Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.
Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.
Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: GERBANG KACA DAN SEPATU YANG BERDEBU
Kota ini tidak seperti Surabaya yang gerah. Udara di sini lebih sejuk, namun bagi Jonatan, kesejukan ini justru terasa mencekam—seperti keheningan sebelum badai. Ia berjalan menyusuri trotoar yang bersih menuju sebuah kompleks bangunan yang tampak seperti istana dalam mimpinya. Universitas itu berdiri dengan megah, dikelilingi pagar besi hitam yang menjulang tinggi dan taman-taman yang dipangkas rapi.
Di depan gerbang utama, Jonatan berhenti. Ia menunduk, menatap sandal jepitnya yang kini benar-benar tipis, menyisakan jarak hanya beberapa milimeter antara telapak kakinya dengan aspal. Debu dari perjalanan di kapal dan kereta masih melekat di kaki dan sela-sela jarinya yang kasar. Ia merasa seperti seorang penyusup yang mencoba masuk ke sebuah pesta yang tidak mengundangnya.
Mahasiswa-mahasiswa lain berlalu-lalang di sekitarnya. Mereka turun dari mobil-mobil mengkilap atau sepeda motor keluaran terbaru. Mereka tertawa, mengenakan sepatu kets bermerek, membawa tas punggung bagus, dan memegang telepon genggam yang layarnya terus menyala. Jonatan merapatkan tas kainnya ke dada. Ia merasa "sebelah mata" itu mulai menatapnya lagi—kali ini dari balik kacamata hitam dan senyum meremehkan para penghuni kampus ini.
"Mau cari siapa, Mas?" seorang petugas keamanan dengan seragam yang sangat rapi dan setrikaan yang tajam menghalangi jalannya di pos depan.
Jonatan tersentak. "Saya... saya mahasiswa baru, Bapak. Mau daftar ulang," suaranya mencicit, nyaris hilang tertelan deru mesin kendaraan.
Petugas itu menatap Jonatan dari ujung rambut ikalnya yang berantakan hingga ke ujung sandalnya yang dekil. Matanya berhenti lama pada tas kain lusuh yang dibawa Jonatan. Ada keraguan yang nyata di wajah petugas itu. "Mahasiswa baru? Mana kartu ujian atau surat keterangannya?"
Dengan tangan yang gemetar, Jonatan merogoh plastik di saku celananya. Ia mengeluarkan selembar kertas yang sudah banyak lipatannya namun ia jaga agar tetap bersih. Petugas itu membacanya dengan dahi berkerut, lalu menatap Jonatan kembali dengan pandangan yang sedikit melunak, meski tetap terasa asing.
"Gedung rektorat di sana. Yang kacanya biru besar itu. Jalan terus saja," ujar petugas itu sambil menunjuk sebuah bangunan modern di kejauhan.
"Terima kasih, Bapak."
Jonatan melangkah masuk. Setiap langkah di atas ubin semen kampus yang bersih itu terasa seperti beban. Ia merasa setiap orang yang berpapasan dengannya sedang membicarakan bau badannya atau baju kaosnya yang pudar. Ia melewati sebuah kolam air mancur yang indah. Airnya begitu jernih, dan untuk sesaat, Jonatan teringat pada sumur-sumur kering di Oetimu. Di sini, air dibuang-buang hanya untuk hiasan, sementara di rumahnya, setetes air adalah doa.
Ia sampai di depan gedung rektorat. Pintunya terbuat dari kaca besar yang otomatis terbuka saat ia mendekat. Jonatan sempat terkejut, hampir melompat mundur. Ia belum pernah melihat pintu yang bisa terbuka sendiri. Di dalam, udara mendadak menjadi sangat dingin—AC. Ini pertama kalinya Jonatan merasakan hembusan angin buatan yang begitu menusuk tulang.
Lantai lobi itu begitu mengkilap hingga Jonatan bisa melihat bayangan wajahnya yang kusam di sana. Ia merasa berdosa jika harus menginjak lantai itu dengan kakinya yang kotor. Ia berhenti di tengah ruangan, bingung harus ke mana.
"Ada yang bisa dibantu?" seorang staf perempuan dengan riasan wajah yang sempurna menyapa dari balik meja resepsionis yang tinggi.
Jonatan mendekat dengan ragu. "Saya mau daftar ulang beasiswa, Kak."
Perempuan itu mengambil berkas Jonatan, membacanya sebentar, lalu menatap Jonatan. "Oh, jalur afirmasi daerah tertinggal ya? Kamu dari NTT?"
"Iya, Kak."
"Tunggu di kursi sana ya. Nanti dipanggil," ucapnya tanpa senyum, matanya kembali ke layar komputer.
Jonatan duduk di kursi empuk yang terasa terlalu lembut bagi punggungnya yang terbiasa bersandar pada bambu. Di sebelahnya, duduk seorang pemuda dengan pakaian yang sangat rapi, wangi parfumnya memenuhi udara. Pemuda itu sedang asyik bermain game di ponselnya yang mahal. Sesekali pemuda itu melirik Jonatan, lalu menggeser duduknya sedikit menjauh, seolah takut kotoran dari baju Jonatan akan menular padanya.
Jonatan menunduk. Ia merasa kecil. Sangat kecil. Di dalam kepalanya, suara-suara ejekan Rendy di sekolah dulu kembali bergema. Anak tanah. Miskin. Tidak layak. Ia meremas tangannya sendiri untuk menghentikan gemetar.
Ingat Bapak, Jon. Ingat Mama, bisiknya dalam hati. Uang tiketmu adalah harga diri mereka. Jangan menyerah sekarang.
Hampir dua jam ia menunggu hingga namanya dipanggil. Di dalam ruangan administrasi, ia berhadapan dengan seorang pria berkacamata yang tampak sangat sibuk dengan tumpukan kertas. Pria itu memeriksa berkas Jonatan dengan cepat.
"Jonatan... Oetimu... nilai matematikamu sempurna ya?" pria itu mendongak, menatap Jonatan untuk pertama kalinya dengan minat yang nyata. "Tapi biaya pendaftaranmu masih kurang seratus ribu rupiah. Ada birokrasi baru untuk uang pangkal pembangunan fasilitas."
Jantung Jonatan serasa berhenti. "Kurang, Bapak? Tapi di surat katanya beasiswa penuh."
"Beasiswa itu untuk uang kuliah, Dik. Tapi ada biaya administrasi kemahasiswaan yang tidak ditanggung. Itu aturan baru bulan ini."
Jonatan meraba saku celananya. Ia tahu persis berapa sisa uangnya. Hanya cukup untuk makan beberapa hari dan ongkos mencari tumpangan tidur. Jika ia membayar seratus ribu itu, ia tidak akan makan besok.
"Bapak... boleh saya bayar minggu depan? Saya... saya baru sampai dari pelabuhan," mohon Jonatan, suaranya parau.
Pria itu menghela napas, tampak tidak tega namun terikat aturan. "Sistemnya akan terkunci otomatis sore ini, Dik. Kalau tidak lunas, namamu tidak masuk daftar ospek besok pagi. Saya tidak bisa bantu banyak."
Jonatan keluar dari gedung rektorat dengan kaki yang terasa seberat timah. Ia berdiri di bawah terik matahari, menatap gedung kaca itu. Harapannya yang setinggi langit tadi pagi mendadak runtuh hanya karena uang seratus ribu rupiah. Angka yang mungkin bagi mahasiswa lain hanya harga sekali makan di kafe, tapi bagi Jonatan, itu adalah benteng yang memisahkan dirinya dari masa depan.
Ia berjalan menuju sebuah pohon besar di pinggir lapangan kampus, duduk di bawahnya, dan menelungkupkan wajahnya di antara lutut. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan dermaga Tenau, Jonatan merasa ingin menangis. Ia merasa telah gagal bahkan sebelum perang dimulai.
Tiba-tiba, ia merasakan sebuah bayangan menutupi tubuhnya.
"Kenapa? Uang sakumu hilang dicopet?"
Jonatan mendongak. Di hadapannya berdiri seorang pria tua mengenakan kemeja batik yang sudah agak luntur dan kacamata tebal yang bertengger di hidungnya. Pria itu membawa sebuah tas tua yang penuh dengan buku. Matanya tajam, namun ada sesuatu yang tenang di sana.
Jonatan menyeka matanya dengan cepat. "Tidak, Pak. Saya... saya hanya lelah."
Pria itu duduk di sebelah Jonatan, tanpa rasa risih sedikit pun pada baju Jonatan yang berdebu. "Saya sudah memperhatikanmu sejak di rektorat tadi. Kamu yang tadi debat soal uang seratus ribu itu, kan?"
Jonatan terdiam, malu karena rahasia kemiskinannya diketahui orang asing.
"Dunia ini memang aneh," pria itu terkekeh pelan sambil menatap ke arah gedung rektorat yang megah. "Mereka membangun gedung dengan kaca-kaca mahal, tapi lupa membuat jendela untuk melihat anak-anak berbakat yang kesulitan di depan mata mereka."
Pria itu merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah dompet kulit yang sudah usang, dan menarik selembar uang seratus ribu rupiah. Ia menyerahkannya pada Jonatan.
"Ambil ini. Anggap saja pinjaman. Kamu bisa bayar kalau nanti kamu sudah jadi orang sukses," ucap pria itu dengan nada santai, seolah uang itu tidak berarti apa-apa.
Jonatan terpaku. "Tapi... Bapak siapa? Saya tidak bisa menerima ini begitu saja."
"Nama saya Johan. Saya hanya orang yang tidak suka melihat bakat matematika yang bagus mati karena birokrasi sampah," pria itu berdiri, menepuk-nepuk celananya. "Cepat kembali ke sana sebelum loketnya tutup. Dan satu lagi, Jonatan... jangan pernah minta maaf atas kemiskinanmu. Tapi minta maaflah kalau kamu punya otak tapi tidak kamu gunakan."
Pria itu berjalan pergi begitu saja, meninggalkan Jonatan yang masih mematung dengan uang seratus ribu di tangannya. Jonatan menatap punggung pria itu yang menjauh. Ia tidak tahu bahwa pria yang baru saja menolongnya itu adalah orang yang akan mengubah jalan hidupnya selamanya.
Dengan semangat yang tiba-tiba membuncah, Jonatan berlari kembali menuju gedung rektorat. Ia tidak lagi peduli dengan sandalnya yang tipis atau tatapan meremehkan orang-orang. Di tangannya, ia memegang lebih dari sekadar uang; ia memegang kunci untuk membuka pintu masa depannya.
Hari itu, Jonatan belajar satu hal penting di tanah Jawa: di antara beton-beton yang dingin dan hati yang sempit, masih ada tangan-tangan yang bergerak karena nurani. Dan ia bersumpah, ia tidak akan menyia-nyiakan sepeser pun dari kebaikan itu.
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
kasian