Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Raden Balsem memperhatikan Laras dan Jatibumi dengan saksama. Tatapannya tajam, menilai bukan hanya tubuh mereka, tetapi getaran batin yang memancar halus dari napas mereka.
Ketika ia yakin keduanya benar-benar telah menambatkan diri pada pusat tenaga mereka, ia mengangguk pelan.
“Baik,” ucapnya singkat.
Ia mengangkat tangan kanannya. Ujung jari-jarinya memancarkan cahaya kehijauan yang berdenyut seperti nadi. Gerbang batu hitam di hadapan mereka bergetar, lalu terbelah perlahan tanpa suara. Tidak ada derit engsel. Tidak ada dentuman. Hanya ruang yang seperti disingkap dari dua sisi.
Dan ketika gerbang negeri tuyul itu terbuka—
Mata mereka terbelalak.
Langitnya bukan biru. Bukan pula hitam. Warnanya seperti perak kehijauan yang berkilau lembut.
Di sana… menggantung lima bulan.
Empat bulan berukuran sedang mengitari langit dalam jarak berbeda. Namun satu bulan tampak sangat dekat—teramat dekat—hingga lekuk permukaannya terlihat jelas. Kawah-kawahnya seperti lembah luas, dan di salah satu datarannya tampak bayangan pepohonan yang bergerak perlahan, seolah bulan itu pun memiliki kehidupan sendiri.
“Apakah… itu… berpenghuni?” gumam Laras lirih.
Cahaya kelima bulan itu menyinari negeri tuyul tanpa bayangan gelap. Segalanya tampak terang, namun bukan terang menyilaukan—melainkan terang yang lembut dan ganjil.
Sungai-sungainya mengalir jernih, dasarnya dipenuhi batu-batu keemasan yang berkilau setiap kali arus menyentuhnya. Bukan emas biasa—kilauannya seperti menyala dari dalam.
Pepohonan tumbuh rendah dan ramping, batangnya halus tanpa kulit kasar. Daunnya tipis seperti lembaran kaca hijau yang bergetar mengikuti aliran udara.
Namun yang membuat Jatibumi hampir lupa bernapas adalah makhluk-makhluknya.
Semua… botak.
Burung-burung terbang tanpa sehelai bulu di tubuhnya. Sayapnya licin mengilap seperti kulit kepala. Kambing dan sapi berkeliaran tanpa rambut sedikit pun, kulitnya tampak halus dan berkilau di bawah cahaya bulan. Bahkan kucing-kucing yang melompat di atap-atap rumah pun botak, telinganya tampak lebih besar dan matanya lebih tajam.
Jatibumi berkedip berkali-kali.
“Ini… negeri tanpa rambut…” bisiknya tertahan.
Rumah-rumah di sana terbuat dari tanah liat berwarna cokelat pucat, dibentuk menyerupai kepala botak dengan dahi menonjol dan pintu kecil di bagian “mulut”. Jendelanya bundar seperti mata yang terpejam.
Di kejauhan, berdiri sebuah bangunan raksasa.
Istana.
Bentuknya menyerupai bulan besar yang turun ke bumi—sebuah kubah raksasa keperakan dengan permukaan halus tanpa sudut. Permukaannya memantulkan cahaya kelima bulan, membuatnya tampak seperti bercahaya dari dalam.
Di sekeliling kubah itu, lingkaran-lingkaran cahaya tipis berputar perlahan, seolah istana tersebut tidak sepenuhnya berada di tanah—melainkan sedikit terangkat dari dunia.
Raden Balsem melangkah masuk lebih dulu.
“Inilah negeri kami,” ujarnya tenang. “Di sini, cahaya tak pernah benar-benar padam. Rambut tak pernah tumbuh. Dan yang tersembunyi… jarang bisa disembunyikan.”
Angin lembut berembus.
Berbeda dari teras yang liar, angin di dalam negeri ini terasa hidup—seperti mengamati mereka.
Dan untuk pertama kalinya, manusia benar-benar berdiri di jantung negeri tuyul.
“Nah, marilah kita masuk ke istana. Ayahandalah yang akan menentukan kalian akan tinggal di mana,” ucap Raden Balsem dengan nada lebih resmi.
Ia melangkah lebih dahulu. Saat kakinya mendekati kubah raksasa itu, permukaan istana yang semula tampak padat tiba-tiba beriak seperti permukaan air yang disentuh angin. Tanpa suara, tanpa engsel, terbukalah sebuah celah melengkung—cukup besar untuk dilewati beberapa orang sekaligus.
Mereka pun masuk.
Bagian dalam istana jauh lebih luas dari yang terlihat dari luar. Seolah-olah ruang di dalamnya dilipat berkali-kali lebih besar dari bentuk kubahnya.
Langit-langitnya melengkung tinggi, menyerupai bagian dalam bulan, berwarna keperakan pucat dengan guratan-guratan halus seperti kawah yang membeku. Dari sela-selanya memancar cahaya lembut kehijauan yang tidak bersumber dari obor maupun api.
Lantainya halus seperti kaca, namun ketika diinjak terasa hangat—seolah menyimpan denyut kehidupan. Di bawah permukaan bening itu mengalir cahaya tipis, seperti sungai energi yang bergerak pelan mengikuti langkah siapa pun yang melintas.
Di sisi kanan dan kiri berdiri tiang-tiang besar berbentuk silinder tanpa ukiran rumit. Namun di dalam tiap tiang itu terlihat bayangan bergerak—seperti asap atau roh kecil yang berputar tenang, menjaga keseimbangan ruang.
Beberapa makhluk tuyul berjalan melintas. Tubuh mereka kecil, berkepala licin berkilau, mata mereka besar dan hitam pekat. Mereka tidak berbicara, hanya menunduk hormat pada Raden Balsem, lalu melirik ingin tahu pada manusia-manusia yang datang.
Di tengah aula utama terbentang sebuah lingkaran besar di lantai—semacam singgasana tanpa kursi. Hanya sebuah bidang datar yang sedikit terangkat, dengan lambang bulan bercabang lima terukir di tengahnya.
Dan di ujung ruangan, berdiri sebuah kursi tinggi yang menyatu dengan dinding kubah. Kursi itu bukan dari kayu atau batu, melainkan seperti dibentuk dari cahaya yang dipadatkan. Permukaannya licin, tanpa hiasan, namun memancarkan wibawa yang membuat dada terasa berat hanya dengan memandangnya.
Raden Balsem berhenti beberapa langkah sebelum lingkaran tengah.
“Inilah balairung utama negeri tuyul,” ujarnya pelan. “Di sinilah keputusan ditetapkan. Di sinilah hukum ruang kami dijaga.”
Udara di dalam istana terasa berbeda—lebih padat, lebih teratur, seakan setiap tarikan napas harus mengikuti irama yang tak kasatmata.
Tiba-tiba, cahaya di langit-langit berdenyut pelan.
Langkah berat namun tenang terdengar dari balik sisi kubah.
Raden Balsem menundukkan kepala.
“Ayahanda telah mengetahui kedatangan kita.”
Suasana seketika menjadi hening.
Dan di jantung istana bulan itu… sesuatu yang lebih tua dari kelima bulan sedang bersiap menampakkan diri.
Ruangan khusus raja pun terbuka perlahan.
Pintu itu bukan benar-benar pintu—melainkan dinding kubah yang terbelah membentuk lengkungan sempurna. Dari celahnya memancar cahaya kemerahan yang berdenyut pelan, seperti jantung yang sedang berdetak.
Di sisi kanan dan kiri jalan menuju singgasana, berdiri para panglima perang.
Tubuh mereka tinggi dan berotot keras, berbeda dengan tuyul-tuyul kecil yang tadi terlihat di luar. Otot-otot mereka terukir jelas seperti pahatan batu hidup. Kulit mereka licin tanpa rambut, namun tegang dan berurat. Di dada dan lengan mereka tergores rajah aksara tuyul yang tersusun rapat seperti susunan mantra kuno.
Mata mereka perak redup. Tatapannya tajam, tak berkedip.
Laras tanpa sadar menelan ludah.
Di ujung ruangan, di atas bidang lantai yang lebih tinggi tiga undakan, berdirilah singgasana itu.
Singgasana tersebut seolah tumbuh dari lantai kubah sendiri—berwarna perak gelap dengan lekukan menyerupai kawah bulan. Permukaannya memantulkan cahaya merah dari rajah-rajah yang mengitari ruangan.
Dan di atasnya duduk Raja Tuyul.
Tubuhnya besar dan padat. Berotot penuh, jauh lebih gagah daripada para panglimanya. Setiap inci kulitnya dipenuhi rajah aksara tuyul yang melingkar, bertumpuk, dan saling menyilang. Rajah itu tidak diam—ia bergerak perlahan, seperti makhluk hidup yang merayap di bawah kulit.
Bibirnya hitam legam.
Bola matanya benar-benar perak berkilau, tanpa bagian putih sama sekali.
Di kepala botaknya pun terukir rajah-rajah serupa. Sesekali, guratan itu berpendar cahaya kemerahan… lalu redup… lalu menyala lagi, seolah mengikuti denyut sesuatu yang tak terlihat.
Udara di ruangan itu terasa lebih berat. Seperti ada tekanan tak kasatmata yang memaksa siapa pun untuk menunduk.
“Selamat datang, Raden Braja… dan para manusia,” ucap Raja Tuyul.
Suaranya—
Bukan satu suara.
Ketika ia berbicara, terdengar seperti sepuluh suara yang berbicara serempak dalam satu mulut. Ada yang berat, ada yang parau, ada yang berbisik, ada yang bergema dalam. Semuanya selaras, namun berlapis-lapis. Seakan di dalam tubuhnya bersemayam sepuluh ruh yang menyatu dalam satu raga.
Getaran suaranya membuat lantai bergetar halus.
“Silakan duduk di hadapan singgasanaku.”
Setiap kata bergema lebih lama dari seharusnya. Bahkan setelah bibir hitamnya terkatup, gema suara itu masih terasa bergetar di dada.
Ki Baraya merasakan tenaga dalamnya secara naluriah bergerak melindungi jantungnya.
Laras merasakan bulu kuduknya—yang bahkan tak ada—seakan berdiri.
Jatibumi menahan napas.
Raden Balsem menunduk dalam.
Di hadapan mereka kini bukan sekadar penguasa negeri aneh.
Melainkan makhluk yang jelas bukan sepenuhnya satu jiwa.