Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Adukan yang Mengeras
Pagi itu, Sukamaju diselimuti kabut yang lebih tebal dari biasanya. Suara kokok ayam yang saling bersahutan seharusnya menjadi penanda dimulainya hiruk-pikuk di lokasi proyek Balai Kreatif. Namun, suasana di halaman Kedai Harapan justru terasa mencekam. Rian berdiri di tengah area pondasi yang masih setengah jadi, menatap jalan setapak yang menuju arah jalan raya kabupaten dengan dahi berkerut.
"Sudah jam delapan, Jon. Harusnya truk dari toko bangunan Pak Haji sudah sampai dua jam lalu," ujar Rian sambil melirik jam tangan militernya.
Jon, yang sudah siap dengan cangkul di bahu, hanya bisa menggaruk kepalanya yang tertutup caping. "Mungkin ban kempes di tanjakan, Mas. Atau mungkin Pak Haji lupa jadwal."
"Nggak mungkin. Pak Haji itu orangnya disiplin. Kalau dia bilang jam enam, jam enam pasti sampai," sahut Rian. Firasatnya mulai tidak enak. Ingatannya kembali pada senyum tipis Erlangga semalam.
Gia keluar dari kedai, membawa sebuah buku catatan kecil. Ia melihat kegelisahan di wajah Rian. "Kenapa, Rian? Semennya belum datang?"
"Belum satu sak pun, Gia. Padahal hari ini jadwal kita ngecor selasar. Kalau nggak sekarang, adukan yang kemarin bisa nggak menyatu sempurna dengan yang baru. Strukturnya bisa lemah," penjelasan Rian terdengar sangat teknis, namun Gia menangkap nada kecemasan yang mendalam.
Gia segera mengambil ponselnya dan menghubungi nomor toko bangunan Pak Haji. Setelah beberapa kali nada sambung, suara Pak Haji terdengar di seberang sana, namun terdengar sangat gugup.
"Aduh, Neng Gia... mohon maaf sekali. Anu... truk saya tiba-tiba rusak semua mesinnya. Terus stok semen di gudang juga tiba-tiba habis dipesan orang dari kota," ujar Pak Haji terbata-bata.
"Lho, Pak? Kan kita sudah pesan dan bayar DP sejak minggu lalu? Orang kota mana yang ambil stok kami?" tanya Gia dengan nada menuntut.
"Saya nggak enak bilangnya, Neng... tapi mereka bayar tiga kali lipat tunai. Sebagai pedagang kecil, saya... saya nggak punya pilihan. Maaf ya, Neng. Uang DP-nya saya transfer balik sekarang juga."
Sambungan diputus sepihak. Gia menatap Rian dengan wajah pucat. "Pak Haji membatalkan pesanan. Katanya ada orang kota yang borong semua semen dan menyewa semua armadanya."
Rian mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. "Erlangga. Si brengsek itu beneran main kotor."
Situasi menjadi sulit. Tanpa semen, sepuluh pemuda desa yang sudah dibayar harian untuk bekerja hari itu hanya akan duduk menganggur. Rian tidak mau membiarkan semangat warga padam hanya karena sabotase kecil ini.
"Jon, kamu dan anak-anak tetap di sini. Bersihkan area besi cor dari debu dan sampah. Gia, ikut aku. Kita cari semen ke kecamatan sebelah," perintah Rian.
Mereka berangkat menggunakan motor tua Pak Jaya. Namun, hasilnya nihil. Setiap toko bangunan yang mereka datangi memberikan jawaban yang hampir serupa: stok semen habis, atau armada pengiriman sedang tidak tersedia. Seolah-olah ada tangan raksasa yang sedang mencekik pasokan material menuju Desa Sukamaju.
Saat mereka berhenti di pinggir jalan raya dengan napas tersengal karena debu jalanan, sebuah mobil sedan merah yang sangat mereka kenal melambat di samping mereka. Kaca jendela diturunkan, menampakkan wajah Erlangga yang segar dan rapi.
"Wah, sepertinya ada yang sedang kesulitan mencari perekat bangunan?" tanya Erlangga dengan nada simpatik yang dibuat-buat. "Saya dengar stok semen di daerah ini sedang krisis. Sayang sekali ya, padahal cuaca hari ini sangat bagus untuk mengecor."
Rian turun dari motor, melangkah mendekat ke mobil Erlangga. Gia segera menahan lengan Rian, takut pria itu akan melayangkan pukulan.
"Berhenti main-main, Erlangga. Kamu pikir dengan cara begini kami akan menyerah?" desis Rian.
Erlangga tertawa kecil. "Menyerah? Tidak, Rian. Saya hanya ingin menunjukkan betapa rapuhnya idealisme jika tidak didukung oleh logistik yang kuat. Gia, tawaranku masih berlaku. Bergabunglah dengan jaringan Langka Coffee. Besok pagi, sepuluh truk semen kualitas terbaik akan parkir di depan kedaumu. Gratis."
Gia menatap Erlangga dengan tatapan dingin. "Simpan semenmu untuk membangun kuburan etikamu sendiri, Mas Erlangga. Kami tidak butuh bantuan dari orang yang mencuri rezeki pedagang kecil seperti Pak Haji."
Erlangga mengangkat bahu. "Pilihan ada di tangan kalian. Tapi ingat, beton itu kalau nggak segera dikerjakan, dia akan mengeras di tempat yang salah. Sama seperti karirmu, Rian."
Sedan merah itu melesat pergi, meninggalkan debu yang menyelimuti Gia dan Rian. Gia merasa ingin menangis karena frustrasi, namun Rian justru tampak sangat tenang. Ia menatap ke arah perbukitan kapur di kejauhan.
"Gia, kamu ingat Pak Jaka di Jakarta pernah cerita soal 'Semen Rakyat'?" tanya Rian tiba-tiba.
"Maksudmu?"
"Di balik bukit itu, ada desa perajin bata merah. Mereka punya metode tradisional mencampur kapur alam dengan abu sekam padi dan sedikit tanah liat tertentu. Kekuatannya memang nggak secepat semen pabrikan, tapi kalau diramu dengan benar, itu bisa jadi beton yang lebih tahan lama dan lebih dingin suasananya."
"Tapi Rian, itu butuh waktu lama buat meraciknya!"
"Kita nggak punya pilihan, Gia. Dan ini justru bagus. Kalau kita pakai material dari desa tetangga, Mahendra atau Erlangga nggak akan bisa mencekik kita lewat toko bangunan kota. Kita bakal bikin Balai Kreatif ini beneran jadi produk tanah ini sendiri."
Sore itu, Rian dan Gia mendatangi Desa Karangwuni, tempat para perajin kapur berada. Dengan kemampuan komunikasinya yang manusiawi, Rian berhasil meyakinkan para tetua di sana untuk membantu proyek Sukamaju. Bukan sebagai penjual dan pembeli, tapi sebagai mitra.
"Kami butuh ilmu kalian, Mbah," ujar Rian sambil duduk bersila di atas lantai tanah rumah salah satu perajin. "Kami mau tunjukin kalau tanpa semen kota pun, kita bisa bangun gedung yang megah."
Para perajin itu tergerak. Malam itu juga, beberapa gerobak sapi yang memuat batu kapur dan karung-karung abu sekam mulai bergerak menuju Sukamaju melalui jalan tikus perkebunan yang tidak bisa dilewati mobil sedan merah Erlangga.
Sesampainya di Sukamaju, Rian langsung memimpin warga untuk meracik "Semen Rakyat" tersebut. Suasana menjadi sangat emosional. Warga desa yang tadinya ragu, kini justru bersemangat karena mereka merasa sedang mempraktikkan ilmu leluhur yang hampir terlupa.
"Ayo, Jon! Aduk terus! Pastikan perbandingannya pas!" teriak Rian di bawah sorot lampu neon darurat.
Gia berdiri di barisan ibu-ibu yang bertugas menyiapkan makanan untuk para pekerja lembur. Ia melihat Rian yang berkeringat, bajunya kotor oleh debu kapur putih, namun wajahnya memancarkan kepuasan yang luar biasa. Rian bukan lagi arsitek yang hanya tahu menggambar di atas kertas; ia adalah bagian dari denyut nadi desa ini.
Tiba-tiba, Pak Jaya mendekati Gia. "Gia, Bapak bangga sama Rian. Dia nggak cuma pinter, tapi dia punya 'rasa'. Orang kota biasanya kalau kena masalah dikit langsung lapor atau nyogok. Rian malah balik ke tanah."
Gia tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu ayahnya. "Iya, Pak. Gia juga bangga."
Namun, di tengah kesibukan itu, Rian mendatangi Gia dengan wajah serius. Ia menarik Gia sedikit menjauh dari kerumunan warga.
"Gia, sabotase semen ini cuma awal. Erlangga tahu sekarang kita pakai jalur tradisional. Dia pasti akan cari cara lain buat menghentikan kita. Mungkin lewat jalur hukum atau perizinan lingkungan lagi," bisik Rian.
"Lalu apa rencana kita?"
Rian mengeluarkan sebuah dokumen kecil yang ia ambil dari saku jaketnya. "Aku sempat ambil foto surat jalan truk semen yang tadi pagi borong stok Pak Haji. Ternyata tujuannya bukan ke gudang Erlangga, tapi ke sebuah proyek pembangunan vila di daerah lereng utara. Dan coba tebak siapa pemilik lahannya?"
"Jangan bilang..."
"Tuan Mahendra Senior. Lewat nama perusahaan saudaranya," Rian mendesah. "Mereka sedang bangun markas baru di sini, Gia. Mereka nggak cuma mau bisnis kopi, mereka mau menguasai wilayah ini secara fisik."
Gia merasa sebuah ancaman besar kembali membayangi desanya. Perjuangan mereka ternyata belum berakhir dengan jatuhnya Niko. Sang Naga Tua masih memiliki sisa-sisa kekuatan yang mencoba mencengkeram Sukamaju dari berbagai arah.
"Kita harus buat Balai Kreatif ini selesai lebih cepat dari vila mereka, Rian. Ini satu-satunya benteng kita," ujar Gia mantap.
Rian mengangguk. "Malam ini kita nggak tidur, Neng. Kita selesaikan pondasi ini. Besok pagi, saat Erlangga lewat dengan mobil merahnya, dia bakal lihat kalau bangunan kita tetap berdiri meski dia sudah mencuri semen kita."
Dan benar saja, keesokan paginya, saat matahari mulai naik, selasar Balai Kreatif sudah terbentuk dengan cor-coran kapur yang kokoh dan berwarna putih gading yang elegan. Erlangga yang melintas benar-benar dibuat ternganga. Ia tidak mengira bahwa si "kuli berijazah" itu memiliki pengetahuan tentang material kuno.
Dari teras kedai, Gia mengangkat cangkir kopinya ke arah mobil Erlangga, sebuah gerakan sederhana yang penuh dengan pesan kemenangan. Rian yang sedang duduk di atas tumpukan batu bata, hanya memberikan senyum miringnya yang khas sambil memegang sendok semen.
Perang material mungkin dimenangkan oleh Rian dan Gia, tapi mereka tahu, ini barulah permulaan dari permainan catur yang jauh lebih besar di lereng Sukamaju.