Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.
Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.
Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.
Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
“Itu balasan,” ucap Syakil akhirnya. Suaranya rendah, serak, tapi penuh tekanan. “Karena kau sudah berani menyentuh dan menyakiti Arsy.”
Radit menyeringai miring. Ia lalu berdiri dengan sedikit sempoyongan. Darah segar masih mengalir dari sudut bibirnya, tapi ia sama sekali tidak peduli.
“Balasan?” Radit tertawa sinis. “Kau pikir siapa dirimu?” Ia melangkah maju satu langkah, meski tubuhnya belum sepenuhnya stabil. “Siapa kau sampai berani mukul gue?” lanjut Radit dengan tajam. “Dan apa urusanmu sama Arsy, hah?”
Syakil tidak mundur. Tidak juga mengalihkan pandanganya dari Radit.
“Aku adalah laki-laki yang sangat mencintai Arsy,” jawab Syakil tanpa ragu. “Dan aku adalah laki-laki yang akan menikahinya.”
Kata-kata itu keluar seperti palu. Arsy yang masih berdiri di samping ranjang ayahnya terisak pelan. Tangannya gemetar di atas tubuh ayahnya, sementara jantungnya berdetak terlalu cepat saat mendengar ucapan Syakil yang begitu lugas dan berani.
Radit tertawa keras. Sementara itu Radit terlihat tertawa sinis setelah ia mendengar pengakuan Syakil.
“Menikahinya?” ulang Radit dengan nada mengejek. “Apa kau serius?” Ia menggeleng pelan sambil tertawa, seolah mendengar lelucon paling konyol di dunia. “Hati-hati, bro,” katanya dengan senyum miring. “Perempuan itu licik. Arsy itu pintar banget bikin laki-laki jatuh cinta dengan tampang polosnya. Jangan sampai lu jadi korban berikutnya.”
Kalimat itu seperti api yang disiram bensin, yang membuat Syakil melangkah maju kearah Radit dengan cepat.
“Jaga ucapan mu!” ucap Syakil dengan nada dingin namun justru membuat Radit tersenyum semakin lebar.
“Kenapa? Apa kau tidak bisa menerima semua penilaian buruk tentang Arsy?” ejek Radit. “Atau kau mulai sadar siapa Arsy sebenarnya?”
Detik berikutnya, tinju Syakil kembali melayang ke wajah Radit.
Brak!
Radit terhuyung ke belakang, tubuhnya menghantam dinding ruang IGD sebelum akhirnya kembali jatuh ke lantai dengan keras dan brutal. Belum sempat Radit bereaksi, Syakil sudah berada di atasnya. Bruk! Tinju itu kembali menghantam wajah Radit berkali-kali dan membuat Arsy menjerit ketakutan.
“Syakil! Cukup! Tolong hentikan!”
Namun Syakil seperti tidak mendengar apa pun selain suara darahnya sendiri yang mendidih dan berdesir keras di telinganya. Setiap kata Radit tentang Arsy terngiang jelas di kepalanya. Setiap luka, setiap air mata yang pernah Arsy tahan sendirian, Syakil lampiaskan pada Radit melalui tinjunya.
“Aku tidak akan membiarkanmu menjelek jelekkan nama Arsy dengan mulutmu yang kotor itu.” geram Syakil di sela-sela pukulannya. “Tidak akan!”
“TUAN!”
Sebuah tangan mencengkeram bahu Syakil dari belakang dengan kuat. Orang itu adalah Omar. Ia baru saja kembali dari apotek, kantong obat masih tergenggam di tangannya. Wajahnya langsung berubah tegang begitu melihat pemandangan di depannya.
“Tuan, cukup!” Omar berusaha menarik Syakil menjauh. “Tolong, tuan! Ini rumah sakit! Tuan tidak bisa melakukan kekerasan disini.” pinta Omar yang membuat Syakil masih berusaha untuk melepaskan diri.
“Lepasin aku, Omar. Laki laki sepertinya memang harus diajar!” bentak Syakil dengan penuh amarah.
“Tuan!” suara Omar meninggi. “Nona Arsy dan ayahnya butuh tuan untuk tetap tenang!”
Kata-kata itu akhirnya sedikit menembus kemarahan Syakil. Napasnya tersengal hebat. Tinju terakhirnya terhenti di udara. Sementara itu Radit tergeletak di lantai, wajahnya sudah babak belur. Darah mengalir dari hidung dan bibirnya. Ia terbatuk pelan, napasnya berat, matanya menatap Syakil dengan campuran benci dan ketakutan.
Tak berselang lama, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari luar ruangan.
“Keamanan!”
Dua petugas keamanan rumah sakit masuk ke ruang IGD dengan ekspresi waspada.
“Ada apa ini?” tanya salah satu dari mereka.
Omar segera berdiri tegak. Nada suaranya kembali tenang, dingin, dan tegas—nada khas seorang asisten yang terbiasa mengendalikan situasi genting.
“Orang ini,” katanya sambil menunjuk Radit, “Sudah membuat keributan, menyerang pasien dan keluarga pasien, serta mengganggu ketenangan di rumah sakit ini. Tolong tangkap dia sekarang juga.”
Petugas keamanan tidak membuang waktu. Dua orang langsung menghampiri Radit dan menariknya berdiri dengan kasar.
“Lepasin!” Radit meronta. “Ini nggak adil!”
Namun tenaga Radit sudah jauh berkurang. Dengan mudah, petugas keamanan memborgol tangannya. Syakil yang sejak tadi ditahan Omar tiba-tiba menepis tangan asistennya.
“Lepasin aku, Omar” ucap Syakil dengan dingin.
Sebelum siapa pun sempat bereaksi, Syakil sudah melangkah ke depan dan mencengkeram kerah baju Radit dengan kuat, menariknya mendekat hingga wajah mereka nyaris bersentuhan.
“Dengarkan aku baik-baik,” bisik Syakil pelan, suaranya rendah namun penuh ancaman. “Ini kali terakhir aku memberimu pelajaran.” Radit terengah, matanya membelalak. “Kalau aku dengar sedikit saja kamu mendekati dan menyakiti perasaan Arsy lagi,” lanjut Syakil tanpa mengendurkan cengkeramannya, “aku pastikan hidupmu benar-benar habis.”
Radit tertawa kecil, meski terdengar lebih seperti batuk berdarah.
“Gue nggak pernah takut sama Lo,” ejek Radit dan membuat Syakil mendekatkan bibirnya ke telinga Radit.
“Asal kau tahu saja Radit bahwa akulah orang yang sudah membeli rumah sakit tempat kamu bekerja,” bisiknya pelan. “Dan aku juga orang yang memastikan kamu dipecat hari ini.”
Radit membeku.
“Apa…?” suaranya nyaris tak terdengar. Namun Syakil tidak berhenti mengatakan apa yang harus ia katakan kepada Radit.
“Aku sengaja melakukan itu,” lanjutnya dingin. “Karena kamu berani selingkuh dan melukai perasaan Arsy. Aku seharusnya tidak melakukan ini tapi kau yang sudah membuatku nekat melakukan ini karena kamu berani bikin Arsy nangis. Karena kamu pikir kamu bisa lolos begitu saja.”
Radit menatap Syakil dengan mata membelalak penuh ketidakpercayaan. Wajahnya pucat, bahkan lebih pucat dari sebelumnya.
“Itu nggak mungkin,” gumam Radit tak percaya dan membuat Syakil melepas kerah baju Radit dengan kasar.
“Twrserah padamu mau percaya atau tidak, setidaknya aku sudah mengatakannya padamu. Tolong bawa dia ke kantor polisi, pak. Pastikan dia dihukum atas perbuatannya.” perintah Syakil dengan tegas kepada petugas keamanan. “Sekarang.”
Petugas keamanan mengangguk cepat.
Radit diseret keluar dari ruang IGD dengan langkahnya yang terhuyung dan wajahnya yang penuh darah dan keterkejutan. Di dalam ruangan, Arsy terduduk lemas di sisi ranjang ayahnya dan menangis tak henti-hentinya. Suara langkah kaki yang tergesa-gesa kembali memenuhi lorong IGD. Beberapa suster berlari masuk ke ruang IGD, disusul seorang dokter dengan wajah serius dan sorot matanya yang tajam.
“Astaga!” suara dokter terdengar tegas saat melihat monitor jantung yang grafiknya mulai kacau. “Tekanan darahnya drop! Saturasi nya turun dengan drastis!”
Arsy yang masih terduduk di sisi ranjang ayahnya tersentak. Jantungnya seolah jatuh ke dasar perut.
“Tolong selamatkan nyawa ayah saya, Dok.” pintanya dengan suara bergetar. “Saya mohon...”
Dokter itu langsung mendekat ke ranjang dan memeriksa denyut nadi Pak Rahman dengan cepat. Alat monitor jantung berbunyi semakin cepat dan tidak beraturan. Wajah Pak Rahman semakin pucat, napasnya pendek-pendek, sementara dadanya naik turun tidak stabil.
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Lihat anakmu pak😭
Kami lah nyalahin si Radit