Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.
Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.
Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.
Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lala dan Logika Limited Edition
Setelah kopi selesai dibuat, aku pun membawanya ke depan.
"Aku duluan ya, Lala, Mbak Ratih," ucapku berpamitan.
"Oh iya, oke," jawab Mbak Ratih.
"Hati-hati bawanya," sahut Lala mengingatkan.
"Hmm, pasti," jawabku singkat.
Sebelum ke teras, aku mampir ke kamar terlebih dahulu untuk mengantarkan kopi pesanan Mbak Puji. Ternyata, ia sudah terlelap duluan sambil menyetel video horor Nadia Omara di YouTube.
"Yah, malah tidur dia," gumamku pelan. Aku membiarkannya saja karena tahu mungkin dia sedang kelelahan.
Setelah menaruh kopi di meja kamar, aku segera menyambar ponselku lalu berjalan melewati koridor. Sesampainya di balkon depan, ternyata di sana sudah ada Mawar. Aku pun tersenyum lalu menyapanya.
"Hai, Kak Mawar. Sudah lama duduk di sini?" tanyaku.
"Iya. Kamu suka kopi juga?" tanyanya saat melihatku membawa cangkir.
"Ya begitulah. Hidup kalau nggak ada kopi sehari saja rasanya hampa," jawabku sembari tersenyum.
"Betul juga sih. Apalagi buat orang kayak aku, merokok tanpa kopi itu rasanya ada yang kurang," balasnya.
Mendengar itu, rasa penasaranku muncul. "Emang merokok itu enak ya, Kak?"
"Mau coba nih?" Mawar menyodorkan bungkusan rokok kepadaku, lengkap dengan korek apinya.
Aku mengambil sebatang rokok lalu mencobanya. Namun, saat menghisapnya, aku langsung terbatuk-batuk. Kak Mawar yang duduk di sebelahku pun terkekeh melihatnya.
"Nggak usah grogi gitu, napa. Merokok itu harus santai, nggak usah buru-buru," ucapnya. Aku hanya bisa meringis malu.
"Hayo! Kak Mawar ngajarin yang nggak bener ya sama Kak Yani?" sahut Ratih tiba-tiba dari balik pintu sambil membawa semangkuk mi instan.
"Hoo-oh, Kak Mawar ini. Dia kan nggak bisa merokok, malah diajarin," sambung Lala.
"Heh, kalian ini! Mana ada Kakak ngajarin? Orang dia sendiri yang mau, aku cuma kasih. Biarkan sajalah kalau dia mau coba-coba," protes Mawar.
Lala dan Ratih hanya cengengesan. Tak lama kemudian, mereka berdua mengeluarkan rokok masing-masing. Aku tercengang melihatnya. "Lah, kalian merokok juga rupanya?" tanyaku. Mereka berdua mengangguk kompak.
"Aku sudah lama merokok. Kalau Lala, awalnya ke sini memang nggak merokok. Tapi setelah sekali minta sama Kak Mawar, ternyata dia langsung mahir," jelas Ratih.
"Apa Kak? Sihir?" sahut Lala sambil menoleh ke arah Ratih.
"Mahir, Lala... Mahir! Bukan sihir!" balas Ratih, mulai merasa jengkel.
"Oh... Emang sihir ada ya di dunia?" tanya Lala lagi dengan polosnya. Pertanyaan itu makin membuat aku dan Kak Mawar cekikikan.
Ratih hanya bisa menepuk jidat. "Emang ya, ngomong sama orang o’on itu susah," keluhnya, sementara Lala hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Hehe..." Lala hanya nyengir tanpa dosa.
"Bukan gitu, La. Maksudnya itu ma-hir. M-A-H-I-R. Mahir, Lala!" Kali ini Kak Mawar yang bicara sambil mengeja kata tersebut agar Lala paham.
"Oohh... mahir," ucapnya singkat. Kami pun tertawa melihat ekspresi Ratih yang semakin kesal.
"Sabar, Kak," ujarku sambil membuang puntung rokok yang kini hanya tersisa separuh.
"Sabar, Kak," ujarku sambil membuang puntung rokok yang kini hanya tersisa separuh.
Ratih menghela napas panjang, lalu menyeruput kuah mi instannya dengan emosi. "Gimana mau sabar, Yan? Tiap hari tensiku naik gara-gara si Lala. Kemarin aja dia nanya, 'Kak, kalau kita makan nasi putih, apa darah kita jadi putih juga?' Kan pengen banting piring rasanya!"
Mawar langsung menyemburkan asap rokoknya sambil tertawa terbahak-bahak. "Serius lu, La? Lu kira nasi itu cat tembok?"
Lala yang sedang berusaha menyalakan rokoknya malah melongo. "Lho, kan kata guru IPA, apa yang kita makan itu jadi darah. Ya Lala mikirnya kalau makan yang merah jadi darah merah, kalau putih ya jadi darah putih. Logis kan?"
"Logis pala lu peyang!" sahut Ratih sambil menunjuk kepala Lala pakai sumpit. "Kalau gitu, besok-besok lu makan aspal aja biar darah lu item sekalian!"
"Ih, Kak Ratih mah jahat. Emang aspal enak? Baunya aja kayak ban kebakar," balas Lala polos sambil mengerucutkan bibirnya.
Aku yang tadinya masih sisa batuk-batuk, sekarang malah ikut tertawa sampai perutku sakit. "Terus gimana dong kalau Lala makan pelangi? Darahnya jadi warna-warni kayak kue lapis?"
"Nah! Itu maksud Yani!" seru Kak Mawar sambil memukul meja pelan. "Lala ini cocoknya tinggal di negeri dongeng, bukan di sini. Di sini mah dia cuma jadi beban pikiran Ratih doang."
Lala malah cengengesan, merasa tidak bersalah. "Tapi Kak, ngomong-ngomong soal warna... Kak Mawar kalau merokok asapnya putih, kok paru-parunya katanya jadi hitam? Kan harusnya putih dong di dalem?"
Suasana mendadak hening sedetik. Ratih pelan-pelan meletakkan mangkuk mi instannya, lalu menoleh ke arahku dengan tatapan kosong.
"Yan, tolong ambilin parasetamol... kepalaku mendadak nyut-nyutan," rintih Ratih yang langsung disambut tawa pecah kami bertiga.
"Udah, udah!" Kak Mawar mengusap air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa. "La, mending kamu diem terus isep rokokmu aja. Daripada kamu nanya lagi, si Ratih beneran pingsan nanti!"
Lala pun hanya manggut-manggut sambil menggaruk kepalanya. "Yaudah deh, Lala diem. Tapi Kak... satu lagi..."
"LALAAA!!!" teriak Ratih dan Kak Mawar barengan, membuat Lala hampir terjungkal dari duduknya sementara aku tertawa sampai tersedak-sedak.
Lala langsung menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan, matanya mengerjap-ngerjap ketakutan melihat reaksi Kak Mawar dan Ratih. Tapi dasar Lala, diamnya pun hanya bertahan lima detik.
"Hehe, ampun Kak. Satu aja, ini penting banget," ucap Lala pelan sambil menurunkan tangannya perlahan.
Ratih meletakkan sumpitnya dengan pasrah. "Apa lagi, La? Cepetan. Sebelum mi ini gue jejalkan ke idung lo."
"Itu... Kak Mawar tadi bilang merokok harus santai, nggak boleh buru-buru kan?" tanya Lala serius.
"Iya, terus?" Kak Mawar menaikkan alisnya, sambil menyandarkan punggung ke kursi.
"Nah, kalau kita ngerokoknya sambil lari maraton, itu namanya olahraga atau tetep ngerokok?"
Tawa Kak Mawar meledak lagi, kali ini sampai dia memegangi perutnya. "Aduh, ampun! Yan, tolongin... temen lo ini dapet bibit dari mana sih? Kok bisa begini modelannya?"
"Nggak tau Kak, kayaknya Lala pas pembagian otak dia datengnya telat, jadi sisa yang 'limited edition' doang," balasku sambil ikut menyeka air mata karena terlalu banyak tertawa.
"Lari maraton sambil ngerokok itu namanya cari mati, Lala!" seru Ratih gemas. "Bukannya sehat, paru-paru lo malah demo, minta pindah ke badan orang lain!"
Lala malah manggut-manggut dengan wajah sok bijak. "Ooh, pantesan kemarin pas aku coba lari ngejar tukang bakso sambil ngerokok, aku ngerasa kayak mau ketemu kakek yang udah meninggal. Ternyata itu paru-parunya lagi demo ya, Kak?"
"Itu namanya sakaratul maut, bego!" Ratih akhirnya tidak tahan lagi dan menjitak pelan kepala Lala.
"Aduh! Kak Ratih kasar banget sih, pantesan jomblo terus," gumam Lala pelan, tapi sayangnya masih terdengar oleh kami semua.
Seketika wajah Ratih memerah. Aku dan Kak Mawar mendadak diam, saling lirik, lalu sedetik kemudian tawa kami pecah lebih kencang dari sebelumnya.
"Waduh, serangan balik!" seruku di sela-sela tawa. "Ratih kena mental sama si 'sihir'!"
"Mampus lu, Tih! Makanya jangan remehin si Lala," Kak Mawar menepuk-nepuk bahu Ratih yang sekarang cuma bisa melongo tak percaya baru saja didepak telak oleh kepolosan Lala.
Ratih hanya bisa mengelus dadanya, "Sabar... sabar... punya temen kayak gini emang ujian iman."
Lala yang melihat Ratih cuma diam saja malah kembali cengengesan tanpa dosa, seolah tidak baru saja menjatuhkan bom atom di tengah obrolan kami. Dia kembali dengan tenang menghisap rokoknya, bergaya sok mahir persis seperti yang diajarkan Kak Mawar tadi.
Setelah tawa kami mereda, Ratih berdiri sambil membawa mangkuk mi kosongnya dengan wajah yang masih terlihat dongkol. "Udah ah, gue mau tidur. Capek hati ngomong sama Lala," gerutunya sambil melengos masuk ke kamar.
Lala yang merasa tidak enak (atau mungkin memang sudah mengantuk) ikut berdiri. "Eh, Kak Ratih tunggu! Jangan marah dong, nanti beneran jomblo abadi lho!" serunya sambil berlari kecil menyusul Ratih ke dalam kamar.
Tinggallah aku dan Kak Mawar di teras. Suasana yang tadinya bising oleh gelak tawa mendadak menjadi tenang, hanya menyisakan suara jangkrik dan sisa asap rokok yang menari-nari di bawah lampu teras.
Kak Mawar menyandarkan punggungnya, menatap langit malam dengan ekspresi yang lebih santai. Ia mengambil sebatang rokok lagi, tapi kali ini ia tidak menawariku.
"Tuh kan, Yan... punya temen kayak mereka emang bikin umur pendek karena jengkel, tapi bikin awet muda karena ketawa terus," ucapnya pelan sambil tersenyum tipis.
Aku mengangguk, masih merasakan sisa nyeri di perut akibat tertawa tadi. "Iya, Kak. Lala itu emang ajaib. Aku baru tahu kalau dia bisa se-polos itu."
Kak Mawar terkekeh, lalu menoleh menatapku. Tatapannya sedikit lebih serius sekarang, tidak seperti saat ia meledekku batuk-batuk tadi. "Kamu sendiri gimana? Udah nggak grogi lagi kan?"
Aku meringis pelan, mengingat kejadian memalukan saat aku terbatuk-batuk di depan mereka tadi. "Masih dikit sih, Kak. Lagian aneh rasanya, ternyata kalian semua... ya gitu."
"Dunia ini emang banyak kejutan, Yan," Kak Mawar mengembuskan asap rokoknya ke samping. "Nggak semua yang kelihatan kalem itu beneran kalem, dan nggak semua yang kelihatan 'bandel' itu jahat. Kita cuma manusia yang butuh pelampiasan aja buat ngadepin hidup."
Ia terdiam sebentar, lalu menyodorkan asbak ke tengah-tengah kami. "Tapi beneran, jangan dipaksa kalau emang nggak kuat ngerokok. Aku nggak mau nanggung kalau besok suara kamu berubah jadi kayak bapak-bapak."
Aku tertawa kecil mendengar ucapannya. "Siap, Kak. Kayaknya emang satu batang tadi cukup buat jadi pelajaran pertama."
Kami pun duduk terdiam sejenak, menikmati angin malam yang mulai terasa dingin, sementara Kak Mawar perlahan menghabiskan sisa rokoknya dalam diam yang nyaman.
Bersambung....