangga dengan perasaan was-was.

Jantungnya berdegup tidak karuan, sambil terus berdoa di dalam hati agar Nadya masih berada di kampus bersama Edwin.

Jika Rangga melihat Nadya sekarang, sandiwaranya akan berakhir di sini juga, di depan pagar rumahnya.

Tak lama kemudian Rangga menghentikan mobilnya.

"Rumah yang tenang," gumam Rangga saat mobilnya berhenti di depan rumah minimalis milik Linggar.

Rangga keluar dan membukakan pintu untuk Linggar.

Sikapnya yang sangat ksatria membuat Linggar merasa semakin bersalah.

"Masuklah dan segera istirahat. Besok kamu libur dulu saja, tidak perlu ke kantor. Tapi ingat janji kita, sore harinya kamu harus ke gym milikku. Aku tidak mau mendengar alasan apa pun," ucap Rangga tegas sambil menatap mata Linggar.

"Baik, Pak. Terima kasih banyak," jawab Linggar pelan.

Rangga mengangguk, lalu melajukan mobilnya menuju apartemennya di pusat kota.

Begitu mobil hitam itu hilang dari pandangan, Linggar menghela napas lega yang sangat panjang. Persembunyiannya aman, setidaknya untuk hari ini.

Baru saja Linggar masuk ke ruang tamu dan duduk di sofa, suara deru motor Edwin terdengar di halaman.

Tak berselang lama, Nadya masuk dengan wajah ceria, namun seketika berubah panik saat melihat kakaknya pucat dengan bekas plester infus di punggung tangannya.

"Mbak?! Kenapa? Kok ada bekas infus?" seru Nadya menghampiri kakaknya. Edwin yang mengekor di belakang juga tampak terkejut.

Linggar berusaha tersenyum meski bibirnya kering.

"Mbak cuma kecapekan, Nad. Tadi sempat pingsan di kantor karena tekanan darah rendah."

"Ya ampun, Mbak ini kerja terus sampai lupa kesehatan!" Nadya segera memapah tubuh Linggar yang terasa lemas menuju kamarnya di lantai bawah.

Sesampainya di kamar, Nadya membantu Linggar merebahkan diri di atas tempat tidur yang nyaman.

Ia menyelimuti kakaknya dengan penuh kasih sayang.

"Mbak, dengerin Nadya," ucap Nadya sambil duduk di tepi ranjang.

"Mbak sudah terlalu lama sendirian. Kerja, urus rumah, urus aku. Tubuh Mbak juga butuh perhatian. Lekaslah cari pasangan hidup, Mbak. Cari orang yang bisa jagain Mbak biar nggak ambruk begini."

Linggar hanya bisa mengangguk lemah. Ia tidak sanggup menceritakan bahwa ia sebenarnya sudah menemukan pria itu, namun ia sedang membohongi pria itu dengan menggunakan wajah adiknya sendiri.

"Iya, Nad. Mbak paham," bisik Linggar parau.

"Sekarang Mbak istirahat ya, jangan mikirin kerjaan dulu. Biar aku yang masak malam ini. Aku mau buatin sup ayam hangat buat Mbak," ujar Nadya sambil mengusap rambut Linggar sebelum beranjak ke dapur.

Di dalam kesunyian kamar, Linggar menatap layar ponsel "rahasia" yang tadi ia matikan.

Ia tahu, di dalam sana pasti sudah ada banyak pesan dari Rangga yang mengkhawatirkan 'Nadya'.

Linggar menangis tanpa suara; ia terjebak dalam cinta yang manis namun dibangun di atas fondasi kebohongan yang siap runtuh kapan saja.

Dengan tangan gemetar, Linggar mengaktifkan kembali ponsel rahasianya.

Layar itu seketika penuh dengan belasan notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab dari Rangga.

[Nadya, kamu masih di kampus?]

[Nadya, kenapa perasaan aku nggak enak ya? Kamu baik-baik saja kan?]

[Ponselmu mati lagi? Tolong kabari aku kalau sudah selesai kelas.]

Linggar menggigit bibir bawahnya. Rasa bersalah itu semakin menghimpit dadanya.

Di saat yang sama, ia merasa terharu karena Rangga begitu memedulikan sosok 'Nadya'.

Baru saja ia hendak mengetik balasan, layar ponselnya berubah menjadi panggilan masuk.

Linggar menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya agar tidak terdengar lemas atau seperti orang yang baru bangun dari pingsan.

"Halo, Rangga?" sapa Linggar, berusaha terdengar ceria.

"Ya Tuhan, Nadya! Akhirnya diangkat," suara Rangga di ujung telepon terdengar sangat lega, namun ada nada letih di sana.

"Kenapa ponselmu mati lama sekali? Aku benar-benar khawatir."

"Maaf, Rangga. Tadi bateraiku benar-benar habis, lalu aku ketiduran karena capek sekali setelah kelas tambahan," bohong Linggar.

Ia melirik bekas plester infus di tangannya, merasa ironis karena ia sedang berbohong pada pria yang beberapa jam lalu menggendongnya ke rumah sakit.

"Syukurlah kalau kamu hanya ketiduran. Hari ini... hariku sangat melelahkan, Nad," Rangga menghela napas panjang.

"Sekretarisku pingsan di kantor karena minum obat diet sembarangan. Aku baru saja mengantarnya pulang."

Linggar tertegun. Mendengar Rangga menceritakan kejadian tadi dari sudut pandangnya terasa sangat aneh.

"Oh ya? Kasihan sekali dia. Apa dia baik-baik saja sekarang?" tanya Linggar, memancing.

"Dia sudah stabil. Namanya Linggar. Dia wanita yang pintar, tapi sepertinya dia sangat tidak percaya diri dengan fisiknya. Itu yang membuatku kesal sekaligus kasihan. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya, jadi aku memintanya untuk mulai olahraga di gym-ku besok."

Linggar terdiam. Rangga membicarakannya dengan nada peduli, bukan nada hinaan seperti karyawan kantor tadi.

"Kamu baik sekali, Rangga. Kamu peduli bahkan pada sekretarismu sendiri," ucap Linggar tulus.

"Aku hanya tidak ingin kehilangan aset perusahaan yang berharga, Nadya. Tapi entahlah, setiap kali aku bicara dengannya, aku merasa seperti sedang bicara denganmu. Suara kalian... frekuensinya sangat mirip."

Jantung Linggar seakan berhenti berdetak. "M-masa sih? Mungkin itu hanya perasaanmu karena kamu terlalu sering memikirkanku."

Rangga tertawa kecil, suara renyahnya membuat pipi Linggar memerah.

"Mungkin kamu benar. Aku sudah gila karena belum bisa menemuimu secara langsung. Cepatlah istirahat, calon istriku. Sampai bertemu di mimpi."

Setelah panggilan berakhir, Linggar menjatuhkan ponselnya ke atas kasur.

Ia menatap langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca.

Besok sore, ia akan datang ke gym sebagai Linggar, sekretaris yang 'gemoy', sementara pria yang melatihnya adalah pria yang memanggilnya 'calon istri' di ponsel yang lain.

"Bagaimana aku bisa menghadapi ini besok?" bisiknya lirih pada kesunyian kamar.

1
merry yuliana
hmmmmm pertarungan dimulai...kemana hatimu akan berlabuh linggar...sehat dan semangat terus kak..ditunggu crazy upnya
Fitra Sari
lanjut kk
my name is pho: ok kak
besok sahur ya🥰
total 1 replies
falea sezi
lanjut donk
my name is pho: ok kak 🥰
total 1 replies
falea sezi
mending resain pergi jauh
falea sezi
kpn kebongkar jangan bertele tele
falea sezi
cwek munafik gini banyak di fb pasang fto orang buat gaet cowok g jujur ma fisik diri sendiri
falea sezi
jd inget film India yg Rani Mukerji hitrik trs papu siapa ya lupa nama e q
merry yuliana
hmmmm jia you linggar jangan takut pasti ada lelaki yang benar2 melohatmu sebagai dirimu sendiri
Alis Yudha
kenapa aku ikut mewek ya/Whimper/
Nabila
linggar ini kayak aku, kata ibuku duku aku sakit sampai di opnam, harus sering minum obat, padahal eaktu kecil badan ku kecil katanya, karena kebanyakan minum obat sampai sekarang berat badanku bertambah terus, dak tahu mungkin itu sistem metabolismenya berubah sekarang saya umur 38thn dengan bb 115kg, mau nurunin susah banget.memang benar punya badan gemuk itu incecure banget, mau deket ma cowok malu banget kalau dikata2in.
awesome moment
maapkeun. koq jd berharap linggar g bertahan y. biar rangga nyesel. 🤭🤭🤭
kucing kawai
Bagus /Good/
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut KK doubel up donkk 😍😍🙏
awesome moment
bagusnya....linggar stl sadar dri koma, menghilang. ke mana, seterah. dgn keprofesionalannya, dia kn bisa menclok jd tenaga profesional dimana2. buat linggar ketemu lingk yg tpt dan org yg tpt. biar j rangga nyesel bin nyesek. udh ngebully linggar c. biar tau rasane diabaikan. biar tau rasane bertahan dalam sakit tp g bisa ngeluh. stl rangga ngerasain yg dirasain linggar, seterah author wis. kn jodoh ditangan author. seblm.nya...tolong, buat rangga merasakan kesakitan linggar
my name is pho: siap 🥰
total 1 replies
Hesty Rahayu
kapok kamu rangga..syukurin...
Fitra Sari
lanjut lagi kk
awesome moment
blm titik, kan? msh koma ta?😉
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak.
total 1 replies
awesome moment
tebakan hayooo...koma ato titik?
awesome moment
y bgitulah...org kecewa
Fitra Sari
lanjut KK 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!