Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan yang Tak Lagi Tunduk
Halaman latihan Sekte Awan Biru dipenuhi murid-murid yang sedang berlatih teknik dasar pedang. Suara benturan baja beradu menggema di udara, bercampur dengan teriakan instruktur yang memberi perintah.
Qiu Liong berdiri di tepi lapangan.
Sudah lama ia tidak datang ke sini tanpa rasa berat di dada.
Biasanya, tempat ini adalah panggung penghinaan.
Tempat di mana pedangnya selalu terlepas dari tangan.
Tempat di mana qi-nya tersendat di hadapan semua orang.
Namun hari ini
ia berdiri tegak.
Tidak bersembunyi.
Tidak menghindar.
Beberapa murid menyadari kehadirannya.
Bisikan kecil kembali terdengar.
“Itu dia…”
“Katanya dia menyelamatkan dua orang dari Hutan Kabut…”
“Entah bagaimana caranya…”
Zhao Ming, yang sedang berlatih di tengah arena, menghentikan gerakannya. Keringat membasahi dahinya. Tatapannya langsung tertuju pada Qiu Liong.
Tatapan yang dulu penuh ejekan.
Kini… penuh penilaian.
“Apa kau datang untuk berlatih?” tanya Zhao Ming keras, cukup agar yang lain mendengar.
Nada suaranya masih tajam.
Namun tidak lagi sepenuhnya meremehkan.
Qiu Liong berjalan perlahan mendekat.
Setiap langkahnya mantap.
Ia merasakan inti di dalam dirinya tetap sunyi.
Tidak bergejolak.
Tidak menekan.
Hanya ada.
“Aku juga murid sekte,” jawabnya tenang. “Bukankah wajar jika aku berlatih?”
Beberapa murid saling berpandangan.
Jawaban itu sederhana.
Namun berbeda.
Dulu, Qiu Liong akan menjawab dengan suara kecil. Atau memilih diam.
Kini
tatapannya lurus.
Tidak menantang.
Namun tidak lagi tunduk.
Zhao Ming menyeringai tipis.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita bertukar jurus?”
Tawaran itu bukan ramah.
Itu ujian.
Seluruh lapangan menjadi lebih sunyi.
Qiu Liong tahu, ini bukan pertarungan resmi.
Namun cukup untuk menentukan kembali posisinya di mata mereka.
Ia menatap pedang di tangan Zhao Ming.
Lalu menatap matanya.
Dulu, tatapan itu membuatnya gugup.
Sekarang
ia melihat sesuatu yang berbeda.
Keraguan kecil.
“Baik,” jawab Qiu Liong.
Mereka mengambil posisi.
Instruktur memperhatikan dari kejauhan, namun tidak menghentikan.
Angin sore berembus pelan.
Zhao Ming bergerak lebih dulu.
Serangan cepat dan tajam, teknik dasar yang dipoles dengan qi yang stabil.
Qiu Liong mengangkat pedangnya.
Ia tidak memanggil kehampaan.
Tidak membiarkannya mengalir.
Ia hanya menggunakan gerakan yang sama seperti dulu.
Namun tubuhnya terasa berbeda.
Lebih ringan.
Lebih sinkron.
Benturan pertama terjadi.
CLANG!
Getaran merambat ke lengannya.
Namun kali ini, pedangnya tidak terlepas.
Ia menahan.
Mengalirkan sedikit energi
bukan kehampaan penuh,
hanya sentuhan kecil.
Zhao Ming terkejut saat merasakan tekanan aneh dari balik pedang itu.
Bukan dorongan kuat.
Melainkan rasa seperti pijakan yang tiba-tiba hilang.
Langkahnya goyah sesaat.
Cukup bagi Qiu Liong untuk memutar pergelangan dan menepis serangan berikutnya.
Gerakan itu bersih.
Tenang.
Tanpa kemarahan.
Tanpa pamer.
Dalam beberapa pertukaran jurus, suasana berubah.
Zhao Ming mulai serius.
Serangannya semakin cepat.
Namun setiap kali pedang mereka bertemu, ia merasakan sesuatu yang membuatnya tak nyaman
kekosongan.
Seolah kekuatannya sendiri tenggelam saat bersentuhan.
Akhirnya
Qiu Liong melangkah maju setengah langkah.
Pedangnya berhenti tepat di depan leher Zhao Ming.
Tidak menyentuh.
Namun cukup dekat.
Hening.
Tidak ada sorakan.
Tidak ada ejekan.
Hanya napas yang tertahan.
Qiu Liong menarik pedangnya kembali.
“Aku tidak datang untuk mencari musuh,” katanya pelan.
Zhao Ming terdiam.
Wajahnya memerah, bukan karena marah
melainkan karena ia menyadari sesuatu.
Qiu Liong telah berubah.
Dan perubahan itu tidak bisa lagi diabaikan.
Saat Qiu Liong berbalik meninggalkan arena, beberapa murid memberi jalan tanpa sadar.
Ia tidak merasa bangga.
Tidak merasa superior.
Yang ia rasakan hanyalah satu hal
ia tidak lagi menunduk.
Tatapannya lurus.
Langkahnya mantap.
Dan untuk pertama kalinya,
ia tidak membutuhkan pengakuan siapa pun
untuk tahu bahwa dirinya
tidak lagi sama.
jangan bikin kecewa ya🙏💪