Clarissa wanita cantik yang sangat ceria, berumur 22 tahun, ia adalah anak perempuan yang kuat dan mandiri.
Ibunya memperlakukannya dengan buruk, ibunya lebih menyayangi anak laki-lakinya. Bahkan ibunya lebih menyayangi menantu perempuannya di banding Clarissa.
Tantangan hidupnya tidak sampai di sana,
Clarissa jatuh cinta pada Zayn Austin, cinta pada pandang pertama.
Namun pria yang Clarissa sukai selalu berwajah datar dan bersikap dingin. Tapi itu semua tidak meredupkan semangat Clarissa untuk mengejar cintanya.
Akankah Clarissa mampu meluluhkan hati Zayn?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bang Dika mengangguk paham setelah mendengarkan penjelasan dari Aditya, Bang Dika pun berjalan masuk ke dalam kontrakan adiknya.
Dika melihat kontrakan adiknya yang mungkin hanya luas 4x6 dan ada kasur yang sudah tertata rapi, Dika mendekati adik perempuannya yang sejak tadi diam.
"Dek...sudah jangan terlalu di pikirkan, istirahat dulu gih," ujar Bang Dika menghawatirkan sang adik.
Aditya pun membawa kakak perempuannya untuk duduk di atas kasur, Aditya menyodorkan sebotol air minum. Sedangkan Bang Dika memeriksa setiap sudut dan bahkan kunci jendela dan pintu.
"Dek, kamu yakin mau ngontrak di sini? " tanya bang Dika, menatap adiknya yang sejak tadi masih diam.
"Ia Bang, Aku sudah bayar untuk satu bulan ini," jawab Clarissa.
Bang Dika mengangguk, lalu berkata, "Jika sudah tenang, mungkin kita harus membeli pakaian untukmu, Dek. "
Clarissa menatap abangnya lalu berkata dengan khawatir, "Mending Abang pulang saja, takut nanti kakak ipar menunggu, aku tidak mau hanya karena aku kakak dan kakak ipar jadi bertengkar. Lagi pula ada Aditya yang menemaniku."
Bang Dika menggeleng lalu berkata, " Dek, kamu itu tanggung jawab Abang, urusan rumah tangga Abang tidak perlu kamu pikirkan, Apakah kamu tidak tahu? Abang, Aditya juga bapak sangat mengkhawatirkan mu, kamu masih kecil Dek, Abang sedikit tidak rela Jika kamu harus ngontrak sendirian."
Clarissa memanyunkan bibirnya, ia sedang sedih. Tapi tiba-tiba jadi kesal pada abangnya yang mengatai ia masih kecil, padahal ia sudah berumur dua puluh dua.
Bang Dika tertawa lalu mengajak acak rambut Clarissa yang memang sudah cukup berantakan sejak tadi.
"Abang jahat," ujar Clarissa justru menangis, sudah sangat lama ia tidak pernah bercanda ataupun saling tanya kabar, setelah bang Dika menikah lima tahun lalu, mereka jadi sangat asing.
Bang Dika duduk di kasur dan memeluk adiknya, lalu berkata, "Apa kamu merindukan Abang? "
"Nggak! " ujar Clarissa lalu tertawa puas saat melihat raut wajah masam abangnya.
.
Dika dan Adit keluar dari kontrakan Clarissa hampir jam 11.00 malam, Bang Dika dan Aditya sudah selesai mengurus keperluan Clarissa, seperti mengantar Clarissa untuk membeli beberapa pasang pakaian, dan keperluan lainnya, mereka pun segera kembali ke rumah setelah menyelesaikan tugas-tugas mereka.
Clarissa langsung terlelap setelah abang dan adiknya pulang, hari ini sungguh melelahkan.
...****************...
Pagi hari
Pagi ini di rumah Pak Malik terlihat begitu sibuk, Pak Malik menyeruput kopinya lalu mengernyitkan alisnya dan menatapi segelas kopi yang rasanya sangat aneh.
Helaan napas terdengar. Tapi pak Malik tak banyak bicara, ia sedang malas bicara pada istrinya, secangkir kopi yang tersedia ia taruh kembali, rasanya sungguh jauh berbeda dengan rasa kopi yang biasa ia minum.
Segelas kopi yang tersedia untuknya setiap pagi adalah buatan Clarissa putrinya, sedangkan saat sore hari pak Malik membuat kopi sendiri, ia tidak pernah meminta istrinya untuk membuatkan kopi, pak Malik sendiri selalu bernisiatif melakukan sendiri selagi ia mampu.
Sudah berapa tahun Ia tidak meminum kopi buatan sang istri, yang kini rasanya tidak jelas entah kurang apa. Karena setelah Clarissa menginjak sekolah menengah pertama, gadis kecil itu selalu berusaha membuatkan kopi untuk pak Malik.
Pagi dan sore selalu membuatkan kopi, dan setelah bekerja di caffe barulah Clarissa hanya membuat kopi saat pagi saja.
Pagi itu Aditya sudah mengenakan seragam sekolahnya, ia pun duduk bersiap untuk sarapan, namun saat melihat nasi goreng yang tersedia, entah kenapa Aditya jadi curiga dengan rasanya, apalagi aromanya sangat jauh berbeda dengan yang biasanya.
Bu Mulan mengambil nasi untuk Aditya, bahkan penampilan bu Mulan tidak serapi biasanya, kali ini sanggul rambutnya sedikit berantakan, dan ada sedikit keringat di keningnya.
Aditya pun dengan ragu mulai sarapan, satu sendok nasi goreng masuk ke mulutnya, namun detik kemudian Aditya segera berlari ke arah wastafel, lalu melepehnya, ia segera berkumur-kumur.
Bu Mulan melirik Adit dengan tak senang, lalu berkata, " Ada apa sih Dit?kamu kok melepeh masakan Ibu. "
Bang Dika dan Pak Malik yang baru saja akan bersiap sarapan, keduanya justru terdiam dan menatapi nasi goreng yang tersedia di atas meja tersebut, keduanya sudah yakin jika nasi goreng yang tersedia permasalah.
" Rasanya aneh banget Bu. "ujar Aditya.
" Masa sih?!"ujar Bu Mulan merasa tak percaya dengan ucapan anak bungsunya, Bu Mulan pun menyendok nasi goreng tersebut lalu memakannya, baru saja masuk ke dalam mulut bu Mulan segera berlari seperti yang dilakukan Aditya tadi, lalu melepehnya dan kumur-kumur.
" Kok asin banget ya?!" ujar bu Mulan merasa tak percaya, karena ia sendiri yang memasaknya.
Pak Malik dan Dika saling tatap keduanya tak jadi sarapan di rumah, mereka pun bergegas berangkat karena hampir terlambat.