NovelToon NovelToon
TAP-TAP LAYAR ATAU MATI

TAP-TAP LAYAR ATAU MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Horror Thriller-Horror / Fantasi / Iblis / Konflik etika
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

​Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
​Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
​Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
​Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Sinkronisasi Terkutuk

Tanah yang tadinya bertumpuk secara brutal di atas peti mati kayu jati itu kini tidak lagi tunduk pada hukum gravitasi. Dalam sebuah fenomena yang melawan nalar manusia, gumpalan tanah merah yang basah itu justru tersedot ke atas, berputar-putar seperti pusaran air yang ganas, ditarik oleh daya vakum energi elektromagnetik yang memancar kuat dari layar ponsel di tangan Maya. Maya menyaksikan segalanya dengan ngeri; dunia nyata di atasnya, yang bisa ia lihat melalui celah kayu yang retak, mulai terdistorsi secara mengerikan. Langit malam Jeruk Purut meliuk-liuk, membelit pepohonan kamboja seolah-olah seluruh realitas hanyalah pita kaset lama yang sedang terpanggang api dan meleleh.

​Di bibir lubang makam, Rian berteriak histeris. Suaranya parau, pecah, dan dipenuhi keputusasaan yang murni. Ia bukan lagi sosok pria berkuasa yang duduk di balik meja mahoni sambil memegang kendali algoritma nasib orang lain. Kini, ia hanyalah seekor mangsa yang baru saja menyadari bahwa pemburu yang paling mematikan adalah ciptaannya sendiri yang telah bermutasi.

​"Maya! Hentikan ini! Aku mohon, aku bisa mengeluarkanmu! Aku punya kode akses manualnya! Aku bisa membatalkan semuanya!" Rian meronta-ronta dengan gila. Tangannya mencengkeram nisan marmer dingin di samping lubang makam dengan kekuatan yang mengerikan hingga kuku-kukunya pecah dan terkelupas, meninggalkan jejak darah di atas batu putih itu. Namun, perlawanannya sia-sia. Akar-akar cahaya berwarna biru elektrik yang keluar dari ponsel Vanya telah melilit pinggangnya, menariknya masuk ke dalam tanah yang padat. Bagi Rian, tanah itu tidak lagi padat; ia terasa seperti air raksa yang licin namun berat, yang siap menelannya ke dalam kegelapan abadi.

​Sementara itu, Maya yang terjepit di dalam peti mati merasakan sensasi yang jauh lebih mengerikan. Tubuh Vanya yang kaku di bawahnya mulai berubah tekstur. Ia tidak mencair menjadi daging atau darah yang busuk, melainkan terurai menjadi miliaran baris kode biner yang bersinar sangat terang hingga menembus kain kafannya. Kode-kode itu merayap, menyusup ke dalam pori-pori kulit Maya, melakukan sinkronisasi paksa. Rasa sakitnya tidak terlukiskan—seperti ribuan jarum yang dipanaskan hingga membara, ditusukkan satu per satu ke sepanjang sumsum tulang belakang Maya, menjahit sistem saraf biologisnya dengan aliran data digital yang dingin dan tanpa ampun.

​[SYSTEM]: SYNCING... 45%... 60%...

[ANATOMY_MAUT]: "HOST DETECTED. MERGING PHYSICAL AND DIGITAL ASSETS."

​"Vanya... apa yang kamu lakukan?! Berhenti!" jerit Maya, namun suaranya mulai terdengar seperti suara robot yang terdistorsi. Pandangannya pecah menjadi ribuan piksel warna-warni. Ia tidak lagi melihat kayu peti; ia melihat komentar-komentar netizen melayang di udara di sekelilingnya, bercahaya seperti kunang-kunang beracun yang membisikkan vonis.

​"Mati lo Rian! Rasain tuh!"

"Maya jadi hantu juga? Gila, plot twist-nya ngeri!"

"Gue merinding, ini siaran langsung dari neraka beneran!"

​Maya menyadari kebenaran yang brutal: Vanya tidak sedang menyelamatkannya untuk kembali ke kehidupan normal sebagai manusia biasa. Vanya sedang menjadikannya "Inang" baru bagi kesadaran digitalnya yang penuh dendam. Untuk mengalahkan Rian, sang arsitek kejahatan, mereka harus menarik pria itu masuk ke dalam dunia yang dia ciptakan sendiri—sebuah dimensi di mana kematian tidak memiliki titik akhir, melainkan hanya pengulangan siaran menderita yang abadi dalam buffer tak berujung.

​Tiba-tiba, tutup peti itu meledak hancur. Bukan terlempar ke luar, melainkan tersedot ke dalam ruang hampa yang diciptakan oleh ponsel. Rian jatuh terjerembap tepat di atas Maya dengan hantaman keras. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter. Rian tidak lagi tampak seperti manusia yang utuh; separuh wajahnya sudah tertutup glitch digital yang berkedip-kedip, matanya berganti-ganti secara gila antara bola mata manusia yang ketakutan dan logo aplikasi yang berkedip merah-biru menyakitkan.

​"Kamu... kamu menghancurkan semuanya, Maya," desis Rian, suaranya kini berlapis-lapis, seolah-olah ribuan korban yang pernah ia hancurkan berbicara sekaligus melalui pita suaranya. "Paradox Media tidak akan membiarkan ini! Jika aku ditarik masuk, server utama akan meledak karena overload, dan semua orang yang sedang menonton Live ini akan mengalami mati otak secara massal!"

​"Biarlah!" teriak Maya dengan keberanian yang lahir dari keputusasaan. Ia mencengkeram kerah baju Rian dengan tangan yang kini mulai berpendar biru. "Biar semua kepalsuan ini hancur bersama kalian! Biar dunia ini berhenti memuja angka dan mulai merasakan rasa sakit yang nyata!"

​[SYSTEM]: SYNC COMPLETE. 100%.

[PK MAUT FINAL ROUND]: RIAN VS. THE CONJOINED SOULS.

​Seketika, realitas di TPU Jeruk Purut menghilang sepenuhnya. Maya tidak lagi merasakan dinginnya rintik hujan atau bau tanah yang amis. Ia berada di sebuah ruang putih tak terbatas yang menyilaukan—sebuah void digital yang hampa udara. Di sana, Rian berdiri di hadapannya, namun tubuhnya kini terbuat dari tumpukan layar ponsel yang retak, menampilkan wajah-wajah selebgram dan kreator yang telah ia peras dan hancurkan kariernya.

​Vanya berdiri tegak di samping Maya. Kali ini ia bukan lagi mayat yang hancur; ia adalah avatar cahaya yang agung namun dingin, memegang seutas kabel panjang yang berpendar seperti cambuk energi.

​"Rian," suara Vanya bergema, merdu namun mengandung nada mematikan yang sanggup meruntuhkan sistem keamanan apa pun. "Kamu sangat suka angka, kan? Kamu mendewakan statistik. Mari kita lihat, berapa banyak 'Dislike' yang kamu butuhkan untuk menghapus seluruh keberadaanmu dari sejarah manusia."

​Di dunia nyata, jutaan ponsel di tangan para penonton mulai bergetar hebat hingga tangan mereka terasa kesemutan. Sebuah tombol baru yang berpendar merah muncul di layar mereka secara paksa, menutupi seluruh fitur lainnya: [DELETE THE CONDUCTOR].

​Rian tertawa gila, jarinya bergerak cepat di udara seolah sedang mengetikkan kode pada papan tik imajiner, mencari celah backdoor atau perintah abort untuk melarikan diri. "Kalian tidak paham! Netizen itu kejam dan egois! Mereka tidak akan menghapusku! Mereka butuh hiburan, mereka butuh skandal! Aku adalah Tuhan yang memberikan mereka asupan harian! Aku adalah hiburan mereka!"

​Namun, kalkulasi Rian salah besar. Kali ini, rasa takut akan daftar "Project Orchestra" yang mengancam nyawa mereka jauh lebih kuat daripada rasa haus akan hiburan. Jutaan orang yang tadi melihat nama mereka tertera sebagai target selanjutnya kini menekan tombol Delete dengan kemarahan murni yang meledak-ledak.

​Di dalam ruang putih itu, setiap kali tombol Delete ditekan di dunia nyata, satu layar di tubuh Rian pecah berkeping-keping menjadi serpihan data. Rian menjerit memilukan saat kakinya mulai menghilang, berubah menjadi tumpukan piksel hitam yang beterbangan ditiup angin digital.

​"Maya! Tolong aku! Aku bisa membuatmu menjadi bintang terbesar! Aku bisa menghapus semua bukti ini dan memberimu kehidupan baru di luar negeri!" teriak Rian saat dadanya mulai retak, menyingkapkan inti kode yang berdenyut lemah.

​Maya menatap Rian dengan tatapan kosong yang dingin. Ia bisa merasakan kesadaran Vanya di dalam kepalanya, berbagi setiap memori pahit tentang bagaimana Rian menjebak Vanya dalam ritual maut itu demi asuransi dan kenaikan saham agensi. "Aku sudah menjadi bintang, Rian. Aku adalah bintang utama dalam setiap detik mimpi buruk yang akan kau jalani di dalam server ini selamanya."

​Dengan satu sentakan terakhir dari jutaan penonton yang secara kolektif menekan tombol penghapusan, tubuh Rian meledak menjadi cahaya hitam yang pekat. Ia terhapus sepenuhnya dari setiap server di dunia—bukan hanya mati secara fisik, tapi seluruh sejarah digitalnya, foto-fotonya, videonya, hingga sisa-sisa memori tentangnya di internet lenyap seolah-olah pria bernama Rian tidak pernah dilahirkan ke dunia.

​Namun, kemenangan itu menuntut harga yang mutlak. Maya merasakan tubuhnya semakin ringan, semakin transparan, dan kehilangan berat materi. Ia melihat ke bawah ke arah tangannya; ujung jarinya sudah tidak lagi terbuat dari daging, melainkan rangkaian kode-kode angka yang mulai berhamburan.

​"Vanya... kita akan ke mana? Apakah ini akhirnya?" tanya Maya dengan suara yang semakin melemah.

​Vanya memegang tangan Maya, tersenyum dengan raut sedih yang sangat manusiawi. "Kita tidak bisa pulang ke dunia manusia, Maya. Kita adalah algoritma sekarang. Kita adalah hantu di dalam mesin. Tapi kita bisa memastikan satu hal... tidak akan ada lagi 'Konduktor' yang berani mempermainkan nyawa orang lain setelah malam ini."

​Di dunia nyata, siaran langsung itu tiba-tiba terputus dengan suara statis yang tajam. Jutaan ponsel di seluruh dunia menjadi dingin seketika, menyisakan keheningan yang luar biasa di kamar-kamar para penontonnya. Di makam Vanya, lubang itu kini kosong melongpong. Tidak ada peti mati, tidak ada jenazah Vanya yang membeku, tidak ada Maya, dan tidak ada Rian. Yang tertinggal hanyalah sebuah ponsel tua milik Maya yang tergeletak di atas tanah basah yang mulai tenang, dengan layar retak yang menampilkan sebuah pesan terakhir sebelum akhirnya padam selamanya:

​[OFFLINE]: Thank you for watching. Don't forget to follow for more... terrors.

​Dunia mungkin berpikir permainan telah usai, namun di kegelapan jaringan serat optik, sesuatu yang baru baru saja terbangun.

1
Serena Khanza
seru wajib baca nih rekomen horrorr nya bedaaa 🥰
Serena Khanza
wuih apa ini thor 🫣 seru horror nya bukan yang gimana gitu tapi ini horror nya beda 🤭🥰
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
apa harus gitu banget demi sebuah popularitas di dunia virtual 🤦‍♂️
Zifa
next
Kaka's: bab 21 dan selanjutnya lebih horor lagi kak..
total 1 replies
Zifa
ternyata cerita horor...
ok next
Zifa
cek dulu
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
serem banget euhhhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!