Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
# TERPISAH OLEH DINDING AGAMA
## BAB 11: Pertarungan Terakhir
Arena terbentuk dengan cepat. Semua anggota Venom Crew—dua puluh orang—membentuk lingkaran besar di halaman markas yang tanahnya keras dan berbatu. Mereka berdiri rapat, membentuk dinding manusia yang tidak bisa ditembus. Suara sorak-sorak memenuhi udara sore yang mulai gelap.
"FIGHT! FIGHT! FIGHT!"
Di tengah lingkaran, Alek dan Dimas berdiri berhadapan dengan jarak sekitar lima meter. Udara terasa berat. Tegang. Seperti ada petir yang akan menyambar kapan saja.
Dimas sudah dalam posisi bertarung—tangan kanan di depan sebagai jab, tangan kiri di belakang siap untuk hook atau uppercut, kaki kanan di depan, lutut sedikit ditekuk, berat badan tersebar merata. Stance petinju jalanan yang sudah ratusan kali teruji. Matanya tajam, fokus, penuh amarah yang tertahan.
Alek berdiri lebih rileks—terlalu rileks menurut beberapa anggota. Tangan masih di samping tubuh, kaki sejajar, napas teratur. Tapi matanya... matanya berbeda. Ada tekad di sana. Tekad yang tidak pernah Dimas lihat sebelumnya.
"Aturannya simpel," kata Dimas dengan suara keras supaya semua dengar. "Nggak ada senjata. Nggak ada bantuan. Cuma adu fisik. Fight sampai salah satu nggak bisa berdiri lagi... atau menyerah."
Alek mengangguk. "Gue ngerti."
"Dan Lex..." Dimas menatap mata Alek tajam. "Gue nggak bakal pelan-pelan. Gue bakal fight kayak lo musuh gue yang paling gue benci. Jangan salahkan gue kalau lo pulang babak belur."
"Gue nggak akan salahkan siapa-siapa," jawab Alek tenang. "Ini pilihan gue."
Bagas berdiri di tepi lingkaran, mengangkat tangan. "Kalau gue turunin tangan... kalian mulai!"
Semua anggota bersorak lebih keras. Adrenalin mengalir. Ini pertarungan yang mereka tunggu-tunggu.
Bagas menatap Alek dan Dimas bergantian. "Ready?"
Keduanya mengangguk.
"FIGHT!"
Tangan Bagas turun.
***
**ROUND 1: PEMBUKAAN**
Dimas langsung menyerang. Tidak ada basa-basi. Tidak ada pemanasan.
Dia meluncur maju dengan kecepatan mengejutkan untuk tubuh sebesar dia, kaki kanan mendorong tanah keras, tubuh condong ke depan. Tangan kanan melesat—jab cepat mengarah ke wajah Alek.
SWISH!
Alek memiringkan kepala ke kiri. Tinju Dimas meleset beberapa senti dari hidungnya. Alek bisa merasakan angin dari pukulan itu.
Tapi Dimas tidak berhenti. Langsung diikuti left hook—kepalan tangan kiri melayang dari samping mengarah ke pelipis Alek.
Alek mundur cepat, kakinya meluncur di tanah berbatu. Left hook meleset lagi, tapi Dimas terus maju seperti bulldozer.
Right jab lagi. Left hook lagi. Right straight. Kombinasi tiga pukulan dalam dua detik.
Alek mundur terus, menghindar dengan gerakan minimal—hanya cukup untuk membuat pukulan meleset. Dia belum membalas sama sekali. Hanya menghindar. Membaca pola.
"KENAPA LO CUMA MUNDUR?!" teriak Dimas frustasi. "LAWAN GUE!"
Dimas maju lagi, kali ini dengan tendangan. Kaki kanannya terangkat cepat, mengarah ke tulang kering Alek—low kick yang bisa membuat kaki mati rasa kalau kena.
THUD!
Alek angkat kaki kiri, memblok dengan tulang kering. Bunyi benturan keras. Sakit. Tapi dia tahan.
Dimas langsung putar tubuh, kaki kiri sekarang menyapu ke arah kepala Alek—high kick yang mematikan.
Alek membungkuk cepat. Kaki Dimas melewati kepalanya dengan jarak senti. Kalau kena, Alek bisa langsung KO.
"HAJAR DIA, BANG!" teriak Kevin dari pinggir.
Dimas mendarat dengan kaki kiri, langsung lanjut dengan right uppercut dari bawah—mengarah ke dagu Alek.
Alek melompat mundur. Uppercut hanya kena udara.
Tapi Dimas sudah terlalu dekat. Dia langsung grab—kedua tangannya menangkap bahu Alek, menarik ke bawah sambil lututnya naik.
KNEE STRIKE!
Lutut Dimas melesat ke arah perut Alek.
Alek sempat memutar tubuh. Lutut Dimas kena rusuk kirinya—bukan perut. Masih sakit. Tapi tidak fatal.
UGHH!
Alek terdorong mundur, napasnya tercekat sebentar. Rusuknya nyeri—rusuk yang baru sembuh dari luka lama sekarang kena lagi.
"FIRST BLOOD!" teriak salah satu anggota.
Dimas menyeringai, napasnya mulai berat. "Lo cuma bisa nghindar, Lex? LAWAN GUE BENERAN!"
Alek memegang rusuknya sebentar, napas teratur kembali. Dia menatap Dimas. "Oke, Bang. Sekarang giliran gue."
***
**ROUND 2: ALEK MEMBALAS**
Alek maju untuk pertama kalinya. Langkahnya lebih cepat dari yang Dimas kira.
Right jab ke wajah Dimas.
Dimas miringkan kepala. Jab meleset.
Tapi itu cuma distraction. Alek langsung lanjut dengan left hook ke rusuk kanan Dimas.
THUMP!
Kena!
Dimas meringis. Pukulan Alek lebih keras dari yang dia duga. "Ugh!"
Alek tidak berhenti. Dia kombinasi cepat—right jab ke muka lagi, left hook ke rusuk lagi, terus right straight ke dada Dimas.
Dimas blok dua pukulan pertama dengan lengan, tapi yang ketiga kena dadanya.
THUD!
Dimas terdorong mundur dua langkah. Napasnya berat. "Lo... lo belajar dari mana?!"
"Dari lo, Bang," jawab Alek sambil kembali ke posisi bertarung. "Gue belajar semua gerakan lo. Gue amati lo bertarung ratusan kali."
Dimas menyeringai meski napasnya mulai tidak teratur. "Bagus. Berarti gue nggak perlu nahan diri."
Dimas menyerang lagi, kali ini lebih brutal. Kombinasi lima pukulan berturut-turut—jab, hook, straight, uppercut, hook lagi. Cepat. Presisi. Mematikan.
Alek blok dua pukulan pertama dengan lengan. Lengannya nyeri—pukulan Dimas seperti palu. Pukulan ketiga dia hindari dengan mundur. Uppercut dia tangkis dengan tangan. Hook terakhir—
BUGH!
Kena pipi kirinya!
Kepala Alek terlempar ke samping. Rasa sakit menjalar dari pipi ke seluruh wajah. Rasanya seperti kepala mau copot. Dia merasakan darah di mulutnya—bibir bagian dalam robek kena gigi sendiri.
Alek terhuyung. Dunia berputar sebentar.
"LEX!" teriak seseorang—mungkin Riki yang ternyata ikut datang dan menonton dari kejauhan.
Tapi Alek tidak jatuh. Kakinya masih kuat. Dia meludahkan darah ke tanah, lalu menatap Dimas lagi. Matanya lebih tajam sekarang.
"Bagus, Bang," kata Alek sambil mengusap darah di sudut bibirnya. "Sekarang gue serius."
***
**ROUND 3: ALL OUT**
Mereka berdua menyerang bersamaan.
Dimas dengan right straight. Alek dengan left hook. Kedua pukulan melesat di udara, bersilangan.
BUGH! BUGH!
Keduanya kena di waktu yang sama. Tinju Dimas kena hidung Alek. Tinju Alek kena rahang kiri Dimas.
Keduanya terhuyung. Tapi keduanya tidak mundur. Keduanya maju lagi.
Dimas kombinasi cepat—jab jab hook straight hook. Lima pukulan dalam tiga detik.
Alek blok blok dodge blok—pukulan terakhir kena dadanya.
Alek balas dengan kombinasi sendiri—hook hook uppercut straight kick. Lima serangan juga.
Dimas blok blok tangkis—tapi tendangan terakhir Alek kena paha kirinya.
THUD!
"ARGH!" Dimas meringis. Low kick yang pas. Otot pahanya langsung tegang.
Mereka berdua mundur sebentar, napas terengah-engah. Keringat membasahi wajah dan baju mereka. Darah mulai terlihat—di wajah Alek, di bibir Dimas.
Semua anggota bersorak lebih keras. Ini pertarungan paling sengit yang pernah mereka lihat.
"HAJAR TERUS, BANG!"
"ALEK JANGAN KALAH!"
Dimas tersenyum—tapi senyum yang menyakitkan. "Lo... lo lebih kuat dari yang gue kira, Lex."
"Gue belajar dari yang terbaik," jawab Alek sambil mengatur napas.
"Tapi gue masih lebih kuat." Dimas maju lagi.
Kali ini dia tidak hanya pukul. Dia kombinasi dengan grappling.
Dia fake jab—Alek siap blok—tapi tiba-tiba Dimas ambil langkah cepat, grab baju Alek dengan kedua tangan, tarik ke bawah sambil lutut naik lagi.
KNEE STRIKE KE WAJAH!
Alek sempat putar kepala. Lutut Dimas kena bahu kanannya—bukan wajah. Tapi impact-nya tetep keras.
THUD!
Alek terdorong, tapi Dimas masih pegang bajunya. Dimas tarik lagi, kali ini throw—lempar Alek ke tanah dengan keras.
BRAK!
Alek jatuh telentang. Punggungnya kena tanah berbatu. Sakit. Napasnya tercekat.
Dimas langsung lompat, mau ground and pound—pukul Alek yang sedang terbaring.
Tapi Alek guling cepat ke kanan. Tinju Dimas hanya kena tanah.
THUD!
"ARGH!" Dimas meringis—buku-buku jarinya kena batu.
Alek langsung berdiri cepat meski punggungnya sakit. Saat Dimas masih jongkok, Alek tendang—front kick ke dada Dimas.
THUMP!
Dimas terdorong mundur, jatuh duduk. Napasnya sesak.
"Bangkit, Bang," kata Alek sambil mengatur napas. "Kita belum selesai."
Dimas menatap Alek dengan tatapan campur marah dan... kagum? Dia berdiri perlahan, tubuhnya sudah mulai berat.
"Lo... lo beneran berubah, Lex," kata Dimas sambil meludahkan darah. "Tapi gue nggak akan kalah."
***
**ROUND 4: CLIMAX**
Mereka saling tatap lama. Napas berat. Tubuh penuh luka. Tapi tidak ada yang mau menyerah.
Lalu... mereka menyerang bersamaan lagi. Ini yang terakhir. Mereka berdua tau.
Dimas dengan full power right hook—pukulan terkuatnya.
Alek dengan right straight—pukulan tercepatnya.
Dua tinju melesat di udara. Slow motion. Semua anggota menahan napas.
Siapa yang akan kena duluan?
BUGH!
Tinju Alek kena duluan—mengenai tepat di tengah wajah Dimas. Hidung. Bibir. Gigi.
CRACK!
Bunyi tulang hidung patah.
Dimas terhenti di tempat. Matanya melebar. Darah muncrat dari hidungnya.
Tapi momentum pukulannya masih jalan. Right hook-nya tetep kena—mengenai rahang kiri Alek.
BUGH!
Alek terhuyung ke kanan. Kepala terlempar. Visi gelap sebentar.
Tapi kakinya masih berdiri. Masih kuat.
Sementara Dimas...
Dimas berdiri diam selama dua detik. Matanya kosong. Darah mengalir deras dari hidungnya. Lalu...
Kakinya goyah.
Tubuhnya limbung.
Dan...
BRUK!
Dimas jatuh ke belakang. Punggungnya kena tanah keras. Mata tertutup. Tidak bergerak.
PINGSAN.
***
**AFTERMATH**
Hening total.
Tidak ada yang bersorak. Tidak ada yang bergerak. Semua shock.
Dimas... kalah.
Alek masih berdiri—tubuh goyah, napas terengah-engah, wajah penuh darah dan memar, bibir bengkak, mata kiri mulai hitam, tapi dia BERDIRI.
Bagas langsung berlari ke Dimas, memeriksa nadinya. "Dia... dia cuma pingsan. Napasnya masih ada."
Kevin menatap Alek dengan tatapan tidak percaya campur benci yang membara. Tangannya terkepal keras sampai buku-buku jarinya memutih. "Lo... lo beneran ngalahin Dimas..."
Alek tidak menjawab. Dia hanya berdiri di sana, menatap Dimas yang pingsan. Ada rasa lega. Ada rasa sedih. Ada rasa... bersalah.
"Maaf, Bang," bisik Alek pelan.
Beberapa anggota mulai bantu Dimas—angkat dia, bawa ke teras markas, kompres wajahnya dengan air. Bagas ikut membantu, tapi matanya sesekali melirik Alek dengan tatapan yang sulit dibaca. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang gelap.
Alek masih berdiri sendirian di tengah arena. Tubuhnya sakit semua. Rusuk kiri nyeri. Wajah bengkak. Bahu kanan terkilir. Tangan kanan buku-buku jarinya lecet dan berdarah.
Tapi dia menang.
Dia BEBAS.
Riki berlari masuk ke arena, menghampiri Alek. "LEX! LO GAK APA-APA?!"
Alek tersenyum lemah. "Gue... gue baik, Rik."
"Baik apanya?! Lo babak belur!"
"Tapi gue menang." Alek menatap Riki. "Gue bebas, Rik. Gue bisa jalan sekarang."
Riki memeluk Alek hati-hati supaya tidak kena luka. "Lo gila. Tapi lo hebat."
***
Di teras markas, sementara Dimas masih pingsan dan dikerubungi beberapa anggota, Bagas dan Kevin berdiri agak menjauh dari kerumunan. Mereka berdiri di pojok gelap, wajah mereka tertutup bayangan.
Kevin menatap Alek dari kejauhan dengan rahang mengencang, tangan terkepal sampai buku-buku jarinya memutih. "Gue nggak terima, Gas," bisiknya dengan suara bergetar antara marah dan frustasi. "Dimas kalah gara-gara cewek pesantren. Ini... ini memalukan. Venom Crew jadi bahan tertawaan."
Bagas menatap Alek dengan tatapan penuh kebencian tersembunyi. Rahangnya mengeras. "Gue juga nggak terima, Kev. Alek nginjak-injak kehormatan kita. Tapi..." dia menoleh ke Dimas yang masih dirawat, "...Dimas udah putuskan. Kita nggak bisa langsung gerak sekarang. Dimas akan jaga dia."
"Terus kita diem aja?!" Kevin hampir berteriak tapi dia tahan. "Kita cuma... ngelihat dia kabur?"
"Bukan diem." Bagas menyeringai tipis—senyum yang mengerikan di wajah yang biasanya netral. "Kita tunggu waktu yang tepat. Kita tunggu sampai Dimas nggak ngawasin dia lagi. Sampai Dimas sibuk. Atau..." dia menatap Kevin dengan mata penuh rencana jahat, "...sampai semua lupa soal hari ini."
Kevin mengangguk pelan, senyum jahat mulai terbentuk di wajahnya. "Lalu kita kasih pelajaran yang BENERAN. Pelajaran yang nggak bakal dia lupain seumur hidup."
"Exactly." Bagas menepuk bahu Kevin. "Pelan-pelan. Sabar. Kita rencanain dengan matang. Alek pikir dia udah bebas. Dia pikir dia aman sekarang. Tapi dia salah." Bagas tersenyum dingin. "Dia nggak bakal pernah beneran bebas dari kita."
Mereka berdua menatap Alek—yang sedang dipeluk Riki dengan senyum lega di wajahnya yang penuh luka—dengan tatapan predator yang sedang mengunci target.
"Nikmatin kebebasan lo, Lex," bisik Kevin pelan sambil menyeringai. "Karena nggak akan lama."
Di teras markas, Bagas dan Kevin berdiri agak menjauh dari yang lain. Mereka saling pandang—tatapan yang penuh dengan sesuatu yang tidak diucapkan.
Kevin bisik pelan, suaranya bergetar antara marah dan frustasi. "Gue nggak terima, Gas. Dimas kalah gara-gara cewek pesantren. Ini... ini memalukan."
Bagas menatap Alek dari kejauhan dengan rahang mengencang. "Gue juga nggak terima, Kev. Tapi... Dimas udah putuskan. Kita nggak bisa langsung gerak sekarang."
"Terus kita diem aja?!"
"Bukan diem." Bagas menyeringai tipis—senyum yang mengerikan. "Kita tunggu waktu yang tepat. Kita tunggu sampai Dimas nggak ngawasin dia lagi. Lalu..."
Kevin mengangguk paham. "Lalu kita kasih pelajaran yang BENERAN."
"Tapi nggak sekarang. Pelan-pelan. Sabar." Bagas menepuk bahu Kevin. "Alek pikir dia udah bebas. Tapi dia salah. Dia nggak bakal pernah beneran bebas dari kita."
Mereka berdua menatap Alek dengan tatapan penuh dendam tersembunyi. Sementara Alek, yang tidak tahu apapun, masih berdiri di tengah arena dengan senyum lega di wajahnya yang penuh luka.
***
**LIMA MENIT KEMUDIAN**
Dimas akhirnya sadar. Dia duduk di teras markas dengan wajah di-kompres, hidung patah, bibir bengkak. Bagas dan beberapa anggota di sampingnya—tapi Bagas sekarang berwajah netral, menyembunyikan dendamnya dengan sempurna.
Alek menghampiri perlahan. Setiap langkah terasa sakit.
"Bang," panggil Alek pelan.
Dimas menoleh. Matanya masih agak blur. Tapi dia ingat semuanya.
"Lo... lo menang," kata Dimas dengan suara serak, hidungnya tersumbat darah. "Gue kalah."
"Maaf, Bang. Gue nggak—"
"Nggak usah minta maaf." Dimas mengangkat tangan, menghentikan Alek. "Lo menang dengan jujur. Lo buktiin lo nggak pengecut. Lo buktiin... lo layak keluar."
Alek tidak tau harus bilang apa.
Dimas berdiri perlahan—tubuhnya goyah, ditopang Bagas. Dia menatap mata Alek lama.
"Mulai sekarang..." Dimas bicara keras supaya semua anggota dengar. "Alek BEBAS. Dia bukan bagian dari Venom Crew lagi. Tapi dia BUKAN musuh. Siapa yang ganggu dia... berurusan sama gue. Mengerti?!"
Semua anggota mengangguk. Tidak ada yang berani melawan—setidaknya tidak secara terbuka.
Bagas dan Kevin mengangguk juga, tapi di dalam hati mereka berdua tersenyum jahat. "Kita tunggu aja, Dimas," pikir Bagas. "Cepat atau lambat, lo nggak akan bisa jaga dia terus."
Dimas menatap Alek lagi, kali ini lebih lembut. "Jaga diri lo, Lex. Dan... jaga cewek yang bikin lo berubah. Siapa pun dia—Khansa atau Maryam—dia berharga. Dia udah nyelamatin lo dari jalan yang salah."
Alek mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Bang. Buat semuanya."
"Dan Lex... jangan pernah balik lagi. Jangan pernah jadi kayak kita. Lo udah dapet jalan yang bener. Jalan terus. Jangan noleh ke belakang."
"Gue janji, Bang."
Dimas mengulurkan tangan kanannya—yang masih bisa digerakkan. Alek jabat dengan tangan kanannya yang juga penuh luka.
Jabat tangan terakhir. Perpisahan.
"Selamat jalan, Alek."
"Selamat tinggal, Bang Dimas."
Kevin menatap pemandangan itu dengan mata menyipit. "Selamat jalan?" bisiknya pelan pada diri sendiri. "Belum tentu, Lex. Belum tentu."
***
Alek keluar dari markas dengan Riki yang menopangnya. Tubuhnya sakit semua. Setiap napas terasa berat. Setiap langkah terasa seperti membawa beban satu ton.
Tapi hatinya... ringan. Sangat ringan.
Dia bebas.
Benar-benar bebas.
"Gue anter lo ke rumah sakit," kata Riki.
"Nggak usah. Gue mau pulang dulu."
"Lex, lo harus di-rontgen. Tulang hidung lo mungkin retak. Rusuk lo juga."
"Besok, Rik. Hari ini... gue cuma pengen pulang. Tidur. Dan... bangun di dunia yang baru."
Riki tidak bisa membantah. Dia mengantar Alek pulang dengan motornya, pelan-pelan supaya tidak kena lubang.
***
Malam itu, Alek berbaring di kasurnya. Tubuh sakit semua. Wajah bengkak. Tapi dia tersenyum.
Ibunya sudah kompres wajahnya dengan air dingin sambil nangis. Ayahnya duduk di tepi kasur, tidak marah, hanya menatap Alek dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ini terakhir kali ya, Nak?" tanya ibunya sambil menahan isak.
"Iya, Ma. Terakhir. Gue janji."
Setelah orang tuanya keluar, Alek sendirian di kamar. Menatap langit-langit dengan mata yang mulai bengkak.
"Gue bebas," gumamnya. "Akhirnya... gue bebas."
Dia teringat wajah Khansa. Suara lembut. Mata yang teduh. Cara dia tersenyum di balik cadar.
"Apa gue suka sama dia?" tanya Alek pada diri sendiri. "Atau gue cuma kagum? Gue masih nggak ngerti."
Tapi satu hal yang dia tau...
"Dia yang bikin gue sampai di sini. Dia yang bikin gue berani berubah. Dan entah ini cinta atau bukan... gue berterima kasih sama dia."
Alek menutup mata. Tubuhnya sakit. Tapi hatinya damai.
Untuk pertama kalinya sejak lama... dia tidur dengan nyenyak. Tanpa mimpi buruk. Tanpa bayang-bayang kekerasan.
Hanya... ketenangan.
Dan di suatu tempat, seorang santriwati bercadar sedang shalat malam. Dia tidak tahu apa yang terjadi hari ini. Dia tidak tahu ada seseorang yang baru saja bertarung demi kebebasan.
Tapi dia berdoa. Seperti biasa. Untuk semua orang yang sedang berjuang mencari jalan yang benar.
Dan doanya... entah bagaimana... sampai ke hati seorang pemuda yang baru saja menang melawan masa lalunya.
***
**Bersambung ke Bab 12...**
*"Kebebasan sejati bukan soal tidak punya musuh. Tapi soal tidak lagi jadi musuh bagi diri sendiri."*
hehe semangat bangg
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg