17 Agustus 1996.
Bagi Julian "Lian" Pratama, hari ini seharusnya menjadi titik akhir. Di balik senyum sempurna sang Ketua OSIS, jiwanya telah lama kosong. Ia menaiki rooftop sekolah, siap untuk pergi selamanya.
Namun, alih-alih keheningan, yang terdengar hanya bunyi "KLIK" dari sebuah Walkman tua.
Lian terbangun kembali di pagi yang sama. Upacara yang sama. Kebosanan yang sama. Terjebak dalam loop waktu yang tak berujung, dunia Lian perlahan memudar menjadi hitam-putih. Hingga ia menemukan satu anomali: Kara Anjani.
Gadis pecinta musik grunge itu adalah satu-satunya yang tetap berwarna di mata Lian. Anehnya, setiap kali hari berulang, ada detail kecil pada Kara yang tidak ikut terhapus.
Apa hubungan Kara dengan putaran waktu ini? Dan jika Lian berhasil menekan tombol Stop pada kaset misterius itu, apakah ia akan bebas... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vorlagh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Frekuensi Merah
Upacara bubar.
Ribuan siswa bergerak seperti kawanan semut hitam di atas gula pasir putih. Suara mereka berdengung menyakitkan di telinga Lian.
"Panas banget gila..."
"Kantin yuk, haus..."
"Eh, tadi Pak Kepala Sekolah ngomong apa sih..."
Dialog-dialog itu.
Lian hafal.
Dia tahu Riko akan mengajak anak-anak basket ke kantin Pak Umar. Dia tahu Dinda, adiknya, akan merengek minta dibelikan es mambo di gerbang depan. Dia tahu Pak Guru Sosiologi akan menjatuhkan kapurnya di menit ke-15 pelajaran nanti.
Dunia ini bukan dunia nyata. Ini adalah kaset rusak yang terus berputar di bagian chorus yang membosankan.
"Lian! Woy, dicariin Pak Surip di ruang guru!" teriak seseorang dari kejauhan.
Lian menoleh. Seorang siswa berkacamata tebal—Bendahara OSIS—melambai padanya. Sama seperti ingatan "kemarin".
Di putaran sebelumnya, Lian yang penurut akan segera berlari ke ruang guru, tersenyum sopan, dan mengerjakan tugas administratif OSIS sampai sore. Sampai dia muak dan naik ke rooftop.
Tapi kali ini...
Lian memutar tumit sepatunya. Dia berbalik arah, menjauhi koridor ruang guru.
"Bodo amat," gumamnya pelan. "Gue nggak peduli."
Lian berjalan melawan arus kerumunan siswa. Bahunya menabrak beberapa orang, menuai umpatan kaget, tapi Lian tidak berhenti.
Matanya yang tajam dan sedikit kosong itu terkunci pada satu hal.
Di ujung koridor kelas 2 yang agak sepi, ada titik warna itu.
Merah.
Warna merah kusam dari sebuah jepit rambut dan sepatu Converse usang.
Lian mempercepat langkahnya, setengah berlari, takut warna itu akan hilang jika dia berkedip. Jantungnya berdebu kencang, memompa adrenalin ke seluruh tubuhnya yang seharian ini mati rasa.
...----------------...
Lobi Mading Sekolah.
Aroma lem kertas dan spidol permanen menguar di udara.
Tempat ini sepi. Hanya ada papan buletin besar berlapis kaca yang ditempeli berbagai puisi, cerpen, dan info kegiatan sekolah.
Gadis itu berdiri di sana. Sendirian.
Dia sedang berjinjit, berusaha menempelkan sebuah puisi di bagian paling atas mading yang sulit dijangkau. Tangan kanannya memegang kertas puisi berwarna merah jambu, tangan kirinya memegang selotip.
Lian berhenti tiga meter di belakangnya. Dia mengatur napasnya.
Di mata Lian, pemandangan ini surealis.
Dinding sekolah berwarna abu-abu pudar. Lantai keramik putih kusam. Bahkan cahaya matahari yang masuk lewat ventilasi terlihat pucat.
Hanya gadis itu yang High Definition.
Lian bisa melihat jelas tekstur rambut hitamnya yang agak bergelombang, kerutan di rok abu-abunya, dan noda tinta biru kecil di ujung jari telunjuknya.
Dia begitu nyata di tengah dunia kartun hitam-putih ini.
"Miring," kata Lian tiba-tiba.
Gadis itu terlonjak kaget.
Dia hampir menjatuhkan gulungan selotipnya. Dengan panik dia menoleh. Kuncir kuda merahnya ikut berayun.
Mata cokelat terangnya membulat sempurna saat melihat siapa yang menegurnya.
Julian Pratama.
Ketua OSIS.
Pangeran sekolah.
Berdiri berantakan dengan dasi miring dan kemeja keluar, menatapnya intens.
"H-hah?" Suara gadis itu kecil, sedikit serak.
Lian melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka. Dia tidak peduli soal sopan santun lagi. Dia butuh jawaban.
"Kertasnya," tunjuk Lian dengan dagunya. "Miring ke kiri."
Gadis itu buru-buru melihat kembali ke mading. Wajahnya memerah—rona merah alami di pipinya yang terlihat sangat jelas bagi Lian—karena malu.
"Oh... eh, iya. Makasih, Kak."
Tangannya gemetar saat mencoba membenarkan posisi kertas itu. Tapi karena gugup, selotipnya malah menempel di jari-jarinya sendiri. Dia terlihat kikuk, berantakan, dan cemas.
Sangat manusiawi.
Lian mendengus pelan. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat sedikit. Bukan senyum palsu untuk kamera, tapi senyum geli yang tulus.
Dia maju selangkah lagi, berdiri tepat di samping gadis itu.
Lian mengambil alih kertas puisi itu dari tangan si gadis. Jemari mereka bersentuhan sedetik.
Sengatan listrik.
Lian tersentak pelan. Ada sensasi hangat yang menjalar dari ujung jarinya ke seluruh lengan, seperti darah yang tiba-tiba mengalir lagi di pembuluh yang beku.
Untuk sesaat, Lian melihat warna dinding di belakang mading itu berubah dari abu-abu menjadi krem kusam—warna aslinya—sebelum kembali memudar saat dia melepaskan sentuhan.
Dia.
Dia obatnya.
Lian menempelkan puisi itu dengan rapi. Sekali tekan. Sempurna.
"Makasih..." Gadis itu bergumam lagi, matanya tidak berani menatap Lian lama-lama. Dia sibuk memilin ujung roknya.
"Lo anak jurnalistik?" tanya Lian basa-basi, padahal dia tidak pernah peduli soal ekskul itu sebelumnya.
Gadis itu mengangguk kaku. "Iya, Kak. Bagian... mading dan puisi."
"Nama lo?"
Gadis itu mendongak ragu. Matanya mencari tanda-tanda ejekan di wajah Lian, tapi dia hanya menemukan sorot mata yang lelah dan... ingin tahu?
"Kara," jawabnya pelan. "Kara Anjani."
Kara.
Lian mengulang nama itu dalam hati. Rasanya aneh. Seperti menemukan judul lagu yang selama ini dia cari melodinya tapi lupa liriknya.
Lian melirik ke pinggang Kara. Ada Walkman yang tersembunyi di saku roknya, kabel earphone-nya menjuntai sedikit keluar. Persis seperti Walkman misterius yang Lian temukan di lokernya pagi ini. Tipe yang sama. Merek yang sama.
Lian menatap mata Kara lurus-lurus, mencoba menembus pertahanan gadis itu.
"Kara," panggil Lian. Suaranya rendah.
"Lo ngerasa nggak sih... hari ini udah pernah terjadi sebelumnya?"
Itu pertanyaan gila.
Kalau Kara orang normal, dia akan menganggap Lian sinting. Atau sakit jiwa.
Kara terdiam. Matanya berkedip cepat. Ada kilatan emosi aneh di sana. Bukan bingung. Bukan takut. Tapi... waspada.
Suasana hening seketika. Hanya suara detak jam dinding di kejauhan yang terdengar.
"Maksud Kak Lian... déjà vu?" tanya Kara hati-hati. Suaranya terdengar terlalu tenang.
Lian menyipitkan mata. Reaksi itu terlalu tertata.
Sebelum Lian sempat mendesak lebih jauh, suara derap langkah kaki terdengar gaduh dari ujung lorong.
"Woy! Lian! Di sini lo rupanya!"
Suara Riko memecah gelembung keheningan di antara mereka. Dunia seketika menjadi bising dan monokrom total kembali.
Sosok Kara yang tadinya tajam dan berwarna, kini sedikit memudar, menyatu dengan latar belakang sekolah yang suram.
Kara langsung mundur, membuat jarak aman. Dia menunduk dalam-dalam. "Permisi, Kak," gumamnya cepat, lalu setengah berlari kabur menuju tangga, meninggalkan Lian yang terpaku dengan tangan yang masih terasa hangat bekas sentuhan tadi.
Lian tidak mengejarnya.
Dia hanya menatap punggung gadis itu menghilang di tikungan tangga.
Riko sampai di sebelahnya dengan napas ngos-ngosan. "Gila lo, dicariin satu sekolahan malah mojok di depan mading. Ngapain lo?"
Lian tidak menjawab pertanyaan Riko. Dia malah menatap puisi yang baru saja ditempel Kara di mading. Kertas merah jambu itu satu-satunya yang masih terlihat berwarna samar di mata Lian.
Judul puisinya: "Rekaman Ulang".
Lian membacanya.
Jika hari ini adalah kaset yang kusut,
Dan besok adalah lagu yang tak pernah diputar,
Izinkan aku menekan tombol pause,
Dan hidup di jeda antar lagu selamanya.
Darah Lian berdesir dingin.
Puisi itu... bukan puisi remaja galau biasa.
Itu bukan kebetulan.
"Rik," kata Lian tanpa menoleh, suaranya terdengar jauh.
"Apa?"
"Gue rasa... gue baru aja nemu alesan buat nggak bolos upacara besok."
"Besok?" Riko mengerutkan kening bingung. "Besok kan Minggu, bego. Mana ada upacara?"
Lian tersenyum miris. Senyum yang penuh rahasia gelap.
Buat gue, Rik... besok adalah hari Senin lagi. Besok adalah hari ini lagi.
Dan Lian tahu persis ke mana dia akan pergi begitu matanya terbuka di pagi "esok":
Mading sekolah. Menunggu Kara Anjani.