NovelToon NovelToon
Satu Wajah Dua Kehidupan

Satu Wajah Dua Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Tak ada yang menyangka bahwa seorang jenius kepolisian seperti Song Lang akan lenyap dari dunia yang pernah ia kuasai. Namun setelah sebuah peristiwa kelam yang dipicu oleh musuh bebuyutannya, ia menghilang tanpa jejak—dan muncul kembali bertahun-tahun kemudian dengan nama baru: Chen Shi, seorang sopir biasa di kota yang tak pernah berhenti bergerak.
Chen Shi hanya ingin hidup tenang, jauh dari sorotan, jauh dari masa lalu. Namun takdir seolah menolak memberinya ketenangan. Suatu malam, sebuah kasus pembunuhan mengusik hidupnya, dan semua bukti justru mengarah kepada dirinya. Dalam sekejap, orang yang berusaha melupakan dunia kriminalitas kembali menjadi pusat perhatian.
Dipaksa membuktikan bahwa ia bukan pelaku, Chen Shi bekerja sama dengan seorang polisi muda yang gigih. Namun semakin dalam mereka menggali, semakin jelas bahwa kasus tersebut bukanlah kebetulan. Ada tangan-tangan gelap yang bergerak, dan jejaknya terasa terlalu familiar bagi Chen Shi. Terlalu mirip dengan seseorang ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Pacar Kedua

Lin Dongxue mendengarkan cerita Chen Jun dan tanpa berpikir panjang bertanya, “Kenapa kalian berdua tidak—”

“Ahem!” Chen Shi langsung memotong dan kembali fokus pada Chen Jun.

“Bagaimana kalian pertama kali saling mengenal?”

“Kami bertemu melalui sebuah gim seluler jejaring sosial—”

“Aku tidak menanyakan itu. Maksudku, apakah kalian sudah mengetahui penampilan satu sama lain sebelum bertemu langsung untuk pertama kalinya?”

“Karena avatar dalam gim berupa karakter kartun, aku tidak tahu wajah aslinya. Kami memiliki waktu istirahat yang sama, jadi sering bermain bersama. Kemudian, dia mengusulkan untuk bertemu. Pertemuan pertama gagal karena dia tiba-tiba ada urusan mendadak. Seminggu kemudian kami bertemu di sebuah kedai kopi. Kami langsung merasa cocok dan akhirnya mulai berpacaran.”

Chen Shi mengusap dagunya berulang-ulang, berpikir cukup lama.

“Seperti apa jadwal istirahatmu setiap hari?”

“Perusahaan cukup sibuk, jadi aku mengambil waktu istirahat satu jam di siang hari. Aku tidak punya kebiasaan tidur siang. Aku pulang kerja jam sembilan malam. Hari liburku hari Rabu—hari liburnya juga sama.”

“Terima kasih atas kerja samanya.”

Chen Shi mengatakan kalimat standar itu dan mereka pun meninggalkan kamar. Saat mereka turun, Lin Dongxue berdecak kesal.

“Kau menggali semua privasi orang itu tapi tidak memberi satu kata pun untuk menenangkannya?”

“Menenangkannya? Kau ini polisi, bukan psikolog.”

“Kau ini dingin dan tidak berperasaan! Tapi lelaki itu cukup setia. Sudah tahu dia begitu, tapi tetap tidak mau putus.”

“Dalam hukum negara kita tidak ada aturan tentang perselingkuhan. Tingkat toleransi setiap orang berbeda. Ada yang sekali saja tidak bisa menerima. Ada juga yang kepalanya bisa ditutupi satu kebun pun tetap tidak peduli.”

“Kalau aku, sekali saja sudah tidak bisa diterima...”

Chen Shi tiba-tiba berhenti melangkah.

“Tunggu di sini sebentar. Ada satu pertanyaan yang lupa kutanyakan.”

Chen Shi berbalik dan berlari kembali ke atas. Sementara menunggu, ponsel Lin Dongxue berdering. Itu Xu Xiaodong.

“Kau di mana?” tanya Xu Xiaodong.

“Itu bukan urusanmu.”

“Hehe, aku menemukan petunjuk besar tentang tersangka. Menurut teman si sopir, tersangka itu baru bekerja sebagai pengemudi kurang dari setahun. Bahkan SIM-nya baru dibuat setahun lalu.”

“Lalu sebelum menjadi sopir, apa pekerjaannya?”

“Tahun 2015 dia dipenjara di kota lain. Setelah bebas, dia seperti menghilang. Tidak ada catatan apa pun tentangnya. Bahkan ada rumor dia sudah mati. Lalu tiba-tiba muncul di Long’An tahun 2018, sendirian.”

“Sendirian? Bukankah dia bilang masih punya ibu di rumah?”

“Dia bilang begitu? Faktanya, keluarganya sudah tidak ada. Bahkan alamat kampung yang dia sebut tidak memiliki data dirinya. Orang itu seolah muncul dari udara kosong.”

Langkah Chen Shi terdengar mendekat menuruni tangga. Lin Dongxue cepat-cepat menutup telepon, lalu memandang Chen Shi dengan ekspresi yang tak mampu ia sembunyikan.

“Ada apa?” Chen Shi tersenyum melihat wajahnya. “Kenapa ekspresimu aneh begitu?”

“Tidak ada apa-apa. Kita ke mana sekarang?”

“Kau pikir ke mana?”

Lin Dongxue memutar otaknya.

“Menyelidiki hubungan sosial Gu Mengxing. Termasuk… ‘teman kencannya’?”

Chen Shi tersenyum tipis.

“Apa kita bisa menyelidiki sampai sejauh itu? Lebih baik langsung ke tempat yang pasti: rumah dan kantornya.”

Setelah masuk mobil, Lin Dongxue beberapa kali mencuri pandang ke arah Chen Shi. Ia tak habis pikir. Rekannya di kantor menyebut Chen Shi mantan narapidana dengan catatan kejahatan yang panjang—tetapi pria yang duduk di sampingnya sama sekali tidak memiliki aura preman. Justru sebaliknya, ia terlihat tenang, tajam, dan memiliki rasa keadilan yang kuat.

Terlebih lagi, kemampuannya menganalisis kasus sangat profesional. Tidak mungkin ini hanya hasil otodidak.

Apa yang sebenarnya terjadi pada pria ini dalam tiga tahun yang hilang dari catatan identitasnya?

Mereka tiba di perusahaan farmasi tempat Gu Mengxing bekerja. Meja kerja Gu Mengxing belum dibereskan. Di atasnya terletak sebuket mawar merah.

“Kelihatannya gadis ini cukup populer,” ujar Chen Shi.

Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Sebagian besar karyawan keluar untuk makan sehingga ruang kantor kosong.

Chen Shi duduk di meja Gu Mengxing dan mulai memeriksa barang-barangnya. Lin Dongxue memperingatkan cepat-cepat,

“Hati-hati sidik jarinya!”

“Aku pakai sarung tangan.”

Chen Shi mengangkat tangan—sepasang sarung tangan pembersih yang ia ambil dari gudang peralatan kantor.

Ia membuka laci. Beberapa kotak obat tampak tersusun rapi.

“Obat ini sama seperti yang ada di rumah Chen Jun,” ujar Chen Shi. “Obat untuk mengatasi gonore.”

Chen Shi menelusuri meja kerja itu dengan seksama.

“Karakternya tampak ceria, mudah percaya, suka hal-hal baru. Tapi hatinya juga keras kepala. Tipe yang pandai membenarkan diri sendiri.”

“Kau menyimpulkan semua itu dari… meja kerja?” tanya Lin Dongxue tak percaya.

Chen Shi menunjuk benda-benda di meja.

“Meja kerja menunjukkan kepribadian seseorang. Lihat tata letaknya: semua ditaruh untuk akses cepat, tidak banyak halangan. Buku yang sedang dibaca dibiarkan terbuka sembarangan, penandanya hanya bungkus pembalut. Itu menunjukkan dia tidak rumit dan tidak malu. Tulisan di memo itu seperti naga melompat atau burung phoenix menari—berantakan tetapi bersemangat. Namun ujung goresan bolpoinnya keras. Itu tanda keras kepala.”

Lin Dongxue terpukau. Chen Shi tertawa kecil.

“Aku ini sopir. Bertemu banyak orang setiap hari. Wajar kalau aku cukup mahir membaca karakter orang.”

Saat itu seorang pria muda masuk membawa kotak makan. Melihat dua orang duduk di meja almarhumah, ia langsung memandang penuh curiga.

“Apa yang kalian lakukan? Siapa yang me ngizinkan masuk dan mengacak-acak barang orang lain?”

Lin Dongxue menunjukkan identitas kepolisian. Si pria langsung melembut.

“Oh, polisi rupanya. Apa kalian sedang menyelidiki penyebab kematiannya?”

“Kami sedang menyelidiki hubungan sosialnya,” jawab Chen Shi. Ia melihat pria itu melirik bunga di meja. “Bukankah bunga ini darimu?”

“B—bukan… ini dibeli bersama rekan-rekan kantor. Semua orang sangat terpukul. Dia orang yang baik…”

“Hubungan Anda dengan almarhum?”

“Kami… hanya rekan kerja biasa.”

“Oh begitu?” Chen Shi mengambil kartu ucapan di buket bunga dan membandingkan tulisan namanya dengan nama yang tertera di kotak makan si pria.

“Tulisannya sama. Secara logika, buket bunga ini dari Anda. Masa rekan biasa memberikan bunga sebanyak ini?”

“Aku…”

“Tidak apa-apa. Kita bicara saja di sini.”

Wajah pemuda itu memerah.

“Aku… kami memang sempat dekat.”

“Apa?!” Lin Dongxue terperanjat.

“Kami berhubungan selama setengah tahun. Sejujurnya, sejak masuk perusahaan, aku menyukainya. Dia cantik dan lembut. Hampir semua pria di kantor menganggapnya sebagai dewi. Aku tidak pernah berharap dia akan membalas perasaanku. Suatu kali ketika kami karaoke, aku mabuk sedikit dan tanpa sadar mengungkapkan perasaanku. Tidak kusangka dia menerimanya.”

Wajahnya memucat penuh kesedihan.

“Kami mulai sering berhubungan, tapi… ada hal yang aneh. Dia tidak pernah bicara denganku di kantor. Kami tidak pernah pulang bersama. Kami hanya bertemu diam-diam sesekali pada hari Minggu. Tapi aku tetap puas dengan itu. Setelah dia meninggal… barulah aku tahu dia punya pacar. Itu sangat memukulku. Tapi aku benar-benar mencintainya. Bunga ini… sebagai penghormatan terakhir dariku.”

“Cinta yang setia,” kata Chen Shi sambil tersenyum tenang. “Boleh aku bertanya hal pribadi? Apa akhir-akhir ini kau sakit?”

“Tidak.”

“Kau tidak terkena penyakit menular seksual?”

Pemuda itu langsung berdiri dan menjatuhkan kotak makan.

“Kurang ajar! Apa maksudmu?!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!