Di dunia di mana Peringkat Bakat adalah hukum tertinggi, Lu Chen hanyalah sebutir debu. Saat Upacara Penentuan Takdir, dia dipermalukan di depan seluruh sekte karena hanya memiliki bakat F-Rank dengan afinitas spiritual nol. Dunia mencapnya sebagai sampah, namun mereka tidak tahu bahwa Lu Chen menyembunyikan sistem SSS+ "Omnipotence Mask" yang mampu menutupi keberadaan aslinya dari mata dewa sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Perjamuan Beracun di Istana Salju
Ibukota Kekaisaran Utara, Kota Kristal, tampak seperti hamparan berlian yang membeku di bawah cahaya bulan yang pucat. Tembok-temboknya yang terbuat dari es abadi memantulkan cahaya biru yang dingin, menciptakan atmosfer yang sunyi sekaligus menindas. Di tengah kota itu, berdiri Istana Salju yang menjulang megah, tempat di mana kekuasaan dan pengkhianatan menari dalam irama yang sama.
Lu Chen masuk melalui gerbang samping, masih dalam penyamaran "Lin Feng", didampingi oleh Yue Bing yang wajahnya tertutup cadar sutra. Di belakang mereka, para pengawal kerajaan yang setia mengikuti dengan waspada.
"Ingat," bisik Yue Bing saat mereka melewati lorong-lorong istana yang dijaga ketat oleh prajurit berseragam perak. "Pangeran Agung Zhao adalah ular yang berbisa. Dia tidak akan membiarkanmu mendekati kamar ayahku dengan mudah."
Lu Chen tidak menjawab. Matanya yang tajam mengamati setiap inci formasi keamanan istana. Di bahunya, Ignis dalam wujud "kucing naga" kecilnya tampak tertidur, namun sebenarnya ia sedang menyerap energi es dari udara untuk memperkuat api internalnya.
"Lu Chen, aku merasakan setidaknya tiga ahli Tahap Inti Emas bersembunyi di balik pilar-pilar aula utama," lapor Ignis. "Dan bau es hitam itu... sangat menyengat. Sepertinya para kultivator Sekte Es Hitam sudah mengambil alih posisi penjaga dalam."
Langkah mereka terhenti di depan pintu aula perjamuan besar. Pintu jati emas itu terbuka, menyingkapkan pemandangan yang kontras. Di tengah ruangan yang hangat oleh perapian sihir, sebuah perjamuan mewah sedang berlangsung. Di kepala meja, duduk seorang pria paruh baya dengan mahkota yang sedikit miring—Pangeran Agung Zhao. Di sampingnya, seorang pria berjubah hitam dengan simbol es pecah di dadanya menatap mereka dengan mata yang cekung.
"Ah, keponakanku tersayang, Yue Bing!" Pangeran Zhao berdiri dengan senyum yang dipaksakan. "Aku dengar kau membawa 'tabib jenius' dari selatan. Sungguh menyentuh melihat usahamu yang sia-sia untuk menyelamatkan saudaraku yang sekarat."
Yue Bing mengepalkan tangannya di balik lengan bajunya. "Paman, Tuan Lin memiliki kemampuan untuk menyembuhkan ayah. Aku mohon, izinkan dia lewat."
Pangeran Zhao tertawa, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Penyembuhan? Tabib kerajaan saja sudah angkat tangan. Dan sekarang kau membawa seorang pedagang antik yang bau debu? Ini adalah penghinaan terhadap keluarga kekaisaran!"
Pria berjubah hitam di sampingnya, Penatua Han Mo dari Sekte Es Hitam, angkat bicara dengan suara yang dingin. "Tuan Putri, kutukan di tubuh kaisar adalah kehendak langit. Mencoba melawannya hanya akan membawa malapetaka bagi kota ini. Serahkan orang ini untuk kami interogasi, atau kau akan dianggap sebagai pengkhianat."
Lu Chen melangkah maju, memecah ketegangan. Ia menatap Penatua Han Mo secara langsung, sebuah tindakan yang dianggap sangat tidak sopan bagi seorang pedagang biasa.
"Kehendak langit?" Lu Chen tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung bahaya laten. "Atau kehendak racun 'Es Jiwa Pemakan Roh' yang kau suntikkan secara diam-diam setiap malam ke dalam meridian Kaisar?"
Seluruh aula seketika menjadi hening. Gelas anggur di tangan Pangeran Zhao retak. Mata Penatua Han Mo berkilat dengan niat membunuh yang murni.
"Lancang! Beraninya kau memfitnah sekte kami!" Han Mo berdiri, melepaskan aura Tahap Inti Emas Level 7 yang membuat meja-meja di sekitarnya bergetar.
[Ding! Deteksi Niat Membunuh.]
[Target: Han Mo sedang mempersiapkan teknik 'Cakar Embun Beku'.]
[Sistem: Mengaktifkan 'Dinding Tekanan' secara pasif.]
"Aku tidak memfitnah," Lu Chen berjalan perlahan menuju meja perjamuan, mengabaikan pedang-pedang pengawal yang kini mengarah ke lehernya. "Aku hanya mengatakan kebenaran. Pangeran Zhao, kau menjanjikan takhta kepada Han Mo sebagai imbalan atas kematian saudaramu. Tapi kau tidak tahu, bahwa setelah saudaramu mati, Han Mo akan menjadikanmu boneka menggunakan racun yang sama."
"CUKUP! MATI KAU!" Han Mo meledak. Tangannya berubah menjadi cakar es hitam yang tajam, menerjang ke arah jantung Lu Chen dengan kecepatan yang luar biasa.
Yue Bing berteriak, namun Lu Chen bahkan tidak berkedip. Saat cakar es itu hanya berjarak satu inci dari dadanya, Ignis di bahu Lu Chen membuka matanya.
Wush!
Sebuah semburan api biru kecil keluar dari mulut Ignis. Api itu tidak membakar ruangan, melainkan hanya terkonsentrasi pada cakar es Han Mo. Dalam sekejap, es hitam yang konon tidak bisa cair itu menguap menjadi uap air sebelum sempat menyentuh pakaian Lu Chen.
Han Mo terbelalak ngeri. "Api apa ini?! Es Hitamku... lenyap?!"
Lu Chen menjentikkan jarinya. Sebuah gelombang tekanan spiritual murni menghantam Han Mo, membuatnya terpental ke belakang dan menghantam dinding aula hingga retak seribu. Sang Penatua Sekte Es Hitam itu jatuh berlutut, memuntahkan darah segar yang segera membeku di lantai.
"Pangeran Zhao," Lu Chen menatap sang pangeran yang kini pucat pasi, "perjamuan ini membosankan. Sekarang, bawa aku ke kamar Kaisar, atau aku akan memastikan istana ini menjadi makammu malam ini juga."
Ignis berdiri tegak di bahu Lu Chen, wujud naga kecilnya memancarkan aura dominasi yang membuat para pengawal istana menjatuhkan senjata mereka karena ketakutan yang tak terkendali.
[Ding! Misi 'Pembersihan Istana' Tahap 1 Selesai.]
[Reputasi di Kekaisaran Utara: 'Tabib Iblis Berambut Hitam'.]
[Langkah Selanjutnya: Menetralkan Kutukan Kaisar di Kamar Tidur Utama.]
Pangeran Zhao gemetar hebat, kakinya lemas hingga ia jatuh kembali ke kursinya. "B-baik... ikuti aku..."
Lu Chen berbalik ke arah Yue Bing yang masih terpaku tidak percaya. "Ayo, Tuan Putri. Kita punya pekerjaan yang harus diselesaikan."
Malam itu, di bawah tatapan ngeri para pengkhianat, Lu Chen melangkah menuju jantung kekaisaran, bukan sebagai penyelamat yang rendah hati, melainkan sebagai penguasa yang sedang menagih hutang nyawa.