NovelToon NovelToon
Warisan Saudara Kembar

Warisan Saudara Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Janda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Waktu seolah berlari bagi Jasmine Aurora. Perutnya kini sudah membuncit secara nyata, menandakan kehidupan di dalamnya tumbuh dengan pesat. Usia kandungan tujuh bulan membawa tantangan baru yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Pinggangnya sering kali terasa seperti ditarik beban berat, dan hampir setiap malam, kakinya mengalami kram hebat yang membuatnya terbangun sambil merintih.

Belum lagi gerakan di dalam sana. Calon bayinya sangat aktif, seolah sedang melakukan maraton di dalam rahim. Tendangan-tendangan itu sering kali membuat Jasmine tersentak kaget, namun di saat yang sama, memberikan rasa hangat di hatinya.

Pagi itu, di rumah sakit, Dokter Arini tersenyum lebar menatap layar monitor USG yang jauh lebih jelas dari bulan-bulan sebelumnya.

"Lihat ini, Jasmine, Pak Awan," tunjuk Dokter Arini pada layar. "Ini tulang punggungnya, ini kakinya yang tadi nendang-nendang... dan, ya, ini dia. Sudah sangat jelas sekarang."

Awan yang berdiri kaku di samping ranjang periksa, dengan tangan bersedekap dan wajah judes yang masih setia menempel, mencondongkan tubuhnya sedikit. Matanya yang tajam memicing. "Jadi?" tanya Awan singkat, suaranya tetap berat namun ada nada penasaran yang tak bisa disembunyikan.

"Laki-laki," ucap Dokter Arini mantap. "Sehat, kuat, dan posisinya sudah mulai mapan."

Jasmine menutup mulutnya, air mata kebahagiaan menggenang. Hero selalu ingin anak laki-laki agar bisa menjaganya, pikir Jasmine. Sementara Awan, ia hanya terdiam. Rahangnya mengeras sejenak, namun sorot matanya melembut saat melihat kaki kecil di monitor itu. Laki-laki. Dia bakal mirip Hero... atau mirip gue? batin Awan.

Setelah keluar dari rumah sakit, Jasmine mengira mereka akan langsung pulang karena Awan sempat mengeluh ada rapat penting. Namun, Awan justru memutar kemudinya menuju salah satu pusat perbelanjaan paling mewah di Jakarta.

"Kita mau ngapain ke sini, Kak?" tanya Jasmine bingung saat Awan membukakan pintu mobil untuknya.

"Turun aja. Jangan banyak tanya," jawab Awan ketus, meski tangannya sigap menopang siku Jasmine agar perempuan itu tidak kehilangan keseimbangan saat turun dari mobil.

Awan membawa Jasmine ke lantai yang berisi deretan toko perlengkapan bayi bermerek internasional. Mereka masuk ke sebuah gerai besar yang interiornya didominasi warna kayu hangat dan lampu-lampu kristal cantik.

Tanpa basa-basi, Awan menyambar sebuah keranjang belanja besar—yang sebenarnya lebih cocok disebut troli mini. Ia mulai berkeliling rak dengan langkah cepat.

"Ini bagus buat anak laki-laki," ucap Awan sambil mengambil lima setel baju jumper katun organik berwarna biru tua dan abu-abu. Ia tidak melihat label harga, langsung memasukkannya ke keranjang.

"Kak, itu harganya mahal banget..." bisik Jasmine ngeri melihat angka di labelnya.

Awan tidak menghiraukan. Ia berpindah ke rak sepatu bayi yang ukurannya hanya sebesar jempol tangan orang dewasa. "Gue nggak suka barang murah yang bikin kulit ponakan gue iritasi," sahutnya judes. Ia mengambil tiga pasang sepatu mungil dengan model yang sangat stylish.

Tidak berhenti di sana, Awan bergeser ke area stroller. Ia menunjuk sebuah kereta bayi berwarna hitam karbon yang terlihat sangat kokoh namun ringan. "Mas, saya mau yang ini. Kirim ke rumah sore ini juga," ucap Awan pada pelayan toko.

"Kak... apa ini nggak kebanyakan ya?" Jasmine mencoba menahan tangan Awan saat pria itu mulai mengambil set perlengkapan mandi, botol susu kelas premium, hingga mainan edukasi yang jumlahnya sudah tidak masuk akal.

Awan berhenti melangkah. Ia menatap Jasmine dengan tatapan datar yang biasa. "Gue baru beli dikit, Jasmine. Jangan lebay."

"Sedikit? Kak, keranjangnya udah penuh! Bajunya aja ada dua belas setel, padahal bayinya belum lahir. Nanti kalau cepat sempit gimana?"

Awan mendengus, lalu ia kembali mengambil dua kotak besar berisi popok kain kualitas terbaik. "Kalo sempit tinggal beli lagi. Uang gue nggak bakal habis cuma buat beli daster bayi seukuran telapak tangan ini. Lo duduk aja di sofa sana, pinggang lo pasti pegal kan? Biar gue yang pilih sisanya."

Jasmine akhirnya menyerah. Ia duduk di sofa beludru yang disediakan toko untuk para ibu hamil. Dari kejauhan, ia memperhatikan Awan. Pria itu tampak sangat serius membandingkan dua jenis baby monitor. Ia mengerutkan kening, membaca spesifikasi produk seolah sedang mempelajari kontrak bernilai miliaran rupiah.

Seorang pelayan toko mendekati Awan. "Istrinya cantik sekali ya, Pak. Pasti bayinya nanti tampan seperti Bapak."

Awan hanya menoleh sekilas, wajahnya tetap judes. "Dia bukan istri gue," jawabnya pendek. Pelayan itu tampak kikuk, namun Awan melanjutkan, "Tapi bayinya memang harus ganteng. Gen kakaknya bagus."

Jasmine yang mendengar itu dari kejauhan merasa dadanya sesak oleh rasa haru. Awan tidak pernah mengakui secara terang-terangan bahwa ia peduli, tapi setiap tindakannya berteriak sebaliknya.

Setelah hampir dua jam "menjarah" toko, mereka keluar dengan tumpukan belanjaan yang harus dibawa oleh dua orang staf toko menuju parkiran. Saat di dalam mobil, Jasmine menyandarkan kepalanya dengan letih.

"Pinggang lo sakit?" tanya Awan sambil menyalakan mesin. Nada suaranya sedikit lebih rendah, tidak seketus tadi.

"Sedikit, Kak. Kakinya juga mulai kerasa kaku," keluh Jasmine jujur.

Awan tidak menjawab, namun ia melajukan mobilnya dengan sangat perlahan, menghindari setiap lubang atau polisi tidur agar Jasmine tidak terguncang. Sesampainya di rumah, Awan tidak membiarkan Jasmine membawa kantong belanjaan sekecil apa pun.

Malam harinya, saat Jasmine sedang duduk di kursi goyang di teras samping sambil menikmati udara malam, Awan datang membawa baskom berisi air hangat.

"Siniin kaki lo," perintah Awan sambil berjongkok di depan Jasmine.

Jasmine terbelalak. "Eh? Jangan Kak! Aku bisa sendiri..."

"Gue bilang siniin ya siniin! Jangan bantah orang tua," ketus Awan. Ia menarik kaki Jasmine yang sedikit membengkak dan merendamnya ke dalam air hangat yang sudah dicampur garam aromaterapi.

Tangan Awan yang besar dan kuat mulai memijat betis Jasmine dengan gerakan yang sangat hati-hati. Ia tampak sangat fokus, seolah sedang melakukan tugas paling krusial di dunia.

"Gue udah cek jadwal. Minggu depan lo harus mulai daftar kelas laktasi," ucap Awan sambil terus memijat. "Gue yang bakal nemenin. Jangan berani-berani pergi sendiri."

Jasmine menatap puncak kepala Awan yang tertunduk. Air mata menetes di pipinya tanpa ia sadari. "Makasih ya, Kak Awan. Makasih udah mau jadi ayah buat anak ini... makasih udah jaga aku."

Awan menghentikan pijatannya sejenak. Ia mendongak, menatap Jasmine dengan mata tajamnya yang kini tampak sedikit berkaca-kaca di bawah lampu teras yang temaram.

"Gue bukan ayahnya, Jas. Ayahnya itu Hero, dan nggak ada yang bisa gantiin posisi dia," ucap Awan berat. "Gue cuma menjalankan tugas yang tersisa. Tapi kalau ada yang berani bilang anak ini nggak punya pelindung... mereka bakal berurusan sama gue."

Awan berdiri, membawa baskom itu pergi untuk dibuang. Jasmine tersenyum di tengah tangisnya. Ia tahu, meskipun Awan selalu membungkus hatinya dengan es dan kata-kata judes, pria itu adalah api yang akan selalu menjaganya tetap hangat di tengah dinginnya dunia setelah kepergian Hero.

Di tempat lain, di balik jeruji besi sementara, Celine meremas terali penjara dengan penuh kebencian. Ia mendengar kabar dari orang suruhannya bahwa Awan dan Jasmine justru semakin dekat.

"Tunggu saja, Jasmine... warisan itu tidak akan pernah menjadi milikmu sepenuhnya," desis Celine dengan suara parau.

1
pdm
semangat lanjutkan💪
Reni Anjarwani
lanjutt thorrr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut trs thor makin seru ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut thorr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Siti Dede
Ungkapin aja atuh Waaan...daripada senewen nggak keruan
pdm
aduh ini potongan bwg merahny bikin mata berair/Cry//Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!