Gurial Tempest
Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.
Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.
Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.
Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.
Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.
Inilah awal kisah Gurial Tempest.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Dalang dari kejadian sekolah sihir.
Pintu besar lantai enam terbuka perlahan dengan suara KRRRRAAAAK… panjang dan berat.
Ruangan kepala sekolah terbentang luas seperti aula katedral. Langit-langitnya tinggi, dipenuhi lukisan sihir yang bergerak perlahan seperti awan bercahaya. Pilar-pilar marmer putih berdiri melingkar, dan di tengah ruangan terdapat lingkaran ritual raksasa berwarna emas pucat, penuh simbol yang berdenyut seperti jantung.
Di dinding depan, tergantung sebuah lukisan wanita berambut perak dengan mata lembut dan senyum tenang. Begitu mereka masuk, lukisan itu bergerak.
Wanita dalam lukisan mengangkat tangannya.
“Tenanglah, anak-anakku…”
Suaranya bergema lembut, tapi penuh wibawa.
Para murid yang kelelahan duduk di dalam lingkaran ritual. Beberapa masih terisak, sebagian menggenggam tangan temannya erat-erat. Cahaya lingkaran naik perlahan membungkus tubuh mereka.
“Ritual penenangan jiwa akan dimulai,” ucap sang kepala sekolah dari dalam lukisan.
“Tapi… arwah yang tersisa akan mencoba mengganggu.”
Udara tiba-tiba mendingin drastis.
Bayangan hitam merembes dari lantai, dari dinding, dari sudut-sudut ruangan.
WHOOOOSHHH…
Puluhan arwah murid muncul, wajah mereka terdistorsi, mata kosong, mulut terbuka seolah menjerit tanpa suara.
Tina refleks memeluk princes.
“Datang lagi…”
Chika maju setengah langkah, mengangkat pedangnya.
“Berarti… kita jaga ritual ini.”
Beatrix memutar bahunya.
“Heh… baru jadi Hero ketiga, langsung kerja lembur.”
Tinasya menurunkan posisi tubuhnya, tangan bersinar merah keemasan.
“Jangan sampai satu pun lewat.”
Arwah pertama melesat seperti kabut yang ditembakkan.
“Datang!” teriak Chika.
Ia melompat ke depan.
“Flash Guard!”
Perisai Lumina muncul di depannya.
BRAAANG!!
Arwah menabrak perisai dan terpental seperti asap tertiup angin.
Dari sisi kiri, tiga arwah menerjang sekaligus.
“Cross Step!”
Chika berputar, melompat ke dinding pilar, lalu meloncat turun sambil menebas.
“Lumina Arc Slash!”
Garis cahaya biru membelah ruangan.
ZZZRRRAAASSH!!
Tiga arwah terpotong dan meledak menjadi serpihan cahaya.
Beatrix mengangkat pistol futuristiknya. Inti biru di tengah senjata berputar cepat.
“Target banyak… cocok.”
“Photon Breaker Mode!”
Moncong senjata memanjang.
“Burst Halo Barrage!”
Rentetan tembakan cahaya kuning melesat seperti hujan meteor kecil.
TATATATATAT!!
Arwah-arwah di sisi kanan terpental, beberapa meledak jadi kabut putih.
Tinasya menghentakkan kakinya ke lantai.
“Rage Core: Awakening!”
Aura merah membungkus tubuhnya.
Ia berlari menembus arwah, menghantam satu dengan pukulan lurus.
DOOOOM!!
Arwah itu terlempar ke langit-langit dan pecah.
Ia memutar tubuh, menendang dua sekaligus.
“Jangan sentuh lingkaran itu!!”
Di belakang mereka, Tina menancapkan tongkatnya ke lantai.
“Blessing Field — Sanctuary Heal!”
Lingkaran hijau menyebar di sekitar murid dan princes.
Setiap kali arwah mendekat, cahaya itu mendorong mereka mundur.
Princes berdiri di tengah lingkaran, wajahnya pucat tapi matanya bersinar emas.
“Kepala sekolah… ritualnya belum selesai?”
Suara dari lukisan menjawab tenang.
“Sebentar lagi…
Tapi kalian harus bertahan.”
Langit-langit ruangan tiba-tiba menghitam.
Bayangan raksasa terbentuk.
Bukan satu… tapi tiga arwah besar, masing-masing sebesar golem, wajah mereka seperti gabungan banyak murid.
“JANGAN… LUPAKAN… KAMI…”
Suara mereka tumpang tindih.
Tina gemetar.
“Yang ini… besar…”
Chika maju, tersenyum bodoh seperti biasa, meski keringat mengalir di pelipisnya.
“Ya… tapi kita lebih keras kepala.”
Ia mengangkat pedangnya.
“Formasi! Jangan biarkan mereka mendekat ke lingkaran!”
Arwah pertama mengayunkan lengan kabut raksasa.
Chika melompat ke depan.
“Skybound Leap!”
Ia meloncat tinggi, berputar di udara.
“Lightning Lumina Drive!”
Petir biru mengalir di pedangnya.
KRAAASH!!
Tebasannya menghantam kepala arwah raksasa, membuatnya terbelah dua.
Beatrix mengarahkan pistol ke arwah kedua.
“Ukuran besar… berarti target empuk.”
“Hero Mark: Beatrix Protocol!”
Kristal biru di dadanya bersinar.
“Judgment Rail!”
Satu tembakan panjang seperti laser melesat.
VVVVZZZZZZMMMM!!
Arwah kedua tertembus, tubuhnya pecah seperti kaca cahaya.
Arwah ketiga meraung dan melesat ke arah lingkaran ritual.
Tinasya berteriak.
“Tidak boleh!”
Ia melesat seperti panah.
“Crimson Crash Fist!”
Pukulannya menghantam dada arwah.
BOOOOOM!!
Arwah terdorong mundur, tapi masih berdiri.
Tina menutup mata.
“Holy Chain — Binding Grace!”
Rantai cahaya muncul dari tanah, melilit tubuh arwah raksasa itu.
Princes mengangkat kedua tangannya.
Cahaya emas memancar dari tubuh kecilnya.
“Untuk semua yang masih ingin hidup…
Tolong… pergi dengan damai…”
Cahaya dari lingkaran ritual menyatu dengan cahaya emas princes.
Arwah terakhir berhenti bergerak.
Tubuhnya berubah menjadi partikel cahaya yang naik perlahan ke atas.
Keheningan jatuh.
Lingkaran ritual bersinar semakin terang.
Para murid yang duduk di dalamnya mulai terangkat sedikit dari lantai, diselimuti cahaya hangat.
Lukisan kepala sekolah bersinar penuh.
“Ritual berhasil…”
Angin hangat menyapu ruangan.
Bayangan gelap di sudut-sudut menghilang.
Chika menurunkan pedangnya, napasnya berat.
Beatrix menyandarkan pistol ke bahu.
“…Aku benci ritual yang perlu banyak monster.”
Tina tersenyum lemah.
“Tapi… semua selamat.”
Tinasya duduk di lantai, menghela napas panjang.
“Untuk sekali ini… aku capek.”
Princes menatap cahaya ritual, matanya berkaca-kaca.
“Sekolah ini… akhirnya tenang…”
Dan di atas mereka, lukisan kepala sekolah tersenyum.
Namun…
di balik cahaya ritual yang damai itu,
bayangan terakhir bergerak pelan di sudut langit-langit.
Pertarungan mungkin hampir selesai.
Tapi…
sesuatu masih mengamati mereka.
Cahaya ritual perlahan meredup.
Para murid yang tadi melayang kini turun ke lantai satu per satu, napas mereka teratur, wajah mereka kembali berwarna. Beberapa saling berpelukan, beberapa menangis lega. Udara di ruangan kepala sekolah terasa hangat… terlalu tenang.
Namun tiba-tiba—
Ssssshhhh…
Sisa-sisa cahaya arwah yang tadi menghilang tidak lenyap sepenuhnya. Kabut tipis berwarna keabu-abuan mengalir di lantai, seperti asap yang mencari jalan.
Chika menyipitkan mata.
“Eh… itu normal nggak?”
Kabut itu bergerak menuju… lukisan kepala sekolah.
Pelan. Merayap. Seperti tangan-tangan tak terlihat yang merangkak ke atas kanvas.
Princes memegang jubah Chika.
“Chika… lukisannya…”
Satu demi satu, cahaya arwah tersedot masuk ke dalam lukisan.
WUUUUSH… WUUUSH…
Mata wanita dalam lukisan yang tadi lembut kini bergetar. Senyumnya membeku. Lalu… retak.
KREEETAK.
Retakan hitam menjalar di seluruh wajah lukisan.
Tiba-tiba—
“HAHAHAHAHAHAHAHA!!!”
Tawa keras, nyaring, dan tidak manusiawi menggema di ruangan.
Semua murid menjerit.
Beatrix refleks mengangkat senjatanya.
“Apa-apaan ini?!”
Lukisan itu berubah.
Wajah wanita kepala sekolah memanjang, matanya menghitam, mulutnya merekah terlalu lebar. Rambut peraknya berubah seperti benang-benang hitam yang melambai ke luar dari kanvas.
“Terima kasih, anak-anak…”
suaranya kini berat dan bergema, seperti berasal dari banyak tenggorokan sekaligus.
“Kalian baru saja… mengumpulkan semua arwah untukku.”
Chika mundur setengah langkah.
“…Hah?”
Tina memeluk princes lebih erat.
“Ritualnya… salah?”
Beatrix maju satu langkah, suaranya bergetar tapi tajam.
“Apa maksud semua ini, Kepala Sekolah?!”
Lukisan itu tertawa lagi.
“Permainan… hanya permainan.”
Cahaya di ruangan berubah menjadi merah kusam. Simbol-simbol sihir di lantai terbalik arah, berdenyut tidak stabil.
“Semua kejadian di sekolah ini…”
“Lana…”
“Arwah murid…”
“Lorong terkutuk…”
“Karya ceritaku sendiri.”
Semua terdiam.
Tinasya mengepalkan tangan.
“…Kau bohong.”
Lukisan itu menyeringai.
“Aku yang memilih Lana.”
“Aku memberinya beasiswa.”
“Aku yang menanamkan bisikan kebencian di benak murid-murid lain.”
Bayangan hitam keluar dari lukisan seperti asap.
“Aku menghipnotis mereka…”
“Sedikit demi sedikit.”
“Membuat mereka jijik pada Lana.”
“Membuat mereka senang menyakitinya.”
Princes menggigil.
“…Jadi… semua yang mereka lakukan ke Lana…”
“Adalah perintahku.”
Chika menelan ludah.
“Terus… buat apa semua itu?!”
Wajah di lukisan berubah muram… lalu penuh kebencian.
“Untuk menghancurkan sekolah ini.”
“Sekolah yang dibangun oleh pahlawan masa lalu…”
“KADEEEEN.”
Nama itu menggema di ruangan seperti petir.
Beatrix membelalak.
“Kaden… pahlawan yang menghilang itu?”
“Benar.”
Nada suara lukisan menjadi getir.
“Dia dielu-elukan.”
“Dipuja.”
“Sekolah ini berdiri atas namanya.”
“Tapi dia pergi.”
“Meninggalkan segalanya.”
“Termasuk aku.”
Cahaya merah menyebar di dinding.
“Aku membenci bangunan ini.”
“Aku membenci murid-muridnya.”
“Aku membenci cerita kepahlawanannya.”
“Jadi aku membuat cerita baru.”
“Tentang kehancuran.”
Chika menggertakkan gigi.
“Jadi… Lana cuma pion?!”
Lukisan itu tertawa pelan.
“Dia korban… yang sempurna.”
Udara jadi dingin.
Bayangan wajah Lana seolah muncul samar di dalam kanvas, menjerit tanpa suara.
Tina gemetar.
“…Kau monster.”
“Tidak.”
“Aku penulis.”
“Aku menciptakan tragedi… agar sekolah ini runtuh oleh tangannya sendiri.”
Semua murid mundur ketakutan.
Beatrix mengangkat senjatanya penuh kemarahan.
“Jadi… kau biarkan anak-anak saling membunuh… demi dendam pribadi?!”
“Kau menyebutnya dendam…”
“Aku menyebutnya… akhir cerita.”
Lantai bergetar pelan.
Retakan hitam muncul di pilar-pilar ruangan.
Chika melangkah maju, senyum bodohnya hilang, digantikan tatapan tajam.
“Kalau gitu…”
“Ceritamu salah genre.”
Ia mengangkat pedangnya.
“Karena ini bukan tragedi.”
“Ini… cerita tentang kita menghentikanmu.”
Lukisan kepala sekolah menyeringai semakin lebar.
“Kalau begitu…”
“Bab berikutnya… adalah kematian para Hero.”
Bayangan hitam meledak keluar dari kanvas, memenuhi ruangan.
Dan tawa sang kepala sekolah menggema, bercampur jeritan arwah:
“HAHAHAHAHAHAHA!!!”
Ruangan kepala sekolah berubah menjadi medan kutukan.
Ledakan bayangan dari lukisan kepala sekolah menyapu seluruh ruangan.
WUUUUM—!!
Angin hitam berputar seperti badai di dalam aula lantai enam. Pilar-pilar marmer berderit, kaca jendela bergetar, dan simbol-simbol sihir di lantai menyala liar seperti urat nadi yang meledak.
Para murid yang tadi ketakutan kini saling berpandangan.
Seorang murid senior menggertakkan gigi.
“Kita… kita nggak bisa lari lagi.”
Murid lain mengangkat tongkatnya dengan tangan gemetar.
“Kalau kita nggak lawan sekarang… kita semua mati di sini!”
Tiba-tiba, serentak—
“SERANG!!”
Puluhan murid melepaskan sihir bersamaan.
Api, es, cahaya, angin—semuanya melesat ke arah lukisan kepala sekolah yang kini membesar, keluar dari bingkai, membentuk tubuh raksasa dari bayangan dan pecahan kanvas.
Namun—
“HAHAHAHA!!”
Tangan bayangan raksasa itu mengibas.
BOOOOM!!
Semua serangan terpental, menghantam dinding dan langit-langit.
Beatrix melompat ke depan.
“Gila… pertahanannya kayak benteng bergerak!”
Tinasya berdiri di depan princes, kedua tangannya menyala keemasan.
“Aku tahan jalur kanan! Jangan biarkan arwah masuk ke murid!”
Tina mengangkat tongkatnya.
“Formasi bertahan! Lingkar penyembuhan aktif!”
Cahaya hijau lembut membungkus barisan murid.
Chika melangkah maju, Hero Sword bergetar di tangannya. Kristal biru di gagangnya berpendar seperti jantung.
Ia menoleh ke Beatrix.
“Oi, Gorila ilmuwan.”
Beatrix menyeringai tegang.
“Heh… Gorila Knight.”
Kristal biru muda di dada Beatrix menyala terang.
Senjatanya berubah bentuk.
Bagian laras terbelah, roda sihir berputar, dan simbol-simbol kuno muncul di udara.
AWAKENING: PHANTOM BUSTER MODE.
Beatrix mengokang senjatanya.
“Target: dalang cerita busuk.”
Chika mengangkat Hero Sword tinggi-tinggi.
“Serangan gabungan!”
Bayangan kepala sekolah membentuk wajah raksasa di udara.
“Kalian pikir kerja sama bisa mengalahkanku?!”
Chika melesat maju.
SKILL: LUMINA STEP
Tubuhnya menghilang sesaat, muncul di udara, berputar satu kali seperti akrobat, lalu menebas ke bawah.
TEEEENG!!
Pedangnya menghantam perisai bayangan.
Beatrix menembak bersamaan.
PHANTOM BUSTER: SOUL ANCHOR
Cahaya kuning berbentuk rantai hologram melesat, melilit tubuh bayangan kepala sekolah.
“Sekarang!!” teriak Beatrix.
Tinasya menghentakkan kaki.
SKILL: FERAL FIST – OVERDRIVE
Ia melompat tinggi, menghantam bayangan itu dengan tinju yang bersinar putih.
DOOOOM!!
Bayangan itu terdorong mundur, menghantam dinding aula.
Para murid ikut menyerang.
“Es! Bekukan kakinya!”
“Angin! Dorong balik!”
“Api! Tekan dari depan!”
Namun kepala sekolah menggeram.
“Cukup bermain!”
Bayangan menyatu, membentuk tiga wajah di tubuhnya.
Ia mengayunkan tangan.
CURSED SCRIPT: BLACK PARAGRAPH
Huruf-huruf hitam muncul di udara, berubah menjadi tombak bayangan yang melesat ke segala arah.
Chika berputar di udara.
SKILL: LUMINA SHIELD ROLL
Perisai biru muncul, ia menggelinding di lantai, memantulkan dua tombak sekaligus.
Beatrix meluncur ke samping, melompat di atas meja ritual, lalu menembak sambil berputar.
PHANTOM BUSTER: SUN RAY BURST
Ledakan cahaya kuning menabrak dada bayangan.
Tina mengangkat tongkatnya.
HEALING FIELD: EMERALD CIRCLE
Lingkaran hijau muncul di bawah Chika dan Tinasya, luka-luka mereka menutup perlahan.
Princes mengangkat tangannya gemetar.
Cahaya emas memancar dari tubuhnya, membentuk simbol rantai kecil di udara.
Chika merasakan dadanya hangat.
“…kekuatan… bertambah?”
Ia tersenyum dengan senyum khasnya—senyum bodoh tapi penuh tekad.
“Yup… masih bisa lanjut.”
Kepala sekolah mengaum.
“Kalian cuma karakter kecil di ceritaku!!”
Chika melompat lagi, lebih cepat.
SKILL: HERO DASH – SKY ARC
Ia melesat zig-zag di udara, menghindari serangan huruf hitam, lalu menebas membentuk lengkungan cahaya biru raksasa.
Beatrix mengatur bidikan.
“Sinkronisasi… sekarang!”
COMBO: HERO SWORD x PHANTOM BUSTER
TEKNIK: JUDGMENT COLLISION
Tebasan biru Chika bertabrakan dengan tembakan kuning Beatrix.
BOOOOOOM!!!
Ledakan cahaya memenuhi aula.
Bayangan kepala sekolah terlempar, tubuhnya retak seperti lukisan pecah.
Namun ia masih berdiri.
Tubuhnya bergetar.
“…Kalian… benar-benar ingin menulis akhir ceritaku sendiri…”
Ia mengangkat kedua tangan.
Seluruh arwah yang tersisa melayang ke arahnya.
Ruangan jadi dingin seperti kuburan.
Chika berdiri di depan, napas berat, tapi matanya menyala.
Ia mengangkat Hero Sword.
“Cerita ini… bukan punyamu lagi.”
Beatrix berdiri di sampingnya, senjatanya masih berasap.
“Kali ini… penulisnya kami.”
Para murid di belakang mereka mengangkat tongkat.
Tinasya mengepalkan tangan.
Tina berdiri menjaga princes.
Dan di tengah aula lantai enam yang retak dan gelap,
dua Hero berdiri berdampingan,
menghadapi kepala sekolah yang berubah menjadi monster cerita.
Pertarungan belum selesai.
Namun kini…
bukan lagi tragedi.
Ini perang untuk menutup buku kutukan.
Ledakan cahaya dari serangan gabungan mereka berdua mengguncang aula lantai enam.
Chika mengangkat Hero Sword, kristalnya berdenyut cepat.
Beatrix mengunci target dengan senjata Awakening-nya.
Para murid membentuk lingkaran sihir bersama princes di tengah.
Princes mengangkat kedua tangan kecilnya.
“Semua… bareng-bareng!”
Cahaya emas dari tubuh princes menyebar seperti jaring tipis ke seluruh lingkaran murid. Tongkat-tongkat sihir mereka menyala serempak.
“SEKARANG!!” teriak Chika.
COMBO FINAL:
HERO SWORD – 「SKY JUDGMENT」
PHANTOM BUSTER – 「SOUL ERASER」
RITUAL MURID – 「CIRCLE OF RELEASE」
Tebasan biru raksasa turun dari udara.
Tembakan kuning Beatrix menembus tengahnya.
Lingkaran sihir murid memutar cahaya itu menjadi spiral.
BOOOOOOOOM!!!
Arwah lukisan kepala sekolah tercabik dari tubuh bayangan, terlempar ke udara seperti asap hitam.
Ia menjerit.
“Tidak… ceritaku… belum selesai—!!”
Tubuhnya pecah menjadi partikel cahaya gelap.
Namun sebelum benar-benar lenyap, wajahnya menyeringai.
“Kalau begitu…
kalian ikut tenggelam bersamaku.”
Seluruh lantai aula bergetar.
KRAAAAK—
Dinding mulai bergerak.
Langit-langit turun perlahan.
Sihir hitam seperti kabut tebal menempel di tembok.
Beatrix teriak,
“Apa ini?!”
Chika melihat sekeliling.
“Ruangannya… mengecil?!”
Suara dingin menggema:
SIHIR TERAKHIR:
「DEATH COMPRESSION」
Murid-murid panik.
“Dindingnya mendekat!”
“Kita terjepit!”
Chika mengangkat Hero Sword dan menebas dinding bayangan.
TEEEENG!!
Tidak bergerak.
Beatrix menembak.
DOOOM!!
Masih tidak berhenti.
Princes gemetar.
“Tidak… berhenti…”
Tina dan Tinasya saling berpandangan.
Mata mereka berubah serius.
Tinasya berkata pelan,
“…kita tahu cara menghentikannya.”
Tina menelan ludah.
“Dengan… sihir rahasia kita.”
Beatrix menoleh cepat.
“Apa maksudmu?”
Tinasya melangkah ke sisi kiri ruangan, menempelkan telapak tangan ke dinding hitam.
Tina ke sisi kanan, melakukan hal yang sama.
Chika terkejut.
“Hei! Kalian mau apa?!”
Cahaya putih dan hijau muncul dari tangan mereka.
SIHIR TERLARANG KEMBAR:
「TWIN SEAL – LIFE EXCHANGE」
Dinding berhenti bergerak… sebentar.
Namun tubuh Tina dan Tinasya mulai memucat.
Beatrix langsung berlari ke arah mereka.
“BERHENTI!!
Kalian mau bunuh diri?!”
Tina tersenyum kecil.
“Beatrix… kamu kan Hero sekarang…”
Tinasya menahan napas sambil mendorong dinding dengan seluruh tenaga.
“Kalau dunia mau diselamatkan…
seseorang harus berdiri di sini.”
Chika berteriak,
“Cari cara lain! Jangan gila!”
Tina menggeleng.
“Tidak ada waktu…”
Kulit mereka mulai mengeras seperti batu.
Beatrix memukul dinding.
“BERHENTI!! AKU PERINTAHKAN!!”
Cahaya dari tubuh mereka makin terang.
Tinasya menoleh terakhir kali ke Beatrix.
“Jangan jadi Hero yang ragu.”
Tina menambahkan dengan suara pelan,
“Jadilah Hero… yang kami percayai.”
Mereka mendorong sekali lagi.
DUUUNG!!
Sihir dinding runtuh seperti pecahan kaca hitam.
Ruangan berhenti menyempit.
Namun tubuh Tina dan Tinasya…
…berubah abu-abu.
Kaki mereka membatu.
Lengan mereka membatu.
Tina melangkah satu langkah terakhir ke depan Beatrix dan mengangkat tangannya.
Tinasya ikut mendekat.
Mereka memegang kedua pipi Beatrix.
“Jangan menangis…”
“…Hero ketiga…”
Tubuh mereka membeku sepenuhnya.
Dua patung berdiri di depan Beatrix,
masih memegang wajahnya.
Sunyi.
Tidak ada suara sihir.
Tidak ada suara arwah.
Hanya napas berat.
Beatrix jatuh berlutut.
“……bodoh…
kenapa… kalian selalu begitu…”
Air matanya jatuh ke lantai.
Chika menunduk, menggenggam Hero Sword erat.
Princes menutup mulutnya dengan kedua tangan kecilnya.
Para murid terdiam, beberapa menangis pelan.
Dua patung itu berdiri menghadap Beatrix,
seolah masih menatapnya,
meski mata mereka sudah menjadi batu.
Dan di lantai enam sekolah sihir,
di antara reruntuhan dan cahaya ritual yang memudar,
lahirlah satu Hero…
dengan dua pengorbanan yang tak akan pernah bisa dibalas.
...----------------...
Keesokan harinya.
Matahari siang menggantung pucat di atas menara sekolah sihir. Awan tipis bergerak lambat, seolah ikut menahan napas.
Di halaman depan sekolah, semua murid berkumpul.
Chika berdiri di barisan depan, Hero Sword tersarung di punggungnya. Rambut pirangnya dibiarkan tergerai, wajahnya lelah tapi tenang.
Princes berdiri di sampingnya, memeluk ujung mantel Chika.
Beatrix berdiri paling depan… tepat di hadapan dua patung batu.
Tina dan Tinasya.
Tubuh mereka telah menjadi patung sepenuhnya. Posisi mereka tetap seperti saat terakhir: berdiri di depan Beatrix, kedua tangan mereka menyentuh pipinya dengan lembut.
Di antara kedua tangan batu itu, terjepit sebuah buku tua: Buku catatan Lana.
Angin berhembus.
Debu tipis berputar di sekitar patung-patung itu.
Semua murid menundukkan kepala.
Chika meletakkan satu tangan di dada.
Princes menutup mata rapat-rapat.
Beatrix menggenggam ujung mantelnya sendiri, bahunya gemetar.
Kepala sekolah—yang kini hanya tersisa lukisan kosong—tak ada lagi.
Arwah sudah lenyap.
Sekolah selamat.
Namun harga yang dibayar… berdiri di depan mereka.
Salah satu murid senior berkata pelan,
“Untuk Tina… Tinasya… dan Lana…”
Semua murid mengikuti.
“Untuk Tina… Tinasya… dan Lana…”
Beatrix memejamkan mata.
Suara hatinya bergetar, nyaris tak keluar.
“Tina… Tinasya…
kalian… bodoh…”
Angin menyapu rambut hitamnya.
“…tapi… terima kasih…”
Sunyi sejenak.
Lalu Chika mengangkat kepalanya, mengusap hidungnya, dan mengeluarkan ponsel.
Ia menekan tombol sambil tersenyum lebar, nada suaranya tiba-tiba cerah tak wajar.
“MK.99!! Jemput aku, princes, dan Hero ketiga sekarang juga!!
Kalau nggak… aku bakal suruh Vivi cabut—”
Belum sempat kalimatnya selesai—
WUUUUUUUSSSSHHHHH!!
Langit terbelah oleh suara mesin.
Sesuatu meluncur turun dari arah pulau terbang Havenload.
Debu dan angin menyapu halaman sekolah.
Sosok robot wanita mendarat dengan satu lutut di tanah, pose malas tapi dramatis.
Rambut logamnya berkibar. Matanya menyala biru malas.
MK.99 berdiri sambil menguap.
“Pemilik Havenload…
suka sekali mengancam MK.99…”
Chika tertawa keras.
“Hahaha! Cepat juga kamu datang!”
Beatrix terkejut.
“Itu… robot…?”
Princes mengangguk polos.
“Iya… dia pemalas…”
MK.99 melirik princes.
“Penghinaan diterima.”
Para murid tertawa kecil, suasana yang tadinya berat sedikit mencair.
Beberapa murid mendekat ke Beatrix.
Salah satu dari mereka berkata ragu-ragu,
“Beatrix…”
Beatrix menoleh.
Murid itu melanjutkan,
“Walaupun kamu nggak bisa sihir…
tapi… kamu penyelamat sekolah ini.”
Murid lain ikut bicara,
“Tanpa kamu, kita semua sudah mati.”
Beatrix terdiam.
Matanya melebar sedikit.
“K… kalian…”
Seorang murid perempuan tersenyum.
“Pergilah, Beatrix.
Mulai petualanganmu.”
Yang lain berseru,
“Kamu Hero ketiga sekarang!”
Beatrix menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya.
Suaranya bergetar, tapi tegas.
“Terima kasih…”
Ia melangkah ke depan patung Tina dan Tinasya.
Ia menyentuh tangan batu mereka dengan pelan.
“Tina…
Tinasya…”
Ia menarik napas dalam.
“Tunggu aku.
Aku akan cari cara…
untuk membebaskan kalian.
Aku janji.”
Angin berdesir, seolah menjawab.
Beatrix berbalik.
Chika sudah berdiri di dekat MK.99, memegang tangan princes.
“Siap terbang?” tanya Chika sambil tersenyum bodoh khasnya.
Beatrix mendekat.
“…saatnya.”
MK.99 membuka panel di punggungnya.
Cahaya biru muncul, membentuk medan angkat.
Chika, princes, dan Beatrix terangkat perlahan ke udara.
Para murid melambai-lambaikan tangan.
“SELAMAT BEATRIX!!”
“KAMI AKAN MERAWAT PATUNG ASISTENMU!!”
“JANGAN LUPA KAMI!!”
Beatrix melambai balik, matanya berkaca-kaca.
Saat mereka terangkat semakin tinggi, sekolah sihir terlihat kecil di bawah.
Pulau Havenload melayang di langit seperti pulau cahaya.
Beatrix menoleh ke Chika.
“Gorila…”
Chika menoleh.
“Hm?”
“…dan pahlawan kemasan saset.”
Princes langsung protes.
“Aku bukan saset!”
Beatrix tersenyum tipis.
“Mohon bantuannya… ya.”
Chika dan princes menjawab bersamaan.
“Tentu!”
MK.99 mendesah malas.
“MK.99… mengangkut Hero dengan tingkat drama berlebihan…”
Dan mereka pun terbang menuju langit,
meninggalkan sekolah sihir,
dua patung yang menunggu,
dan satu janji yang belum terpenuhi.
...----------------...
Di belakang gedung sekolah sihir.
Langit mulai menggelap. Awan bergerak lambat, seolah takut melewati bangunan tua itu.
Di antara bayangan menara dan reruntuhan dinding, berdiri seorang pria dengan penampilan aneh dan ikonik.
Topeng putih berbentuk paruh burung menutupi wajahnya.
Jubah ungu panjang berkibar tertiup angin malam.
Topi hitam bertepi lebar menaungi kepalanya.
Setelan hitam rapi membungkus tubuhnya seperti bayangan yang hidup.
Ia berdiri menghadap dinding sekolah, tangan di balik punggung.
“Begitu saja berakhir…”
Suaranya rendah, tenang, tapi mengandung kepahitan.
“Kepala sekolah itu… benar-benar mengira aku sudah pergi dari dunia ini.”
Ia melangkah satu langkah maju. Sepatu hitamnya menginjak kerikil dengan bunyi krek pelan.
“Padahal aku masih di sini.”
“Masih memperhatikan murid-muridku.”
“Masih… memberi mereka kekuatan terlarang.”
Angin mengibaskan jubahnya, memperlihatkan sarung tangan hitam yang penuh simbol sihir kuno.
“Lana… bukan yang pertama.”
“Dan tidak akan menjadi yang terakhir.”
Ia mengangkat kepalanya, menatap ke arah langit, ke arah pulau Havenload yang melayang jauh di atas.
“Hero Sword… akhirnya memilih penerus baru.”
Nada suaranya berubah, lebih dalam.
“Chika…”
Ia tertawa kecil, pendek, tanpa humor.
“Kau tidak tahu apa-apa tentang pedang yang kau genggam.”
“Kau bahkan tidak tahu… bahwa kau adalah pusat dari semuanya.”
Ia melangkah keluar dari bayangan, cahaya bulan menyentuh topengnya.
“Dunia ini…”
“Terjebak dalam siklus.”
“Berulang… dan berulang… dan berulang…”
Ia mengepalkan tangannya.
“Looping.”
Ia menurunkan kepalanya sedikit.
“Dan dalangnya…”
“Bukan para dewa.”
“Bukan Dewi Fil.”
Suaranya merendah, seperti bisikan dosa.
“Dalangnya… adalah Hero Sword itu sendiri.”
Angin tiba-tiba bertiup lebih kencang.
Pria bertopeng itu mengangkat satu tangan dan perlahan… menyentuh sisi topengnya.
“Yang paling ironis…”
Jari-jarinya mencengkeram topeng.
“Aku bahkan tidak menyadarinya dulu.”
Ia menarik topeng itu sedikit ke samping.
Cahaya bulan menyinari sebagian wajahnya:
sepasang mata tajam yang lelah…
dan garis wajah yang menyimpan umur panjang.
“Aku adalah pemilik pertama Hero Sword.”
Ia tersenyum tipis.
“Dan sekarang…”
Ia menatap ke arah tempat Chika pergi.
“…aku harus menghancurkannya.”
Topeng kembali menutupi wajahnya sepenuhnya.
Nada suaranya menjadi dingin dan pasti.
“Aku tidak ingin dunia ini terus terjebak dalam lingkaran takdir.”
“Aku tidak ingin pahlawan terus dilahirkan hanya untuk mengulang tragedi yang sama.”
Ia berbalik membelakangi sekolah sihir.
Langkahnya pelan, tapi mantap.
“Tujuanku sederhana.”
Jubahnya berkibar saat ia berjalan menjauh.
“Menghancurkan Hero Sword.”
“Menghentikan siklus Looping.”
“Dan membebaskan dunia… dari takdir palsu.”
Ia berhenti sejenak.
Sedikit lagi topengnya bergeser, memperlihatkan senyum samar.
“Namaku…”
“…adalah Kaden.”
Bayangannya menyatu dengan kegelapan malam.
Dan di kejauhan…
pulau Havenload melayang,
Hero Sword bersinar,
tanpa tahu bahwa pencipta pertamanya…
telah menetapkannya sebagai musuh.
...----------------...
...Chapter 3: Sekolah Sihir...
^^^End^^^