Dara memimpikan indahnya kehidupan setelah menikah. Dara mengira menikah dengan orang yang di cintai akan membuat hidupnya bahagia. namun kenyataannya nasib buruk yang didapatkan di rumah suaminya. dia dilakukan bak babu bahkan sering dara mendapatkan caci maki dari mertua ketika pekerjaan rumah ada yang terlewatkan. tidak hanya diperlakukan seperti babu, ketika dara ada selisih paham dengan mertua nya suaminya tidak membela dara bahkan ikut menyudutkan Dara. hal yang paling menyakitkan lagi ketika dara mendapatkan kabar dari temannya jika suaminya selingkuh dibelakang nya. bagaimana kisah Dara selanjutnya. yuk mampir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jihan Fahera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Pagi Hari
"Dara....!" Teriak ibu mertua kayla yaitu ibu Dewi yang sangat menggelegar didalam rumah.
" Iya Bu, kenapa teriak? malu sama tetangga, masih pagi loh bu" sahut Dara yang langsung menghampiri ibu mertuanya yang berada dimeja makan.
"Ini apa Dara? Tempe dan sambal yang kau masak?" Sentak ibu mertua yang hendak sarapan pagi.
"Iya Bu, mau bagaimana lagi bahan masakan sekarang mahal itu aja udah habis dua puluh ribu" jelas Dara santai.
"Kamu kan mas kasih uang enam ratus ribu perbulan. Berarti uang belanjamu perhari dua puluh ribu, terus uang yang sepuluh ribu kamu kemana in?" Tanya Bagas suami Dara.
"Gini nih punya mantu udah miskin, ngatur keuangan gak becus, paling uang bulanan ditilep buat jajanmu kan?" Ketus Bu Dewi.
Dari awal Bu Dewi memang tidak menyukai Dara yang dianggap orang miskin karena berasal dari desa. Bu Dewi menginginkan mantu yang kaya raya.
"Tilep apa sih Bu, jangankan buat jajan, uang bulanan kadang- kadang aku yang nutup kekurangannya. " sahut Dewi yang sedikit mengeraskan bicaranya.
Dara selalu membalas ucapan mertuanya yang menurutnya harus dibalas. Bukan tidak paham sopan santun tapi Dara tipe orang yang tidak mau ditindas oleh siapapun termasuk keluarga suaminya. Dara merasa didalam rumah ini menantu bukan babu yang ditindas hanya bisa nangis dipojokan.
"Lihat istrimu gas, gak punya etika sama sekali, setiap dibilangin ngelawan terus sama orang tua!" Adu Bu Dewi kepada putranya.
"kamu kalau di bilangi ibu jangan ngejawab terus. Ibu itu udah berpengalaman mengurus keuangan keluarga harusnya kamu belajar dari ibu, bukannya selalu bilang habis uangnya dengan dalih apa apa sekarang mahal" ucap Bagas yang meminta Dara belajar keuangan rumah tangga dengan Ibunya agar uang yang diberikan Bagas untuk satu bulan cukup dan tidak habis ketika masih di pertengahan bulan.
Zaman sekarang jika menantu berkata kasar sedikit kemertua. Mertua sudah merasa paling tersakiti. Tapi tidak semua mertua jahat ya.. wkwk.
" Udah Bu, ibu sarapannya beli nasi bungkus aja, aku mau berangkat kerja sarapan dikantor" ucap Bagas yang mengakhiri drama pagi hari.
"tuh kamu makan aja sendiri masakan kamu yang kampungan itu" ucap Bu Dewi lalu pergi keluar untuk mencari sarapan.
Bagas bekerja di sebuah perusahaan ternama. Dia menjabat sebagai manajer. Dimana posisi manajer terkenal dengan gaji sepuluh juta perbulannya. Karena hasutan ibunya setengah dari gaji bagas diberikan kepada ibunya dan istrinya Dara hanya diberi 600 ribu perbulan untuk uang belanja dapur, yang berarti 20 ribu perhari dan harus cukup!!.
.
.
.
"Tumben Gas sarapan di kantin? Berantem sama istri?" Tanya Al kepada Bagas.
" Berantem enggak sih, cuma tadi istriku cuma masak tempe sama sambal, mana selera aku makanya makan di kantin" jawab bagas dengan lesu.
" Lah,, emang belum kamu kasih kasih uang bulanan kok cuma masak itu aja?" Tanya Al dengan nada heran.
" Soal uang aku pasrah kan ke ibu. Tapi aku setiap bulan juga kasih ke Kayla 600 ribu kata ibu itu lebih dari cukup" jawab Bagas dengan jujur.
"Loe gila ya..." Ucap Al dengan tatapan penuh heran.
Bagas menoleh kearah Al dengan tatapan penuh tanda tanya.
" Kenapa loe ngantain gue gila?" Tanya Bagas yang membuat Al semakin gemas eh geram.
" Gini ya bro, loe itu sudah menikah, yang berhak mengurus keuangan istrimu bukan ibumu, ada istilah gini didalam rumah tangga loe itu berperan sebagai presidennya dan istri Leo sebagai bendahara jadi seharusnya istri loe yang megang semua gaji loe, kalau loe ingin memberi uang ke ibu ya harus ijin sama istri, atau ada juga istilah lain uang suami juga uang istri" jawab Al menahan rasa kesal.
"Tapi gue kan setiap bulan udah kasih istri gue jatah 600 ribu buat kebutuhan dapur udah cukup itu. Lagian gak masalah jika keuangan diatur ibu. Toh aku juga masih menumpang dirumah ibu, ya anggap saja baktiku ke ibu" jawab Bagas.
"Bukan begitu maksudnya Gas. Walaupun menumpang rumah, setidaknya jangan semua keuangan kamu percayai ke ibumu, kalau loe mengganggap itu bentuk baktimu ke ibumu ya udah lepas aja istrimu, teruskan baktimu" jawab Al dengan ketus dan segera pergi meninggalkan Bagas daripada malah ribut dengan Bagas yang menurutnya gila.
.
.
.
Disisi lain Dara sedang melamun didalam kamar memikirkan bagaimana kondisi keluarganya kedepan.
DOR
DOR
DOR
Tiba-tiba ada yang mengedor-gedor pintu kamar Dara.
"Dara..! Ngapain kamu dikamar terus? Mau tidur ya? Cepat keluar setrika baju ibu sekarang" teriak ibu Dewi sambil berkacak pinggang.
Didalam kamar, Dewi mendengus sambil mengelus dada.
" Sabar- sabar, nasibnya orang numpang ya gini, makan hati terus" guman Dewi kemudian membuka pintu kamarnya.
" Apa sih buk teriak-teriak Mulu kerjaannya?" Tanya Dara ketus.
" Eh- eh, itu apa sopan! Apalagi sama yang lebih tua !" Ucap Bu Dewi nyolot.
Dara memutar matanya malas
" Dara kurang sopan gimana sih Bu? Perasaan Dara manut-manut aja dijadiin babu dirumah ini, jadi ART mah enak digaji lah ini blas gak ada gajinya" jawab Dara tidak ada takut-takutnya. Tetapi ia tetap mengerjakan yang diperintahkan sang mertua tapi pantang baginya ditindas.
Mata Bu Dewi langsung melotot sempurna
" Kamu bicara apa tadi Dara!?" Sentak Bu Dewi rasanya darah tingginya kumat gara gara menantu sableng nya.
" Gak ada, udah ya bu, aku mau setrika baju ibu dulu, mau buat arisan kan Bu, kalau ibu marah-marah terus bisa telat loh Bu pergi arisan nya" ucap Dara yang mengambil baju mertua nya lalu menutup pintu kamarnya meninggalkan ibu mertuanya yang masih di depan kamarnya.
"heh, mantu kurang ajar, seenaknya nutup pintu" teriak Bu Dewi yang merasakan sakit di kepala akibat darah tingginya kumat.
Di dalam kamar Dara sedang menggerutu.
"Ngenes amat nasib gue punya suami pelit sama mertua malah dijadiin babu. Setidaknya kasih nafkah sebulan lima juta biar gue ikhlas lakuin kerjaan rumah" batin Dara
Dara menyetrika baju ibu mertua sambil menggerutu yang tidak jelas. Dia jadi teringat dengan sifat Bagas sebelum menikah. Sebelum menikah Bagas memperlakukan Dara bagai ratu, yang membuat Dara yakin menikah dengan Bagas dan memiliki angan-angan setelah menikah akan bahagia dengan keluarga kecilnya. Namun siapa sangka setelah menikah Dara di perlakukan seperti babu oleh keluarga suaminya dan suaminya yang dulu royal sekarang menjadi pelit. Dara merasa menyesal karena terlalu terburu-buru dalam memilih pasangan. Karena sudah terjadi, jadi Dara terpaksa menikmati peran barunya entah sampai kapan Dara bertahan.
"Akhirnya selesai juga, cuma nyetrika baju buat arisan harus gitu nyuruh menantu nya, padahal ada artis yang mengatakan menyetrika hal yang sangat menyenangkan, jadi hal kayak gini gak perlu menyuruh orang lain anggap saja olahraga tangan biar gak darah tinggi" ucap Dara pelan.
Setelah selesai dengan pekerjaan rumah, Dara berniat mengunjungi cafenya yang terkenal sekarang ini, karena sudah lama Dara tidak mengunjungi cafenya sekaligus mengecek laporan keuangan cafenya. Karena tidak mau dicurigai oleh ibu mertua, Dara beralasan hendak pergi kepasar. Suami dan ibu mertuanya tidak tahu jika saat ini dara memiliki cafe pikir dara biarlah mereka beranggapan bahwa dirinya orang miskin yang seenaknya ditindas.
" Mau kemana kamu?" ketus Bu Dewi yang melihat sang menantu sudah rapi hendak pergi.
" Mau cari brondong tajir yang tidak pelit bin medit! Ya mau kepasar lah bu, emang mau kemana lagi? Bosen Dara dirumah lihat ibu yang kerjaannya ngereog terus setiap hari serem tau bu" sahut Dara dengan bar bar
"Bilang apa kamu hah" teriak ibu Dewi.
"Udah ya bu, Dara pergi dulu, keburu siang assalamualaikum" pamit Kayla.
" Waalaikumsalam, dasar menantu edan" gerutu Bu Dewi.