Mau menyimpan bangkai serapat apa pun, pada akhirnya akan tercium juga.
Niat hati memberi kejutan untuk suami tercinta di tahun ke 2 pernikahan. Nyatanya aku, yang di beri kejutan yang menjadi awal runtuhnya kepercayaan dan hancurnya hati ku. Hingga perpisahan gak lagi bisa ku hindari. Dari pada hidup bersama pria yang sudah menghianati.
Di balik ruang kebesaran Joseph.
"Pelan pelan, sayang!"
"Gak bisa, mas! Aku udah gak sabar pengen piton kamu!"
"Kamu ini, selalu saja pandai memu4skan ku! Kamu agresif, inisiatif, aku suka itu!"
"Siapa dulu dong, Karin! Kekasih mu! Karena aku, kamu bisa berada di posisi ini! Ingat itu! Aku pahlawan mu, mas!"
"Dan sayangnya aku harus berkorban menikahi si Jenny. Wanita bodoh, manja, menyusahkan, dan gak bisa apa apa!" gerutu Joseph.
Ceklek.
"Je- Jenny, ka- kamu ngapain ke sini?"
Hingga aku di pertemukan kembali, dengan bocah yang mampu mengusik hidup ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
...🥀🥀🥀🥀🥀🥀...
^^^[ “Tolong kabarin gua, kalo bu Karin apa pak bos turun ya!” ] beo Lia, langsung mengakhiri sambungan teleponnya.^^^
“Emmm ibu yakin gak apa apa?” tanya Lia memastikan lagi, saat keduanya berada di dalam lift.
Jenny mengepalkan tangannya erat, menghirup nafasnya dalam, “Apa kamu pikir hati saya akan baik baik aja, Lia? Setelah menyaksikan sendiri, suami saya. Pria yang saya cintai berbuat senono dengan wanita lain? Mereka mempunyai hubungan lebih dari sekedar rekan bisnis.”
Lia menelan salivanya sulit, “Maaf, bu! Saya rasa itu akan jauh lebih baik. Dari pada ibu harus mendengarnya dari orang lain.”
Jenny mengerutkan keningnya gak percaya.
“Jangan bilang orang kantor juga ada yang mengetahui perbuatan bapak? Termasuk kamu? Kamu mengetahui perselingkuhan suami saya? Atasan mu sendiri?” cerocos Jenny, menatap Lia penuh selidik.
Ting.
Pintu lift terbuka.
“Maaf, bu! Bisa nanti ibu di depan lorong berhenti sejenak! Itu titik buta dari cctv yang ada di kantor bu!” jelas Lia, sebelum Jenny melangkah ke luar dari lift.
Jenny mengerutkan keningnya dalam, ‘Apa mungkin mas Jo diam diam mengawasi karyawannya? Hingga mereka gak ada yang berani buka mulut di kantor pada ku?’
Sampai di tempat yang di maksud.
“Maaf, bu! Saya mau pun yang lain, gak bermaksud menyembunyikan ini semua dari ibu.” terang Lia dengan perasaan bersalah.
“Bagai mana saya bisa percaya dengan kamu dan rekan mu yang lain, Lia? Apa mungkin, dari bungkamnya kalian ini… bapak memberikan imbalan pada kalian?” tebak Jenny.
Lia menggeleng, “Kami gak dapat imbalan apa apa dari pak bos dan bu Karin, bu! Tapi nyawa kami yang menjadi taruhan. Jika ada dari kami yang memberi tahu ibu. Sumpah, bu! Kami sayang sama ibu, tapi kami lebih sayang nyawa kami dan keluarga.”
“Bapak mengancam kalian?”
“Bukan cuma ngancem, bu! Tapi udah ada bukti. Rekan kami menghilang, dan di temukan dalam keadaan tewas seminggu setelahnya. Itu pasti perbuatan dari orangnya pak bos dan bu Karin, bu!” ujar Lia.
“Itu kan baru asumsi kalian. Bisa aja rekan kalian memang jadi korban begal, penjambretan, atau musuhnya sendiri.” sangkal Jenny.
Lia menggaruk kepalanya frustasi, “Aduh saya bingung mau jelasin ke ibu. Pak bos sama bu Karin itu kejam, bu! Mereka bisa melakukan apa saja demi tujuannya! Termasuk meleny4p kan nyawa seseorang yang menghalangi tujuan mereka.”
...Sekelebat perkataan Joseph melintas di pikiran Jenny....
...‘Kamu di rumah aja, sayang! Gak perlu lah kamu pusing ngurusin perusahaan. Setidak nya cari kesibukan lain. Urusan perusahaan biar aku yang hendel.’...
...‘Aku ini baru jadi CEO, tolong lah mengerti kesibukan ku, sayang! Banyak yang perlu aku urus, belum lagi perusahaan yang baru kita dirikan. Masih sangat membutuh kan perhatian ku! Kamu pergi sendiri aja!’...
...‘Kamu minum aja p1l pencegah kehamilan, setidak nya tunggu sampai aku siap jadi ayah. Kamu pasti belum siap untuk jadi ibu muda! Maksud ku, a- aku takut kamu gak siap punya anak di usia muda, sayang! Anak kecil akan sangat merepot kan mu!’...
Jenny mengepalkan tangannya kesal, ‘Itu artinya mas Jo gak akan mau menceraikan ku, jika tujuannya adalah menguasai perusahaan.
Pantas kan, mas Jo selama ini bersikeras meminta ku cari kesibukan lain. Ketimbang membantunya mengurus perusahaan.’ pikir Jenny.
Lia melambaikan tangannya di depan wajah Jenny, membuat wanita itu tersadar dari lamunan nya.
“Bu, apa yang ibu pikirin?”
Grap.
Jenny menggenggam tangan dingin Lia, “Saya butuh kamu, Lia! Saya janji, akan menjamin keselamatan nyawa kamu. Jika mau membantu saya mengumpul kan bukti perselingkuhan bapak dan Karin!”
“Ibu yakin bisa jamin keselamatan nyawa saya, kalo saya bantu ibu ngumpulin bukti perselingkuhan bapak?” tanya Lia ragu.
“Saya gak pernah berbohong, Lia! Tapi jika kamu keberatan membantu saya. Gimana saya bisa jamin kamu tetap bekerja di sini? Cepat atau lambat, saya akan mengambil alih perusahaan dari bapak.”
Lia gak langsung menjawab, 'Kalo gua bantu bu Jenny, taruhannya nyawa gua sama keluarga. Tapi bu Jenny bakal jamin keselamatan nyawa gua.'
"Jangan banyak mikir, Lia! Kamu mau kan bantu saya?" desak Jenny.
“Saya akan bantu ibu. Tapi gimana cara saya hubungin ibu?”
Jenny menadahkan tangan kanannya di depan Lia, “Ponsel kamu berikan pada saya!”
“Buat apaan bu?”
“Kamu simpan nomor saya! Gak aman kan kalo saya sering datang ke kantor! Bapak pasti akan langsung curiga sama kamu! Apa lagi jika sampai melihat saya bicara dengan kamu!”
Lia memberikan ponselnya pada Jenny, “Ibu benar juga!”
Tring tring tring.
Belum sempat Jenny memasukkan nomornya, sudah ada panggilan masuk di ponsel Lia.
“Serli menghubungi mu, Li?” beo Jenny.
Lia menelan salivanya sulit, memperlihat kan kepanikan luar biasa di wajahnya, “Gawat ini bu! Itu kode keras dari Serli, pasti kalo gak pak bos, bu Karin yang lagi jalan ke sini, bu! Mereka udah ke luar dari ruangan pak bos!"
“Ya terus saya harus gimana? Saya langsung pulang gitu aja?” tanya Jenny yang ikut panik.
“Ibu bawa pulpen?”
“Saya gak pernah bawa pulpen.”
“Ibu bawa ponsel saya aja. Terus nanti titipin ke kasir supermarket yang gak jauh dari kantor! Ibu sebut nama saya. Nanti pulang dari kantor, ponsel bakal saya ambil.” seru Lia, sebelum berlalu ke arah toilet perempuan meninggalkan Jenny dengan kebingungan.
“Kamu yakin?” beo Jenny namun gak di jawab oleh Lia.
“Lebih baik aku cepat kembali ke mobil. Dari pada harus bertemu mas Jo!” gumam Jenny, menyimpan ponsel Lia ke dalam tas nya sebelum melangkah meninggalkan kantor.
Tepat saat Jenny masuk ke dalam mobil, suara Joseph menggema dari pintu lobby kantor.
“Sayang!”
Bersambung …