NovelToon NovelToon
The Shadowed Psyche

The Shadowed Psyche

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Balas Dendam
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: De Veronica

Sinopsis Bab

Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HUNTER LISA

"Kamu baik-baik saja?" tanya Hunter sambil memasukkan pistolnya kembali.

"Iya, aku baik-baik saja," jawab Lisa gugup.

Hunter mengulurkan tangannya. "Mari, aku bantu."

"Terima kasih," ucap Lisa tulus sambil meraih tangan Hunter dan mencoba berdiri, tapi langsung terduduk lagi.

"Aww!" ringisnya kesakitan.

Hunter berjongkok di depannya. "Kenapa?"

"Pergelangan kakiku... sepertinya terkilir," jawab Lisa sambil menunduk, tidak berani menatap Hunter.

Hunter melajukan mobil ke rumahnya. Tak lama mereka sampai dan Hunter kembali mengendong Lisa masuk ke dalam.

Astaga, jerit Lisa dalam hati sambil memeluk leher Hunter erat. Kemarin baru aja aku ngagumi ketampanannya... sekarang dia ngendong aku kayak pengantin...

Hunter mendudukkannya di sofa dengan hati-hati.

"Tunggu sebentar," ucapnya datar lalu masuk ke kamar.

Dia nggak banyak bicara... sama persis kayak Alexey, gumam Lisa sambil menatap punggung Hunter yang menjauh.

Beberapa menit kemudian Hunter keluar dengan kotak P3K, berjongkok di depan Lisa dan meraih kakinya.

"Jangan, Tuan! Aku bisa obati sendiri," ucap Lisa cepat sambil menarik kakinya. "Berikan saja kotak P3K-nya."

"Yakin?"

"I-iya... aku bisa kok..." jawab Lisa sambil menghindari tatapan Hunter.

Hunter langsung menekan sedikit pergelangan kakinya—

"AWW! Sakit, Tuan!" ringis Lisa sambil memegangi bahu Hunter.

"Masih yakin?" tanya Hunter lagi sambil mengangkat alis.

Dengan hati-hati Hunter menggerakkan sedikit kaki Lisa, lalu membalutnya dengan perban elastis. Lisa terus memperhatikan sambil tersenyum hingga saat Hunter memegang betisnya, ia merasa sangat panas.

"S-sudah selesai?" tanya Lisa gugup.

Hunter tidak menjawab. Tangannya malah mengelus lembut betis Lisa perlahan, hingga pandangan mereka bertemu.

"Sudah," jawabnya pelan.

"Terima kasih banyak, Tuan," ucap Lisa tulus sambil tersenyum lega. "Kalau nggak ada kamu tadi, aku nggak tau bakal gimana..."

Tapi Hunter justru menatapnya serius. "Kamu kenal mereka?"

"Nggak, sama sekali," jawab Lisa sambil menggeleng. "Aku cuma kebetulan lewat aja..."

Hunter menyipitkan mata. "Untuk apa wanita seperti kamu... ke gang kumuh sperti itu?"

Wajah Lisa tiba-tiba berubah sedih, senyumnya pudar.

"Aku... mau nemuin Ibu," ucapnya pelan. "Dia tinggal di gang itu."

Hunter menatapnya. "Jadi ibumu tinggal di daerah sini?"

"Iya, Tuan..." jawab Lisa sambil menunduk. "Aku sudah sering ngajak Dia pindah ke tempatku... tapi Ibu selalu nolak. Katanya... nggak mau ninggalin rumah itu."

Hunter diam sejenak, lalu berkata pelan. "Mungkin ibumu punya alasan kuat... untuk tetap tinggal di sana."

"Itu semua karena... kenangan buruknya," ucap Lisa tanpa sadar, lalu langsung menutup mulut.

Hunter menatapnya tajam. "Kenangan buruk?"

"T-tidak ada! Maaf, aku salah bicara..." Lisa buru-buru menggeleng sambil berdiri meski kakinya masih sakit. "Sudah mau malam... aku harus pulang."

"Kamu nggak bisa pulang dengan keadaan begitu," cegah Hunter sambil ikut berdiri.

"Nggak apa-apa kok, Tuan," ucap Lisa sambil mengambil ponselnya dengan tangan gemetar. "Aku pesan taxi aja..."

Lisa mencoba melangkah pergi—tapi kakinya langsung melipat dan ia terjatuh di depan Hunter.

"Aww..." ringisnya kesakitan sambil memegangi pergelangan kaki.

Wanita keras kepala, gumam Hunter dalam hati.

"Kakinya sakit..." cemberut Lisa sambil menatap Hunter dengan mata berkaca-kaca.

Hunter menghela napas dan kembali mengendong Lisa. Wanita itu mengalungkan tangannya di leher Hunter tapi tidak berani menatap wajahnya.

"Malam ini kamu nginap di sini," ucap Hunter sambil berjalan ke kamar tamu. "Besok aku yang antar."

"Nggak bisa, Tuan!" tolak Lisa cepat. "Aku nggak enak... udah merepotkan kamu..."

Hunter tertawa kecil. "Kamu baru sekarang ngerasa nggak enak? Padahal udah repotkan aku dari tadi sore."

Lisa cemberut lagi, wajahnya merah padam.

Kenapa dia bilang begitu sih... jadi malu tau, batinnya kesal. Dasar cowok aneh...

Hunter membaringkan Lisa di ranjang dengan hati-hati.

"Tidur di sini malam ini," ucapnya sambil menarik selimut. "Dan jangan berani pergi sendirian lagi."

"Tapi... nggak masalah aku tidur di sini?" tanya Lisa tidak enak.

"Tidak."

"Kalau aku tidur di sini... Tuan tidur dimana?"

"Di kamarku." Hunter berhenti, lalu menatapnya dengan senyum tipis. "Kenapa? Kamu minta aku tidur disini?"

"NGGAK!" Lisa langsung menggeleng keras, wajahnya merah padam. "Keluar! Keluar sekarang!"

Hunter tertawa pelan dan keluar dari kamar dengan santai, meninggalkan Lisa yang menggerutu sendiri.

"Menyebalkan..." gumamnya sambil menarik selimut menutupi wajah.

Malam semakin larut. Haerim dan Alexey baru tiba di apartemen.

"Akhirnya pulang juga!" ucap Haerim ceria sambil melempar tasnya ke sofa. "Jauh banget sih Rusia ke Icheon... tapi puas juga sih perjalanannya."

Alexey memeluknya dari belakang dan mencium rambut Haerim.

"Istirahat," bisiknya lembut.

"Mandi dulu deh," tolak Haerim sambil berbalik menghadapnya. "Badanku udah lengket kayak lem nih..."

"Kamu nggak ngajak aku?" goda Alexey sambil tersenyum tipis.

Haerim tertawa dan menepuk-nepuk pipi Alexey dengan gemas.

"Gimana aku nggak ngajak singa jantanku mandi?" ucapnya sambil mencubit pipi Alexey pelan. "Nanti kamu ngamuk lagi kan?"

Keduanya masuk ke kamar mandi dan tak lama keluar dengan jubah mandi. Haerim langsung menjatuhkan diri di kursi meja rias.

"Keringkan rambutku." Ia mengangkat tangannya sebentar lalu menjatuhkannya dramatis. "Tanganku tidak bisa digerakkan."

Alexey meraih pengering rambut tanpa protes dan Haerim meliriknya lewat cermin, menahan tawa.

Perhatian sekali.

"Sayang," panggil Haerim tiba-tiba.

Alexey berhenti. "Sayang?"

"Iya. Mulai sekarang panggilannya itu."

"Kenapa?"

Haerim mengangkat bahu. "Lebih hangat aja." Ia menoleh sebentar. "Oh, dan kamu juga harus memanggilku begitu."

"Bagaimana kalau aku tidak mau?"

Haerim langsung menunduk, cemberut. "Ya udah, nggak usah kalau nggak mau."

Alexey memutar kursinya, berjongkok, lalu mencium bibirnya sekilas. "Sayang." Matanya menatap Haerim. "Begini?"

Haerim terkekeh. "Iya. Enak banget dengarnya." Ia menahan senyum. "Sekali lagi."

"Sayang."

Haerim langsung mengalungkan tangannya ke leher Alexey dan mencium kedua pipinya bergantian.

Jauh di sebuah negara di benua Amerika, Seo-hoon akhirnya berhenti berlari.

Ia melangkah masuk dan sekelompok orang bersenjata berjajar di kedua sisinya. Di ujung ruangan, seorang pria berdiri menunggu.

"Tuan Moura." Seo-hoon menyapa.

"Seo-hoon." Moura membalas santai. "Jinhwa sudah mengonfirmasi kedatanganmu lebih dulu."

"Ada sedikit masalah di Moskow."

Moura tersenyum tipis. "Ada anjing kecil yang mengejarmu?"

"Ya."

"Di sini kamu aman." Moura menatapnya datar. "Tidak ada yang bisa menyentuhmu. Ini wilayah kekuasaanku."

Moura mendorong segelas minuman ke hadapan Seo-hoon. "Tenangkan dirimu dulu."

Seo-hoon meraihnya dan meneguk sebentar. "Terima kasih banyak, Tuan Moura."

"Bukan hanya terima kasih yang aku butuhkan." Moura bersandar di kursinya. "Berlian yang kamu cari bersama keluarga Kim... bagaimana perkembangannya?"

"Begitu harta itu ditemukan, Tuan Moura akan mendapat bagiannya. Itu sudah pasti." Seo-hoon meletakkan gelasnya dan menatap Moura.

"Tapi ada satu hal yang aku minta. Pria yang mengejarku di Moskow... aku ingin Tuan Moura mencari tahu siapa dia dan menghabisinya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!