NovelToon NovelToon
Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Pengganti / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6

Di kota lain, seorang pria dengan kemeja putih duduk di kursi khusus aktor. Asistennya dengan sigap menyiapkan kipas angin kecil dan memberikan sebotol air mineral untuk sang aktor. Tubuh pria itu terlihat atletis, setelah syuting beberapa adegan beberapa bagian tubuhnya mengeluarkan keringat hingga menembus kemejanya, membuatnya terlihat seksi. Ia butuh waktu istirahat untuk kembali beradu akting dengan lawan mainnya.

Ia tergesa-gesa meminum air mineral sampai tenggorokannya terasa lega karena telah dibasahi oleh air dingin yang diminumnya. Profesinya sebagai aktor yang lumayan padat membuatnya menjadi lelah, jarang ada waktu untuk beristirahat. Namun harus di jalani secara profesional.

Di keramaian orang di lokasi syuting, mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Membuat salah satu pekerjanya mengobrol dengan sang aktor. Dengan sopan laki-laki itu duduk di samping pria yang tengah menyantap camilannya.

"Pak Farel, maaf menganggu. Selama Bibi telepon saya. Ada kabar mengejutkan mengenai non Cila," kata lelaki itu.

Farel terkesiap begitu mendengar kabar mengenai anaknya, bahkan laki-laki itu sampai tersedak dibuatnya." Putri saya kenapa? Cila sakit?"

"Non Cila nyaris diculik oleh orang asing, pak," kata laki-laki itu dengan suara kecil.

"Ya Tuhan, kenapa baru sekarang ini kamu memberitahuku?!" seru Farel, raut wajahnya mencerminkan kepanikan yang mendalam.

Laki-laki itu merunduk, kesedihannya terasa. "Maaf saya, Pak. Saya gak bermaksud menyembunyikan hal ini. Tapi, saya khawatir mengganggu Bapak di tengah malam, karena bibi baru memberitahu saya semalam."

Kegelisahan menguasai Farel. "Saya harus lapor polisi dan segera pulang!"

"Tenang, Pak. Non Cila selamat, berkat pertolongan orang baik yang non Cila temui. Beliau langsung mengantar Non Cila kembali ke rumah Bapak, selamat dan sehat," jelas pelayan tersebut, mencoba meredakan ketakutan yang melanda Farel.

Farel menghela napas lega, tapi kekhawatiran masih terbayang jelas di matanya. "Syukurlah. Tapi bagaimana dengan Cila? Siapa yang sudah menolong anak saya?"

Laki-laki itu memberikan sedikit petunjuk. "Saya dengar dari bibi, yang menyelamatkan Cila adalah seorang wanita muda bernama Vania Maheswari."

"Vania Maheswari?" Farel mengulang nama tersebut, alisnya berkerut seraya ia mencoba mengingat.

Laki-laki itu mengangguk, menambahkan bahan bakar pada api penasaran Farel. "Iya Pak, sepertinya saya juga pernah mendengar namanya... tapi entah di mana," gumamnya.

"Saya juga," sahut Farel, semakin gelisah. "Saya cek di internet. Mungkin dia seseorang yang terkenal, sebab namanya terasa begitu familiar."

Farel menatap ponselnya dengan tajam, jemarinya lincah bergerak mengetikkan nama yang selama ini terus berkelebat di pikirannya—Vania Maheswari. Seakan waktu berhenti, saat wajah Vania yang memukau sebagai selebgram terkenal muncul di layar, kecantikannya terasa menyengat mata Farel.

Dengan rasa penasaran yang menggebu, ia mulai menyelami dunia Vania melalui akun-akun sosial medianya, memperhatikan setiap foto dan video yang dia unggah. "Ini dia, kan?" suara Farel memecah kesunyian ruangan, menunjukkan foto Vania pada asistennya.

"Iya, Pak, benar itu. Memang tidak heran kalau namanya terasa familiar. Dia idola baru di dunia maya dengan segudang penggemar mengagumi kecantikan alaminya," ujar asisten dengan nada penuh pengakuan.

"Begitu ya? Bagaimana bisa aku baru tahu?" tanya Farel, sembari matanya tidak lepas dari layar ponsel yang menampilkan jumlah pengikut hampir tiga juta orang.

"Bapak kan sibuk sekali,juga tak ada waktu untuk bermain sosial media jadi wajar saja kalau bapak tidak tahu."

Farel mengangguk, lalu secara refleks menggaruk kepala yang tidak gatal. "Benar juga. Saya merasa sangat lega, ada orang baik yang telah menolong anak saya. Harus segera bertemu dengan Vania untuk berterima kasih karena sudah menolong Cila."

"Bapak cuma mau mengucapkan terima kasih?" Asistennya bertanya dengan nada yang membuat Farel berpikir ulang.

"Iya, apa lagi yang harus saya lakukan?" Farel terdiam sejenak, mencerna maksud pertanyaan itu.

"Setidaknya bawakan sesuatu sebagai buah tangan, Pak, atau bagaimana jika menjadikannya istri, sekaligus ibu sambung Non Cila? Anak Bapak butuh sosok yang dapat menjaga," asistennya menyodorkan ide yang lebih berani.

"Tidak dulu deh," tolak Farel cepat, raut wajahnya berubah tidak yakin. "Dari fotonya saja sudah terlihat dia seorang perempuan yang dingin dan terkesan cuek. Saya kurang sreg dengan tipe seperti itu. Selain itu, dia mungkin saja sudah memiliki kekasih atau tunangan."

"Pak Farel, mungkin memang dari luarnya Vania terkesan seperti itu, tapi jangan lupa, penampilan bisa menipu. Mungkin di balik itu semua, dia sosok yang baik dan memiliki hati keibuan. Tidak ada yang tahu kan? Terkadang penampakan di layar tidak selalu mencerminkan realita sejati," saran sahabatnya, memberikan perspektif baru yang mendalam. Farel terdiam, pertimbangannya kini bergolak, seolah-olah dia melihat segala kemungkinan dari kaca mata yang berbeda.

"Saya tahu, tapi selama sesuatu juga perlu pertimbangan. Gak mungkin kan hanya karena dia menolong anak saya, terus saya nikahi dia sebagai hadiahnya. Kamu kira ini sayembara, ada-ada aja kamu ini."

Jemari Adam kembali bergerak di layar, dia mengulik aku sosial media gadis itu hingga akhirnya Farel menemukan foto Vania yang menggunakan gaun dan memamerkan cincin. Disampingnya seorang laki-laki merangkul panggang Vania, sangat jelas jika gadis bernama Vania itu telah memiliki pendamping.

Farel menunjukkan layar ponselnya pada sang asisten." Nih liat, Dam. Dia udah punya pacar,untung saya cari tahu dulu."

"Baru pacaran pak, masih bisa ditikung. Sebelum janur kuning melengkung pepet aja terus pak,"ujar asistennya.

"Heh gak boleh gitu. Mereka itu sepertinya sudah bahagia, saya gak mau rusak hubungan orang. Saya tetap mau bertemu Vania ini hanya untuk berterima kasih karena sudah menolong Cila."

"Tapi pak, masih ada project drama ini loh,pak."

"Tenang, saya akan minta izin sama produser dan sutradara untuk pulang sebentar. Saya mau memastikan kondisi anak saya. Adam, tolong kamu dan Udin siapin barang-barang saya ya."

"Tapi pak, gak mudah loh izin sama pak sutradara. Nanti kalau bapak harus ganti rugi karena projek nya ditunda gimana?"

"Gak apa-apa, saya lebih baik mengganti Rudi dan berhenti syuting drama ini, daripada saya menyesal karena hampir kehilangan putri saya satu-satunya. Saya nggak mau kejadian dulu terulang lagi."

Di tengah deru angin yang mencabik-cabik rambut Vania yang terikat rapi seperti ekor kuda, ia berdiri sendiri di lobby bandara yang ramai. Mata cokelatnya mencari satu sosok yang seolah hilang ditelan keramaian: Deo, kekasih hatinya. Hubungan mereka yang dipisahkan jarak ratusan kilometer hanya bisa bertemu sesekali, serasa menambah berat rindu yang menindih dadanya.

Vania merasa resah, kesetiaannya diuji oleh waktu dan jarak. Kekhawatiran membayangi, terutama setelah podcast yang baru saja menghebohkan dunia maya. Ada tumpukan masalah yang terasa semakin berat, menggelayuti pikirannya setiap detik. Haruskah ia meneruskan hubungan yang sepertinya mulai tergores keraguan? Atau lebih baik mengakhiri segala kerumitan ini sebelum lukanya semakin dalam?

Setiap detik menunggu Deo terasa bagai bertahun-tahun. Vania membatin, menimbang-nimbang setiap kata yang ingin ia utarakan pada Deo nanti. Hatinya menangis, mengharap kejujuran dari Deo yang mungkin bisa menjernihkan kabut tebal di antara mereka, atau malah menambah luka di hati yang sudah tak karuan.

Vania menggenggam erat tas selempangnya, debaran di dada terasa semakin intens. Perasaannya kacau balau, antara rindu yang menggebu-gebu dan kekecewaan yang menyayat hati. Setelah semua yang mereka lalui, kegagalan hubungan mereka hanya meninggalkan bekas yang dalam. Teringat pertemuan pertama dengan Deo, saat itu dunia seolah berpihak pada mereka. Haruskah semua kenangan itu berakhir? Tiba-tiba, suara seseorang memecah kesunyian.

"Vania!" Terkejut, Vania mendongak dan menemukan Deo sedang berjalan menghampirinya, ditemani kedua orang tuanya. Seketika, jantungnya terasa seperti hendak pecah. Vania memaksa senyuman tipis di bibirnya, berusaha menutupi ribuan emosi yang berkecamuk.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
falea sezi
bodoh kn ada tuh fto dio. up aja lah bego
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!